AMARA

AMARA
Sore Hari



'KRIIINGG'


Amara mengedipkan matanya. Rasa kantuk yang menyerang telah reda. Segera ia merapikan alat tulisnya. Memasukkan buku ke dalam tas. Lanjut dengan merapikan rambutnya yang telah berantakan.


Mereka semua memberi salam kepada guru. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berjalan keluar kelas. Dengan iringan candaan serta tawa dari setiap siswa-siswi yang ada.


Amara berkaca di depan cermin. Ia mendengar suara langkah kaki yang ada dibelakangnya. Ia menoleh, dan tersenyum ke arahnya. Begitupun sebaliknya, orang itu tersenyum kepada Amara.


"Ayo pulang, udah sore" ucap Reza. Reza adalah teman satu kelas Amara. Mereka cukup dekat, bahkan banyak siswa maupun siswi yang menganggap bahwa mereka adalah sepasang kekasih.


Reza Maheswara, remaja berwajah tampan yang berusia 17 tahun. Ia menyukai jus jeruk serta makanan manis, namun ia tidak menyukai coklat. Tipe wanita idealnya adalah seorang wanita yang feminim dan tampak elegan, tidak manja serta berkepribadian yang baik. Usianya lebih muda 1 tahun dari Amara.


"Iya Za" Amara membalikkan badan lalu menggenggam tangan Reza. Menyeret Reza agar pergi ke luar kelas. Mereka berjalan bersama. Di sepanjang koridor sekolah mereka bertemu beberapa siswa dan siswi yang hendak pergi dari sekolah menuju ke rumah mereka masing-masing. Mereka juga bertemu dengan beberapa guru. Di perjalanan, mereka mengobrol dengan diiringi candaan. Hingga tanpa sadar mereka sudah berada di depan gerbang sekolah. Mereka berpamitan dan pergi ke rumah masing-masing. Rumah Amara dan Reza berarah berlawanan.


Amara pergi ke kanan, sementara Reza pergi ke kiri. Amara duduk di halte busway. Menunggu bus yang datang. Saat Amara duduk, ia teringat akan sesuatu. Ternyata barangnya ada yang ketinggalan. Lalu ia berlari menuju ke sekolah. Jarak halte dengan sekolah Amara tak jauh, hanya sekitar 50 m. Jadi ia bisa berlari mengambil barangnya.


Di sana, ia bertemu dengan penjaga gerbang. Amara meminta padanya agar tidak menutup gerbangnya terlebih dahulu. Amara menjelaskan apa yang terjadi pada penjaga gerbang itu, dan penjaga gerbang itu mengiyakan permintaan Amara.


Amara berlari di sepanjang koridor sekolah menuju ke kelasnya. Kelas Amara terletak tak jauh dari pintu masuk.


Saat berlari, Amara merasakan hawa yang berbeda dari sekolahnya itu. Suasana yang sepi, langit yang mendung, juga terdengar sayup-sayup suara kendaraan yang berada di jalan raya yang tempatnya tak jauh dari sekolah Amara berada. Semua siswa sudah pulang, guru-guru juga sudah pulang. Kini, hanya tersisa Amara dan pak penjaga gerbang yang ada di sekolah itu. Namun, ia tidak memperdulikan apa yang terjadi. Ia tetap berlari.


Saat tiba di kelas, Amara langsung masuk ke dalam. Beruntung pintu kelasnya belum di kunci oleh pak penjaga gerbang. Ia lalu menuju ke tempat duduknya lalu mengecek laci mejanya. Tak lama, ia menemukan barang yang ia lupakan tadi. Ia lalu memasukkan barang itu ke dalam tas.


Amara keluar dari kelas. Melihat pemandangan sekitar dengan hamparan rumput serta tanaman hias yang ditanam di taman sekolah. Ia lalu berjalan pelan. Menikmati angin kencang yang terasa nyaman saat bersentuhan dengan kulit. Tak sadar Amara sudah berada di depan gerbang. Lalu mengucapkan terima kasih kepada pak penjaga gerbang itu. Ia lalu pergi menuju halte.


Amara berjalan menuju ke halte sambil memainkan ponselnya. Lalu berhenti sejenak. Ia lalu mendongakkan kepalanya menatap langit mendung. Ia merenung. Saat merasakan tetesan air mengenai permukaan kulit wajahnya, Amara segera sadar dari lamunannya dan berlari. Ia berlari menuju halte busway tempat ia menunggu tadi. Ia duduk, mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka aplikasi chat di ponselnya. Ia melihat banyak sekali pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Tak lupa dengan panggilan telepon. Amara panik. Ia lalu menelepon balik ibunya dan mengatakan apa yang terjadi.


Saat Amara tengah bertelepon dengan ibunya, bus datang. Amara berkata padanya jika busnya sudah datang. Jadi ia meminta agar mematikan telepon. Ibunya setuju.


Amara memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku roknya. Naik ke bus dan mencari tempat duduk. Menemukan ada kursi yang kosong, ia pun langsung menempatinya.


Bus itu berhenti di halte yang jaraknya tak jauh dari rumah Amara. Jadi ia bisa berjalan kaki menuju ke rumah.


Amara turun dari bus, lalu membayar pada si pengemudi. Ia langsung berjalan kaki menuju ke rumahnya.


Jam menunjukkan pukul setengah enam. Amara merasakan hawa dingin, jadi ia sedikit mempercepat langkahnya. Tak lama, ia sudah sampai di depan rumah. Mengucapkan salam pada penghuni rumah. Mencopot sepatunya dan meletakkannya pada rak sepatu. Lalu ia masuk ke dalam.


Amara berjalan menuju kamar. Meletakkan tasnya pada meja. Melepas kaus kaki dan sabuknya. Lalu merebahkan diri di kasur busanya.


Amara merasa sangat letih. Namun ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dulu baru kemudian ia beristirahat.


Amara bangun. Melihat jam dinding. Mengambil handuk. Pergi menuju kamar mandi. Amara berpapasan dengan ibunya, lalu ia menyapanya. Ibu Amara menanyai Amara apa yang terjadi tadi, kenapa ia terlambat pulang, dan kenapa barangnya bisa tertinggal di dalam kelas.


Amara menjawab itu semua dengan tenang, karena ia merasa bahwa ibunya sedang khawatir padanya, jadi ia memaklumi itu. Setelah menjawab pertanyaan ibunya, Amara menuju ke kamar mandi. Ia meletakkan handuk pada gantungan baju yang terletak di dinding kamar mandi. Lalu menyalakan shower. Ia membasuh rambutnya lalu mengambil shampo dan menuangkannya pada tangannya. Lalu mengusapkannya pada rambutnya. Setelah itu, ia membilas rambutnya. Mengambil sabun lalu mengusapkannya pada tubuhnya dengan perlahan. Lalu membilasnya. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan membalut tubuhnya dengan handuk tersebut.


Ia berdiri di depan wastafel lalu berkaca. Mengambil sikat gigi dan menuangkan odol pada sikat gigi. Lalu menggosoknya pada giginya. Setelah selesai, ia melakukan kegiatan rutinnya yakni menggunakan skincare untuk menjaga kulit wajahnya agar terawat. Ia lalu keluar dari kamar mandi. Berjalan menuju kamar. Lalu memakai baju. Amara mengenakan kaos oversize berwarna putih dengan celana pendek sependek lutut. Lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Lalu pergi ke ruang tamu.


Amara menyalakan televisi lalu memakan camilan bersama adiknya. Mentari Maeza, nama adik Amara. Ia berusia 14 tahun. Sedangkan Amara berusia 18 tahun. Jarak usia mereka adalah 4 tahun. Meskipun begitu, mereka tetap akrab.


Mereka menonton televisi sampai hingga jam 7 malam. Selanjutnya mereka makan malam. Amara menempatkan dirinya di kursi dan mengambil peralatan makannya. Lalu ia mengambil nasi serta lauk pauk yang tersedia. Begitu juga dengan ibu, ayah, serta adik Amara.


Setelah selesai makan, Amara membantu ibunya mencuci piring. Lalu pergi ke kamar untuk belajar. Sebelum belajar, ia mengecek ponselnya lalu mendapat pesan dari Reza. Reza mengatakan bahwa dirinya ingin menjemput Amara besok pagi, namun Amara menolak. Karena jarak rumah Amara dan Reza jauh, maka Amara tidak menyetujui permintaan Reza. Namun Reza tetap bersikeras untuk menjemput Amara. Karena Amara lelah berdebat dengan Reza, ia pun mengalah. Ia mengiyakan permintaan Reza. Besok pagi, Amara akan dijemput oleh Reza untuk pergi ke sekolah.


Amara meletakkan ponsel miliknya ke kasur, lalu fokus pada materi yang ada di depannya. Ia membaca dan menghafal materi itu, juga mengerjakan soal-soal yang ada di buku itu.


Amara cukup pintar, ia juga rajin belajar. Maka, ia menjadi juara kelas secara berturut-turut. Amara selesai belajar pada pukul 9. Ia merapihkan buku-bukunya serta menata buku apa yang akan dibawa besok. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia membuka ponsel, menemukan pesan Reza yang mengajaknya untuk pergi berdua ke sebuah tempat.


Amara tak menjawab pesan itu, ia mengabaikannya. Lalu ia tertidur.