
Ayah mengajak ku pulang ke rumah nya. namun aku menolak karena untuk apa aku kembali ke sana? Toh ayah juga tak akan peduli denganku.
Terjadi cek-cok antara aku dan ayah. Namun, tetap saja aku tak ingin pulang ke rumah itu, kecuali ada yang meninggal baru aku kembali ke rumah itu.
Setelah pertengkaran aku dengan ayah. Aku masuk kembali ke dalam kamar di sana sudah ada Anton yang menunggu ku.
"Kenapa sayang? Dan siapa lelaki tadi?"
"Itu tadi ayah ku."
"Oh. Kau baik baik saja?"
"Ya."
"Kalau begitu ayok kita lakukan sekarang. Aku sudah terlalu lama menunggu mu tadi, aku tidak mempunyai banyak waktu."
Aku hanya mengangguk saja. Sejujurnya aku malas untuk melayaninya, mood ku sudah hilang karena pertengkaran tadi dengan ayah. Tapi aku tetap harus bekerja karena anton sudah membayar ku full. Besok aku akan cuti dan akan pergi ke rumah mbak Amara, aku ingin tau siapa suami mbak Amara. Karena saat mbak Amara menikah aku tidak hadir begitu juga dengan bang Damar, jelas saja bang Damar tidak akan hadir karena mbak amara adalah cinta pertamanya dan sampai detik ini.
Keesokan harinya
Setelah pergulatan ku semalaman dengan Anton. Aku terlelap dan saat aku bangun pukul sepuluh pagi ternyata Anton sudah tidak di kamar bersamaku, dan ternyata ia menyelipkan secarik kertas di atas nakas dekat hp ku .
"Sayang. Terimakasih semalaman tadi, rasanya aku puas dan ini cek senilai lima ratus juta untuk mu, aku harus buru buru pergi karena istriku sedang di perjalanan pulang."
Begitulah isi kertas itu. Aku bangkit dari tidur ku dan membersihkan badan, setelah selesai aku bergegas untuk pergi ke bank terlebih dahulu setelah itu ke rumah bunda.
Dua puluh lima menit perjalanan akhirnya aku sampai. Di depan rumah bunda. Ini pertama kali aku menginjakkan kaki di sini, aku tau rumah ini karena mbak amara mengundang ku saat menikah, aku trus berjalan sampai ke depan pintu rumah bunda. Anehnya kemana satpam di rumah ini? Tak mungkin bunda tidak memakai satpam atau mungkin sedang ke WC? Tapi kenapa pagar tidak di kunci?
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum. Bunda.! Ini aku sinta, assalamualaikum."
"Waalaikumssalam." Terdengar suara orang menyahut tapi sepertinya itu bukan suara bunda. Dan benar saja ia bukan bunda melainkan bi marni.
"Eh non sinta. Mari masuk non pas mau ketemu bunda ya?"
"Iya bi, dimana bunda? Kenapa pintu pagar tidak di gembok?"
"Nyonya ada di dalam, sedang mengobrol dengan non amara, ahh paling si Ujang sedang ke toilet non, ayok mari bibi antar."
Aku trus mengikut bi Marni, sampai ke ruangan tv, benar saja di sana terlihat bunda sedang mengobrol dengan mbak amara.
"Bunda.." teriakku memanggil bunda. Dan bunda langsung menoleh ke arahku.
"Ya tuhan. Sinta anakku. Sini nak ayok bergabung dengan kami, apa kabarmu sayang? Lama sekali kau tak mengunjungi bunda."
"Aku baik bunda. Bunda apa kabar?"
"Tidak masalah." Jawabnya singkat
"Bunda baik baik saja nak. Mana Damar? Ia tidak ikut.?" Aku menggeleng cepat
"Baiklah. Tidak apa, kau sudah makan? Ayok kita makan nak."
Ya bunda memang tidak membedakan antara kami, bagi bunda semua sama, semua anak bunda meskipun berbeda ibu tapi menurut bunda kami tetap satu darah.
Aku putus kan untuk menginap di rumah ini. Ya aku ingin tau siapa lelaki yang menikahi mbak Amara. Dan kenapa mereka tetap tinggal di sini? Apa mereka tidak berniat untuk pisah rumah saja? Dan saat kami sedang makan, datang seorang lelaki yang tampan, tebakan ku sih itu suami mbak amara soalnya ia menghampiri mbak Amara. Tuh kan bener itu suaminya.
Tak pernah aku melihat lelaki ini sebelum nya. Siapa dia? Apa dia termasuk lelaki hidung belang sama seperti lelaki pada umumnya? Ya termasuk ayah dan mas Damar. Mesipun mas Damar sudah menikah tapi ia tetap saja berganti ganti pasangan sama hal nya seperti ibu dan aku.
Kami berdua mengikuti jejak ibu yaitu turun ke dunia yang gelap. Bukan tanpa alasan kami seperti ini, kami melakukan ini semua untuk menyambung hidup karena mencari pekerjaan yang halal itu susah dan membuka usaha pun sudah mas damar lakukan namun hasilnya nihil. Malah kerugian yang kami dapat.
Sedangkan aku? Aku turun ke dunia gelap karena aku setres memikirkan semua ini, bagiku a*k*h*o* adalah teman ku, dan s*x adalah pelampiasan ku saja. Yang lebih tepat nya pelampiasan yang menghasilkan uang dalam sekejap mata.
Ternyata nama suami mbak Amara yaitu Andi. Setelah aku cari cari di internet rupanya ia termasuk anak orang kaya, bahkan terkaya di kota ini. Sungguh beruntung kamu mbak. Meskipun aku benci dengan mbak Amara namun, aku tak ada niat sekalipun untuk membalas semua rasa benci ku padanya, karena ia telah mengurus ku sejak kecil dan sampai besar.
Kami berbincang bincang bersama di ruang keluarga. Aku menceritakan pertemuan ku dengan ayah, namun aku tidak menceritakan sedetail mungkin. Karena jika aku menceritakan semuanya pasti mbak Amara akan marah padaku bahkan ia tak segan untuk mengurung ku di rumah ini.
Ia sudah lebih dari seperti ibu bagiku. Bahkan ibu kandungku saja tidak peduli aku mau berbuat apapun sesuka hati, itulah sebabnya saat aku melihat ibu bercumbu dengan pria lain di depan ku, ia tidak menyuruh ku untuk keluar sampai ia akan melakukan pergulatan baru ia menyuruhku untuk pergi.
Mungkin saat ini sudah melahirkan adik tiriku. Yang aku sendiri tidak tau siapa ayah dari anak itu, ibu tidak pernah memberitahu ku soal siapa ayah dari anak itu.
Namun aku berjanji siapapun ayah dari anak itu aku akan membalaskan perbuatan nya. Kita lihat saja nanti cepat atau lambat aku akan mengetahui nya, suka atau tidak.
Saat kami sudah memasuki kamar masing masing. Aku mendapati sebuah pesan dari mas damar, tumben sekali ia mengirimkan pesan kalau bukan aku yang menghubungi nya duluan.
["Dek. Abang akan pulang ke kota tapi abang dengan simpanan abang, boleh abang pinjam apartemen mu?"]
Apa ia akan pulang ke sini dan dengan simpanannya? Siapa simpanan bang damar sekarang? Berani sekali ia membawa nya kemari. Bagaimana jika istrinya tau, aku heran kenapa mereka tak kunjung memiliki anak bahkan rumah tangga mereka sudah ada dua tahun.
["Berapa lama?"] Send
Ting
["Hanya satu Minggu. Dan kamu juga boleh ko tidur di apartemen mu itu, kan ada dua kamar."]
["Ya. Kapan pulang? Bagaimana dengan ka intan?"] Send
Ting
["Besok. Intan sedang liburan ke luar negeri bersama teman temannya."]
["Oke."] Send
Ntah siapa lagi yang akan ia bawa nanti. Trakhir ia bawa istri orang, dan sekarang siapa? Ahh pusing rasanya kepala ku memikirkan nya, kita lihat saja nanti siapa yang akan ia bawa.