
Deret .. deret .... Deret ....
Hp ku berdering saat ku lihat seperti nomor baru, siapa lagi yang menelfon ku?
"Hallo. Selamat sore bisa bicara dengan ibu Amara?"
"Ya, saya sendiri. Maaf ini siapa ya?"
"Saya dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa saudara Damar dan saudari Sinta mengalami kecelakaan di jalan mengarah ke puncak."
"Bapak jangan bercanda. Tidak mungkin Damar berkeliaran, ia sedang di penjara pak."
"Kebetulan menurut pihak kepolisian daerah tempat tinggalnya bahwa saudara Damar sudah bebas bu."
"Ini tidak mungkin pak. Bagaimana bisa dia bebas. Ia di jatuhi hukuman mati."
"Kalau itu saya tidak tahu bu. Jadi bagaimana ini bu? Apakah jenazah kami bawa ke rumah ibu?"
"Ya. Ya Udah bawa ke sini pak. Alamat nya saya kirim ya."
Rasanya tidak mungkin jika Damar dan Sinta kembali bersama, karena seingat ku sinta sangat membenci Damar setelah kejadian tempo hari.
Aku tak bisa membendung air mataku, aku menangis sejadi nya, bukan karena menangisi damar tapi karena adikku satu satunya telah pergi meninggalkan ku, andai saja ia menurut untuk ikut tinggal bersama ku. Mungkin ia tidak akan bernasib seperti ini.
"Kenapa sayang? Ada apa?" Tanya mas Andi. Padaku saat melihat aku menangis bersimpuh di lantai.
"Sinta, mas ..."
"Sinta kenapa?"
"Sinta meninggal huhu."
"Inalillahi. Kenapa bisa begini sayang? Apa ia kembali sakit setelah pasca operasi?"
"Tidak. Ia meninggal kecelakaan bersama damar. Dan anehnya lagi Damar bisa bebas begitu saja mas."
"Apa?"
"Polisi sedang membawa jenazah mereka ke rumah ini, kita harus menghubungi intan. Mau bagaimana pun ia harus tau kebenaran tetang suaminya itu."
"Biar mas yang telfon. Kamu jangan menangis lagi, ingat kandunganmu itu."
Aku mengangguk dan mengganti pakaianku, kini rumah ini sudah siap menyambut kedua jenazah saudara ku itu. Sungguh malang nasibmu Sinta, kenapa kamu harus menuai karma atas perbuatan ayah mu?
Uwi Www.... Uwi W..... Uwi W....
Suara sirene menggema di komplek ku ini, pertanda bahwa mereka sudah datang ke rumah. Saat aku melihat mobil ambulan itu aku semakin menangis, luka atas kehilangan kembali ku rasakan.
"Sinta ..." Jerit ku sambil menangis.
"Bu. Sabar bu seng ihklas legowo." Ucap Talia, dengan logat Jawa nya. Memang ia orang Jawa campuran.
"Sinta. Talia .. ia pergi, ia sudah berjanji untuk tetap bersama aku, tapi kini ia malah meninggalkan aku Talia."
"Sabar bu."
Kini kedua jenazah itu sudah tergeletak di lantai rumah ku. Banyak para tetangga dan teman teman kedua saudara ku ini hadir, sayang ayah tidak bisa hadir karena ia masih kritis, aku tidak tau kenapa ayah sampai sekarang tidak sadarkan diri. Bahkan tidak ada perkembangan yang signifikan terhadap ayah.
Pemakaman mereka akan di langsung kan sore hari kalau tidak hujan. Alhamdulillah nya walaupun perangai mereka buruk, tapi banyak orang yang mau mendoakan mereka dan membacakan ayat ayat suci Alquran.
Tepat pukul tiga sore. Mereka di kebumikan di pemakaman dekat tempat tinggal ku berada, aku sengaja meminta nya untuk menguburkan di tempat itu, karena agar nanti aku tidak terlalu jauh dan tetap bisa merawat kuburan mereka berdua.
Sayangnya aku tidak bisa ikut ke pemakaman, karena aku sedang hamil, menurut ibu ibu komplek bahwa orang hamil di larang untuk ikut ke pemakaman. Takut terjadi sesuatu pada jabang bayi nya nanti
Malam hari nya setelah pemakaman itu selesai kami menggelar acara tahlilan di rumah, aku masih saja menangis karena sangat berat bagiku kehilangan adik tersayang ku ini.
* * *
Tak terasa sudah dua bulan berlalu Damar dan Sinta meninggalkan dunia ini. Dan aku melahirkan seorang putri yang cantik, dan aku memberikannya nama Wulan.
Dan ternyata saat aku sudah pulang ke rumah, intan datang dengan kedua anaknya yang sudah besar itu.
"Assalamualaikum mbak." Ucapnya.
"Waalaikumssalam. Ya Allah Intan, kemana saja kamu?"
"Maaf aku sempat menghilang mbak. Mbak apa kabar?"
"Mbak sehat. Intan. Mbak ingin bicara dengan mu mengenai damar, tapi mbak mohon kamu harus berlapang dada menerima nya."
"Kenapa dengan mas Damar, mbak?"
"Damar sudah meninggal dua bulan yang lalu. Ia kecelakaan mobil bersama Sinta."
"Apa?" Seketika intan bersimpuh dan menangis. Sontak membuat kedua anaknya menghampiri sang ibu, dan bertanya kepada ku. Kenapa ibunya menangis.
Intan menjelaskan bahwa ayah mereka sudah tiada, dan intan meminta maaf karena tidak mempertemukan mereka terlebih dahulu dengan sang ayah.
Singkat cerita. Ayah ku kini sudah kuat dari rumah sakit. Tapi ia harus tetap rawat jalan agar penyakit ayah sembuh.
Mas Andi mengantarkan Intan dan anak anak mengunjungi makam suaminya itu. Intan kembali menangis saat sudah sampai di pemakaman.
Menurut mas Andi bilang, Intan trus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kematian damar, karena dia tidak bisa menjaga suaminya itu. Padahal ini semua sudah takdir dari tuhan.
"Assalamualaikum." Ucap mereka saat sudah kembali dari pemakaman dan sudah membersihkan badan mereka masing masing.
"Waalaikumssalam."
Lalu Intan duduk di dekat ku, ia bercerita bahwa selama ini ia menghilang pergi ke rumah nya yang di kampung, ka berpikir bahwa Damar akan mencarinya ke sana. Tapi rupanya sampai anak anak merek besar pun damar tidak kunjung datang untuk menjemput mereka bertiga.
Intan berusaha sendiri untuk membiayai kehidupan kedua anaknya, sampai saat ini mereka bisa kembali ke kota. Tapi sayang saat mereka kembali, kenyataan pahit lah yang mereka dapatkan.
Kasian kedua anak nya itu, intan juga bercerita bahwa semasa hidup Damar. Tidak pernah mengajak kedua anaknya jalan jalan, bahkan hanya sekedar bermain saja tidak.
Mereka kini menginap di rumah ku untuk beberapa hari. Karena setelah ini mereka akan kembali ke rumah nya yang lama. Padahal aku sudah menyuruh intan untuk tinggal bersama, agar aku ada teman di rumah.
Jujur saja setelah kepergian sinta, aku merasa sendiri, meskipun ada talia tali tetap saja rasanya berbeda.
Jika dengan talia masih ada batasan antara kami. Talia masih enggan denganku, padahal aku sudah menyuruh nya untuk menganggap bahwa aku ini adalah temannya.
Sedangkan mas Andi masih saja tetap galak pada Talia, aku tidak tau kenapa Talia sangat takut dengan suamiku itu.
Aku selamat berpikir bahwa mas andi berselingkuh dengan Talia. Tapi ternyata tuduhan ku itu salah. Mereka hanya sebatas tuan dan nani (baby siter).