
Jarum jam menunjukkan pukul 6 pagi. Amara sudah sibuk di depan layar laptopnya. Rupanya, dia sedang menunggu pesan dari sahabatnya, Reza. Dia mengirim pesan kepada Reza untuk bersiap pergi sekolah, karena sudah siang. Namun, Reza tak membalas pesan Amara. Amara yang panik segera menutup laptopnya dan pergi keluar dari kamar menuju ke halaman rumahnya. Ia lalu bergegas menyalakan motornya dan langsung pergi ke rumah Reza.
Di sana, terlihat ibu Reza sedang menyapu halaman rumahnya. Ia lalu mematikan motor dan pergi menemui ibunya Reza. Ia disambut dengan hangat oleh Bu Yuli, ibu Reza. Dia lalu bersalaman dan bertanya mengenai Reza, mengapa dia tak membalas pesan-pesannya. Ibu Reza menjawab bahwa Reza masih tertidur. Amara sudah menduga ini akan terjadi, ia sudah terbiasa dengan kebiasaan buruk Reza. Ia lalu meminta izin kepada ibu Reza untuk membangunkan Reza. Ibu Reza menyetujui karena sudah dari tadi Reza dibangunkan olehnya, namun ia tidak kunjung bangun. Segera Amara bergegas masuk ke rumah Reza lalu pergi menuju kamarnya. Ia sudah hafal tata letak rumah Reza, karena ia sering bermain disini.
Amara yang melihat Reza sedang tertidur pulas pun langsung mengguncang-guncangkan tubuh Reza hingga hampir terjatuh dari kasur. Amara geram karena Reza tidak kunjung bangun, malahan Reza semakin tertidur pulas. Hingga akhirnya Amara mencabut bulu kaki Reza secara kasar yang membuat Reza langsung bangun sambil mengaduh kesakitan.
"Aduh, sakit Ra astaga" ucap Reza sambil meringis kesakitan.
"Makanya bangun, udah dibangunin dari tadi juga, ini udah siang Ja" ucap Amara yang menahan amarahnya, ia serasa ingin mencabik-cabik badan Reza.
"Iya iya, jam berapa sih? Udah geger aja" ucap Reza sambil mengucek matanya.
"Jam 6 lewat Ja, cepet ih. Nanti keburu telat, gue udah bela belain kesini lagi"-Amara.
"Iya iya bawel, gue mandi dulu, siapin buku gue dong, tolong ya Ra" Reza lalu bangun dan pergi ke kamar mandi dan bergegas mandi. Amara pun langsung menyiapkan buku buku yang akan dibawa Reza. Karena ia satu kelas, jadi dia bisa tahu buku apa yang akan dibawanya. Amara mau tak mau harus melakukan ini, karena jika nanti buku Reza belum siap, ia akan kesiangan. Karena menata buku memerlukan waktu yang lumayan lama.
Setelah Amara selesai menata buku, ia langsung pergi ke ruang tamu dan duduk disana. Ibunya Reza lalu meletakkan sapunya dan pergi membuatkan Reza susu untuk sarapan.
Setelah beberapa menit menunggu, Reza pun siap untuk berangkat. Amara dan Reza pamit kepada ibu Reza untuk berangkat sekolah. Di halaman rumah Reza, Amara memberikan kunci motornya kepada Reza. Ia ingin agar Reza yang mengendarai motornya.
Reza menerima kuncinya dan langsung menyalakan motor itu, lalu bergegas pergi.
Di perjalanan, Amara sempat mengomel karena Reza mengendarai motornya sangat lambat. Amara takut kalau mereka akan telat ke sekolah, ia juga sempat menawarkan diri untuk mengemudi motor itu, agar lebih cepat. Namun, Reza berusaha keras meyakinkan Amara bahwa mereka tidak akan telat. Amara yang mengancam bahwa akan meninggalkannya pun langsung mempercepat laju kendaraan bermotor itu. Hingga pukul 7 tepat, mereka sampai di sekolah.
Mereka langsung memarkirkan motornya di parkiran. Lalu pergi ke kelas. Kelas mereka terletak di lantai dua sekolah itu. Mereka sempat adu mulut serta bercanda di sela mereka berjalan ke kelas. Setibanya di kelas, Sarah, teman sebangku Amara sudah terlihat sibuk mengerjakan pr nya dengan melihat jawaban milik orang lain. Amara lalu duduk di tempatnya dan mengeluarkan buku pelajarannya. Sedangkan Reza, dia meletakkan tasnya begitu saja dan langsung pergi ke luar kelas untuk bercanda bersama teman sebayanya. Amara yang melihat Sarah pun bertanya kepadanya apa yang sedang ia kerjakan.
"Sar, lo ngerjain apa?" ucap Amara.
"Lo liat aja sendiri deh, gue ga sempet jawab nih" Sarah merasa malas meladeni Amara, karena ujung-ujungnya juga ia akan diledek sebagai murid teladan oleh Amara, karena ia jarang mengerjakan pr.
"Apa ya? Gue rabun nih Sar" ucap Amara asal ceplos.
"Pergi ke dokter mata yu sayang, gue anterin. Gratis buat lo, spesial nih, nanti disana lo bakal dicolok colok sampe mata lo ga rabun lagi" Sarah menahan emosinya, ia ingin sekali memukul Sarah dengan menggunakan penggaris besinya.
"Bercanda Sar"-Amara.