AMARA

AMARA
Bab 13



Aku tau kalau ayah sedang merencanakan semuanya, aku pun tau orang yang menanyakan rumah ku itu adalah suruhan ayah, aku bisa tau semua itu karena cctv di rumah lama ku masih menyala dan di sana terlihat ayah sedang mengobrol dengan orang itu dan memberikan sejumlah uang padanya.


Karena ku tau dia adalah orang suruhan ayah maka aku berikan dia harga yang sangat tinggi dan tanpa ku duga rupanya orang itu setuju, aku yakin ayah mendengar semua percakapan ku dengan nya, karena dia memakai headset yang hanya kepala nya saja.


Dan ternyata orang itu bukan menyewa melainkan membeli nya langsung, jelas aku memberikan harga dua kali lipat dari harga awal ayah beli, ini semua baru setengah perjalanan ayah sabar lah dulu jangan tergesa gesa, semua butuh proses.


Proses jual beli lancar dan aku mendapatkan apa yang ku mau, aku sudah menghubungi rumah temanku di kota ini, aku ga mungkin langsung pulang ke rumah baruku karena ayah mengikuti ku dari belakang.


Dan benar saja rupanya ayah mengikuti ku, dan keesokan harinya dia datang lagi dan menanyakan ku, untung saja aku saat itu bersembunyi di dalam kamar dan mendengarnya dari jendela, kalau saat itu aku sudah di luar kamar, akan di pastikan ayah memaksa ku untuk memberitahu rumah baru.


"Bilang Amara maafkan saya, saya sangat tersiksa dengan rasa bersalah ini, saat ini Damar anakku hanya mengurung diri di dalam kamarnya, dia tak mau keluar, di tambah lagi Sonya istriku selalu saja marah marah dan bahkan mengamuk, saya seperti mau gila rasanya." Ucap ayah dari luar sana,


"Ya ayah itu semua yang ku mau, ayah merasakan apa yang aku rasakan dulu." Ucapku di dalam kamar


"Maaf om Amara ga ada di sini, dan ini rumah saya, menurut saya om pantas mendapatkan ini semua apa om lupa dengan apa yang telah om perbuat dengan hidup Amara.? Saya harap om ingat itu dengan baik, oh ya sebaiknya om pulang saja percuma om di sini tak akan ada hasilnya, dan jika nanti saya bertemu dengan Amara pasti saya sampaikan itu semua padanya." Ucap teman ku Gita


Akhirnya ayah pulang juga namun aku tak langsung keluar aku takut ayah kembali lagi, pintu rumah langsung di kunci oleh Gita, dan saat gita bilang aman aku langsung keluar kamar.


Gita menceritakan semuanya pada ku, tapi aku hanya biasa saja, aku malah tersenyum puas mendengarnya ada rasa kasian sedikit tapi rasa benci dan dendam yang banyak.


Masih untung tidak ku bunuh dia, aku sudah mendapatkan uang yang banyak, dan ibu sudah sangat membaik sejak hari itu, usaha ku sudah mulai maju dan berkembang.


Bi marni dan pak parjo supir di rumah ku, yang slalu setia menemani ku, mereka tau apa hubungan ku dengan ayah dan mengapa aku membenci nya, itu sebabnya mereka mau ikut dengan ku dan membungkam semua informasi tentang ku pada siapapun.


Hari demi hari berlalu kini berganti Minggu, Minggu berganti bulan, Bi Marni cerita saat dia sedang ke pasar dia bertemu dengan ayah dan ya seperti yang ku takutkan selama ini ayah menanyai semua hal tentang kua, menurut bi marni sekarang ayah jauh lebih kurus dan seperti tak terurus, untung nya bi marni bisa mengecoh ayah, ayah tak tinggal diam dia melakukan apa yang pernah di lakukan nya padaku, ya membuntuti BI marni.


Untung saja bi marni mau menempati janjinya dulu kalau beliau ga bakalan kasih informasinya pada siapapun.


Saat ini ibu sudah sembuh, dan tidak makan obat lagi, mental ibu sudah stabil, aku senang melihat ibu hidup dengan normal, uang hasil dari penjualan rumah itu aku tabung untuk sewaktu waktu sedang kepepet.


Aku sudah tidak mendengar lagi semua tentang ayah, dendam ku masih tersusun rapih di hatiku, dan suatu saat akan meledak ntah jalan itu aku pun tak tau.


"Oh ya, lalu ayah bilang apa sama bibi? Apa dia menanyaiku.?"


"Iyah non, bibi sampe gemetar mau jawab nya bibi ingat janji bibi sama non, trus non mau buat apa lagi sekarang.? Kalau Non mau pindah lagi bibi rasa akan sulit karena usaha lele paman non sedang naik naiknya."


"Benar kata bibi, lalu aku harus bagaimana.?"


"Lebih baik non cari tau lebih dulu sama nyonya, siapa tau mental nyonya sudah sangat baik dan siap bertemu dengan tuan, jika seperti itu non akan lebih leluasa membalaskan sakit hati nyonya."


"Aku pikir pikir dulu deh bi, eh trus gimana ceritanya bibi bisa lolos dari ayah.?"


"Bibi cari akal non, bibi pergi ke kerumunan ibu ibu belanja beruntung di sana ada orang yang bajunya mirip sama bibi jadi bibi bisa sembunyi, dan tuan mengikuti perempuan itu hehehe."


"Sudah non, saya mau masak dulu sebentar lagi waktu nya makan siang."


"Hahahaha bibi ada ada saja loh, ya sudah masak yang enak ya Bi."


Apa aku harus melakukan yang di sarankan oleh bibi ya.? Tapi bagaimana kalau ibu masih terguncang? Apa tidak akan membuat masalah baru.?


Saat aku sedang melamun ibu menghampiri ku, dan duduk di samping ku ibu bercerita kalau suatu saat ibu bertemu dengan ayahku, ibu akan pukul dia ibu akan marah sama dia ibu gak akan rela melihat dia bahagia.


Sungguh ibu kenapa bisa tau tentang apa yang aku pikirkan? Apa ibu bisa baca pikiran.? Hahaha aneh aneh saja yang ku pikirkan ini, tapi jika ibu sudah bicara demikian aku sedikit tidak ragu lagi untuk membawa ibu bertemu dengan ayah.


Aku akan mengatur pertemuan mereka, sebelumnya aku cek situasi dulu dan mencari informasi tentang ayah, rupanya sinta ga mau kehilangan ayah, bahkan dia rela hidup miskin bersama ayah jika suatu saat nanti aku meminta semua harta miliknya.


Sungguh perempuan b0d0h padahal di luar sana masih banyak laki laki yang mau dengannya. Tapi aku rasa ada untungnya juga dengan begitu aku bisa menempati rumah mewah itu, dan aku bisa saja meminta mereka manjadi pembantu atau supir ku hahaha.


Kini anak bungsu ayah sudah besar dia sudah pasti mengerti tentang apa yang terjadi saat ini, bahkan menurut informasi yang ku dapat ayah kerap kali bertindak kasar pada sinta, sungguh perempuan b0d0h yang malang, dia bertahan dengan laki laki yang sudah jelas udah ga mau dengan dia masih aja di pepet.