
Aku sudah tidak tahan lagi tinggal bersama ayah, ia selalu menyiksa ku tanpa ampun, menurutnya aku sudah membuat ia sangat malu karena aku telah bersetubuh dengan Kaka kandungku.
Padahal ini semua bukan kemauan ku, aku di jebak oleh bang damar, ntah apa maksud bang damar berbuat seperti ini. Aku sungguh membencinya, bahkan aku sudah berulang kali berusaha m*n*g*r*a* kandunganku ini. Tapi sayangnya, anak yang ku kandung sangat kuat, ia tak mau pergi meninggalkan rahim ku.
Sungguh aku membenci semuanya, aku ingin pergi dari rumah ini, aku tidak mau tinggal di sini lagi, tapi bagaimana caranya? Aku bingung, semua jendela di rumah ini memakai tralis dan semua pintu juga sama.
Para pekerja di rumah ini, semua sudah di stel oleh ayah agar tetap mengawasi ku, apa kah aku aib terbesar ayah? Sampai ayah tega melakukan ini semua? Tapi kan ayah juga dulu lebih jahat lagi dari ini, bahkan ayah telah melupakan mbak amara, anak yang sama tak berdosanya dengan anak yang ku kandung.
Kenapa ayah tidak adil denganku? Kenapa ayah begitu tega padaku? Sekarang keadaan perusahaan ayah sudah membaik, bahkan ternyata rumah ini sudah di kembalikan oleh mbak Amara.
Aku tak menyangka kalau bunda Lia, sudah meninggal bersamaan dengan al adik tiriku, kenapa orang orang baik selalu meninggalkan aku? Bahkan ibu juga pergi, bang damar jahat padaku dan kini aku tinggal bersama ayah yang sama jahatnya dengan bang damar.
Aku tak tau bagaimana kabar mbak intan, jika ia mengetahui semua ini, ingin rasanya aku menghancurkan rumah tangga bang Damar dan mbak Intan.
* * *
Di pagi yang cerah, saat aku sedang duduk di atas balkon kamar ku, aku melihat sebuah mobil yang tak asing datang ke rumah ini. Dan benar saja, aku mengenali yang membawa mobil itu, ternyata mbak intan tapi kenapa ia seorang diri? Dimana bang damar? Apakah bang damar si banci itu? Sampai ia tak mau menginjakkan kaki lagi ke rumah ini.
Dengan cepat aku berlari turun, untuk menemui mbak intan, aku akan bicara padanya bila perlu aku akan menghancurkan rumah tangganya itu, sungguh aku benci sekali pada lelaki yang berstatus Abang ku itu. Saat aku turun, ternyata ia sedang duduk bersama ayah di ruang tv, aku trus berjalan menghampiri nya.
"Hai mbak. Apa kabar?"
"Hai. Aku baik, kamu apa kabar.?"
"Baik juga, dimana abangku.? Apa ia tidak ikut.?"
"Mas damar. Ia sedang di Australia bersama rekan bisnisnya."
"Apa mbak yakin. Ia pergi hanya untuk pekerjaan.?"
"Ya. Selama ini ia pergi hanya untuk bekerja, dan akan selalu di rumah jika semua pekerjaan nya sudah selesai. Memangnya kenapa Sinta.?"
"Sinta. Jangan bahas ini semua sekarang." Ucap ayah lembut
"Tapi ayah.. mbak intan harus tau ini semua."
"Ada apa ini ayah.? Dan kenapa dengan suamiku.?
"Suamimu telah menghamili ku mbak. Dan asalkan kau tau, suamimu itu belok alias suka sesama jenis."
"Jaga bicaramu Sinta. Ayah ada apa ini.? Apa kah ini tujuan ayah menyuruhku datang kemari.?"
"Tidak nak. Ayah menyuruhmu kemari hanya ingin tau keberadaan damar."
"Tapi ayah. Kenapa ayah tidak bilang saja langsung padaku, dan kamu sinta. Apa buktinya jika memang benar damar lah yang melakukan nya. Bisa saja kan orang lain, dan tidak mungkin mas damar berbelok, kamu jangan fitnah Sinta."
"Aku banyak saksinya, aku bisa memanggil mereka untuk datang kemari, dan asal kamu tau mbak. Bang damar itu sudah belok sejak beberpa tahun lalu, bahkan ia sering datang ke apartemen ku hanya untuk bersenang senang dengan selingkuhannya itu."
Plak
"Aku sudah katakan jaga ucapanmu Sinta. Apa kamu tidak malu berbicara seperti itu padaku.? Bahkan kamu memfitnah Kaka kandungmu sendiri."
"Aku tidak fitnah mbak."
"Sudahlah ayah. Aku tidak percaya dengan semua ini, aku tetap mempercayai suamiku daripada kalian semua."
"Terserah. Tapi kamu harus berhati hati mbak, jangan sampai anak anakmu juga ikut jejak ayahnya."
Plak
Aku balik menamparnya, berani sekali ia menghina yang sudah meninggal, bahkan aku saja tidak berani menghina ayah dan ibunya mbak intan yang sama sama gigolo.
"Jaga ucapmu mbak, jangan pernah menghina orang yang sudah meninggal, apa kamu tidak sadar hah kalau orang tua mu itu seorang gigolo dan bahkan dengan rela nya menjual sang anak pada bang damar."
"Apa.? Jadi intan di jual orang tuanya pada damar.? Pantas saja damar selalu berselingkuh mungkin ia tidak mencintai mu."
Akhirnya ayah bersuara juga, ia ikut menghina mbak intan. Kenapa tidak dari tadi saja ayah ikut menghina nya.
"Apa apaan ini.? Kenapa kalian menyerang ku.? Aku mau pulang."
"Tidak bisa begitu, kamu harus tetap berada di sini sampai suamimu datang."
Dengan cepat aku menoleh ke ayah agar ayah memanggil para penjaga nya untuk menyeret mbak intan, sadar aku memberi kode, ayah cepat tanggap dan beberapa saat kemudian mereka datang di waktu yang tepat, saat mbak intan akan pergi.
"Lepaskan aku. Aku akan pergi, aku akan melaporkan kalian semua atas tuduhan ini."
Dengan cepat aku merebut tas nya, tujuan ku adalah mengambil hp nya, setelah aku mendapat kannya, aku membuka hp mbak intan, dan ternyata hp nya tidak menggunakan kunci ganda. Sungguh mbak intan ceroboh sekali apa ia tidak takut jika suatu nanti hpnya di curi dan semua data di ambil.
Aku mengirimkan pesan pada bang damar, sekedar memberikan kode agar dia datang kemari.
["Sayang. Datang lah ke rumah ayahmu, aku sedang berada di rumahnya."] Send
Ting
Ternyata tidak perlu menunggu lama, bang damar langsung membalas pesanku itu.
["Sedang apa kamu di sana sayang."]
(Gambar foto) send
Aku mengirim kan sebuah foto mbak intan, yang sengaja ku beri obat tidur tadi, dan menelanjangi nya lalu menyuruh salah satu dari orangnya ayah untuk pura pura tidur dengan mbak intan.
Ting
["Kurang ajar sekali kamu, cepat kembali ke rumah atau aku akan menyiksamu.]"
Aku tertawa melihat isi pesan ini. Sengaja aku mengirimkan voice note suara ******* agar ia semakin meradang.
Ting
["Awas kamu prempuan mu**n"]
["Cepat lah datang kemari sayang. Aku sudah tidak tahan.]" Send
Ternyata sangat mudah untuk menjebak bang damar, aku dengan senang hati menunggumu bang, kamu harus membayar semua ini. Gara Gara kamu aku jadi menderita dan di kurung oleh ayah, kamu harus membayarnya dengan setimpal tidak akan aku melepaskan mu begitu saja.
Aku berharap semoga anak anaknya mengalami hal yang sama seperti ku, agar kamu tau bagaimana rasanya menjadi aku, yang hidup dengan kesengsaraan dan siksaan dari ayah, kamu harus membayar mahal semua ini.
Sambil menunggu, aku mengecek banking milik mbak intan, Ternyata ia memiliki banyak uang, dan aku mengirimkan semua uang itu ATM ku. Dan b0d0h nya lagi, mbak intan menulis pin ATM nya di note hp nya dengan mudah aku mendapatkannya.
Ting.
Sebuah notifikasi masuk ke hp ku, pertanda transferan yang aku kirim sudah berhasil, dan kini hanya tersisa nol rupiah di banking milik mbak intan, rasakan semua ini hanya baru permulaan saja mbak, mungkin nanti kamu akan merasakan yang jauh lebih menyakitkan daripada ini semua tunggu saja.