AMARA

AMARA
Bab 54 Prov Intan2



Berhubung mas Damar, sedang pergi ke Bali jadi aku dan anak-anakku pulang ke Indonesia. Dan sudah beberpa hari ini berada di rumah lama ku,karena aku sangat rindu dengan rumah lama ku ini. Di rumah ini tersimpan banyak sekali kenangan bersama mendiang ibuku.


Aku sangat dekat dengannya tapi tidak dengan ayah. Karena ayah sangat sibuk dengan pekerjaan nya, dan ibulah yang selalu menemaniku sampai aku besar dan di pinang oleh mas Damar. Sampai akhirnya ibu meninggal dunia, karena kecelakaan. Semenjak ibu meninggal, ayah menjadi aa berubah dan sering murung di tambah lagi ayah tidak ingin pergi ke kantornya lagi dan tidak ingin bermain dengan cucu nya. Sampai akhirnya kantor milik ayah bangkrut, dan ternyata selama ini ayah memiliki banyak hutang dengan beberpa rentenir. Bahkan fakta lain baru aku ketahui bawa ia kerap kali ikut bermain judi online bersama teman temannya.


* * *


Saat aku sedang duduk, melihat anak ku bermain bersama para susternya tiba tiba ada notifikasi pesan masuk ke dalam hp ku.


Dan saat aku melihat nya, ternyata nomor baru yang tidak aku ketahui.


Ting!


["Datang lah ke rumah. Di jalan manggarai komplek lestari nomor lima."]


Aku mengernyit kan dahi, aku tak tau siapa yang mengirimkan ku pesan ini. Karena aku penasaran, aku pun membalas nya.


["Maaf anda siapa ya.?"] Send


Ting!


["Saya Dani. Ayah mertua mu, cepat datang ke sini ada yang ingin aku sampaikan."]


Aku kaget saat melihat pesan terakhir itu, tenyata ayah mertua ku yang mengirimkan pesan padaku, tanpa menunggu lama aku pun bergegas pergi. Namun, sebelum itu aku menitipkan dulu anakku pada mereka. Aku tidak ingin membawa mereka, karena aku belum tau apakah benar itu adalah ayah mertua ku tau bukan.


Aku takut jika bukan ayah mertuaku, dan melukai anakku bahkan lebih parahnya mencoba membunuh mereka.


"Bi. Titip anak-anak ya. Saya mau keluar dulu sebentar, kalau saya belum juga pulang saat malam nanti tolong temani mereka tidur. Dan jangan tinggalkan mereka sendirian sampai saya kembali."


"Baik bu."


Aku berlalu pergi, menggunakan mobil kesayanganku ini, sudah lama sekali aku tidak menyetir. Aku trus mencari alamat yang di kirimkan yang katanya ayah mertua itu. Sampai akhirnya aku sampai di sebuah rumah yang bernuansa ungu, sungguh rumah ini sangat besar sekali, andai aku tinggal di dalam sana bersama dengan keluarga kecilku.


Tin ... Tin ...


"Pak satpam." Teriakku


"Ya bu, cari siapa ya?"


"Saya mau ketemu dengan ayah mertua saya, pak Dani."


"Maaf ibu ini siapa? Setau saya beliau belum memiliki menantu seorang wanita."


"Saya istri mas Damar, tolong dong bukain pintu."


"Tunggu sebentar ya bu. Saya tanya tuan dulu."


"Ya. Silahkan."


Aku menunggu satpam itu menelfon ke dalam, tak beberpa lama kemudian. Ia membuka kan pagar untukku dan langsung menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah.


Aku turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Aku menoleh ke arah satpam tadi, dan ia memberikan isyarat untuk aku langsung masuk saja ke dalam rumah.


Aku pun memberanikan diri untuk masuk, saat aku masuk ke dalam. Waw rumah ini sangat mewah, terdapat beberapa foto yang di pajang.


Di sana juga ada foto dua keluarga, yang pertama adalah foto keluarga mas damar, tapi yang kedua, aku tidak mengenalinya. Seperti nya itu foto keluarga yang sering di ceritakan mas damar.


"Intan." Sapa seorang lelaki. Mungkin ia adalah ayah mertua ku.


"Mari duduk nak. Aku Dani. Ayah mertuamu."


"Ada apa ayah memanggil ku kemari?"


"Aku ingin bicara sesuatu padamu nak, dan kamu harus mengetahui semua ini. Dan maaf aku baru memberikan mu kabar sekarang, karena aku sudah sakit sakitan. Semenjak lia istriku yang paling aku cintai pergi meninggalkan rumah ini."


"Ada apa ayah? Katakanlah."


"Minum lah dulu nak." Aku pun langsung meminumnya. Lalu menoleh ke arah ayah, memberikan isyarat untuk memberitahu ku ada apa yang sebenar terjadi.


"Sebenarnya ..."


Belum sempat ayah membahas hal penting itu, Sinta muncul dari atas. Tapi ko ...


Kenapa perut nya menjadi besar? Apa kah sinta sudah menikah? Tapi kapan? Kenapa mas Damar tidak memberitahu ku? Ia terus berlanjut menghampiri kami yang sedang duduk.


Ia melemparkan senyum ramah padaku, sampai akhirnya ia memberi tahu ku sebuah fakta bahwa mas Damar benar-benar menghamili kedua adiknya itu. Bahkan ternyata mas damar selalu mengajak selingkuhannya pergi ke apartemen milik Sinta.


Pantas saja ia sangat betah berada di apartemen itu, rupanya ada niat terselubung di dalamnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata almarhum ayahku telah menjual aku pada mas Damar. Karena ia terlilit hutang.


Sungguh aku tidak menyangka mereka bisa melakukan ini padaku, yang tidak tau apa apa. Aku yang sudah tidak ingin lagi mendengarkan cerita dari mereka bergegas untuk pergi, tapi sayang belum berhasil aku pergi.


Datang dua orang lelaki yang bertubuh kekar, ia menyeret ku untuk masuk ke sebuah kamar, aku di ikat dan di kurung di dalam kamar ini.


Sinta mengikuti ku, setelah aku berhasil di ikat dan mulut ku di lakban, ia menyobek kan bajuku. Sampai hanya dalaman saja yang tersisa, setelah itu ia membuka lakban di mulut ku. Ia mengambil sebotol minuman keras beralkohol, dan memasukkan sebuah pil yang ntah apa itu.


"Cepat buka lakban nya." Titah nya pada kedua lelaki itu.


"Aww ... sinta. Apa apaan ini? Kenapa kamu melakukan ini semua pada Kaka ipar mu hah?" Tanya ku dengan suara lantang.


"Aku hanya ingin mbak, membuat mas Damar merasakan apa yang telah aku rasakan mbak. Aku selama ini selalu di siksa oleh ayah karena perbuatan bejad nya itu. Dan lihat sekarang aku hamil anaknya."


"Kamu berbohong Sinta."


"Diam ..." Teriaknya.


"Cepat buka mulutmu mbak."


Aku tepat tidak membuka mulut ku ini, aku tidak akan membuka mulut, tapi sayang tangan kekar milik kedua orang itu berhasil membuka mulut ku, sampai akhirnya aku menelan sebagian air itu dan membuatku pusing dan terasa melayang.


Rasanya kepala ku sangat pusing sekali, dan kenapa rasanya badan ini panas sekali, bahkan aku sangat bergairah. Sinta memerintah anak buahnya itu untuk membuka kan ikatan di tangan dan kaki ku ini, dan saat itu pula aku menyerang kedua penjaga itu, aku memaksanya untuk menyetubuhi ku, sungguh saat ini aku sangat menginginkan itu semua.


Pikiran ku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, ntah dimana pikirannya itu, tega sekali memperlakukan Kaka ipar nya seperti ini. Meskipun aku tau kalau Sinta bukanlah adik kandung dari mas Damar.


Dan bahkan aku juga tidak mempermasalahkan jika mas Damar membalas semua perbuatan ayah tirinya itu dulu, kepada mendiang ibu mertuaku.


Aku juga sudah mengetahui bahwa mas damar juga menculik dan memperkosa anak dari ayah kandung nya. Jelas saja aku pun tidak mempermasalahkannya. karena bagiku yang terpenting mas Damar tetap bersama ku dan anak-anak.


Dan puncak kesabaran ku adalah saat aku mengetahui kalau mas damar menikahi ku bukan karena cinta melain kan karena ia memberiku dari ayah. Ayah telah tega menjual ku karena ia terlilit hutang dengan orang lain. Dan parahnya lagi ayah mengetahui bahwa mas damar berselingkuh, dengan sesama jenis. Tapi ayah mendiamkannya karena bagi dia, yang terpenting hutangnya lunas.


Kenapa aku baru mengetahui ini semua dari hasil rekaman yang sinta berikan padaku? Kenapa mas Damar tidak berterus terang saja padaku? Sampai ayah meninggal pun aku tidak mengetahui semua ini.


Semasa hidup ayah. Ayah sering bergonta-ganti pasangan. Sampai akhirnya ayah di nyatakan memiliki penyakit HIV dan sudah sangat parah, ia menolah untuk berobat dan memilih untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil nya dengan trotoar jalan tol.