
Aku kaget saat melhat mas dani sudah berada di ambang pintu rumahku, bagaimana mungkin ia bisa sampai di sini? apa ia mengikuti amara dan bi marni tadi.
"mau apa kamu kemari mas?"
"aku ingin menjemputmu sayang, kumohon kembalilah padaku. aku menyesal aku sungguh menyesal sayang."
apa? ia mengajakku kembali? apa ia sudah g*l* aku tak akan pernah mau kembali padanya sampai kapanpun, aku tak mencintainya. aku menikah dengannya karena ingin membalas dendam saja tak lebih dari itu.
aku masih diam melihat apa yang ia akan lakukan selanjutnya. ku perhatikan terus ia. sampai akhirnya ia berusaha untuk mendekati al anak kami, namun aku cegah karena aku tak sudi anakku di sentuh oleh nya. ya tuhan maafkan aku karena telah memisahkan anak dan ayah nya, tapi yang kulakukan ini hanya untuk memberikannya pelajaran agar ia mengerti bagaimana sakitnya di pisahkan dengan anak kandungnya sendiri.
"stop mas. mau ngapain kamu?"
"aku ingin menggendong anakku lia. ayolah kembali padaku, ini demi anak al anak kita."
dia bilang demi al anak kita? apa ia tak mikir bagaimana amara dulu? ia tidak berpikir bahwa amara juga anak dia?
"apa katamu mas? demi al? lalu bagaimana dengan amara? ia juga anakmu mas. kau harus ingat itu."
"ya. amara tetap anak pertamaku, kumohon kembalilah. aku kesepian setelah kalian pergi dari hidupku aku merasa tidak ada gunanya lagi untuk hidup."
"pergi dari rumahku mas. aku tak akan pernah kembali padamu sampai kapanpun itu."
"tapi ..."
"mang ujang. tolong bawa bapak keluar dari rumah saya, dan jangan biarkan ia masuk lagi kemari. jika ia memaksa teriak maling saja, agar di gebukin sama warga."
ku lihat mas dani melotot ke arahku. aku yakin ia kaget dengan perkataanku barusan, maafkan aku tuhan karena sudah kurang ajar terhadap lelaki yang masih berstatus suamiku itu.
dengan terpaksa akhirnya mas dani pun pergi dari rumahku. setelah kepergian mas dani, aku merasa was was aku takut kalau ia kembali lagi dan menjadikan al sebagai senjatanya. karena al masih anak kecil yang belum bisa berbuat apa apa selain menangis, meskipun ia sedang belajar bicara.
tiga hari setelah kedatangan mas dani ke rumah. aku masih saja mengurung al di rumah dan mengajaknya bermain hanya di halaman belakang saja, namun ternyata mas dani tidak berani datang kembali menemui kami. sampai akhirnya aku pun membolehkan al untuk bermain lagi di taman komplek di temani oleh silvi.
tepat pukul tiga sore silvi menelfon ku sambil menangis. ia bercerita kalau al hilang dan ia sudah cari kemana mana namun tidak ditemukan, apa yang aku takutkan terjadi juga. aku sudah yakin kalau dalang dari semua ini adalah mas dani, siapa lagi kalau bukan dia pelakunya.
"hallo bu,, huhu huhu. bu maafkan saya bu. den al hilang, saya sudah cari kemana mana tapi ga nemu."
"hilang? memangnya tadi kamu kemana? sampai anak saya hilang."
"maaf bu. tadi den al minta untuk di belikan telur gulung. namun saat saya berbalik melihat den al, ia sudah tidak ada bu."
"oh,, ya sudah cepat pulang."
"tapi den al ..."
"pulang ..." tutt tuttt
aku langsung mematikan telfon. dan satu jam kemudian bi edoh mengirimkan ku pesan.
tingg
["maaf nyonya mengganggu. saya mau memberitahu kalau den al ada di rumah tuan sekarang, ia sedang tidur di kamar milik nya. tapi saya tidak berani membawa nya keluar karena tuan mengancam saya."]
["oke makasih ya bi. bibi tidak usah keluar saja biar saya dan amara yang kesana, bibi jangan tinggalkan al sendirian. saya akan segera kesana.] send
["baik nyonya."]
kan rupanya mas dani yang membawa anakku pergi, sungguh ia keras kepala sudah di bilang kalau aku tak akan pernah mau kembali lagi padanya sampai kapanpun itu. aku benar benar di buat darah tinggi oleh mas dani, apa ia tidak memikirkan bagaimana keadaan al? aku merasa kalau al terus menangis karena perbuatan mas dani.
tok
tok
tok
"Amara buka nak. ibu ingin memberitahumu sesuatu mengenai ayahmu."
ceklek
"ada apa dengan ayah? ayok masuk bu."
"disini saja. karena kita harus segera bergegas."
"tenang bu, jangan panik. ceritakan dengan tenang."
"kita harus segera ke rumah ayahmu nak. karena al adikmu di culik olehnya, untuk senjata agar ibu kembali padanya."
"apa? berani sekali ayah, kalau begitu aku telfon bibi dan paman dulu agar mereka juga ikut ke rumah ayah, aku juga akan menelfon mas arul."
"ibu duduk dulu di sini."
Akupun menurutinya. Aku berusaha untuk tetap tenang walaupun sebenarnya hati ini tidak bisa tenang sama sekali.
Beberapa menit kemudian Arul calon menantu ku datang untuk menjemput kami. Sedangkan Lisa dan ali sudah menunggu di depan gerbang komplek mas dani.
tanpa mengulur waktu lagi kami semua pergi ke rumah mas dani. aku sudah tidak sabar untuk segera membawa anakku pulang, tuhan lindungilah anakku di sana. walaupun ia bersama ayahnya tapi ntah mengapa prasaan ini sungguh tidak tenang, silvi baby sitter di rumahku terus menangis dan meminta maaf karena kelalaian nya.
setelah satu jam kemudian kami semua sudah berada di depan rumah mas dani. terlihat mang udin kaget dengan kedatangan kami secara mendadak.
"bapak dimana?"
"tuan ada di dalam nyonya. silahkan masuk."
aku berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan perkataan amara dan lisa. aku langsung menerobos masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan al ada dimana.
"al. anak ibu adaa dimana kamu nak? ini ibu datang sayang."
aku trus berteriak. namun mas dani yang malah keluar, aku lupa kalau aku tadi bisa saja langsung masuk kedalam kamar milik al. karena aku sudah tau letak letak nya di rumah ini, ku lihat mas dani tersenyum melihatku datang namun berbeda denganku. aku menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian, dan sat ia sudah berada di depanku ia berusaha untuk memelukku namun aku tepis.
"sayang. akhirnya kamu datang juga."
plak
bukannya menjawab aku malah menamparnya dengan sangat kuat. tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit yang selama ini aku rasakan.
"kenapa kamu menamparku sayang? dan kenapa ramai sekali yang datang ke rumah ini? apa mereka juga akan tinggal bersama kita di sini? wah rumah kita akan ramai kembali sayang."
"ga usah banyak bicara. cepat katakan dimana al? kenapa kau menculiknya?"
"al aman bersamaku tenang saja. aku terpaksa sayang karena aku ingin kau kembali ke rumah ini, tapi kau menolaknya trus."
tanpa menghiraukan perkataannya, aku menyuruh silvi untuk mencari keberadaan anakku. aku melihat mas dani diam saja, dan aku melihat amara menahan amarah namun arul mencoba untuk menenangkannya.