AMARA

AMARA
Bab 52 Damar 2



Aku tidak berhasil menemukan gunting yang ku cari. Apa mereka sudah mengamankan semuanya.? Siapa yang merencanakan ini semua? Ku lirik kembali Intan yang kini sudah menggunakan baju, sedangkan lelaki tadi ntah kemana dia. Mungkin ia kabur karena takut.


aku semakin murka saat melihat ekspresi dari intan, entah apa yang di perbuat Sinta sampai Intan menjadi seperti ini. Selama ini Intan sangat setia denganku, ia sangat mencintaiku meskipun aku sudah berulang kali membuatnya terluka, bahkan aku pernah terang terangan membawa selingkuhan sesama j*n*s ke rumah, tapi intan tidak curiga pada kami.


Bahkan ia juga mengetahui bahwa aku telah menghamili kedua adikku, karena tuntutan balas dendam dari ibu. Aku melakukan ini semua hanya karena demi membalaskan sakit hati yang telah ibu rasakan saat ayah selalu saja mengutamakan bunda lia.


D tambah lagi aku sangat sakit hati dengan perlakuan amara padaku. Ia menolak ku dengan alasan saudara dan setelah aku menelusuri semuanya, ternyata aku bukanlah anak kandung dari ayah.


Aku terus menatap intan dengan sangat tajam, tapi ia  sama sekali tidak merasakan takut padaku bahkan ia membalas menatapku, aku kembali berjalan mendekati nya berjalan dengan langkah cepat menuju arah ranjang dimana Intan berada. Sedangkan sang lelaki tadi sudah kabur terlebih dahulu saat aku sedang sibuk mencari gunting. sungguh s*a*!


plak


Aku kembali menampar nya, tapi ia masih saja diam tanpa berkata apapun lagi seperti pertama kali aku menemukannya sedang b*r*g*m*l dengan lelaki tadi.


"Kenapa diam saja ha? Apa sekarang kamu sudah tidak berani melawanku lagi Intan? bagaimana jika anak-anak mengetahui ibunya seperti ini? kau sungguh menjijikan Intan, kau sama dengan Sinta. sama sama m*r*h*n." ucapku lantang pada Intan.


"Apa kau tahu Intan, aku membeli mu dari ayahmu yang mata duitan itu. Aku sengaja mendengarkan percakapan ayah mu dulu. Saat ia sedang di tagih oleh rentenir karena terlilit hutang. Dan kebetulan aku sedang membutuhkan seseorang untuk tameng ku agar keluar dari rumah ini. Jika kamu bertanya kenapa aku membeberkan semua ini, aku sengaja Intan."


"Karena kamu sudah terlanjur mengetahui semuanya, jadi lebih baik sekalian saja kau mengetahui alasanku menikahi mu. Dan kau tahu, awalnya aku sangat mencintaimu tapi seiring berjalannya waktu. Rasa cinta itu hilang intan, itu sebabnya aku tidak pernah menyentuhmu. Aku tau kau sudah tidak p*r*w*n lagi, dan kau suka menjajakan diri di luar sana." ucapku panjang lebar pada Intan. Namun, lagi lagi ia hanya diam saja tanpa membalas perkataanku sedikitpun.


plak


"Cukup mas. sedari tadi aku diam saja mendengarkan mu yang  terus saja menghinaku seperi ini, kamu kira aku tidak mengetahui semua kebusukan mu ha? Aku tahu mas, aku tahu saat kamu membawa Edward ke rumah, dengan alasan rekan kerja, dan kalian tidur satu kamar. Aku tau semuanya mas." balas Intan padaku.


pro ... pro ... pro ...


Terdengar suara tepukan tangan dari arah pintu, dan ternyata Sinta sudah berdiri sedari tadi di sana. Dan ada ayah juga di sampingnya.


"Waw dua orang yang sedang saling membuka aib masing masing sedang berkelahi rupanya." Ucap sinta mencemooh ku.


Dengan geram aku menarik paksa tangan Intan, aku akan membawanya pergi dari rumah ini, aku tidak sudi lagi berada di sini. Aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang telah ku perbuat pada Sinta. Biarlah dia menanggung dosa dosa yang telah ayah lakukan dulu.


Namun, saat aku melewati mereka, beberpa pengawal ayah menghadang kami, bahkan kami di seret paksa untuk masuk kembali ke dalam kamar. Aku berontak, aku tak ingin berurusan dengan mereka lagi, aku tak sudi.


"Mau kemana kamu lelaki mokondo? kamu harus menerima semuanya. Kamu harus merasakan siksaan demi siksaan yang selama ini aku rasakan, kamu harus membayar semua ini dengan mahal." ucapnya lantang.


"Sinta. Lepaskan aku, aku tidak punya urusan denganmu. Urus saja urusanmu dengan Damar, aku akan menceraikannya." ucap istriku, aku kembali geram saat mendengar ucapan Sinta itu, dengan sekuat tenaga aku melepaskan cengkraman anak buah ayah. Dan akhirnya berhasil, aku berbalik ke arah Intan dan menamparnya berulang kali sampai ia terkulai lemah.


Bahkan aku menatap nyalang ke arah sinta, yang tengah duduk manis di atas sofa kamar, aku sangat geram dengan wanita iblis ini. Ingin rasanya aku membunuhnya saja saat ini juga. Tapi aku heran kenapa ayah sedari tadi hanya diam saja? Apa ia tidak khawatir dengan putrinya itu? Yang ku lihat sedari tadi Sinta lah yang lebih dominan memerintah mereka untuk menyerang ku.


Aku berjalan mendekati tempat duduk sinta, tanganku sudah terkepal, mereka benar benar menguji kesabaran ku. Namun, saat aku sudah mendekati nya, ia berkata padaku, yang berhasil membuat langkah ku terhenti seketika.


"Ini kamar ku, sejak kapan di kamar ini ada cctv?" tanya ku heran.


"Semenjak aku menaruh dendam padamu bang. Aku ingin hidupmu hancur, bahkan semua karirmu berantakan dan, sedikit saja kau lukai aku. Maka akan temat riwayatmu. Lihat lah istri tersayang mu itu, ia sudah terkulai akibat setan yang ada pada dirimu bang." jelasnya panjang lebar.


"Aku tidak peduli itu semua, kalian harus mati di tanganku. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang, dan kamu sinta. Kamu akan mati bersama anak yang kamu kandung, wanita murahan tidak pantas untuk hidup." jelas ku.


"Oh, benarkah? pantas saja ibu mati, rupanya wanita murahan tidak pantas untuk hidup bukan?"


"Cukup Sinta, ia juga ibumu. Jaga ucapanmu itu, atau aku akan ...!"


"Atau apa? Apa kau takut jika karir mu itu hancur ha? Ingatlah jika kamu jatuh miskin maka semua teman kencanmu akan pergi meninggalkan mu bang. Apa kau tau, amara mu, cinta pertamamu itu. Ia sudah hamil, lebih tepatnya ia sudah di dihamili oleh suaminya. Kasihan sekali hidupmu itu hahaha."


apa? Amara hami? Seharusnya ia mengandung anakku, bukan anak lelaki lain, dan apa maksud dari perkataan sinta ini? Apa ia mencoba memancing emosiku lagi? Aku tak gentar, aku trus mendekat ke arah Sinta, aku tidak peduli lagi dengan karir ku itu, biarlah itu hancur dengan tersebarnya video ku menganiaya istriku sendiri. Yang jelas emosi ku sudah tersalurkan.


Bugh


Aku mendorong satu pengawal Sinta sampai terjatuh ke lantai. Dan yang satunya lagi rupanya ia tidak tinggal diam, saat melihat temannya terjatuh tadi, ia melawan ku dan terjadilah pergulatan antara kami.


Bugh


Bugh


Bugh


kedua pengawal itu kalah telak melawan ku, kini aku melanjutkan langkah ku menghampiri Sinta, aku melirik ayah yang lagi lagi ia hanya diam saja.


plak


Aku menampar wajah Sinta sekali, tapi Sinta dengan cepat menendang k*m*l*u*n ku.


"Ahhhhh. Kurang ajar sekali kamu, sebenarnya apa mau mu Sinta? kenapa kamu menjebak istriku? dan apa tujuanmu ini?" tanyaku.


"Hahahaha, inilah yang ku tunggu dari tadi bang, aku hanya ingin kamu merasakan betapa sakitnya menjadi aku yang terus menerus menerima siksaan dari ayah, akibat ulah mu itu. Aku ingin kamu merasakan sakitnya menjadi aku, yang di bilang anak tidak berguna, anak yang hanya bisa bikin malu keluarga saja."


"Dan mengenai mbak Intan, aku hanya bermain main saja dengan obat p*r*n*s*n* dan alkohol. Bahkan aku mencampurnya dengan obat itu, tujuan ku hanya satu, yaitu memancing mu agar kamu keluar dan menghampiri kami di sini. Ternyata sangat mudah untuk memancing mu bang. Kau datang dengan sangat cepat." sambungnya lagi.


Dasar wanita ular, kenapa ibu dulu melahirkan mu Sinta, bahkan aku tidak menyangka jika ia memiliki kelicikan sepeti ini. Aku tau dulu Sinta anak yang pendiam dengan kami semua, tapi tidak dengan amara, mereka sangat dekat karena saat dulu amara bekerja dengan ibu, ialah yang merawat Sinta. Meskipun ia hanya bekerja sebagai tukang masak, tapi amara juga di berikan tugas untuk menjaga sinta adikku ini.


Karena rupanya sedari dulu ibu sudah kembali menjajakan tubuhnya pada para lelaki hidung belang karena ayah yang sudah jarang menafkahinya, semenjak kehadiran keluarga bunda lia ke rumah, bahkan bukan hanya nafkah lahir saja, nafkah bathin pun ayah sudah tidak memberikannya lagi. Semua sudah tergantikan oleh bunda lia, dan amara. Sampai akhirnya mereka menikah dan semakin membuat ibu terluka, saat itu ibu sangat mencintai ayah, meskipun ayah berulang kali mengajaknya bercerai dan ternyata mereka sudah resmi bercerai tanpa sepengetahuan kami anak anaknya.