AMARA

AMARA
Galau



Amara membuka matanya. Ia lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, ia memakai seragamnya dan pergi ke ruang tamu. Di sana terlihat Maeza sedang menonton televisi sambil memakan sarapannya. Amara ikut bergabung. Ia mengambil sebuah piring dan meletakkan nasi di atas piring tersebut. Tak lupa Amara juga mengambil beberapa lauk pauk yang tersedia di meja makan. Ia menghampiri Maeza lalu bergabung sarapan dengannya.


"Kaka sekolah ya?" tanya Maeza.


"Lo liat sendiri deh, lo sendiri dek?" jawab Amara.


" Gue sih enggak wleee" Maeza menjulurkan lidahnya, ia memberi ekspresi mengejek pada Amara.


"Awas lo, nanti ga gue ajakin jalan" balas Amara sambil memberikan tatapan mautnya pada Maeza. Maeza yang ketakutan pun kini hanya bisa cengar-cengir.


Saat selesai, Amara membawa piring itu ke dapur dan mencucinya. Ia mengambil tasnya dan berpamitan pada tante Keyla.


Amara pergi ke sekolah menggunakan angkot. Karena ini masih pagi, jadi tidak ada bus yang lewat. Amara menunggu angkot lewat selama 10 menit. Saat melihat ada angkot yang datang, Amara melambaikan tangan. Angkot itu pun berhenti di depan Amara. Amara pun naik ke angkot tersebut.


Saat tiba di halte, Amara membayar angkot itu. Ia pun berjalan kaki menuju ke sekolahnya. Saat di gerbang, Amara melihat Deni. Deni adalah teman sekelasnya. Ia menyapanya.


"Hai Den" sapa Amara.


"Hai Ra, tumben berangkat pagi" balas Deni.


"Iya nih,lagi cosplay jadi orang rajin hahaha. Lah lo juga tumbenan sendiri, Evi mana?" jawab Amara basa-basi.


"Emm, dia ga berangkat kayaknya deh. Soalnya waktu gue samperin ke rumahnya dia diem aja, yang keluar cuma ibunya dan bilang kalo dia sakit" jawab Deni.


"Oh gitu, mau bareng gak ke kelasnya?" tawar Amara pada Deni.


"Boleh" ucap Deni tak keberatan. Mereka pun berjalan berdua menuju ke kelas mereka.


Tiba di kelas, Amara di kejutkan dengan Reza yang langsung menghampirinya dan langsung memeluknya. Sontak membuat siswa dan siswi yang berada dalam kelas Amara memperhatikan mereka berdua. Amara terpaku, ia mencoba melepas diri dari pelukan Reza.


"Za, lepas" ucap Amara sambil berusaha keras menyingkirkan badan Reza.


Reza tak bergeming, ia semakin mempererat pelukannya pada Amara. Amara merasakan nafas Reza yang tersengal-sengal. Badannya gemetar, Amara merasakan tetesan air hangat di pundaknya. Tiba-tiba ada seorang teman Reza yang bernama Xavier memberitahukan kepada Amara bahwa Reza sudah berlagak aneh dari tadi. Xavier berkata kalau dirinya sudah menanyakan apa yang terjadi pada Reza. Namun bukannya menjawab, Reza malah makin menjadi-jadi. Ia menjadi semakin murung.


"Lo yakin Vier? Ga biasanya Reza kaya gini" ucap Amara menyelidik.


"Gue yakin Ra, tanya aja sama Danu. Gue ga boong" balas Xavier.


Amara kini membawa Reza keluar dari kelas dan mereka berdua menuju kantin. Amara pun menanyakan apa yang terjadi pada Reza. Reza pun menceritakan semuanya pada Amara.


"Lo kenapa sih? Gara-gara itu lagi?" Amara bertanya pada Reza.


"Hmm" Reza mengangguk sambil mengusap air matanya yang tak sengaja terjatuh dari kelopak matanya. Ia pun mengambil tissue dan mengelap hidungnya yang kemerahan akibat menangis.


"Udah jangan dipikirin lagi, gue tau semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Lo sabar aja, lo kan cowok Za, masa kaya gini doang nangis? Lo nangis cuma gara-gara cewek? Ga masuk akal" ucap Amara menasihati Reza.


"Tapi Ra, lo ngerti ga sih, dia tuh jahat banget sama gue. Gue tau kalo dia tu udah sadar" balas Reza.


"Sadar apanya?" Amara merasa bingung.


"Sadar kalo gue tuh suka sama dia. Jadi gini, waktu itu gue pernah nembak dia buat jadi pacar gue. Tapi dia nolak Ra, gue ga ngerti. Padahal dulu kalo kita masih kecil dia bilang ke gue gini 'nanti kalo kita kita nikah bareng ya Eja'. Gue ga ngerti lagi Ra" oceh Reza dengan diiringi rasa frustasi.


"Gatau Za, gue gatau masalah percintaan lo itu. Mending lo cari gebetan lain aja, daripada sama dia. Daripada lo tersiksa gini Za. Udah percaya aja sama gue" ucap Amara meyakinkan Reza.


"Tapi Ra, gue ga bisa sorry..." balas Reza.


"Terserah lo".


Amara kesal, kini ia pun hanya bisa menatap Reza. Ia merasa kasihan padanya. Namun dia tak ingin mencampuri urusan pribadi Reza.


'KRIIINGG'


Bel berbunyi.


Saat akan memasuki kelas, terlihat beberapa siswi yang sedang berkumpul untuk bergosip atas kejadian tadi. Amara melihat mereka sekilas dan ia pun merasa tak peduli. Amara mengacuhkan mereka.


Amara menggandeng Reza hingga sampai di kursi Reza. Ia memberi tissue pada Reza.


"Makasih" ucap Reza. Amara mengangguk, ia pun kembali ke tempat duduknya.


Renata pergi menghampiri Amara.


"Eh Ra, lo tadi pelukan ya sama Reza?" tanya Renata pada Amara dengan berbisik di telinga Amara. Ia tak ingin Reza mendengar hal itu.


"Iya, emang kenapa? balas Amara.


"Gapapa sih hehe" Renata cengengesan ketika ditanya Amara, pasalnya ia bingung mau menjawab apa lagi.


Tak lama kemudian guru datang. Mereka bersiap-siap untuk belajar. Murid-murid memperhatikan pelajaran mereka dengan tenang. Tidak ada satupun yang berisik.


Saat bel tiba Amara menghampiri Reza. Saat Reza melihat Amara sedang menghampirinya ia lalu tersenyum. Amara membalas senyuman Reza. Reza bangkit dari kursinya dan pergi menggandeng tangan Amara.


"Kantin yuk, laper gue" ucap Reza sambil menggandeng tangan Amara.


"Yok lah, gue juga laper huhuu" balas Amara.


Kini, mereka berjalan menuju kantin. Amara memesan minuman untuk dirinya dan Reza. Ia lalu meletakkannya di meja kantin. Mereka meminum minuman itu dengan mengobrol santai.


"Besok ya Ra, ke pantai" celetuk Reza di tengah-tengah ia menyedot sedotan di minumannya.


"Iya Za, ngomong mulu lo" balas Amara.


"Takut lo lupa, kan lo pelupa orangnya" ucap Reza asal ceplos.


"Ya" ucap Amara memberi Reza sebuah jempol.


Mereka kini sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Amara melihat ponsel sedangkan Reza melamun. Entah apa yang dipikirkan oleh Reza. Amara melirik Reza sekilas, ia memperhatikan gerak-gerik Reza. 'Sifat Reza belakangan ini aneh' batin Amara.


Bel sekolah yang berbunyi menyebabkan Reza terbuyar dari lamunannya. Mereka pun dengan terpaksa bergegas menuju ke dalam kelas mereka. Saat di depan pintu kelas, terlihat pak Revan yang sedang menulis di papan tulis. Sontak itu membuat mereka kaget.


"Assalamualaikum pak, maaf terlambat" Amara dan Reza meminta maaf pada pak Revan karena telah terlambat untuk berada di kelas.


"Iya silakan duduk ke tempat duduk masing-masing" ucap pak Revan menoleh pada mereka.


"Baik pak, terima kasih" balas Amara dan Reza.


Setelah jam pelajaran usai, mereka pun dibubarkan. Amara meregangkan otot tubuhnya yang terasa pegal.


"Haaah, enak banget Ren" ucap Amara pada Renata sambil meregangkan otot-ototnya.


"Hmm" Renata membalas singkat Amara dengan deheman.


"Pulang yok" ajak Amara.


"Nggak deh, gue mau pulang sama Haikal. Byee" tolak Renata sambil melambaikan tangan ke Amara.


"Mentang-mentang punya pacar, seenaknya aja jadiin gue pelampiasan lo kalo gabut. Gue udah di samping lo dari dulu Ren" cerosos Amara karena kesal pada Renata.


"Serah gue lah" balas Renata.


"Ya" Amara hanya membalas singkat diiringi dengan jari jempol miliknya.


Amara telah berada di depan gerbang. Ia melihat sekelilingnya dan melihat jajanan kaki lima yang berada di pinggir jalan. Ia berjalan ke sana. Membeli beberapa dan dibawa pulang.