
Alhamdulillah mertua dan istriku percaya denganku, aku sangat senang bisa memboyong kembali mereka ke dalam istana ku itu. Sungguh aku tidak ingin hal ini terulang kembali, aku akan menjaga nya selalu sampai kapanpun. Dan akan aku lakukan apapun itu demi melindungi bidadaku ini.
Setelah masalah itu selesai, aku dan wulan masuk ke dalam kamar Wulan. Untuk bersiap kembali pulang ke rumah mamy.
"Terimakasih sayang. Karena kamu telah percaya padaku."
"Sama-sama mas. Maafkan aku karena aku tidak bisa meyakinkan ibu, dan tetap keluar dari rumah itu. Sungguh aku istri yang durhaka."
"Tidak, sayang. Kamu tetap istriku yang cantik dan baik hati. Mulai saat ini, mas akan berusaha terus mencintai dan menyayangi mu sepenuh hati."
"Terimakasih banyak karena mas sudah mau menerimaku sekarang." Aku hanya mengangguk dan duduk di tepi ranjang sambil menunggu ia berkemas pakaian nya.
"Mas Amar."
"Ya."
"Aku ingin kita pindah rumah deh, maksudnya aku tuh. Aku ingin kita memulai hidup baru berumah tangga, maaf jika aku berani meminta sesuatu darimu."
"Baiklah. Akan mas urus, apapun kemauan mu, mas akan turuti sayang."
"Terimakasih."
Aku langsung mengirimkan pesan pada riki untuk mencarikan rumah yang cocok untuk istriku nanti. Namun sebelum itu, aku bertanya terlebih dahulu padanya ingin rumah seperti apa. Mungkin nanti setelah kami sampai di rumah mamy.
Papa dan mamy pasti akan sangat senang, karena menantu kesayangan nya ini kembali ke rumah dan tinggal bersama mereka. Setelah selesai kami pun turun ke bawah dan berpamitan kepada ayah dan ibu. Namun sebelum kami berangkat pulang, ayah menitipkan pesan padaku.
"Nak Amar. Jangan sekali kali kamu menyakiti anakku lagi, sayangi dia sebagai mana aku menyayangi nya, lindungi dia dan cucu cucuku nanti. Kalau sampai anakku kembali terluka oleh mu, maka aku tidak akan memberi toleransi lagi padamu."
"Baik ayah. Aku akan mengingat nasehat mu ini."
"Ayah. Ibu kami pamit ya, dek. Jaga ibu yah jangan nakal kuliah yang bener yah dek."
"Siap ka. Jangan lupa segeralah beri aku ponakan."
"Secepatnya." Jawabku. Seketika membuat Wulan menoleh dengan cepat. Si*l aku lupa kalau di sini masih ada Riki dan anak buahnya. Jatuh harga diriku di depan mereka jika mereka tau kalau aku sebenarnya manja pada istriku, meskipun aku gengsi untuk mengatakan dan menunjukkan itu pada Wulan.
Kami semua pun pamit pulang, sedangkan riki. Aku menyuruhnya untuk kembali ke kantor dan menghandle semua pekerjaan ku, aku berada satu mobil dengannya dan orang orang riki berada di belakang mobil kami.
Tak hentinya aku meminta maaf pada istriku ini, aku sudah sangat berdosa padanya, karena aku. Kami sempat terpisah meskipun hanya beberapa hari saja. Namun itu sudah membuatku setengah setres karena rinduku padanya.
Sampai akhirnya kami sampai di rumah mamy, dan langsung masuk saja. Terlihat mamy dan papa sedang menonton tv, mereka tidak menyadari kedatangan kami ke rumah karena mereka sedang fokus menonton.
"Assalamualaikum. Papa, mamy coba lihat siapa yang ku bawa."
"Waalaikumssalam." Ucap mereka serempak dan kompak menoleh ke arah ku.
"Ya tuhan. Wulan. Sini kamu kembali ke rumah ini sayang.? Maafkan mamy yang tidak bisa menjaga sikap anak mamy, karena dia kamu harus pergi dari rumah ini."
"Tidak apa mamy. Semua ini kita jadikan pelajaran saja. Maafkan aku karena aku belum bisa menjadi menantu yang baik. Papa apa kabarnya.?"
"Papa sehat nak. Papa senang kamu kembali lagi ke rumah ini, amar. Bawa istrimu istirahat nak." Syukur lah sekarang papa sudah mau berbicara padaku dan tidak kembali dingin seperti kemarin.
"Baik pah, sayang ayok kita istirahat."
Kami pun masuk ke dalam kamar, sesampainya di kamar. Wulan berniat masuk kembali ke dalam ruangan tempat nya tidur, aku menjadi merasa bersalah padanya. Padahal dia tidak salah apa apa, tapi aku memperlakukan nya sangat buruk selama ini.
"Sayang. Mulai sekarang kamu tidur denganku, maafkan aku karena aku sudah mengasingkan mu di kamar ini."
"Tidak apa apa sayang. Aku akan tidur di kamar itu, kamu beristirahat lah dulu."
"Baiklah. Mas istirahat lah dulu, atau mau mandi.? Nanti aku siapkan air hangat nya untuk mas mandi. Bukan kah mas tidak bisa mandi dengan air dingin langsung.?"
"Mas mau istirahat dulu, mungkin nanti saja mas mandi nya."
"Baiklah. Aku mau bereskan dulu baju-baju ku di lemari yang ada di dalam."
"Tidak usah. Sebenarnya aku sudah mengosongkan lemari ku sebelah, tujuannya agar kamu bisa mengisi sebelah lagi."
"Benarkah.?"
"Ya. Lihat saja, di sana juga sudah ada beberapa baju di sana untuk kamu pakai." Ia langsung membuka lemari itu, dan mengecek nya.
"Mas."
"Ya. Bagus bukan baju baju nya."
"Apa mas bercanda.? Kenapa baju baju nya pada s**i seperti ini mas.?"
"Karena mas ingin melihat mu memakai baju seperti itu. Tapi cukup di depan mas saja."
"Terserah mas lah. Aku mau kemas baju baju ku dulu, mas tidur lah dulu."
"Okelah."
Aku pun mulai memejamkan mata ku, dan mulai tertidur. Sedangkan istri ku ia mengemasi baju baju nya yang kemarin ia bawa pulang. Sebenarnya aku bisa saja membelikan nya baju baru tanpa harus membawa baju lama. Namun aku urungkan karena aku tidak mau membuat hati kecil istri ku terluka kembali seperti saat pertama kami menikah dan berbulan bulan lamanya yang ia terima hanyalah sebuah penolakan saja dariku.
Aku merasa gagal menjadi suami baik untuknya, beruntung ia masih mau kembali pulang ke rumah ini, jika tidak. Aku tak tau apa yang akan terjadi pada nasib ku ini, mungkin aku sudah di usir oleh papah dan mamy.
Tepat pukul setengah tiga sore, aku bangun dari tidur ku. Saat ku buka mata terlihat istriku baru selesai mandi. Dengan balutan handuk berwarna pink dan kepala nya di balut juga dengan handuk pink. Mungkin ia tidak sadar kalau aku sudah bangun, karena selama ini ia selalu saja membawa pakaian ganti masuk ke dalam kamar mandi. Dan memakai nya di sana, namun sekarang.? Ia tidak memakai nya dan aku suka melihat ini.
"Sayang."
"Astaghfirullah mas." Ucapnya kaget dan langsung menoleh ke arah ku.
"Kemari Lah, temani mas mu ini sayang."
"Tapi aku belum memakai baju, mas pejam kan lah dulu matanya. Beri aku kesempatan untuk berpakaian."
"Tidak usah sayang. Kemari Lah temani si joni yang meronta ini."
"Joni.?" Tanya nya heran. Lalu aku menyibakkan selimut dan memperlihatkan si joni padanya, sontak ia kaget dan langsung menutup mulutnya.
"Sini lah sayang. Aku ingin kan nya sekarang."
"Tapi aku sudah berwudhu."
"Bukan kah bagus.? Aku pernah dengar jika ingin melakukan itu, di anjurkan untuk berwudhu dan sholat sunah dulu."
"Kemari Lah sayang." Ia pun mulai melangkah mendekati ku yang sedang menunggu nya. Sedetik kemudian di mulailah pergulatan antara kami berdua.
"Bismillah dulu mas. Pelan pelan yah." Ucapnya mengingat kan. Aku hanya mengangguk.
Sungguh ini lah kali pertama aku melepaskan ke*erj***n ku pada istriku, dan ia juga baru pertama kali melepas k*pera**nan nya padaku. Terimakasih tuhan terimakasih engkau telah mengirimkan istri sebaik dan secantik dia.
Sekitar setengah jam pergulatan ini, aku mengucapkan terimakasih padanya. Karena ia telah memberikan aku kenikmatan yang tiada tara ini.
"Sayang. Terimakasih banyak yah karena kamu telah sudi memberikan segalanya pada mas mu yang jahat ini." Ia hanya mengangguk menanggapi perkataan ku ini.