AMARA

AMARA
Bab 28



Waw aku sangat bahagia melihat ini semua ayah mengetahui semua kebusukan bu sonya tanpa aku harus bersusah payah memberitahunya, tapi yang menjadi tanda tanya ku adalah siapa yang memberitahu ayah? bahkan aku belum memberitahunya dan baru hanya punya niat saja tapi kalau begini aku jadi tak perlu suah payah dan aku bisa memberhentikan orang suruhan ku untuk berhenti mengikuti mereka karena mereka sudah tidak penting lagi bagiku, dan ibu? kenapa ibu menangis? aku yang panik langsung menghampiri ibu dan ternyata ibu teringat kembali pada kejadian di masa silam aku yang melihat ini menjadi geram dengan mereka dan tentu saja aku marah juga pada ayah karena dia sudah membuat ibu menjadi sakit lagi dengan mereka bertengkar depan ibu.


"berhenti." ucapku sambil berteriak semua yang ada di sana seketika terdiam dan menoleh ke arahku dan aku menatap satu persatu mereka aku menatap benci pada mereka.


"lihat karena ulahmu wanita j*l*n* karena kau ibuku menjadi seperti ini lagi dan kamu ayah..." Rasanya aku tak mampu untuk melanjutkannya lagi hatiku menjadi sakit kembali padanya kenapa ayah tega seperti ini? apa ia lupa kalau ibu tidak bisa melihat pertengkaran karena akan membuat ibu menjadi teringat kembali pada masa lalunya.


"nak maafkan ayah nak, ayah khilaf ayah melupakan janji ayah yang satu ini."


aku diam


"rasakan anak h*r*m itulah akibatnya sudah membongkar skandalku di belakang mas dani, makanya jangan macam macam denganku."


aku masih diam, ingin rasanya aku menyobek mulutnya itu tapi tak mungkin di depan ibu, dan akupun memanggil bi edoh agar membawa ibu masuk ke dalam kamar.


setelah ku pastikan ibu masuk akupun langsung melepaskan kekesalan ku yang sedari tadi tertahan, ku hampiri bu sonya tanpa banyak bicara sepatah katapun.


plak


sebuah tamparan mendarat di pipinya jelas membuat ia kaget dan mukanya berubah menjadi merah padam dan aku tak peduli, lalu pandanganku beralih ke ayah dengan tatapan penuh amarah aku menghampiri ayah.


ayah akan tampar seperti bu sonya, bahkan akupun masih bingung harus berbuat apa padanya namun saat ini aku hanya ingin meluapkan rasa kesal ku pada lelaki ini lelaki yang sekarang statusnya adalah ayahku.


"apa katamu tadi khilaf? hahaha lucu sekali bukan? dan kau ibu sonya yang terhormat kau bilang aku anak har*am.? lantas apa bedanya dengan mu yang sekarang sedang hamil dan ntah itu anak dari lelaki mana bukankah sama dengan anak yang ada di kandunganmu itu. sama sama anak har*m dan ingat jangan asal bicara nanti semua akan berbalik padamu wahai wanita."


"jaga ucapanmu itu amara."


"apa ...? bakan kau sekarang sudah hamil dengan lelaki di luar sana sungguh kau m*r*h*n sekali sonya menyesal aku masih membiarkanmu tinggal satu atap denganku bahkan aku membiarkanmu masih menikmati semua hartaku kurang ajar sekali kau ini. sekarang juga keluar dari rumah ini aku sudah tak sudi melihatmu lagi di rumah ini."


"apa? kau tak bisa mengusirku mas rumah ini adalah milik damar dan sinta anakku jadi aku masih berhak berada di sini."


"jangan gr rumah ini sudah menjadi milikku kalau kamu tidak percaya silahkan tanyakan pada mas mu yang tersayang ini."


"apa benar mas?" ayah hanya mengangguk lesu menjawab pertanyaan bu sonya, aneh sekali tadi ia sangat arrogan membentak wanita itu tapi kenapa sekarang ia seolah taku padanya. dasar lelaki labil huff kenapa aku memiliki ayah sepertinya sih?


"tap bagaimana bisa mas?"


"benar yang di katakan amara rumah ini sudah menjadi miliknya bahkan sudah menjadi atas namanya jadi kamu maupun aku tak ada berhak untuk membantah nya kapanpun ia akan mengusir kamu maupun aku itu artinya kita harus siap."


"bagaimana dengan sinta mas yang jelas jelas ia juga anak kandungmu, anak yang lahir dari hubungan yang halal tidak seperti dia." sambil menunjukku


"jangan kau sesekali menunjuk amara ia hadir di dunia ini karena kamu, andai saat itu kamu tak memaksaku untuk menikahi mu ini semua tak akan terjadi dan amara tak akan hadir di dunia ini dan jangan sesekali kau menyalahkan dia karena dia tak salah yang salah itu kamu sonya, kamu dengar itu.? sekali lagi aku bilang cepat keluar dari rumah ini aku sudah muak denganmu aku jengah dengan semua perbuatan mu, dan kau jangan khawatir soal sinta ia sudah ku belikan rumah yang lain bahkan damar sekalipun nanti saat menikah damar jangan sesekali kau berani menampakkan wajahmu di sana."


"tapi aku ibu kandung damar mas."


"nak maafkan ayah karena ayah ibu menjadi seperti ini lagi, ayah menyesal ayah mohon maafkan ayah nak."


aku diam


"nak maafkan ayahlah nak."


aku diam


"nak bicaralah nak jangan diam saja ayah bingung harus berbuat apa sekarang, bicaralah nak ayah mohon."


aku masih diam dan berlalu masuk ke dalam kamar menyusul ibu malas rasanya aku berbicara dengan ayah, karena kecerobohannya ibu menjadi seperti ini lagi beruntung adikku sudah cukup besar dan saat itu ia sedang tidur dengan susternya.


aku melihat ibu sudah terlelap dan ternyata ayah mengikuti ku masuk ke dalam kamar mau apa lagi lelaki ini kenapa ia masih mengikuti ku? sungguh aku malas menatap wajah nya.


ku putuskan untuk tidur bersama ibu malam ini dan aku mengusir ayah dengan tanpa banyak bicara padanya aku menyeretnya keluar kamar setelah itu akupun mengunci pintu dari luar agar ia tak bisa masuk ke dalam kamar.


keesokan harinya


aku melihat ibu sudah tak ada di kasur akupun menjadi khawatir dimana ibu berada aku mencari di kamar mandi tidak ada, dan aku melihat pintu kamar sudah terbuka sedikit pertanda kalau ibu sudah keluar kamar tapi kemana.


aku mencari ibu ke bawah mungkin ibu sudah lebih dulu menunggu di meja makan biasanya ibu selalu duluan menyiapkan makan untuk kami bersama bi edoh.


dan ternyata benar dugaan ku ibu berada di sana aku sedikit tenang dan ku lihat ibu sudah agak membaik tidak seperti tadi malam apa ini efek obat itu ya? aku mendekat pada ibu.


"pagi bu ... apa ibu baik baik saja?"


"pagi nak, sudah bangun kamu sayang.? ibu baik baik saja dimana ayahmu kenapa tadi malam ia tak tidur dengan ibu dan malah kamu yang tidur dengan ibu."


deg


apa ibu tidak mengingat apa yang sudah terjadi kemarin sore? kenapa ibu malah bertanya dimana ayah dan yang akupun tak tau ayah tidur dimana bahkan aku tak peduli sedikitpun padanya.


"kenapa diam saja nak? ayahmu dimana? apa ia bersama bu sonya? dan cepat bangunkan adik adikmu nanti mereka kesiangan."


lagi lagi aku di buat tercengang dengan perkataan ibu, apa ibu benar benar lupa dengan apa yang sudah terjadi tadi malam? tapi kenapa? aku di buat bingung dengan keadaan ibu saat ini, namun rasanya untuk bertanya pun rasanya tak mungkin karena takut ibu kambuh lagi, memang dulu ibu dinyatakan tidak memiliki gangguan jiwa namun rasa trauma ibu sangat besar bahkan saat ayah melamar nya ibu berpikir sangat lama, ia takut dengan yang namanya sebuah hubungan apa lagi hubungan suami istri karena itu lah yang membuat ibu seperti ini.


tanpa menjawab perkataan ibu aku kembali ke kamar dan membangunkan sinta setelah itu aku menyuruh sinta untuk membangunkan damar di kamarnya, setelah sampai dikamar sinta rupanya anak itu sudah bangun bahkan sudah siap untuk berangkat ke kantor, ia meminta maaf atas kejadian kemarin ia sangat menyayangkan perbuatan ibu nya kemarin mau bagaimana pun bu sonya tetaplah ibunya, ibu kandungnya yang telah melahirkan dan itu tidak bisa di hilangkan.


akupun minta maaf karena aku sudah marah di depannya aku tak bisa membenci sinta karena ia sedari dulu akulah yang merawatnya meskipun aku hanya seorang juru masak di rumah ini tapi aku tetap mengurus sinta karena aku menyukai nya ia sangat lucu dulu hal itulah yang membuatku tertarik padanya dan menolak untuk membenci anak itu sampai sekarang.