
"Bu. Aku sudah berhasil membalaskan dendam ibu pada ayah, aku sudah melakukan apa yang ibu perintah." Ucapku pada ibu.
Aku melakukan ini semua karena perintah dari ibu, ya. Ibu menyuruhku untuk menghancurkan ayah, walaupun dengan cara yang salah, yaitu menjebak adikku sendiri.
Sebenarnya aku sangat keberatan, tapi aku tetap melakukan itu semua, saat ibu mengingat kan bahwa betapa tidak adilnya ayah pada kami. Bahkan dulu tak jarang ayah membandingkan ku dengan Sinta, Sinta memang anak yang pintar dan cantik, sedangkan aku?
Aku tidak sepintar Sinta, bahkan aku tidak memiliki paras yang tampan seperti ayah, aku berbeda dengannya. Meskipun ayah sudah mau menerima ku, sebagai anaknya tapi rasa dendam ini tidak pernah surut.
Aku membalaskan dendam tidak hanya pada ayah tiriku saja, tapi juga dengan ayah kandungku, saat aku tau bahwa ayah kandungku, berada di Singapura. Aku langsung mencarinya sampai dapat, aku mencari informasi tentang nya, dan ternyata ia memiliki seorang gadis yang sangat cantik. Hari itu, aku menculik gadis itu, dan aku menutup matanya, agar ia tidak melihat ku. Aku tak ingin jika ia melihat ku, kaka kandungnya yang telah tega menghancurkan adiknya sendiri.
Flashback
"Bu. Siapa ayah kandung ku?"
"Ayah? Ayah kandungmu ya mas Dani."
"Ibu jangan berbohong, lebih baik ibu katakan saja."
"Tapi benar."
"Katakan saja bu, atau aku akan membocorkan semuanya. Bahwa ibulah yang merencanakan ini semua."
"Baiklah. Ayah kandungmu bernama Amri, ia tinggal di Singapura, dan ini fotonya."
Saat terakhir aku pulang, aku sengaja menghampiri ibu di tempat kerjanya, dan aku menanyakan siapa ayah kandungku.
Setelah aku mendapat kan nama dan bentuk wajahnya, aku langsung menyuruh orang orang ku di sana, untuk mencari tau tentang ayah ku.
"Kalau begitu aku pulang dulu, tetap lah jaga diri."
"Hati hati nak. Jika kau sudah menemukan semuanya, tolong balaskan dendam ibu pada mereka."
Aku mengangguk dan meninggalkan kan ibu, aku langsung pulang ke Singapura, agar aku lebih cepat lagi menemukan ayah. Dan setelah beberapa jam kemudian, anak buahku memberikan informasi tentang nya. Ia memiliki seorang putri, yang sangat cantik, setelah aku melihat wajah adikku itu, benar saja ia sangat cantik dan menawan.
Dengan cepat aku langsung menyuruh mereka, untuk menculik dan membawanya ke sebuah tempat. Tempat dimana, disanalah aku memulai aksi ku, mereka semua bergerak cepat. Dan tak butuh waktu lama, mereka sudah membawa gadis itu ke hadapan ku.
"Lepaskan aku, aku mohon. Siapa kalian.? Dan kenapa kalian menculik ku?"
"Hahahaha." Kami semua tertawa.
"Gadis yang manis, selamat datang di kandang buaya, berikan pesan pesan terakhir."
"Ku mohon, apa mau kalian?"
"Lepaskan pakaiannya." Ucapku memerintahkan pada semua bawahanku.
"Aku mohon, jangan lakukan ini, ayah ... tolong Resti ayah."
Semakin gadis itu meringis, meminta di lepaskan, maka semakin bersemangat pula aku. Aku melancarkan aksi ku, tanpa menghiraukan tangisan gadis ini, ternyata ia masih p*r*w*n. Saat aku sudah merasa puas, aku pun mengakhiri aktivitas ku, dan membersihkan badanku. Setelah semua selesai, aku berlalu keluar kamar, dan menyerahkan nya pada anak buah ku.
Dan karena hal inilah, yang membuatku gagal menikah dengan Amara, andai saja ini semua tidak terjadi. Mungkin aku dan amara saat ini sudah berbahagia, dengan anak anak kami.
Setelah dua jam berlalu, anak buahku semua keluar, wajah mereka berseri seri. Ku lihat gadis malang itu, menangis menahan rasa sakit yang ia alami.
Banyak sekali noda noda merah, di sekeliling nya, aku tak tau bagaimana mereka melakukan nya. Tapi yang jelas aku sudah membuat ayah kandungku, merasakan betapa menderitanya dulu ibu. Saat sedang mengandung ku, tapi ini versi berbeda.
Aku menyuruh bawahanku yang prempuan, untuk membersihkan nya, tanpa membuka penutup mata gadis itu. Tak lama kemudian mereka keluar, dan memberitahu ku bahwa mereka telah selesai. Aku pun masuk ke dalam dan berbisik padanya.
"Bilang ayah mu, bahwa ini adalah balasan untuk nya. Karena ia telah membuang dan tidak mengakui anak kandungnya."
"Kamu siapa? Apa salah ku."
"Hahahaha."
"Kalian bawa ia, dan kembalikan ke jalan yang minim cctv. Agar kita tidak bisa di lacak oleh siapapun."
"Baik tuan."
Beruntung sebelum melakukan aktivitas itu, aku menyuruh mereka tidak memanggil namaku, aku tidak ingin rumah tanggaku berakhir seperti ayah.
Flashback off
Setelah kejadian itu, aku memboyong semua keluarga ku pindah, aku membawanya mereka pindah ke negri jiran.
Ia mengetahui semua tentang ku, bahkan tentang dendam ini, aku dengannya tidak ada yang di tutupi.
Dan ia pun mendukung nya, itulah sebabnya aku menikahi nya, karena ia selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Termasuk m*n*g*u*i adik adikku, ia bilang bahwa balaskan saja dendam ku, jika sudah selesai maka kembali lah padanya.
Ia tidak pernah marah, sekalipun aku membuat kesalahan yang sangat besar, aku tak tau seperti apa nasib mereka berdua.
Aku dan keluarga mengganti nama kami, alamat kami. Bahkan kami memutuskan untuk menjadi warga negri jiran, aku menumbuhkan jambang ku, sedangkan istriku ia memang jarang keluar sedari dulu.
Lalu anak anakku, memang mereka memilih untuk home schooling, karena mereka bilang terlalu cape. Jika harus bulak balik sekolah dan rumah, dan kami pun tidak melarang nya, biarlah ia memilih jalannya sendiri tanpa di ganggu oleh kami.
Mungkin gadis itu saat ini, sedang setres. Tidak berdaya dan mungkin sampai g*l*, aku tak peduli itu. Biarlah itu menjadi karma untuk ayah kandungku, aku gak mau memikirkan nya.
Aku pun tak tau bagaimana nasib Sinta, setelah kejadian malam itu. Semua nomor dan akun sosialku, di blokir oleh sinta.
Jika mereka berdua hamil, aku tidak yakin bahwa itu adalah benih ku, karena aku melakukannya dengan cara beramai ramai.
Namun, setelah tiga hari aku bertemu dengan ibu, ibu di nyatakan meninggal dunia. Aku tak menyangka bahwa ibu akan meninggalkan ku secepat ini, bahkan kami baru saja mengobrol kemarin.
Tidak hanya ibu saja melainkan dengan bayinya, andai saja ayah tidak menceraikan ibu. Mungkin saat ini ibu masih hidup, menurut yang ku dengar. Ibu meninggal karena pendarahan hebat, ia di duga memaksa untuk melakukan pekerjaan kotor nya itu.
Saat aku mengetahui hal itu, aku semakin kesal dan marah terhadap ayah, bagiku ayahlah penyebab kematian ibu. Karena jika bukan karena ayah, ibu tidak akan bekerja seperti itu, dan akan membahayakan kesehatan nya.