
Reza dan Amara berjalan bersama menuju parkiran sekolah. Jam pelajaran telah usai, kini siswa dan siswi diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Lo bareng gue aja ya Ra? Tadi kan lo berangkatnya bareng gue" ucap Reza menggandeng tangan Amara.
"Gausah, rumah gue jauh. Gue gapapa kok pulang sendiri, udah terbiasa" Amara menolak ajakan Reza dengan lembut.
"Ayo dong Ra, please. Udah sore nih, panas lagi" Reza memohon pada Amara.
Amara pun mengiyakan ajakan Reza, toh juga ia merasa sangat capek karena aktivitasnya di siang hari tadi. Amara pun mengangguk, Reza pun senang bukan main. Ia segera memberi helm pada Amara. Reza menyalakan motornya dan pergi pulang bersama dengan Amara.
Di jalan, Amara dan Reza membahas tentang ajakan Reza untuk pergi ke pantai. Reza berkata bahwa ia akan mengajak Amara untuk pergi ke pantai yang dekat dengan kota mereka.
Amara setuju, kini mereka mengobrolkan hal yang lain. Mereka juga membahas tentang persiapan-persiapan apa saja yang akan dibawa untuk ke pantai nanti. Tak sadar, kini Reza sudah berada di depan rumah Amara. Amara turun dari motor Reza dan mengucapkan terma kasih padanya karena telah mengantar Amara ke rumahnya. Reza mengangguk dan pergi untuk pulang ke rumahnya.
Malam pun tiba, Amara kini sedang duduk di teras depan rumahnya bersama dengan adik serta saudara-saudaranya yang lain. Mereka sedang berkumpul sambil menikmati beberapa snack dan minuman botol. Amara membaca buku, sedangkan saudara-saudaranya yang lain tengah bermain game bersama. Saat akan mengambil sebuah kripik, Amara merasakan bahwa bungkus plastik snack wadah kripik Amara kosong.
"Yah abis keripik gue" ucap Amara sambil mengintip bungkus keripik itu.
"Yah gimana dong kak, aku mau ambil tapi mager. Bisa tolong ambilin itu buat gue gak?" ucap Amara menatap Rafa. Rafa adalah saudara sepupu Amara. Umurnya sudah 20 tahun.
Rafa menoleh pada Amara dan mengatakan jika ia harus mengambil sendiri, karena ia sedang sibuk memainkan game.
"Ambil sendiri deh Ra, gue sibuk".
"Sibuk ngapain sih kak, gue liat Lo dari tadi cuma mainin game deh. Huftt...".
Amara memanyunkan bibirnya. Ia pun bangkit dan membawa buku novelnya masuk ke dalam rumah ketika omongannya sama sekali tidak direspon oleh Rafa. Ia kesal dan memilih untuk berbaring di tempat tidur dan bertukar pesan pada Renata. Menurutnya itu jauh lebih baik.
Ketika Amara hendak pergi ke kamar, ia mengambil snack di kulkas dan tak sengaja bertemu dengan Tante Keyla. Tante Keyla pun bertanya pada Amara.
"Loh kenapa masuk kak Ama? Yang lain masih pada diluar tuh".
"Ini Tan, aku tadi minta kak Rafa buat ambilin snack karena aku masih baca novel kan. Terus dia nolak. Padahal aku liat dia masih main game tante. Pas aku protes dia cuma diem aja, yaudah deh aku tinggal aja di kamar. Aku ga masalahin snack nya tan, aku lebih masalahin tentang dia yang nyuekin aku. Kan kalo dicuekin rasanya sakit ya gak?" Amara menjelaskan semuanya dengan detail. Tanpa ada yang dikurangi maupun ia lebih-lebihkan.
"Oh gitu ya, yaudah deh sana ke kamar Ma. Tante mau ke kamar mandi dulu ya" ucap Tante Keyla smabil berjalan menuju kamar mandi.
"Iya Tante".
Amara berjalan ke kulkas dan membukanya. Ia melihat banyak sekali snack yang dibeli olehnya bersama Maeza. Ia mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan es krim. Lalu membawanya ke kamar.
"Aduhh, pegel banget pinggang gue. Serasa jadi nenek-nenek. Gini banget nasibnya jadi remaja jompo" Amara berbicara sendiri sambil melemparkan tubuhnya pada kasur empuk miliknya.
Ia mengambil laptop dan menyalakannya. Sambil menunggu, Amara mengambil satu keripik kentang yang ia bawa tadi. Saat laptop itu menyala, Amara segera membuka web aplikasi chat yang tersedia di laptop itu. Ia lalu menekan no Renata dan mulai mengetik huruf demi huruf di papan keyboard laptop itu untuk dikirimkan pada Renata.
'Ren, lo lagi ngapain nih? Temenin gue dong, gue lagi badmood '.
Begitulah isi pesan yang Amara sampaikan pada Renata. Tak menunggu lama, Renata segera membalas pesan Amara.
'Gue lagi santai aja si Ra, emang kenapa?'
Amara membalas,
'Gapapa, temenin gue aja yok. Kita jalan-jalan'
Renata terkejut, tak biasanya Amara mengajaknya pergi keluar di malam hari. Karena ibunya akan marah jika keluar pada malam hari.
'Lo yakin? Nanti kalo emak lo marah gimana?'
'Enggak tenang aja, emak gue lagi keluar kota. Katanya ada urusan bisnis gitu. Gue dirumah juga sama tante gue' Amara menjawab dengan santai.
'Oke, gue siap-siap dulu'. Renata mengakhiri pesannya dengan Amara. Kini Renata tengah bersiap-siap. Amara juga melakukan hal sama. Amara memakai sweater hitamnya yang berukuran agak besar, kemudian memakai jeans kulot. Lalu menguncir rambutnya. Ia membawa uang dan ponsel yang ditaruh di tas kecilnya.
Amara berjalan keluar. Mengambil sepatu dari rak sepatu yang terletak di pinggir pintu. Ia lalu memakainya. Saat akan pergi, Amara meminta izin pada tante Keyla dan saudara-saudaranya.
"Gue pergi dulu ya semua, muaah".
Amara berpamitan pada penghuni rumah yang tengah berada di halaman depan rumah yang sibuk dengan ponselnya. Mereka membalas dengan deheman.
Saat tiba di rumah Renata, Amara turun dan memberi salam pada penghuni rumah Renata.
"Assalamualaikum, Renata" ucap Amara sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" Amara mendengar ada balasan dari balik pintu. Pintu pun terbuka, kini yang ada dihadapan Amara adalah ibu Renata. Amara menyapanya dan menanyakan keberadaan Renata. Beliau berkata bahwa Renata tengah bersiap-siap. Jadi ia tak perlu menunggu lebih lama lagi.
"Tunggu bentar ya nak, ibu panggilkan dulu Renatanya" . Amara mengangguk, kemudian mendengar suara langkah kaki. Ternyata itu adalah langkah kaki Renata. Kini mereka berpamitan bersama-sama pada ibu Renata dan langsung pergi keluar untuk jalan-jalan.
Mereka mengunjungi sebuah taman yang terletak di seberang kantor walikota. Mereka berjalan-jalan santai dan sesekali berfoto ria. Tak lupa mereka membeli jajanan yang ada di pinggiran jalan. Mereka menghabiskan waktu mereka dengan bahagia.
"Ren, duduk sini yuk"ucap Amara menarik tangan Renata dengan lembut menuju sebuah bangku taman yang ada di bawah pohon beringin besar.
"Yok lah". Renata mengikuti Amara. Mereka pun duduk sambil menceritakan pengalaman mereka masing-masing.
Mereka mengobrolkan banyak hal. Hingga tiba-tiba Amara membicarakan masalah pribadinya kepada Renata.
"Ren, gue capek".
Amara menyenderkan kepalanya pada bahu Renata. Renata menoleh pada Amara, lalu menyakan hal apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Lo kenapa lagi, lo galau?".
Amara menggelengkan kepalanya.
"Bukan, gue capek aja hehe".
"Iya lo kenapa setan? Lo bilang capek Mulu dari kemaren tapi lo ga bilang lo kenapa. Gue kudu ngasih motivasi apaan Ra?" ucap Renata sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Sorry Ren, gue ga bisa cerita".
Renata cemberut, kini ia sudah pasrah pada Amara.
"Serah lo".
Seketika mereka hening. Tak ada satupun yang bicara. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing. Angin malam yang berhembus mengenai kulit membuat siapa saja merasakan hawa dingin yang tenang dan nyaman. Amara mendongak ke atas. Melihat ratusan bintang yang bertebaran di langit-langit. Betapa indahnya pemandangan itu. Amara bangkit lalu menuju ke tengah lapangan yang berada di tengah-tengah taman itu berada. Ia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan yang hijau. Renata menatap Amara dengan heran. Ia lalu berteriak.
"RA, LO NGAPAIN TIDURAN DI SITU KAYA ORANG ILANG?"
Amara menoleh sebentar lalu melambaikan tangan memberi isyarat pada Renata agar mengikutinya. Renata paham akan maksud Amara dan mulai mendekatinya.
Renata berbaring di samping Amara sambil menatap Amara bingung.
"Lo kenapa sih, tumbenan. Lagi galau ciee"
"Paan sih lo, gue lagi liatin bintang juga. Sotoy deh" Amara menoleh pada Renata.
"Oh" Renata membalas ucapan Amara dengan singkat.
Amara dan Renata kini tengah mengamati bintang-bintang,-bintang itu. Mereka terpana melihat keindaha,, bintang yang bertebaran pada langit malam. Bintang itu sangat terang. Membuat siapa saja yang melihatnya akan terpukau.
Tak lama kemudian, Amara dan Renata dikejutkan dengan fenomena bintang jatuh yang melewati langit malam. Mwereka menutup mata. Menyatukan kedua tangan mereka di depan dada. ,
Mereka membuat sebuah keinginan. Mereka percaya bahwa ketika ada bintang jatuh maka kita bisa membuat 3 permintaan.
Setelah selesai mereka, membuka matanya. Menatap satu sama lain, tanpa sadar mereka pun tertawa.
Setelah selesai tertawa mereka pun bergegas pulang.
"Pulang yok Ra, gue ngantuk" ucap Renata pada Amara.
"Ayok deh ren,, udah malam banget nih. Dingin juga".
Amara dan Renata berjalan menuju ke tempat mereka memarkirkan motornya. Merek pun bergegas pulang.