
Namaku intan, aku istri dari mas damar kami menikah sudah tujuh tahun lamanya, dan kami di karuniai dua orang anak. Anak pertama kami bernama Dinda, saat ini ia berusia enam tahun. Sedangkan anak kedua kami bernama Arkana, ia berusia dua tahun.
Ayahku bernama Gunawan dan ibuku bernama Resti. Aku terbilang anak yang broken home, karena kerap kali ayah menyiksa ibu di depanku, bahkan ayah lebih memilih untuk menyibukkan diri di kantor ketimbang di rumah bersama kami.
Usut punya usut ternyata ayah dan ibu menikah karena paksaan, dulu ibu dan ayah di jodohkan oleh kaki ku, dan lahirnya aku bagi ayah adalah kesalahan terbesar. Tapi meskipun begitu aku tetap menyayanginya, karena ibu selalu mengajariku untuk tetap menghormati ayah, amu bagaimanapun ia tetap ayah ku. Dan suatu saat nanti aku pasti membutuhkannya.
Saat aku berusia dua puluh lima tahun ada seorang pemuda datang bersama ayah, ayah bilang bahwa pemuda itu akan melamar ku untuk menjadi istrinya. Tapi aku sangat takut untuk menikah, karena aku memiliki masalalu yang sangat sulit untuk di lupakan. Bahkan aku sampai kehilangan benda satu satunya yang menurutku sangat berharga. Namun, ayah memaksaku untuk menikahi nya, dan ibu membujukku untuk menerima pemuda itu, singkat cerita akhirnya kami menikah.
Aku di ajak mas Damar untuk pindah rumah, tapi aku menolaknya, karena aku ingin tetap bersama ibu. Karena bagiku ibu adalah pelindungku selama ini, ia yang selalu melindungi aku dan ibu juga selalu memberikan ku nasehat saat aku sedang terpuruk dan tidak tau harus berbuat apa.
Entahlah, aku tidak tahu mas Damar mengetahui masalalu ku atau tidak, aku tidak terlalu memikirkan nya, karena aku belum mencintai mas Damar.
Tiga bulan berlalu, aku hamil anak pertama dan di saat itu juga ibuku meninggal karena ada yang menabraknya, tapi semua orang menyangka bahwa ibu meninggal karena kecelakaan. Aku tidak tahu siapa dalang di balik semua ini, aku sangat terpukul mengetahui semua ini, rasanya duniaku hancur sehancur hancurnya sumber kekuatanku sudah tidak ada dan kini aku sendirian.
Bahkan selama pernikahan ku ini, aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan keluarganya mas damar, mas Damar bilang kalau keluarganya tidak lah hidup bersama lagi, bahkan ia juga bukan anak kandung ayahnya yang sekarang, aku yang mendengarkan ceritanya menjadi iba. Lama kami tinggal bersama akhirnya rasa itu muncul, tapi di saat rasa itu hadir aku memergoki mas damar bersama seorang wanita yang tidak ku kenali.
Dengan api cemburu aku menghampiri mereka yang tangah asyik berbelanja, mas Damar dan wanita itu kaget saat melihatku tiba tiba sudah ada di belakang mereka.
"Tega kamu mas, kamu tega mengkhianati pernikahan suci kita selama ini. Dan kamu anak muda, lihat ini. Laki laki yang bersamamu itu sudah menghamili ku, ia m*m*e*k*s* ku. Apa kamu mau ia juga menemanimu hah?" ucapku pada mereka.
"Intan, tenang sayang. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Sanggah nya.
"Lalu ini apa mas? Kenapa kalian sangat mesra, bahkan kalian berbelanja bersama sedangkan aku? Kamu biarkan berbelanja seorang diri, mas."
"Cukup Intan. Ia adalah Sinta adikku. Ia anak dari ibuku, dan asal kamu tau kami berbelanja untuk keperluan kita di rumah yang baru. Aku akan mengajakmu pindah, kita akan tinggal di rumah yang baru."
"Aku tidak percaya."
"Ayok aku tunjukkan buktinya, dan berhenti menangis kasihan anak kita."
Mau tidak mau aku pun berhenti menangis. Kami menuju sebuah apartemen, dan ternyata apartemen itu milik Sinta. Terdapat banyak sekali foto keluarga, bahkan foto mas damar menggendong sinta kecil pun ada.
"Sekarang aku percaya bukan? Bahkan sinta benar benar adikku, sayang."
"Sekarang ayok kita pulang, dan aku akan menceritakan semuanya padamu saat di rumah nanti. Maafkan aku karena aku tidak pernah mengenalkan mu pada keluarga besar, sampai terjadi kesalahpahaman seperti ini." Sesal mas Damar.
"Aku juga minta maaf mas karena sudah curiga padamu, dan sinta maafkan mbak ya." Ia hanya mengangguk saja.
"Dek. Kalau begitu kami pamit pulang ya."
"Loh ko pulang sih? Tidak makan dulu di sini?"
"Lain kali saja dek, kasian Kaka ipar mu mungkin ia kelelahan."
Dan akhirnya kami pulang ke rumah, kami masih tinggal di rumah ayah, karena aku belum ingin pergi dari rumah ini. Bahkan aku masih tidur di kamar ibu, sedangkan ayah tidur di kamar tamu.
* * *
Sembilan bulan berlalu...
Aku melahirkan Dinda, putri pertama kami. Aku sangat bahagia karena sekarang gelar ku mandi seorang ibu. Begitu juga dengan ayah, ia tak hentinya menimang cucunya itu, meskipun bagi ayah aku adalah kesalahannya yang terbesar tapi tidak bagi cucunya itu.
Aku melahirkan dengan cesar, karena aku tidak mengalami pembukaan sama sekali, bahkan sampai air ketuban ku sampai kering.
Tak terasa tiga hari berlalu, akhirnya aku di perbolehkan untuk pulang. Aku kembali ke rumah ayah, dan di sana juga sudah ada sinta yang menunggu. Kami semakin dekat, aku sudah mengetahui semuanya karena semenjak kejadian itu, mas damar semakin terbuka padaku. Bahkan aku dengan Sinta menjadi sangat dekat, aku sudah menganggap nya sebagai adikku sendiri karena aku terlahir menjadi anak tunggal ibu dan ayah. Menurut ibu, kalau ayah tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Ayah belum bisa menerima ibu sebagai istrinya meskipun sudah berpuluh puluh tahun menikah.
Tapi di balik itu semua, mas Damar selalu menghasut ku untuk tidak terlalu dekat dengan nya. Karena itu akan mengusahakan mas damar dalam membalas dendam. Ia bercerita bahwa ibu mertua ku, sudah pergi dari rumah besar milik ayahnya itu. Karena tindakan sang ayah mertua yang tidak adil, bahkan ayah mertua telah berulang kali menceraikan bu Sonya.
Tapi bu Sonya tidak mau keluar dari rumah besar itu. Sampai akhirnya ia di ketahui hamil lagi oleh lelaki lain, dan di usir paksa oleh sang suami.
Singkat cerita, anakku sekarang sudah berumur empat tahun, dan ia di haruskan untuk mengikut kelas TK. Dan mas Damar membawa serta kami pindah ke Singapura agar dinda memiliki pendidikan yang lebih baik. Sudah berulang kali aku menolak ajakan mas damar tapi ia tak pernah mendengarkan aku bicara.
Dan mau tidak mau kami pun menurut dengan apa katanya, kami pindah ke sana, dan mulai kehidupan yang baru di negara yang baru juga bagi kami.