
"Dengar sini mas. Jangan sesekali kau dekati anakku, yang awalnya aku biarkan kau ketemu dengan anakmu. Namun setelah kejadian hari ini jangan harap kau bisa bertemu kedua anakmu lagi."
"Tapi sayang ..."
"Silvi cepat bawa al kedalam mobil." Malas rasanya aku mau meladeni nya, sudah cukup kecewa aku dengannya dan aku tidak akan pernah lagi memberikannya kesempatan.
"Tapi aku lakukan ini semua karena aku ingin kita kembali lagi sayang."
"Aku mencintaimu. Meskipun kamu tak pernah cinta dengan ku."
Aku tak menghiraukan perkataan nya itu. Aku langsung pergi meninggalkan nya, meskipun aku masih mendengar panggilan nya yang trus menerus memanggil agar aku tak pergi lagi dari rumah ini.
"Sudah lah, ayah. Jangan ganggu ibu lagi, sudah cukup ibu terluka karena ayah." Ucap Amara membelaku.
"Tapi nak. Ayah janji ayah tidak akan mengulangi nya lagi, ayah mohon bujuk ibumu agar kembali pada ayah."
"Sudahlah mas. Lebih baik mas hiduplah dengan damai dan jangan menganggu kehidupan kami lagi, dan ya terimakasih karena mas sudah membuatku menjadi seperti ini. Aku tidak akan melupakan nya begitu juga aku tak akan melupakan perlakuan mas terhadap kakakku." Ucap Lia. Ya memang benar mas Dani lah yang memberikan semua ini pada kami, ia yang membantu adikku menjadi bangkit dan sukses seperti sekarang.
Namun aku tak akan lupa begitu saja dengan sikapnya. Akhirnya kami semua kembali pulang, aku terus memeluk anakku al. Aku tak ingin kehilangan nya untuk kedua kali, Silvi hingga saat ini ia masih meminta maaf dengan ku. Ia merasa telah melakukan hal yang sangat besar dan berbuat lalay.
Sudah berulang kali aku bilang padanya bahwa semua ini bukan salahnya, melainkan salah mas Dani.
Setelah kejadian itu aku melarangnya untuk bermain dulu diluar. Karena aku tak ingin mas Dani berbuat macam macam lagi seperti kemarin, aku menjadi semakin was was. Aku terbayang bayang saat mas dani membawa kabur anakku.
Memang benar ia adalah ayah dari Al. Tapi aku tak bisa membiarkan nya untuk menyakiti anak anakku, cukup aku saja yang ia sakiti tapi jangan sekali pun ia menyakiti anakku.
Satu bulan kemudian
Aku sudah tak pernah mendapat kan kabar dari mas dani lagi. Aku gak tau dia kemana, dan apa kabarnya, aku merasa aman tentram selama mas dani tak ada mengganggu kami lagi.
Anakku Al sudah semakin aktif. Ia pernah sekali menanyakan ayah nya dimana, namun aku terpaksa untuk berbohong dengan mengatakan kalau ayahnya sedang bekerja di luar negri.
Flashback
Saat sedang bermain di ruangan bermain yang sengaja ku desain khusus untuk bermain anak anak.
"Ibu. Ayah kemana? Mengapa ia tak pernah bertemu denganku lagi?"
"Ayahmu sedang bekerja nak. Mungkin nanti ia akan kembali kalau urusan pekerjaan nya sudah selesai."
Maafkan ibu nak. Ibu terpaksa berbohong demi kebaikan mu, tak mungkin ibu berkata sejujurnya kalau ayahmu dan ibu sudah berpisah sejak lama. Meskipun hingga saat ini mas dani tak pernah mau menandatangani surat cerai, tapi aku tetap menganggap nya bukan suamiku lagi.
Flashback off
Sebentar lagi amara menikah dengan arul. Aku berharap mas dani tidak akan datang ke acara pernikahan nanti, aku tak mau acara penting anakku dikacaukan oleh nya.
Sudah cukup bagiku ia menganggu hidup kami. Aku sudah tak peduli lagi dengannya, mau dia kemanapun aku tak peduli. Bahkan mau kembali lagi dengan sonya pun aku tak peduli.
"Permisi bu. ini ada paket datang untuk ibu."
"Hah? Paket? Dari siapa pak?"
Aku hanya mengangguk saja. Aku tak tau siapa yang mengirimkan ku paket, bahkan aku gak memesan belanjaan online apapun. Apa mungkin Amara? Ya karena ku pikir amara, aku langsung memanggil Amara di dalam.
"Amara. Sini nakk." Teriakku memanggil Amara.
"Iya bu. Kenapa?"
"Itu ada paket mungkin punya mu. Karena ibu merasa tidak membeli apapun lewat online." Ucapku sambil menunjuk paket tersebut.
"Tapi akupun tidak beli apapun bu. Ya sudah kita buka saja ya daripada penasaran." Lagi lagi aku hanya mengangguk.
Ku lihat amara sedang membuka bungkusan paket tersebut. Namun, tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut nya itu, hingga beberapa menit kemudian amara bersuara.
"Bu. Ko isinya cuman boneka aja."
"Benarkah?"
"Ya bu. Isinya boneka beruang, tapi tidak ada nama pengirimnya."
"Buang saja nak. Atau bakar saja, takutnya di dalamnya terdapat cctv atau apa, dulu teman ibu ada yang seperti itu."
"Baik bu."
Ya aku takut itu terjadi. Karena dulu saat aku masih aktif bekerja, teman satu kos ku ada yang mendapat kan paket yang sama seperti ku saat ini. Dan di salam boneka tersebut terdapat cctv kecil, untuk mengintai nya bahkan mengintip nya sepanjang hari.
Aku takut itu terjadi pada keluarga ku. Ntah siapa yang iseng mengirimkan ini ke rumah, tapi yang jelas aku tak ingin keluarga ku terancam keselamatan nya. Apa lagi pernikahan Amara tinggal menghitung Minggu saja.
Dan benar saja kan. Saat boneka itu telah berubah menjadi abu, terdapat cctv kecil di dalam nya bahkan bukan hanya satu melainkan dua.
Aku sudah tau pasti yang mengirimkan ini padaku mempunyai niat yang buruk. Karena jika ia berniat baik tak mungkin ia melakukan hal seperti ini.
Tapi siapa pelakunya? Mas dani atau Sonya? Di antara mereka berdua, karena mas dani mungkin masih tak terima karena aku tinggalkan, dan mungkin sonya. Karena ia juga bisa jadi belum terima mas dani lebih memihak padaku dibandingkan dengan nya.
Siapapun itu semoga saja tidak sampai membuat keluarga kecilku celaka. Saat sedang termenung amara menghampiri ku dan ikut duduk di teras bersamaku.
"Bu. Jika nanti aku sudah menikah lalu ibu dengan siapa?"
"Ibu kan ada mang Sapri, ada bi marni, ada silvi, ada mang ujang, ada dede Al. Kamu jangan khawatir nak."
"Tapi boleh kah aku tinggal di sini Bu? Kemarin aku bicara dengan mas arul, kalau aku ingin tinggal di rumah ini. Dan ia mengijinkan nya bu."
"Jika ia mengijinkan mu. Ya silahkan saja, ibu tidak akan melarang nya. Ini juga kan rumah mu nak. Rumah ibu rumah kalian berdua."
"Ibu sehat sehat trus ya. Sampai keinginan ibu memiliki cucu terwujud."
"Nak. Jodoh, rezeki dan maut sudah di atur nak."
"Tapi apa salahnya berusaha bu."
Aku hanya mengangguk dan mencium kening putri ku itu. Semoga saja pernikahan mu lancar nak, rumah tanggamu tidak seperti rumah tangga ibu.