
Saat sedang di rumah mertuaku. Aku bertemu dengan para saudara Wulan. Semua nya normal tapi ada salah satu saudara Wulan, yang menurut ku kecentilan. Aku tidak menyukai wanita seperti itu kata cacing kepanasan.
Ia terus memandangi ku, bahkan saat berjabatan tangan pun dengan sengit nya ia berbisik yang seketika membuat bulu kudukku merinding.
"Salam kenal aku Dinda. Dan aku menyukai mu." Ucapnya.
Dengan refleks aku melepaskan tangannya. Ia tersenyum miring ke arahku. Saat ibu dan yang lain memuji dan mendoakan pernikahan kami, terlihat wanita itu seperti tidak suka. Aku tidak tau apa yang ia katakan pada Wulan, sehingga Wulan jauh lebih berani menjawab.
"Jangan ganggu suami ku, ka." Ucap Wulan terdengar tegas.
"CK ... Belum tentu juga yang kamu anggap suami itu menganggap mu sama." Ucap wanita itu
Dan tiba waktunya kami untuk pulang, ibu mertua dan ayah mertua. Mengantar kan kami tapi tidak dengan wanita itu, ia berasalan ada pemotretan.
Selama perjalanan aku dan Wulan hanya diam membisu. Tak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut kami.
Saat sampai di rumah, aku menagih janji papa, tapi kata papa aku harus memiliki keturunan dulu. Bagaimana bisa aku memiliki keturunan dari wanita yang tidak aku cintai? Bahkan kami juga baru saling kenal. Aku tidak cinta dengan dia. Meskipun aku sering pergi ke sebuah club' malam dan bermain di sana tapi tidak pernah sekalipun aku meniduri wanita wanita ****** itu.
"Arghhhhh ..." Teriak ku.
Aku mengajak wanita itu masuk ke dalam kamar, masih sempat sempat nya ia bertanya mau apa masuk ke dalam kamar? Sudah jelas aku sangat lelah. Terbesit ide untuk menjahilinya.
"Akan aku buat kamu hamil. Cepat masuk kamar."
"Hah?" Iya kaget saat mendengar perkataan ku barusan.
Tuhan lucu sekali wajahnya. Tapi aku tidak mencintainya aku benci dengan wanita ini. Meskipun ia terkejut tapi ia tetap mengikuti ku dari belakang.
Setelah sampai di dalam kamar, aku menunjuk ruangan baca ku, di sana terdapat kasur yang biasa ku pakai untuk membaca.
Ia menurut saja orangnya. Ia pergi ke kamar mandi. Dan saat keluar ... Astaga. Kaget aku ia cantik sekali ketika lepas jilbab, dan hmmmm wanginya.
Ia juga sholat terlebih dahulu. Aku tau ia sangat lelah sama seperti ku, tapi ia masih sempat untuk sholat.
"Mas. Arah kiblat kemana?"
"Kesana." Ucapku sambil menunjuk arah barat.
"Mas."
"Apa lagi? Aku mau istirahat."
"Mas tidak sholat? Ayok kita sholat berjamaah."
"Sudahlah jangan ganggu aku. Kalau mau sholat, sholat saja sendiri. Aku mau istirahat."
Ia diam dan membisu. Ada rasa bersalah saat melihat wajahnya yang berubah menjadi masam karena aku bentak.
* * *
Keesokan harinya ...
Aku bangun, dan bersiap ke kantor. Aku heran kenapa wanita itu tidak terdengar suaranya? Apa ia masih tidur? Atau sudah bangun? Ahh sudahlah aku mandi terlebih dahulu, setelah itu mengecek nya.
Saat aku ke ruangan ganti, terlihat di sana baju kemeja dan lain sebagainya. Sudah di siapkan oleh nya. Ternyata ia tau juga pakaian untuk ke kantor.
Aku turun ke bawah, dan menuju ruang makan. Ternyata wanita itu sudah ada di sana, dan tengah menyiapkan sarapan untuk kami.
"Pagi mas." Sapanya.
"Ya." Jawab ku singkat.
"Mas mau sarapan apa hari ini? Mau teh apa kopi, atau susu?"
Saat sedang sarapan. Dan ia menyiapkan semuanya, mamy dan papa juga datang untuk ikut sarapan.
"Hai. Anak dan menantu mamy sudah pada sarapan?"
"Pagi mamy."
"Hai sayang." Ucapnya pada Wulan.
Saat aku tengah sarapan, aku mendapat kan telfon dari Rahmad temanku. Katanya ia sedang bermasalah dengan istrinya di kampung. Bahwa sang istri telah membohongi nya, mereka sudah menikah sangat lama. Tapi belum juga di karuniai seorang anak. Sebenarnya rahmad itu orang kaya tapi ia berpura pura menjadi orang miskin karena ingin tau bagaimana sikap sang istri selama ia menjadi miskin.
~ ~ ~ ~
(Prov Rahmad)
"Fatimah. Apa benar kamu memakai penunda kehamilan ha?"
"Itu tidak benar mas. Jangan percaya ucapan Nene tua itu."
"Jaga ucapanmu itu. Mau bagaimana pun ia lebih tua dari kita." Inilah sisi lain. Mas Rahmad ia memiliki rasa hormat yang luar biasa pada orang yang lebih tua dari kami.
"Aku serius mas. Aku tidak bohong, untuk apa aku memakai itu semua?"
"Karena kamu mencoba untuk kabar dariku. Dengar sini Fatimah sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Karena dulu aku harus mengeluarkan uang uang sangat banyak hanya untuk wanita penghibur seperti mu itu."
Plak
"Jangan pernah keluarkan kata kata kotor mu itu lagi mas."
"Berani kamu menamparku. Sekarang kamu ikut dengan ku, masuk ke dalam mobil." Ucapnya tanpa melepaskan tangan istriku. m aku tidak sebar dulu. Jika dulu saat aku ada celah dikit ia selalu menyiksanya tanpa ampun. Tapi sekarang?
Akhirnya mobil yang di kendarai nya pun berhenti di sebuah klinik. Tuhan. Ini klinik tempat nya memasang pencegah kehamilan, aku sengaja membawa nya kemari agar semuanya terbongkar sekarang. Aku sangat ingin memiliki anak darinya.
"Cepat turun."
"Aduh mas. Kepalaku tiba tiba pusing. Lebih baik kita pulang saja dulu yu. Nanti kita kesini lagi setelah sakit ku sembuh."
"Siang bos." Ucapnya
"Ya. Seret dia dan ajak masuk, jika ia berontak paksa saja."
"Baik bos." Mereka berdua aku suruh untuk menyeret masuk fatimah. Ia berontak sejadi jadinya, tapi tenaga mereka jauh lebih besar dari nya yang masih kalah kuat dari mereka. Mereka sangat kuat badannya pun besar.
"Aku ingin bertemu dengan dokter atau bidan di sini."
"Baik pak. Silahkan duduk dulu nanti kami panggi ya."
"Cepat."
Keringat dingin bercucuran aku benar benar takut. Dengan semua ini, dan akhirnya hal yang ku takutkan pun terjadi.
"Bapak Rahmad. Silahkan masuk dokter nya sudah ada di dalam."
Kami masuk kedalam ruangan, benar saja itu dokter yang memasangkan alat itu di rahimku.
"Eh bu Fatimah. Mau lepas pencegah kehamilan ya bu."
"Dok tolong lepaskan alat penunda kehamilan di istri saya. Dan berapa lama ia memasang ini semua?"
"Bu Fatimah sudah memasang ini jauh dari sebelum menikah dengan bapak. Apa bapak tidak tau?" Aku langsung melirik nya, sungguh wanita ini. Tidak tau di untung, sudah untung aku mau menikahi nya tapi ia malah berbuat seperti ini padaku. Awas saja tunggu nanti di rumah akan ku buat kamu kapok.
Proses pelepasan pun di mulai, dan tidak perlu waktu yang lama semuanya sudah beres. Kami pulang tanpa berkata sepatah kata pun. Sesampainya di rumah aku langsung menyeretnya masuk ke dalam kamar. Dan memulai ritual yang selama ini tidak menghasilkan buah. Semoga sekali saja bermain sudah menjadi buah yang segar.