AMARA

AMARA
Bab 59 Dukun



Aku sudah bertanya tanya pada semua rekan ku mengenai dukun handal, setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan apa yang ku cari selama ini, aku menemui Mbah Darmo yang terkenal sebagai dukun sakti.


Rumah Mbah Darmo masuk ke dalam pelosok desa, dan terpencil. Aku tidak gentar dan terus mencari nya. Sampai akhirnya aku menemukan gubuk sederhana di sana, aku bertanya pada warga yang lalu lalang.


"Permisi pak. Numpang bertanya, rumah pak darso dimana ya?" Tanya ku pada salah satu penduduk.


"Oh. Itu pak ada gubuk sederhana di sebelah kanan jalan sana, nah itu rumah nya." Jawab nya.


"Makasih banyak ya pak."


"Sama-sama."


Aku melajukan mobilku menuju rumah mbah darso, sampai aku tiba di pekarangan rumah nya.


Tok... Tok.... Tok....


"Assalamualaikum Mbah ..."


"Waalaikumssalam. Sebentar."


Ceklek


"Benar ini rumah nya Mbah Darmo?"


"Ya, benar. Mari masuk pak, ayah ada di dalam."


Aku masuk ke dalam rumah, ternyata mbah Darmo memiliki anak yang berparas cantik. Tak lama kemudian datang seorang bapak tua dari arah dalam. Mungkin itu Mbah Darmo yang ku cari, aku berdiri dan menyalami nya.


"Siapa yang akan kamu guna guna nak? Duduk lah nak."


Aku kaget mendengar pertanyaan si mbah, bagaimana ia tau?


"Aku ingin mengguna guna adik tiriku mbah, aku benci dengannya. Aku ingin ia menjadi budakku."  Si mbah hanya manggut-manggut.


"Lasmi. Tolong ambilkan air di botol nak."


"Ngeh bah."


Lalu si mbah melirik ku.


"Apa kamu membawa pakaian dalam nya?"


"Ya mbah."


"Gunting dan sisa kan karet nya saja, berikan pada mbah."


Aku pun menuruti nya, dan lasmi muncul dengan membawa sebotol air.


"Ini mbah."


"Masukkan karet itu ke dalam sini nakk, siapa nama adik tirimu itu? Dan bin nya."


"Sinta binti Dani."


Lagi lagi aku menuruti nya.  Dan Mbah Darmo mulai kumat Kamit membaca mantra. Lima belas menit kemudian, ia menyerahkan botol itu padaku.


"Bawalah ini. Dan berikan air di dalamnya pada gadis itu, jaman sampai ia menemukan botol ini, karena jika ia menemukannya maka semua yang kamu lakukan padanya akan berbalik padamu."


"Baik Mbah terimakasih banyak. Saya permisi dan ini untuk mbah." Aku pamit sambil menyerahkan amplop berisi uang.


Aku kembali pulang ke apartemen milik Sinta, ia tidak akan bisa kemana mana karena kunci apartemen itu aku yang pegang.


Tak terasa kini aku sudah sampai di dekat apartemen milik sinta. Namun, sebelum aku masuk, aku membelikannya sebotol kopi kekinian sengaja aku memberikannya dan mencampurkan minuman itu dengan air ramuan dari Mbah Darmo tadi.


Aku turun dari mobil dan segera berjalan menuju unit yang di tempati Sinta.


Ceklek


Saat aku masuk ternyata sinta sudah tidak ada di sana. Mungkin ia sudah bangun, dan berkemas.


"Sinta ..."  Aku mencari keberadaan wanita itu.


"Apa Sih bang teriak teriak kaya gitu?"


"Ini aku bawakan minuman untukmu, tenang tidak aku beri racun."


"Simpan saja di situ nanti aku minum."


Akhirnya ia duduk bersamaku, ia mulai meneguknya, aku pura pura minum juga dan tidak memperhatikan nya, agar ia tidak curiga terhadap ku.


* * * *


Keesokan harinya


"Bang. Bangun ayok kita sarapan bersama." Aku kaget saat mendengar Sinta membangunkan aku.


"Hmmm."


"Ayok bangun."


Aku akan tes ia, apa ia sudah terpengaruh guna guna itu atau belum.


"Abang mau kamu layani di sekarang."


"Baiklah."


Waw. Mbah Darmo benar benar sakti, tidak sia sia aku mendatangi nya jauh jauh, Sinta memulai aksinya. Sedangkan aku hanya diam dan menikmati setiap sentuhan darinya.


Sekitar setengah jam berlalu, aku mengakhiri aktivitas kami. Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku, sedangkan Sinta lagi lagi aku biarkan ia di dalam dengan keadaan yang sama.


Setelah setelah aku keluar lagi dan sarapan bersama nya. Meskipun aku biasa saja dengan istriku itu, tapi aku masih memikirkan nya, aku masih berusaha mencarinya dan juga anak anakku.


Saat Intan menjadi istriku, ia tidak menolak untuk hamil lagi, padahal saat itu dinda masih berusia tiga tahun, tapi Intan sudah ku buat hamil lagi.


Bahkan aku menyuruh nya untuk tidak menggunakan KB, agar ia dengan mudah untuk hamil lagi. Aku akan mencetak banyak anak dan akan ku hasut mereka semua untuk menghancurkan keluarga ayah, dan Amara.


Aku masih belum rela jika Amara menikah dengan lelaki lain selain aku, harusnya ia menjadi milikku bukan milik si andi itu.


Memang jika di pandang dari kekayaan, jadilah pemenang nya, tapi jika di pandang dari segi ketampanan, aku dan dia sama sama tampan. Bahkan lebih tampan aku. Entah kenapa amara lebih memilih lelaki itu daripada aku.


Aku memperalat dua wanita dalam hidupku hanya karena rasa sakit ku pada satu orang wanita yang tidak tau diri. Jika saja ia bukan anak kandung ayah, ia tidak akan mungkin merasakan nikmatnya menjadi orang kaya, dan tidak akan si sombong ini. Akan ku rebut ia kembali padaku.


"Sinta. Aku akan mengajak mu berlibur keluar kota, jadi bersiaplah dan kemasi baju bajumu."


"Ya."


Aku sengaja mengajak sinta untuk berlibur, karena aku ingin menikmati suasana yang baru. Dan pengalaman yang baru. Rencana aku akan mengajak nya ke puncak. Di Sana suasananya sangat nyaman dan cocok untuk ku bercocok tanam.


"Sudah siap?"


"Ya."


"Kalau begitu ayok. Sebelum hari semakin gelap."


Kami bergegas pergi agar tidak terlalu kena macet saat di perjalanan.


Sejauh ini perjalanan kami lancar dan mulus, sampai kami memasuki daerah yang kanan kirinya hutan.


Sinta menemukan botol yang berisi air kajian itu, ia bertanya padaku air apa itu. Seketika aku menjadi gugup untuk menjawab nya.


"Bang. Air apa ini? Dan sepertinya aku mengenal tali ini."


"I-itu bukan apa apa. Simpan kembali pada tempat nya."


"Jelaskan bang."


"Aku sudah katakan kalau itu bukan apa apa. Apa kamu tidak mengerti Sinta?"


Ia membuang botol itu ke jalan sampai pecah, seketika ia kembali menjadi normal lagi. Sial kenapa aku bisa lupa dengan botol itu? Baru saja aku akan memanfaatkan nya eh malah ketauan sungguh apes sekali aku.


Sinta berusaha meraih stir yang ku pegang, seketika mobil yang kami kendarai menjadi oleng tidak ada arah tujuan.


"Hentikan Sinta. Kalau tidak kita akan mati masuk ke jurang itu."


"Biarkan saja kita mati bersama bang, agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang seperti dulu lagi. Kamu telah membuat aku kehilangan rahim. Dan sekarang pasti tidak akan ada lelaki yang mau dengan ku. Karena aku tidak bisa memberikannya anak."


"Hentikan sinta.."


Jedar ....


Kami masuk ke dalam jurang, aku melihat sinta bercucuran darah. Begitu juga dengan ku, kaki ku terasa tidak menginjak ke bumi. Dan seketika pandangan ku menjadi buram lalu gelap.