
Sudah empat bulan berlalu semenjak kejadian itu, aku masih tetap berkencan dengan berbagai jenis manusia. Bahkan saat ini juga aku masih berkencan dengan mereka, seperti biasa aku bilang pada istriku bahwa aku sedang sibuk bekerja dan harus pergi keluar kota.
Dan seperti biasa percaya begitu saja, dan mengijinkan ku pergi tanpa adanya curiga sedikitpun padaku, sejujurnya dulu aku mendapat kan intan itu karena aku membeli dari ayahnya. Karena saat itu sang ayah sedang sangat membutuhkan uang untuk nya bermain judi, itu sebabnya sang anak di jual tapi ia tidak mengetahui soal itu, karena aku tidak pernah membahas nya.
Mungkin saat ini kandungan kedua adikku sudah terlihat, dan aku tidak peduli itu biarlah mereka menanggung semuanya, terakhir aku mendengar bahwa anak dari ayah kandungku itu sudah hamil, dan ia di nikahkan paksa dengan lelaki pilihan ayahnya.
Kami pernah bertemu di sebuah minimarket tapi ia tidak mengetahui siapa aku, dan aku pun cuek adanya saat itu kandungannya belum terlalu terlihat benar tapi aku masih bisa melihat nya, karena ia memakai baju sangat ketat. Entah kenapa saat sesudah aku perkosa ia menjadi sering memakai baju pendek dan s**i, apa mungkin ia frustasi? Karena awal aku menculiknya ia memakai kerudung serta memakai baju yang longgar longgar.
Sekarang aku sedang bersantai manja dengan sang selingkuhan, kami berlibur di bali berdua. Tapi liburan ku terganggu kala aku mendapatkan notifikasi pesan masuk dari intan, yang berhasil membuatku naik pitam sungguh aku emosi sekali membacanya.
Dan tak lama kemudian muncul lagi sebuah foto dan di sertai voice note suara *******, sungguh aku semakin naik pitam di buatnya.
Tanpa pikir panjang aku langsung memesan tiket menuju rumah ayahku, untuk apa intan datang ke rumah ayah? Aku tidak ingin intan mengetahui semuanya akan hancur rumah tanggaku, dan bisa saja intan meninggalkan ku membawa serta anak anakku.
Penerbangan ku pukul tiga sore, dan aku langsung memesan taxi untuk ke rumah ayah. Penerbangan pun tiba, sudah tak sabar rasanya aku ingin menemui mereka.
Tak terasa satu jam lima puluh menit pun berlalu, akhirnya aku mendarat dengan selamat sungguh aku pulang tidak membawa apapun bahkan baju baju ku, aku tinggalkan di sana toh tidak ada barang barang berharga pun hanya baju baju saja.
Sekitar lima puluh menit akhirnya aku sampai di pelataran rumah ayahku, benar saja terlihat di sana mobil intan terparkir rapih. Bahkan para penjaga rumah ayah pun dengan senang hati membuka kan gerbang untukku.
"Apa istriku ada di dalam?" Tanya ku pada Tono sang satpam, tapi aneh nya kenapa di rumah ayah sekarang banyak bodyguard? Setahuku ayah tidak pernah memakai mereka jika tidak genting.
"Ada tuan, kebetulan anda sudah di tunggu di dalam, silahkan masuk."
Apa? Kenapa mereka menungguku? Banyak sekali pertanyaan pertanyaan di kepalaku, yang belum terpecahkan. Semoga saja tidak ada apa apa, dan apa mungkin sinta ada di dalam? Huff kenapa aku menjadi gugup seperti ini? Dan kenapa keringat dingin bercucuran? Ada apa ini denganku? Kenapa menajdi seperti ini? Aku trus melangkah masuk ke dalam, terlihat ayah sedang duduk di kursi ruang tengah sambil menonton tv.
Ia menoleh ke arahku, lalu tersenyum datar padaku, apa ayah sudah mengetahui semuanya? Kenapa aku menjadi takut seperti ini padanya?
"Hai ayah. Apa ada istriku di sini?" Sapaku ramah, karena aku tidak mungkin langsung marah marah di sini, belum tentu juga istriku ada di dalam.
"Duduk lah dulu nak. Kebetulan kamu datang, ayah ingin bicara denganmu."
"Bicaralah ayah. Tapi tolong dimana istriku?"
"Apa benar kamu yang menghamili adikmu sendiri? Kenapa damar? Apa kamu kekurangan nafsu dengan istrimu itu? Bahkan istrimu sudah bersetubuh dengan lelaki lain."
"A-apa maksudmu ayah? Aku tidak mengerti itu."
"Jangan berpura pura tidak mengerti damar, aku sudah mengetahui semuanya. Bahkan kamu tega telah menggilir tubuh adikmu sendiri, kenapa damar? Kenapa kamu melakukan itu semua padanya?"
"Baiklah ayah. Aku akan jujur, memang benar aku yang telah menghamili adikku sendiri, dan benar juga aku telah menggilir nya dengan sesama jenis dan seorang lelaki. Dan bahkan kami telah menggunakan nya semalaman penuh, apa ayah puas sekarang? Jika ayah bertanya kenapa aku sebejat ini, seharusnya ayah sadar,. Bukankah dulu ayah melakukan hal seperti ini pada bunda Lina? Dan bahkan membiarkannya sampai hampir gila karena perbuatan ayah."
"Cukup Damar ... Jika aku tidak memungut mu dan juga ibumu, mungkin kalian sudah menjadi gembel, dan aku melakukan itu semua karena ulah ibumu yang memaksaku untuk menikahinya. Jangan lupa itu Damar."
"Itu hanya Alibi ayah saja. Lantas kenapa saat ayah sudah mengetahui itu semua, ayah malah kabur.? Dan membiarkannya hidup sengsara?"
Plak
"Aku bilang cukup ya cukup. Apa kamu tuli Damar?"
"Apa ayah berani menamparku? Apa hak ayah menamparku? Sekarang katakan dimana istriku berada?"
Berani sekali ayah menamparku dengan sangat keras, sungguh ini pertama kalinya aku di tampar oleh ayah, dan terlihat Sinta turun dari atas. Waw perut nya sudah terlihat, Sinta semakin terlihat s**i saja hahaha. Ia terus berjalan menghampiri ku, yang sedang terpana melihat nya.
"Kamu semakin s*x* saja kalau perut mu semakin besar."
Plak
"Itu balasan yang pantas untukmu, bahkan aku rasa itu kurang pantas. Karena lelaki seperti mu itu tidak cocok untuk di berikan hidup di dunia ini."
"Jangan sok suci Sinta, kamu lupa kalau ayah mu juga sama bejat nya seperti ku, dan apa kamu lupa kalau kamu juga sering menjajakan diri pada lela hidung belang."
"Setidaknya aku tidak melukai prasaan keluarga ku sendiri. Sekarang aku minta kamu bertanggung jawab atas semua ini."
"Tidak sudi aku menikahi mu, sekarang katakan dimana istriku, aku ingin membawanya pulang. Berani sekali kalian menyekapnya di sini, sekarang aku tau ini semua pasti kerjaan mu, benarkan?"
"Hahahaha. Ternyata kamu pintar juga bang, kamu ingin bertemu dengan istrimu bukan?"
"Cepat katakan, atau aku akan berbuat nekad padamu."
"Lakukan saja jika kau berani bang. Istrimu ada di salah satu kamar di rumah ini, ia sedang bercinta dengan lelaki lain."
"Jaga ucapanmu, intan tidak seperti mu Sinta."
"Cari saja jika kamu tidak percaya."
Setelah mendengar itu semua, aku langsung berlari menyusuri kamar kamar di rumah ini, tidak ada satu kamar pun yang tersisa. Dan sampailah pada satu kamar tempat ku dulu.
Jedar ...
Aku membuka nya dan ....
Ternyata benar saja, Intan sedang bergumul dengan lelaki lain di belakang ku. Kurang ajar sekali ia beraninya berbuat seperti itu, aku menghampiri nya dengan penuh amarah.
Saat sudah dekat, aku menarik tangan intan dan menyeretnya turun dari atas kasur, sungguh iya tidak memakai sehelai benangpun.
"Apa apaan kamu ini mas?"
"Kamu yang apa apaan. Beraninya kamu melakukan ini semua di belakangku."
"Apa kamu tidak sadar hah, jika kamu jauh lebih menjijikan daripada aku. Bahkan kamu beberapa kali kencan dengan sesama jenis, apa itu tidak menjijikan?"
Benar kan dugaan ku, kalau Intan sudah mengetahui semuanya hancur sudah rumah tanggaku. Sungguh aku tidak terima dengan semua ini, aku mencari cari gunting namun tidak ketemu. Dimana benda itu? Biasanya selalu ada di sini, ingin sekali rasanya aku membunuh mereka saat ini juga.
"Tapi bukan kah kamu sendiri yang memberikan ku izin untuk melakukan itu semua? Lantas sekarang kenapa kamu seperti ini Intan?" Tanya ku heran.
"Aku muak dengan mu mas, asal kamu tahu ya adik kandung mu kemarin ke rumah kita. Dan dia meminta mu untuk menikahi nya, apa kamu tahu sekarang ia sedang hamil sama seperti Sinta? Dan apa kamu tahu jika ayah kandung mu sekarang koma akibat mengetahui perbuatan anak laki-laki nya itu seperti apa!" Ucap Intan emosi.
"Apa maksud mu?"
"Sudah lah mas. Jangan pura-pura lagi, mulai sekaleh aku bukan istri mu lagi mas."
"Kamu tidak bisa melakukan ini semua karena ..."