
Aku Wulan. anak dari ayah andi dan ibu amara. Aku putri pertama mereka, saat ini aku berumur genap dua puluh lima tahun, saat aku pulang dari mengajar, ayah memanggil ku.
Setelah aku selsai, aku pun menghampiri ayah yang sedang menunggu.
"Nak, kemari lah . Ayah ingin bicara denganmu" panggi ayah.
"Ada apa ayah?" Tanya ku penasaran.
"Nak, kamu sayang dengan ayah?"
"Tentu saja. Kenapa ayah bertanya seperti itu? Ada apa ayah katakan lah."
"Begini, minggu depan akan ada rombongan keluarga Hartawan yang akan kemari, ia akan melamar mu nak."
"Melamar? Bagaimana mungkin bisa ayah? Sedangkan aku saja tidak mengenal mereka, bahkan aku tidak tau akan di lamar oleh siapa?" Aku kaget. Jelas saja aku sangat kaget karena tiba-tiba saja aku akan ada yang melamar ke rumah. Bahkan wajah laki-laki itu pun belum aku kenal.
"Kamu akan di lamar untuk putra Hartawan, yaitu Amar Hartawan, terimalah lamaran itu nak. Ia anak dari sahabat ayah dulu sewaktu SMA."
"Tapi ayah ..."
"Dengar kan permintaan ayah nak, anggap saja ini permintaan terakhir ayah di sisa hidup ayah. Jika kamu sayang ayah, maka terimalah lamaran itu dan jangan buat kecewa ayahmu ini, layani suamimu, berbaktilah padanya nak."
"Baiklah ayah. Tapi biarkan aku pikir pikir dulu ayah, berikan aku waktu."
"Baiklah nak."
Bahkan aku saja tidak tau, bagaimana rupanya lelaki itu. Tapi aku tetap mencoba, untuk mengikuti perintah ayah, aku tak ingin ia kecewa di usia nya yang senja ini.
Andai aku bisa memilih, aku akan memilih tidak menikah dengan lelaki yang tidak ku kenal, tapi sayang nya aku tak punya pilihan.
Kata ayah bilang, mereka akan datang Minggu depan. Tapi ternyata, ayah memberitahu kami lagi, bahwa mereka akan datang esok lusa, dan ayah menyuruh ku untuk berdandan yang sangat cantik.
Lagi lagi aku hanya mengangguk dan menurut saja. Semenjak aku mengiyakan, permintaan ayah, aku melihat ibu dan dia selalu bertengkar. Bahkan pernah malam itu aku, mendengar ibu menjerit, padahal kamar kami semua kedap suara.
Hari yang di tunggu tunggu pun tiba, rombongan keluarga hartawan tiba di rumah kami. Aku mengintip dari jendela kamar, yang kebetulan kamar ku berada di depan.
Aku tidak menyangka, kalau mereka sangat lah kaya raya, bahkan beberapa mobil mewah berjejer di tepi jalan dan halaman rumah kami.
Menurut bi talia mereka adalah rekan bisnis ayah. Pak Hartawan teman ayah sewaktu SMA sampai sekarang.
Setelah beberpa saat, aku di panggil untuk ikut bergabung. Rasanya dag dig dug prasaan ku. Aku tak menyangka, kalau akan menikah dengan cara seperti ini.
Setelah beberapa saat, bercengkrama dengan mereka, aku di ajak oleh seorang lelaki, untuk mengobrol dengannya. Menurut ayah, itu adalah mas Amar, calon suamiku.
Aku pun mengikuti langkah nya, menuju halaman, kami mengobrol di sana, sikap nya sangat cuek dan dingin. Bahkan ia tak menoleh ke arahku sekalipun.
"Sebelum kita menikah, aku ada syarat untuk mu."
"Hah? Syarat?"
"Apakah kamu tuli?"
"Maaf. Kenapa ada syarat nya? Seharusnya aku yang memberikan mu syarat."
"Diam. Aku tidak butuh ocehan mu itu. Intinya, setelah kamu menjadi istriku, tidak boleh ada satupun keluarga kita yang ikut campur. Urusan kita nanti."
"Tapi kenapa?"
"Sudah ku katakan, aku tidak mau ada yang ikut campur dengan rumah tangga kita. Apa kurang jelas? Dan sekarang katakan apa syrat darimu."
"Ya jelas. Apakah aku masih boleh bekerja? Maksudku, apa aku masih boleh mengajar?"
"Lupakan soal mengajar itu, kamu diam di rumah bersama mamy ku. Dan tugas mu hanya menghabiskan uang dariku. Paham."
"Tapi ..."
"Tidak ada penolakan."
"Huff dasar kepala batu."
Ia meninggal kan ku begitu saja, yang masih mencerna semua perkataan nya. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan lelaki seperti ini? Bahkan aku tak pernah bermimpi, untuk menikah dengan lelaki seperti dia. Ahhhh sial sekali aku.
Setelah kami duduk kembali, rupanya para orang tua sudah merencanakan pernikahan kami, kami menikah Minggu depan. Dan aku sekeluarga tidak perlu repot repot lagi untuk menyiapkan semuanya.
Proses lamaran pun usai, ku di berikan hantaran yang sangat banyak dan tentunya mahal. Meskipun aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi aku tidak begitu menyukai benda benda yang mahal mahal. Bagiku kesederhanaan saja sudah cukup membuatku bahagia.
Berbeda dengan dinda. Anak dari Tante Intan ia selalu membeli dan menghambur hamburkan uang om Aldi.
Setelah mereka pulang, aku membuka hantaran itu satu persatu. Namun, dari sekian banyak hantaran yang ada, mataku tertuju dengan satu kotak baju tidur.
Tapi sepertinya, lebih tepatnya lagi itu adalah lingerie yang sangat ****. Bahkan bisa di bilang hanya menutup bagian bawah ku saja, tuhan. Siapa yang memiliki ide seperti ini? Apakah calon mertuaku? Atau calon suamiku? Malunya aku.
Ting ...
Satu pesan masuk ke dalam hp ku, tapi aku tak tau siapa yang mengirimnya, karena itu nomor baru.
["Bagaimana baju lingerie nya? Suka tidak?"]
Aku mengernyit kan dahi heran siapa yang mengirimkan ku pesan seperti ini?
["Siapa ini?"] Send.
Ting ...
["Aku Amar. Aku sengaja membelikan itu, dan aku harap setelah kita sah, di malam pertama kamu memakainya."]
Aku mengernyit kan dahi, apa mas amar mengirimkan ku pesan? Darimana ia memiliki nomor ku? Padahal, tadi saat mengobrol saja, ia enggan melihat ke arahku.
Sebenarnya ia menginginkan pernikahan ini, atau tidak? Kenapa ia berprilaku seperti ini padaku?
Hari pernikahan kami pun semakin mendekat, sudah banyak orang yang bekerja, untuk mendekor dan mempersiapkan semuanya.
Acara pernikahan kami pun di gelar, kamu menyelenggarakan pesta, di kediaman ku dulu. Baru setelah itu di rumah mertuaku.
Banyak kasak kusuk, tetangga yang menanya kan prihal ini, bahkan ada yang bergosip, bahwa aku telah hamil duluan oleh
Padahal, jangankan begituan keluar rumah pun aku hanya mengajar, dan ke pasar. Selebihnya aku diam di rumah.
Siapa yang mau menikah dengan lelaki, yang tempramental dan bahkan sering berjudi, dan tidak bekerja. Meskipun ia anak seorang juragan tapi setidaknya ia harus memiliki tabungan sendiri, dan bekerja.
"Alah ... paling kamu hamil duluan sama pemuda itu. Iya kan?" Tanya bu vira, saat melihat ku keluar rumah.
"Maaf bu Vira. Saya tidak sedang hamil, bahkan saya masih perawan."
"Alah bohong, ini sebabnya kamu menolak putraku, karena kamu memilih pria yang sangat kaya raya itu. Lihat saja nanti kamu akan menyesal, karena telah menolak putraku." Tuhan, apa lagi ini? Kenapa bu vira tidak henti hentinya menganggu ku? Apa aku harus mengikuti syarat dari mas amar? Untuk tinggal di rumah nya? Bahkan aku pun belum tau seperti apa rumah yang ia miliki itu.
Hari demi hari berlalu, pernikahan ku pun semakin mendekat, tak ada komunikasi apapun antara aku dan mas Damar.
Semuanya di kerjakan oleh orang orang pekerja om Hartawan, ntah bagaimana nanti jadinya rumah tanggaku ini. Aku tak tau, tapi semoga saja ia tidak bertindak semena mana padaku.
Menurut yang ku dengar, ia adalah seorang CEO muda, jika benar begitu, mungkin nanti aku bisa melamar di salah satu perusahaan miliknya. Karena aku tidak ingin hanya berdiam diri, di rumah tanpa melakukan apapun. Bahkan mas Amar, tak memperbolehkan seluruh keluarga ikut campur dalam rumah tangga kami.
* * *
Setelah menikah
Hari ini aku pulang ke rumah mertua, rasanya dag dig dug saat akan pergi meninggalkan ayah. Aku khawatir jika di sana aku tidak di terima dengan baik, luna. Kaget saat mendengar aku akan menikah. Pasalnya aku tidak pernah membawa lelaki atau bahkan mengenalkan lelaki dengan siapapun orang di rumah ini, tidak seperti adikku ini. Ia sudah tidak terhitung lagi berapa banyak lelaki yang sudah di bawanya ke rumah, bukan dalam artian ia murah*n sama hal nya seperti dalam cerita papa waktu itu.
Papa bercerita bahwa dulu ada ibu tirinya ibu yang selalu berganti ganti pasangan, bahkan sampai menurun ke anak anak nya. Hingga saudara dan saudara meninggal karena salah satu dari mereka terobsesi
Aku sudah tiga hari di rumah mertua. Semua masih berjalan seperti biasa tidak ada yang berbeda. Ibu mertuaku sangat baik hanya saja mas Amar tidak memperbolehkan mereka ikut campur dengan urusan rumah tangga kami.
Sebelum kami berangkat, semua sanak saudara berkumpul bahkan mbak Dinda dan mas Arkana juga ada. Mereka adalah anak dari tante Intan dan om Aldi.
Para orang tua berkumpul di ruang tamu, sedangkan aku dan yang lainnya berada di ruang tengah. Kami mengobrol apapun itu. Sampai pada saat mbak dinda bicara dan semua yang ada di situ seketika diam.
"Wulan. Suamimu sangat tampan, apa kamu tidak menyukai nya?"
"Maksud mbak gimana ya?"
"Aku menyukai suamimu Wulan, aku tau kalian menikah karena terpaksa. Jadi biarkan aku saja yang mencoba untuk mengisi hati suamimu itu."
Seketika semua yang ada di situ terkejut dengan ucapan mbak Nadia. Memang ia sangat cantik.
"Apa kamu sudah gil* ka? Ia itu suami mbak Wulan, tidak sepantasnya kamu ingin merebut suami dari saudaramu sendiri." Ucap Arkana.
"Betul itu mbak. Kenapa mbak mencoba untuk menghancurkan rumah tangga kaka aku?"
"Aku tidak mencoba untuk menghancurkannya. Aku hanya mencoba untuk menyelamatkannya dari rumah tangga yang tidak mereka inginkan. Hanya itu saja tidak lebih."
"Tapi maaf mbak. Mau bagaimana pun jalannya rumah tangga ku, aku akan tetap mempertahankan suamiku itu."
Rasanya tidak percaya dengan apa yang barusan mbak dinda ucapkan. Aku benar benar tidak menyangka seorang model terkenal ingin menjadi seorang pelakor dalam rumah tangga saudaranya sendiri.
"Wulan. Kemari lah nak, suamimu mengajak kita untuk ke rumah kalian yang baru. Dan ajak yang lainnya dulu." Panggil ibu. Akhirnya mas amar mengajakku ke rumah ayah mertua. Ini adalah awal dari kisah rumah tangga ku yang sama sekali tidak kami inginkan. Semoga saja mas amar tidak melakukan hal di luar wajar.
"Baik bu. Ayok dek kita ke sana. Mbak dan mas Arkana."
Kami berjalan beriringan menuju ruang depan. Mamy mertuaku sudah menunggu kedatangan ku dengan santay senyum yang tulus.
"Bismillah. Ya tuhan semoga aku bisa menjalani rumah tangga ini dengan baik. Aamiin." Ucapku dalam hati.
"Sayang kemari lah." Panggil mamy mertua. Aku menghampiri nya. Namun, sebelum itu aku melirik ke arah mbak Dinda, terlihat dari sorotan matanya bahwa ia tidak menyukai adegan ini.
"Sayang. Nanti jika sudah di rumah mamy, kamu jangan sungkan ya nak." Aku mengangguk saja.
Kami semua berangkat ke rumah mertuaku, kecuali mbak Dinda. Ia tidak ikut katanya ada jadwal pemotretan yang aku sendiri tidak tau apakah itu benar atau tidak.
Jarak antara rumah mertua dan rumah ibu, tidak lah begitu jauh. Akhirnya kami sampai. Sungguh rumah ini tak beda jauh besarnya dengan rumah papa. Semoga saja aku betah berada di rumah ini.
Kami melangkah masuk ke dalam, ibu mertuaku tak hentinya memegang tangan. Menurut ayah mertua, kalau mereka sangatlah menginginkan seorang anak perempuan. Tapi sayang tuhan tidak kunjung memberikannya pada mereka berdua, dan hanya mas Amar lah satu satunya keturunan Mmereka
Aku di perkenalkan dengan para pekerja di rumah ini, ibu dan papa serta yang lainnya berpamitan untuk pulang, karena mereka memiliki agenda lain lagi. Kini hanya aku sendiri yang orang asing di rumah ini. Namun, tiba tiba, mas Amar dan ayah mertua adu mulut. Aku dan mamy hanya diam saja menyimak, saat aku ingin mengajak mas amar untuk berhenti berdebat. Mamy menggeleng ke arah aku, agar aku tidak melakukan itu.
"Oh ya. Jangan lupa ya. Ayah dan mamy jangan pernah ikut campur dengan rumah tanggaku. Sekarang aku sudah menikah jadi aku sudah bisa memiliki semuanya bukan?"
"Tidak bisa begitu nak. Meskipun kamu sudah menikahi Wulan, tapi belum tentu kamu bisa memiliki keseluruhan ini semua."
"Bagaimana bisaa ayah? Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa aku harus menikah jika ingin memiliki semuanya."
"Kamu harus memberikan kami cucu dulu, baru kamu akan mendapatkan semua harta warisan ini."
"Apa?" Ucap ku dan mas Amar serentak.
"Apa sih kamu ikut ikutan kaget." Ucapnya padaku, padahal aku beneran kaget.
"Bagaimana bisa aku menghamili orang yang tidak aku cintai ayah. Aku akan memberikan kalian seorang cucu tapi tidak dari dia. Melainkan dari orang yang aku cintai."
"Perse**n dengan semua itu Amar. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan mu dengan Alexa. Ia bukan wanita baik baik amar."
"Argh ..." Mas Amar berteriak, ia berjalan meninggalkan ku yang masih mematung melihat kemarahannya. Tapi tiba tiba ia menoleh ke arah ku dan berteriak sampai aku kaget.
"Apa kamu akan diam saja di sana? Cepat kemari, dan ikut dengan ku masuk ke dalam kamar. Aku akan membuat mu hamil." Ucapnya lantang.
"Hah?"
"Cepat kataku, apa kamu tuli?"
"Ba-baik lah." Aku menoleh ke arah ayah dan mamy, mereka hanya tersenyum meliht anak nya yang berkata seperti itu. Aku berpamitan dengan mereka, dan mengikuti mas Amar berjalan menuju arah kamar.
Sesampainya di dalam sana. Hatiku seperti mau copot. Aku takut apa yang di kata nya tadi akan benar benar terjadi. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan aku hanya duduk di tepi ranjang. Tak lama kemudian ia keluar dengan rambut basahnya dan ya tuhan, badannya bagus sekali.
Ini baru pertama kali aku melihat dalamnya tubuh lelaki sedekat ini.
"Apa liat liat? Jangan kamu pikir aku akan melakukan nya padamu. Aku hanya tidak ingin orang tua ku banyak bicara, kamu mendengar semuanya sendiri bukan?"
"I-iya."
"Cepat mandi bersihkan badanmu yang sudah kotor itu ..." aku berjalan menuju kamar mandi.
"Tunggu ..." seketika langkah ku terhenti.
"Dengar sini ya. Meskipun kita berada dalam satu kamar. Tapi kamu jangan berharap aku akan menyentuh mu. Kamu tidur di kasur di ruangan itu dan aku tidur di kasur ku sendiri." Mas Amar menunjuk salah satu ruangan. Yang sepertinya itu ruangan baca buku karena terlibat banyak sekali buku buku yang tersusun rapih. Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Tak lupa juga aku membawa baju ganti, agar mas Amar tidak bisa melihat semuanya.