AMARA

AMARA
Bab 33



Setelah aku mendapat kan telfon dari mbak lia aku langsung menuju kamar mengabarkan semua ini pada mas ali jujur saja aku sangat khawatir padanya meskipun aku sudah mempercayakan semua nya pada Amara ponakan ku namun mau bagaimana pun juga dia masih terbilang sangat muda belum mengerti apapun sepenuhnya.


Keesokan harinya


Tepat pukul sembilan pagi aku dan suami pergi ke rumah mbak lia sedangkan Adam anakku tidak ku bawa aku titipkan pada baby sitter nya, aku rasa hal ini akan memakan waktu yang sangat sangat lama itu sebabnya aku tak membawanya.


Sekitar tiga puluh lima menit kemudian kami sampai di depan rumah mbak lia aku yang sangat khawatir saat itu langsung saja masuk ke dalam rumah, aku tau satpam di depan pasti sangat kaget melihat aku buru buru masuk ke dalam tapi aku tak peduli yang aku peduli kan saat ini adalah Kaka ku aku tak mau dia merasakan sakit lagi cukup dulu saja dia sakit karena kebodohan mas Dani.


"Mbak."


"Mbak dimana? Ini aku Lisa dan mas ali datang mbak."


"Sabar sayang jangan teriak teriak nanti Al keganggu."


"Ah iya mas aku lupa sekarang di rumah ini sudah ada al, tapi aku sangat khawatir dengan mbak lia."


"Mbak ..."


Tak lama kemudian mbak lia datang dengan amara mata mbak lia tidak terlihat sudah menangis ia bahkan bersikap biasa saja.


"Aku to the poin aja ya mbak, mbak kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi mbak? Amara jelas kan pada bibi ada apa ini?"


"Seperti yang ku bilang kemarin aku sudah muak dengan semua ini dan aku ingin berpisah dengan mas dani aku tak ingin bersama dengan dia lagi."


"Benar bi, aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau ayah membuat keributan bahkan berbuat kasar depan ibu padahal dia tau kalau ibu tak boleh melihat yang seperti itu."


Aku masih belum mengerti dengan semua ini aku belum paham dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Awal mulanya seperti apa? Kemarin mbak tidak memberitahu ku."


Lalu mbak lia menceritakan semuanya kembali dan kini aku tau titik permasalahan nya lagi dan lagi berada pada diri Sonya, lagi lagi dia hamil dengan lelaki lain dan berniat untuk menjebak dani agar anak yang di kandung sonya di akui oleh Dani.


Sungguh picik sekali wanita itu dan aku juga baru tau bahwa Kaka ku dan amara berniat untuk membalas dendam dengan mereka dan kini semua sudah terbayar lunas, mas dani hancur dan berpisah dengan sonya wanita yang telah membuat Kaka ku di bilang orang g*l*.


"Lantas apa yang akan mbak lakukan selanjutnya?"


"Mbak ingin bercerai dengannya dan pergi dari rumah ini, meskipun ini sudah menjadi milik amara tapi kami sudah membicarakan semuanya amara setuju kalau rumah ini di jual tapi aku tak akan pulang ke rumah mu."


"Kenapa mbak? Rumah ku ya rumah mbak lagi."


"Karena mbak yakin kalau mas dani akan mencari mbak ke sana dan mbak tak menginginkan itu."


"Mbak sudah membeli rumah yang jauh dari kota ini dan mbak minta nanti setelah kita sudah di rumah yang baru kita jangan ada yang keluar rumah dulu minimal satu bulan, karena mbak sudah tau bagaimana watak mas dani."


"Kalau begitu kapan kita akan pergi.? Mbak sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah, barang barang mbak sebagian sudah di antar ke rumah sana oleh mobil yang mbak sewa dan ini hanya sisa nya saja masing masing satu koper yang berisi baju, kita tunggu mas dani dulu mbak minta kamu yang bisa dengannya karena mbak sudah tau ingin lagi berbicara dengannya."


"Baiklah mbak."


Aku tak menyangka bahwa mbak lia akan senekat ini yang aku tau selama ini mbak lia hanya lah seorang yang pendiam bahkan orang orang kampung menghina nya pun ia tetap diam saja ternyata di balik diamnya mbak ku itu tersimpan dendam yang mendalam ada mas dani dan aku tak menyangka itu.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya mas dani pulang ia heran melihat ku ada di rumah nya tanpa Adam karena setiap kali aku main ke rumah ini aku selalu membawa serta adam, adam sangat menyukai ali bahkan ia meminta padaku agar aku memberikannya adik namun tuhan belum berkehendak memberikan ku anak lagi.


Mas dani berpamitan untuk bersih bersih dulu dan setelah itu dia ikut bergabung bersama kami di ruang tamu, ia masih terlihat bingung dan wajahnya seperti kurang tidur apa ia tak bisa tidur karena masalah ini? Atau bahkan karena telah kehilangan sonya istri pertama nya? Aku tak tau pasti soal itu yang terpenting sekarang adalah membawa mbak lia pergi menjauh dari rumah ini dan aku akan membantu nya untuk mengurus surat perceraian nya nanti.


Aku bicara berterus terang padanya bahwa kedatangan ku untuk menjemput mbak lia karena ia telah melanggar perjanjian yang katanya gak bakalan buat mbak lia tertekan lagi dan tak akan membuat pertikaian apapun dengan sonya namun nyatanya? Ia melanggar semua itu dan ini sudah keputusan akhir aku tak peduli bagaimana keadaan dia setelah ini aku tak mau tau itu.


Mas Dani berulang kali memohon dan meminta maaf pada kami namun kami tetap bungkam ku lihat mbak lia bangkit dari duduk nya aku kira ia akan menampar atau memukul mas dani rupanya ia hanya lewat saja dan mengambil koper serta memanggil baby sitter nya al.


Kami semua pergi dari rumah itu terlihat mas dani masih menunggu di depan pintu ia menangis melihat kepergian mbak lia, seperti nya ia cinta dengan Kaka ku ini namun aku tak akan membiarkannya membawa kembali Kaka ku biarkan saja dia seperti itu.


Sebelum berangkat ke rumah baru Kaka ku kami mampir terlebih dahulu ke rumah ku untuk membawa adam karena tak mungkin aku membiarkannya dengan baby sitter nya, namun aku meminta agar mbak lia dan Amara tidak ikut turun karena kalau mereka turun nanti akan ada tetangga yang melihat dan melaporkan nya pada mas dani.


Aku membawa koper kecil untuk baju kami bertiga dan sari aku suruh membawa baju ganti secukupnya, setelah selesai kami pun keluar aku dan tak lupa aku menyuruh pak Heri untuk mengunci ganda gerbang dan memasukkan semua mobil ke garasi dan tidak membuat tanda tanda kehidupan di rumah ini.


Ya aku sudah mempercayakan pada mereka toh di dalam juga ada mbak tami pembantu di rumah ini yang sudah bekerja sangat lama jadi aku percaya dengannya.


Saat kami keluar gerbang dan benar saja kan ada Bu endah lewat depan rumah ku, uh kenapa wanita kepo ini lewat sekarang sih? Ga bisa nanti aja? di pasti bakalan kepo nih. nah kan bener dia nanya kami mau kemana aku melirik mas ali aku meminta nya yang menjawab pertanyaan tetangga yang kepo ini.


"Bu Lisa sekeluarga mau pada kemana nih? Ko bawa koper segala."


"Oh ini saya mau ajak istri dan anak saya liburan kalau begitu kami permisi dulu ya bu mari."


"Heyy tunggu ku belum selesai kalian mau liburan kemana?"


Namun kami tidak menghiraukan teriakannya dasar wanita kepo selalu saja ingin tau urusan orang lain padahal rumah tangganya juga ngga bener bener amat.


Suaminya selingkuh dengan mbak santi tetangga samping rumah nya bahkan aku pernah melihat mereka baru pulang kencan, aku tak tau seperti apa reaksi bu endah mengetahui tentang skandal ini, kenapa sih orang orang pada suka selingkuh? Apa pasangan mereka tidak bisa membuat mereka puas? Semoga saja mas ali tidak seperti itu awas saja kalau dia berani selingkuh tak akan ku beri ampun dia biar sampai nangis darah sekalipun aku tak peduli.