
Setelah kemarin aku bertemu dengan Bram untuk membicarakan kehamilan ku, aku pun mengurung diri di dalam kamar bagaimana bisa aku hamil dan bahkan aku tak mengetahui pasti siapa ayah anak yang ada di dalam kandungan ku saat ini, memang aku berkencan dengan beberapa pria tapi aku yakin kalau anak ini adalah anaknya Bram pasalnya ia lah yang terakhir kencan denganku.
Aku ga mungkin mempertahankan bayi ini dan mengaku kalau bayi ini adalah anak mas Dani, jelas saja mas Dani akan menolaknya karena aku dan dia sudah lama tak pernah berhubungan bahkan semenjak lahir ha Sinta mas dani tak pernah lagi menyentuh ku.
Di tambah lagi sekarang adanya Lia dan amara, mas dani semakin menjauh dariku huff dasar wanita m*r*h*n dasar pelakor berani dia merebut hak ku, tapi aku masih bisa santai kerena rumah ini adalah milik sinta anak kandung ku ya meskipun damar tidak di berikan harta banyak tapi ia juga di berikan seperempat karena ternyata mas dani menyayangi damar sama hal nya ia menyayangi Sinta anak kandung nya.
Namun saat aku sedang asyik melamun dan memikirkan langkah apa yang akan aku tempuh tiba tiba mas dani menerobos masuk ke dalam kamar awalnya aku bahagia karena dari sekian tahun akhirnya mas dani menghampiri ku dengan sendirinya bahkan datang ke dalam kamar ku sendiri, aku sudah menyambut nya dengan ramah bahkan aku berusaha menyapa nya namun sayang mas dani seperti nya sedang marah padaku tapi kenapa.? Apa anak h*r*m itu sudah memberitahu mas Dani tentang skandal ku.? Kurang ajar sekali dia padahal aku tidak pernah lagi mengganggu keluarga nya.
"Mas ... akhirnya kamu datang lagi padaku mari mas masuk, kenapa ga bilang dulu sih kalau malam ini akan tidur di sini dan lihat ini baru saja jam lima sore masih sangat awal mas."
Namun mas dani hanya diam tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Mas sebentar ya aku siap siap ke toilet dulu"
Namun mas Dani lagi lagi ia hanya diam saja tanpa menjawab ku, ia berlalu ke pinggir lemari dimana tempat koper ku simpan ia mengambil koper ku dan memasukkan semua baju bajuku ke dalam.
"Mas apa kita akan merencanakan liburan? Tapi kenapa mendadak? Atau jangan jangan kamu mau mengajakku pindah ke rumah baru ya? Ah senang sekali rasanya bisa terpisah dengan pelakor itu."
Mas Dani hanya diam, namun setelah ia selesai ia menyeret ku keluar kamar aku sangat khawatir dengan kandunganku karena mas Dani jalan nya sangat cepat sekali dan ini menuruni anak tangga sedangkan usia kandungan ku baru saja dua mingguan.
Sat tiba dilantai bawah mas dani melempar kan koper ku dengan sangat kuat dan mendorong ku menjauh darinya.
"Mas ada apa ini? Kenapa kamu melakukannya ini padaku mas apa salahku?"
"Kamu masih nanya apa salah mu wanita murah*n.? Aku tau semua skandal mu aku tau semua nya. Jadi sekarang kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi apapun itu alasannya."
Deg
Benar kan dugaan ku mas dani tau semuanya, aku langsung melirik Amara dengan tajam apa dia yang telah melaporkan semuanya?
"Heh anak h*r*m berani sekali kamu mengadukan semua ini pada suamiku bukan kah kita sudah selamat dan lihat aku sama ini tak pernah menganggu keluarga mu tapi kenapa kau malah membongkar semuanya? Dasar parasit." Ucapku sambil menunjuk nunjuk ke arahnya sungguh rasanya emosi sekali aku dengan anak itu, ku lirik kedua anakku dan Lia mereka hanya melongo melihat apa yang terjadi sekarang.
"Apa katamu? Aku anak h*r*m sadar diri lah ingat damar dan anak yang ada di dalam kandungan mu itu juga anak har*m bukan.? Bahkan anak yang ada di dalam kandungan mu itu tak jelas siapa ayah nya dan lebih j*j*k nya lagi kau berhubungan dengan lelaki lain saat masih bersuami sungguh m*n*i*i*a*."
Apa dia tau aku hamil? Tapi dimana dia tau? Mas bram? Ga mungkin mas bram memberitahu nya ini sungguh membuatku bingung.
"Jadi kamu juga hamil Sonya? Sungguh m*n*i*i*a*n sekali kamu, aku tau bukan dari anakku amara melainkan dari bram dari mulut nya langsung asal kau tau Bram itu adalah spupu dari teman ku dan aku mengetahui skandal mu dari teman ku ia melihat mu bersama Bram di hotel, apa kurang jelas ha?"
"Dan ya satu lagi hotel tempat mu biasa bermain itu adalah hotel milik ku apa kau tidak sadar kalau aku selama ini sering ke sana dan mengecek semuanya?"
Benar kata mas dani ia sering ke hotel itu ahh sial nya aku baru menyadari itu sekarang andai saja aku menyadari nya sedari dulu pasti tak akan ketahuan sekarang.
"Kenapa diam saja? Cepat keluar sekarang."
"Tidak bisa begitu dong mas, yang seharusnya keluar itu mereka si pelakor dan anak har*m itu, dion Sinta bantu ibu dong."
"Maaf bu aku ga mau ikut campur aku cape aku ke kamar dulu" ucap Sinta lalu aku menoleh ke arah putra ku.
"Maaf bu aku kali ini setuju dengan ayah meskipun ayah bukan ayah kandung ku, sekali lagi maaf aku mau istirahat aku cape besok ada meeting."
Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka malah menghindar dari ku? Apa yang sebenarnya terjadi.
"Kasian ihh di jauhi sama anak anaknya."
"Diam kau anak h*r*m yang seharusnya keluar itu kamu bukan aku, ini rumah Sinta putriku dengar itu." Ucapku sambil menunjuk wajahnya
"Heh wanita g*l* maaf maaf aja nih ya rumah ini udah menjadi rumah ku, dan atas nama aku jadi yang keluar itu sudah jelas dong siapa, bahkan aku bisa saja mengusir kalian berdua dari rumah ini."
"Kurang ajar sekali kau ini dasar anak har*m, wanita m*r*h*n, ga tau malu mati saja kau.."
Amara terlihat panik, ia memanggil bi edoh untuk membawa ibunya masuk ke dalam kamar lalu ia berjalan ke arah ku dan.
Bug
a berhasil mendorong ku sampai terjatuh, "dasar wanita g*l* sama g*l*nya dengan ibumu kalian tak pantas tinggal di rumah ini."
"cukup sonya, jangan sekali kali kau menghina istri dan anakku."
"aku juga istrimu mas, aku istri pertamamu."
"kau bukan istriku lagi, sedari dulu aku sidah menalak dan kau nya saja yang g*t*l masih ingin tinggal di rumah ku ini, bahkan kau bermain skandal dengan pria lain, dimana letak urat kemaluanmu itu sonya."
"bahkan kau sampai hamil seperti ini, dengar sini sonya aku talak tiga kau dan mulai saat ini kau bukan lagi istri sah ku jadi sebaiknya kau pergi sekarang dari rumah ku ini."
deg
apa mas dani menceraikan aku demi wanita pelakor itu, lalu aku harus kemana? aku masih diam mematung masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan mas dani barusan, apa dia benar benar serius menceraikan aku?
"dan dengar sini kau jangan khwatir sinta sudah aku belikan rumah yang baru dan ia melarang ku memberitahumu dimana lokasinya, dan tenang saja walaupun damar bukan anak kandungku tapi aku tetap memberikannya seperempat warisan yang aku memiliki. sekarang kau sudah puas bukan? jadi silahkan keluar dari sini, pak budi tolong bawa perempuan j*l*n* ini keluar dari rumah saya."
mas dani benar benar mengusir ku? aku benar benar tak tau harus kemana lagi, apa aku harus kembali menempati rumah peninggalan ibu di kampung? tapi aku harus bilang apa saat orang orang di kampung menanyaiku soal harta kekayaan yang selama ini aku banggakan? tidak ini tidak boleh terjadi aku akan menuntut mas dani agar ia mau memberikan harta gono gini terhadapku, aku akan mengakui anak ini adalah anaknya aku bisa saja membayar orang untuk memalsukan hasil tes DNA tapi saat ini aku benar benar tak punya arah tujuan.
aku terus berjalan menelusuri jalan komplek ya aku berjalan kaki karena mobil yang biasa ku tumpangi itu adalah milik mas dani dan sekarang menjadi milik amara, sungguh sial*n anak itu dia bisa merebut semuanya dalam sekejap mata dariku. sungguh aku tak bisa menerima ini semua aku akan membalaskan semuanya.
sialnya saat sudah dekat dengan gerbang keluar aku berpapasan dengan bu tika, wanita kepo itu pasti akan bertanya kenapa aku jalan kaki. dan benar kan kataku ia kepo.
"eh bu sonya, kenapa jalan kaki terus bawa koper segala, ibu di usir ya?"
tuh kan dia kepo, uh kenapa sih dia bisa ketemu disini. bikin kesel aja.
"ah tidak aku hanya sedang ingin berolah raga karena mobil milikku sedang di bengkel." ucapku bohong ya ga mungkin juga dong aku bilang masalah yang sebenarnya sama dia bisa malu aku, apa lagi kalau sampai dia tau aku hamil duluan.
"ah ga perlu bohong bu sonya, semua warga di sini sudah pada tau ko kalau ibu itu selingkuh dan bahkan ibu hamil tapi tak tau siapa ayahnya, kasian sekali pak dani bisa memiliki istri pertama seperti anda, dan beruntungnya dia bisa memiliki pengganti yang ramah dan baik pada kami."
"maksud ibu apa ya? jangan bandingkan saya dengan pelakor itu deh ga level."
"loh bukannya kamu yang pelakor justru kamu yang ambil pak dani dari bu lia. ah sudahlah kalau begitu saya permisi ya bu, mau lanjut ngegosip lagi dengan ibu ibu yang lain, mari."
argh kenapa hari ku sangat sial sekali, aku tak habis pikir darimana ia tau tentang semuanya ini? apa amara yang menyebarkannya? tapi amara tau darimana kalau aku hamil? banyak sekali pertanyaan pertanyaan di benakku, aku bertanya tanya tentang semua ini.
tak terasa aku berjalan sudah cukup jauh, bahkan sekarang aku sudah sampai di halte aku akan mencari kontrakan yang murah namun sebelum itu aku akan menjual cincin maskawin dari suamiku itu dan aku akan menjual berlian yang di berikan bram dan para selingkuhanku lainnya, lumayan untuk biaya hidupku selama aku kesusahan.
aku mencari kontrakan yang berada di daerah strategis dan kebetulan kosan ku ini di jaga ketat jadi aku tak perlu khwatir dengan keselamatanku. dan juga anakku. aku harus memulai semuanya dari awal lagi, dan bahkan aku harus mencari pekerjaan baru.
aku sangat yakin kalau anak ini adalah anak bram karena tak ada yang lain lain selain bram, dialah yang trakhir dengan ku bahkan kami bergaul sampai pagi, sungguh aku tergila gila dengan lelaki itu namun brengseknya dia pergi dengan alsan dia sudah memiliki istri, brengsek bukan?
aku akan menuntut padanya saat anak ini lahir nanti aku akan manfaatkan kelahiran buah hatiku ini, aku akan meminta ganti rugi atas semuanya termasuk kerugian ku dari lahir maupun bathin, rasa malu yang aku rasakan dan rasa kecewa yang aku rasakan.
malam ini adalah malam pertama aku tidur di kosan yang hanya memilki kamar satu da dapur plus toilet di dalam, sengaja aku memilih ini karena ga mungkin dong aku satu toilet berebut dengan penghuni lainnya. penghuni kos ini rata rata ibu ibu yang sudah memiliki suami dan suami mereka bekerja tak jauh dari ini, jadi kalaupun aku belum bekerja aku tidak begitu kesepian.
rencanaku hari ini aku akan mendatangi rumah bram aku akan meminta pertanggung jawabannya aku akan menghancurkan rumah tangga bram sebagaimana dia sudah menghancurkan rumah tanggaku, aku tak peduli dia saudara dari suamiku atau bukan yang aku pedulikan adalah ia merasakan apa yang aku rasakan, ia menderita seperti hal nya aku menderita karena ulah nya.
selanjutnya aku akan merebut kembali hak ku yang di rebut oleh amara anak har*m enak saja ia merebut semuanya dariku dengan mudah sedangkan aku harus berjuang dulu agar mendapatkannya, awas kau amara dan lia, parah nya lagi kedua anakku berpihak pada merek, yang jelas jelas aku ibu kandung nya tapi mereka menjauhi ku mereka tak mengakui bahwa aku ini adalah ibunya dan parahnya mereka tak membantuku saat aku di usir oleh ayahnya, saat aku keluar dari rumah aku sempat melirik ke arah balkon kamar milik sinta aku melihat ia memandang ke arah luar, aku tau ia pasti tak akan tega melihat ku seperti ini.
aku berharap kalau dia bisa mengambil semuanya kembali namun rasanya ga mungkin karena dia sangat dekat dengan amara bahkan tidur pun harus dengan amara ketimbang aku ibunya, sinta jauh lebih terbuka pada amara daripada aku, damar yang dulu sangat menyukai amara kini sudah memiliki dambaan hati yang baru, andai saja aku masih di rumah itu aku akan menjebak amra agar seolah olah tidur dengan putraku memang sih ini terdengar gila tapi ini aku lakukan demi mempertahankan aset milikku itu.