ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 1.8 : PERMOHONAN SANG DEWA



Aku melepaskan Teknik untuk menahan rubah itu, mengulurkan tanganku menuju salah satu kepalanya dan menyentuh bagian bawah mulutnya, sedikit mengangkatnya dan mendekatkannya pada wajahku.


Dia sudah tidak lagi mengarahkan tatapan kebencian padaku. Sebaliknya, itu adalah tatapan yang mengisyaratkan sebuah kesedihan dan rasa frustasi yang sangat kuat.


Tapi keduanya tidak diarahkan padaku, itu mengarah pada sesuatu yang sangat jauh. Mungkin itu hal yang dia arahkan pada dirinya sendiri.


Rubah itu roboh pada tanah, dengan tubuhnya yang sedikit menyusut bersama asap berwarna keemasan yang keluar dari celah bulunya.


"Kau, sejauh mana kau mengetahuinya? Tidak mungkin kau mendengarnya dari rekanku. Aku juga tidak ingat pernah menjalin sebuah kontrak denganmu, bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?"


"Aku juga tidak tahu bagaimana ini bekerja tapi aku melihat semuanya melalui mimpiku. Itu terjadi pada malam hari setelah aku bertemu denganmu tiga hari yang lalu. Meskipun begitu, bukannya aku langsung bisa memahami semua situasinya. Aku baru memahami semuanya saat Masterku menjelaskan beberapa hal tentang kalian, lalu menghubungkan setiap garis kejadian dalam mimpiku dan membuat sebuah kesimpulan. Hanya itu saja."


Aku melepaskan pegangan pada Rubah itu dan duduk di depannya. Entah kenapa rasanya suasana di sekitar kami sudah cukup melunak, aku tidak merasa dia akan menyerangku lagi.


"Mimpi? Kau bilang melihat sebuah mimpi yang memperlihatkan masa laluku? Kau benar-benar mengatakan itu, kan? Apa kau bisa menjelaskan detail di dalam mimpi itu?"


"Hah? Oh ... Bisa sih. Tapi ini cukup panjang, apa kau yakin?"


Ketertarikan mendadak yang ditunjukkan dari Rubah itu membuatku sedikit bingung dan menjawab cepat tanpa berpikir. Tapi aku sendiri sudah tidak mengingat beberapa bagian dari mimpi yang terlihat itu.


Lagipula mimpinya sangat panjang.


"Ya, kau bisa menceritakannya, lagipula kita punya cukup banyak waktu di sini. Karena kau bilang mimpinya cukup panjang, berapa bulan kau bisa menceritakan semuanya sampai selesai?"


"Huh? Tidak, aku hanya butuh satu jam untuk itu. Satu bulan terlalu lama."


"Bukannya kau sendiri yang bilang jika mimpi yang kau lihat sangat panjang?"


"Ya, tapi tidak sepanjang itu sampai-sampai harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menceritakannya. Apapun itu, aku hanya butuh waktu satu jam."


Manusia dan Roh memiliki perbedaan persepsi waktu, yang membuat kesalahpahaman seperti ini bisa saja terjadi. Bagaimanapun satu tahun bagi para Roh itu terasa seperti satu hari, mereka tidak akan merasa jika itu adalah waktu yang lama.


"Begitukah? Aku mengerti, kalau begitu kau bisa menceritakannya ... Ah, satu hal lagi. Bocah, kau bisa memanggil namaku."


"Eh? Apa kau yakin? Bukankah nama adalah sesuatu yang sangat penting bagi para Roh?"


"Tidak apa, lagipula kau juga sudah memanggil namaku sebelumnya. Setidaknya itu lebih baik daripada memanggilku dengan sebutan 'kau' ataupun 'rubah'. Bocah, kau bisa memanggilku Ebi. Jangan panggil aku dengan nama Nebi."


"Baiklah, aku akan memanggilmu Eebi. Ehm! Eebi, aku akan memulai ceritanya."


"Hei, jangan memasang ekspresi malu seperti itu. Apa-apaan kau ini?! Apa kau malu hanya karena memanggil namaku?! Dasar menjijikkan!! Karena inilah manusia tidak bisa diharapkan!"


"Tidak, bukan!! Kau salah paham!! Bagaimana aku menjelaskannya ya?! Ah, benar juga!! Ini pertama kalinya ada yang memintaku untuk memanggil namanya. Entah kenapa rasanya seperti mendapatkan seorang teman."


"Aku bukan temanmu. Kalaupun ada sebuah hubungan diantara kita, maka kau akan aku jadikan sebagai anak buah. Paling tinggi, mungkin aku bisa memberimu posisi sebagai murid ... Hei!! Sudah kubilang hentikan ekspresi itu!! Menjijikkan, kau tahu?!"


"Hwehehehehe!! Maafkan aku, aku hanya terlalu senang."


"Ah sudahlah!! Cepat mulai ceritanya!!"


Dengan begitu, aku pun mulai menceritakan mimpi yang aku lihat sekitar tiga hari lalu. Dan karena aku tidak mengingat beberapa bagiannya, aku hanya akan menceritakan sesuatu yang aku ingat lalu menghubungkannya.


Meskipun begitu, Ebi memahami cerita yang aku sampaikan dengan baik. Dia mendengarkan dengan sangat serius dan mengangguk untuk menandakan bahwa dirinya paham.


Tak terasa, tiga puluh menit pun berlalu. Ini lebih cepat dari yang aku perkirakan.


Disisi lain Ebi yang mendengarkan semuanya, menundukkan semua kepalanya dengan masing-masing telinganya yang turun melemas. Tapi sudut pada mulutnya sedikit naik, menampilkan sebuah senyuman tak berdaya.


"Kau benar-benar melihat semuanya dengan jelas, ini membuatku sedikit mengingat semuanya kembali. Itu adalah kemampuan hebat yang surga berikan padamu, kau harus bersyukur."


"Semua yang diberikan padamu pastinya memiliki sebuah harga sepadan yang harus kau bayar. Itu juga berlaku sebaliknya, pastinya kau akan mengerti apa saja yang akan kau dapatkan di masa depan setalah mengalami semua penderitaan karena kemampuan itu. Setidaknya, semua itu tidaklah sia-sia."


Hiburan ... Tidak, kata-katanya tidak terasa seperti sebuah hiburan semata. Aku bisa merasakan bobot berat yang ada di dalamnya.


Yah, lagipula kami sama-sama menanggung sesuatu yang tidak kami inginkan, pastinya Ebi juga merasakan beberapa hal yang sama denganku.


"Terimakasih, itu sangat membantuku. Jadi, bagaimana denganmu? Apa kau masih ingin membinasakan setiap manusia yang kau temui?"


Aku mencoba menggodanya sedikit dengan senyuman jahil, Ebi segera membalasnya dengan tawa kecil lalu melihat ke arah langit yang tertutupi bintang dan sinar bulan.


"Selama empat ratus tahun, Dewa yang kami layani selalu menghadiri tempat kami disegel setiap tahunnya tanpa pernah melewatinya sekalipun. Saat dia menghampiri kami yang dipenuhi rasa takut dan amarah, Dewa kami selalu mengawali kata-katanya dengan memohon ampunan dan meminta maaf mewakili setiap manusia. Lalu dia menceritakan beberapa kisah yang membosankan tentang musim, lelucon para Roh atau memberi kabar tentang rekan kami yang sudah menghilang karena Energinya habis terserap oleh Segel."


Ebi menundukkan kepalanya, setiap mata di sembilan kepalanya mengeluarkan air mata, mengalirkannya dan menetes pada permukaan rumput yang dingin.


"Dewa kami terus melakukannya, tidak peduli berapa kalipun itu. Bahkan saat kekuatannya melemah karena manusia yang menyembahnya mulai berkurang, dia tidak pernah berhenti. Tiba di tahun terakhir, dia memberitahu kami jika dirinya sudah kehabisan Energi dan itu adalah terakhir kalinya dia akan mengunjungi kami."


"Saat itu terjadi, dia membungkuk dan bersujud, berteriak sembari menangis untuk yang terakhir kalinya. Tangisan yang sangat keras dan dalam, bahkan aku pun tidak tahan untuk melihat penampilannya saat itu. Sosok Dewa agung yang kami layani, terlihat begitu kecil dan rapuh. Aku tidak tahan melihatnya."


"Hal itu membuat kesedihanku semakin mendalam, dan membakar amarahku serta kebencian dalam diriku pada manusia menjadi lebih besar. Kenapa kami harus mengalami semua ini? Kenapa Dewa yang kami layani harus menundukkan kepala pada pelayannya? Kenapa Kitsu bisa mengkhianati kami? Semua pertanyaan itu membuatku semakin gila. Tapi aku tidak bisa mengkhianati permintaan yang sudah Dewa kami mohon selama empat ratus tahun."


"Pada akhirnya, aku memutuskan untuk merenungkan semua itu selama seratus tahun, sampai aku bertemu denganmu yang tanpa sengaja membuka segel yang mengurungku. Saat itu aku memahami sesuatu, bahwa aku sudah tidak bisa menyerang manusia lagi. Apa yang aku lakukan padamu sebelumnya hanyalah melampiaskan amarah sesaat yang ada pada diriku. Bocah, maafkan aku."


Begitu rupanya. Dewa yang Ebi layani itu, sangatlah baik tapi disaat yang sama, dia juga seorang Dewa yang sangatlah kejam. Tapi setidaknya, aku tidak berpikir jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan.


Jika aku melihat bulu emas indah itu dilumuri oleh darah dari manusia yang menjijikkan, bagaimanapun akan membuat hatiku terasa sangat sakit. Bahkan lebih sakit dari melihat mereka semua tersegel, aku bisa memahami hal itu.


Mau bagaimana lagi, kan? Roh Rubah terlihat sangatlah cantik.


"Ebi, kau memiliki Dewa yang sangat baik." Ucapku, dengan sebuah senyuman.


Ebi hanya menutup matanya dan mengangguk.


"Ya, dia adalah Dewa terbaik yang pernah aku temui."


Tepat saat Ebi mengatakan itu, muncul gelombang angin yang kuat mengelilingi kami dan dalam hitungan ke dua, sesuatu menyerang Ebi dan menghempaskan tubuhnya ke samping.


Wujudnya berwarna hitam, dengan sebuah senjata yang ada pada tangannya.


"Huh?"


Aku masih belum memahami apa yang terjadi tapi tentunya sosok hitam itu tidak akan menungguku sampai aku bisa melakukannya. Sebuah serangan lain diarahkan padaku.


Hutan dan gunung dipenuhi dengan cahaya bulan malam ini, yang membuat pemandangan sekitar terlihat begitu jelas. Sosok hitam itu menghampiriku dan melesatkan sesuatu ke arahku.


Aku kehilangan momentum untuk menghindar.


Membuat serangannya mengenai dadaku dengan telak, tapi sama sekali tidak terasa sakit. Kesampingkan itu, kepulan asap berwarna hitam kehijauan mulai muncul dari sekujur tubuhku.


Semua asap hitam itu terkumpul pada langit, membentuk sebuah bola dan meledak. Memunculkan sosok familiar di baliknya.


"Aciel! Apa kau baik-baik saja?!" Suara yang dalam, terdengar bermartabat.


"Master, aku baik-baik saja." Balasku singkat, dengan nada pelan.


Tentu saja, aku masih belum bisa memahami apa yang sedang terjadi di sini.