
Meskipun begitu, hutan pada pegunungan memang seperti biasanya. Ada cukup banyak Roh yang berlewatan, aku berusaha untuk mengabaikan mereka tapi jumlah yang terus bertambah ini membuatku sulit untuk melakukannya.
Hal itu juga membuat Mona gelisah sedari tadi, ada beberapa Roh kecil yang bisa dia lihat tapi untuk sisanya yang lebih besar dia tidak bisa melihatnya dan hanya dapat merasakan kehadiran mereka. Kau tidak bisa melihat apapun tapi tahu jika mereka ada di sana, itu memang cukup menakutkan.
Mona menatap ke arahku sejak tadi untuk meminta kepastian akan keadaan di sekitar, aku pun berusaha untuk mengabaikan tatapannya itu. Mengatakan hal yang tidak perlu malah akan memperkuat kegelisahannya.
Dan merasa gelisah saat kau ada di tengah alam adalah hal yang buruk. Saat para Roh merasakan ada sesuatu yang aneh, mereka pasti akan mengincar kami dan membawa kami ke suatu tempat.
Karena itu satu-satunya hal yang bisa kami lakukan hanyalah diam dan bertingkah seperti biasanya, mengamati tanaman obat-obatan yang tumbuh di bawah pepohonan dan bebatuan selagi mencatat beberapa hal tentang mereka.
Sampai akhirnya, tugas pertama kami pun telah selesai.
"Kita sudah menyelesaikan tugas untuk mengamati tanaman Pakis Hutan. Aciel, kau bisa mengambil fotonya untuk pembuatan dokumen nanti. Mona, ambil satu Pakis Hutan itu, kita akan membawanya sebagai sampel."
"Oke~"
"A-Aku mengerti."
Aku segera mengambil kamera kecil dan memfoto beberapa potong Pakis Hutan di depanku. Setelah itu Mona mengambil salah satu dari mereka dan menaruhnya dalam kantung plastik.
Ella mengkonfirmasi hal itu dan mulai mencatat pada kertas di papan dadanya. Dia menggigit pulpen dan membalik kertas lalu melihatnya itu dengan wajah yang tampak sedikit kesulitan.
"Gadis berandal, apa ada sesuatu yang mengganjal?"
"Hah? Ah, ya. Karena kita sudah menyelesaikan Pakis Hutan, yang tersisa dari tanaman obat selanjutnya adalah Ilalang dan Paku Rane lalu melanjutkan dengan mengamati kelinci. Masalahnya adalah titik lokasi diantara kedua tanaman itu dengan para kelinci ... Hm? Bajingan, apa kau mengatakan sesuatu untuk mengejekku barusan?"
Cukup lama juga dia menyadarinya.
"Huh? Apa maksudmu? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"
Aku mengangkat bahu dan memasang wajah bodoh, membuat Ella memasang ekspresi tidak yakin dan melihat Mona di sampingnya.
"Mona, apa dia mengatakan sesuatu tadi?"
"Ah? Eh ... Um ... Tidak, Aciel tidak mengatakan apapun."
Mona menundukkan kepalanya dan Ella mendekatkan tatapannya pada gadis itu lalu menghela napas dan mengetuk papan dadanya sekali lagi.
"Yah sudahlah, lupakan saja itu. Sampai mana aku tadi ... Ah, lokasi dua tanaman obat dan para kelinci berada cukup berjauhan. Dengan lokasi tumbuhan di bagian barat daya pegunungan dan lokasi kelinci di bagian utara pegunungan. Saat ini kita ada di titik tenggara, bagaimana ini? Apa kita harus ke titik Barat Daya lalu menyusulnya ke Utara lebih dulu?"
Aku mendekat pada Ella dan melihat peta yang menunjukkan banyak titik pada pegunungan dimana kami berdiri saat ini. Itu memang benar, lokasi keduanya cukup berjauhan dan akan memakan waktu terlalu banyak jika mengunjunginya satu-persatu.
Aku tidak tahu apakah waktu enam jam yang diberikan masih sempat untuk melakukan itu, kami sudah menghabiskan sekitar satu jam untuk mencari Pakis Hutan dan mengamatinya.
Yang berarti hanya tersisa sekitar lima jam untuk menyelesaikan tugasnya. Mungkin waktunya akan sangat berdempetan jika kami harus melakukannya secara berurutan seperti ini. Kalau begitu satu-satunya pilihan adalah melakukannya bersamaan.
Ini memang hanya tugas formalitas tapi kami harus menyelesaikannya dengan benar, lagipula itu akan tetap mendapatkan nilai.
Yah tidak ada pilihan lain kalai begitu,.kan?
"Bagaimana jika kita berpencar?"
Aku mengangkat tangan dan melihat pada dua gadis di sampingku, keduanya melihatku dengan cara yang berbeda tapi menunjukkan hal yang sama. Ella menunjukkan tatapan ketidakyakinan, sedangkan Mona menunjukkan tatapan kekhawatiran. Aku mencoba untuk tersenyum menanggapi itu.
"Berpencar, ya? Bukannya aku tidak memikirkan itu sama sekali sih, tapi berpisah saat ada di dalam gunung seperti ini sedikit berbahaya dan ada kemungkinan jika kau akan tersesat. Justru alasan mengapa para guru membagi kita dalam kelompok berisikan tiga orang untuk menghindari kemungkinan terburuk itu, tidak ada yang akan membantumu jika kau sendiri."
Jujur saja, aku berpikir jika dia mungkin akan menyetujuinya dengan mudah dan membiarkanku pergi sendiri tapi itu tidak terjadi. Malahan dia merasa keberatan dengan itu dan memikirkan beberapa opsi yang mungkin akan terjadi.
Kurasa tanpa sadar aku meremehkannya, ya? Ini sedikit memalukan. Aku harus membangun ulang penilaian yang aku berikan pada Ella.
"E-Ella benar, sangat berbahaya pergi sendirian di dalam pegunungan seperti ini. Mungkin kita harus melakukannya secara berurutan meskipun itu akan beresiko melebihi batas waktu? Setidaknya kita tidak akan berpisah dengan itu."
Mona juga mengajukan pendapatnya. Meskipun tatapannya masih melihat ke arah lain, setidaknya dia bisa mengutarakannya.
"Hm? Bajingan, kenapa kau malah tersenyum? Apa kau mengejek kami?"
Ah gawat.
"Tidak, bukan itu maksudku. Bagaimana, ya? Aku sudah cukup terbiasa menghabiskan waktu di dalam hutan serta pegunungan dan hal itu membuatku cukup yakin untuk tidak tersesat. Karena itu kau bisa menemani Mona ke titik tanaman yang lebih dekat dan aku akan ke titik kelinci. Itu lebih cepat."
"Kau terbiasa menghabiskan waktu di dalam hutan? Memangnya apa yang biasa kau lakukan saat bermain di sana? Sepertinya rumor yang menyebutkan jika kau anak aneh memang benar."
Gadis ini, mengatakan sesuatu seenaknya seperti itu.
"Ella, jangan mengatakan sesuatu seperti itu. Bukannya aku sudah bilang kalau Aciel—"
"Ah, aku mengerti jadi jangan mendekatkan wajahmu seperti itu!!"
Setelah menyingkirkan Mona yang terus mendekatkan wajahnya, Ella terbatuk dan melanjutkan.
"Bagaimanapun, aku tidak akan menyetujuinya. Kita akan pergi secara berurutan meskipun itu akan membuat kita melebihi batas waktu yang diberikan. Keputusan ini sudah bulat, keberatan tidak akan diterima."
Mona menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan antusias sebagai bentuk apresiasi. Tapi disaat itu, aku menemukan sebuah ide lain untuk mendapatkan jalan keluar tentang ini.
Mungkin ini tidak terlalu terlihat tapi sebenarnya aku adalah tipe orang yang akan melakukan sesuatu dengan totalitas. Jika aku memutuskan untuk melakukannya, maka satu-satunya pilihan adalah menyelesaikannya dalam bentuk yang baik.
Karena itu, keputusan Ella yang akan membawa kami pada akhir buruk yaitu terlambat mengumpulkan tugas tidak bisa aku terima.
Jadi, tidak ada pilihan selain menggunakan pilihan yang baru aku dapatkan sesaat lalu.
"Apa kau takut jika berjalan tanpa seorang anak laki-laki?"
Aku menambahkan senyum tipis dan menatap pada Ella, mengucapkan satu baris kalimat pendek itu dengan ringan dan mengangkat alis.
Ella, seolah tidak percaya tentang apa yang baru saja aku ucapkan, membuka mulutnya.
"Hah? Kau ... Apa yang ... Hah?"
Disisi lain, Mona juga memasang raut wajah kebingungan dan melihat diantara aku dan Ella, bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Dengan suasana yang sedikit memberat diantara kami, aku menghirup napas dan memasang ekspresi sama, mengatakannya sekali lagi.
"Aku bilang, apa kau takut jika berjalan tanpa seorang anak laki-laki dan menahan agar aku tidak pergi seperti itu? Harusnya kau bilang dari awal dan aku akan langsung menerimanya. Ya ampun, kau benar-benar tidak bisa berterus-terang."
Aku mengangkat bahu dan menghela napas, membuat pose mengejek.
Ella terdiam beberapa saat untuk memahami apa yang aku katakan dan akhirnya, dia menggertakkan giginya dan menatap tajam ke arahku.
Melihat tatapan itu membuatku untuk sesaat menyesali perkataan yang sudah aku lontarkan dan berharap untuk menariknya kembali.
Tapi itu sudah tidak bisa dilakukan.
"Katakan itu sekali lagi. Aku sangat benci diremehkan, kau tahu? Kemari kau."
Ella berjalan mendekat ke arahku, mengepalkan tangannya dan menghirup banyak napas menggunakan mulutnya. Pada setiap langkah yang dia ambil, menambah besarnya tekanan yang datang dan membuat perutku sedikit sakit.
Menakutkan, apa yang harus aku lakukan tentang ini?
Tapi sebelum Ella bisa mendekat lebih jauh, Mona melangkah di depannya dan merentangkan tangannya lalu mengangguk tegas.
"Ella, tenanglah."
Ella menghentikan langkahnya dan menatap Mona, lalu mendecakkan lidahnya dengan kesal dan melemparkan beberapa hal pada rumput. Lalu dia memegang tangan Mona, membawanya berjalan menjauh.
"Ella?!"
"Sudahlah, Mona. Biarkan dia melakukan hal sesukanya. Aku berusaha untuk menaruh sedikit perhatian tapi melihatnya membalas dengan cara seperti itu, sialan itu membuatku kesal."
Mona menoleh ke arahku dengan tatapan khawatir dan aku membalasnya dengan senyuman, sembari melambaikan tangan. Tidak butuh waktu lama sampai keduanya menghilang di balik pepohonan.
Aku mengambil catatan dan peta yang Ella lemparkan pada rumput sebelumnya dan menaruhnya pada papan dada, lalu menatanya bersama kompas.
"Sepertinya aku terlalu berlebihan. Padahal aku berniat untuk bercanda."
Sialan, aku harus meminta maaf nanti.