
Mengetukkan paruh beberapa kali, membuka menutup, Sarv menelan ludahnya. Dengan bola mata kuning gelapnya yang menyala, dia mengulangi perkataan yang dia dengar dari Leore.
"Anak manusia yang bersamamu itu, dia adalah anak dari nona Anella? Anella yang kau maksud itu ... Benar juga, sang Puteri bulan, kan?"
"Memangnya Anella siapa lagi yang aku maksud? Itu benar-benar anaknya."
"Apa kau yakin dengan itu?"
"Kau bisa memastikannya sendiri saat mengendus baunya. Dia memiliki bau yang sedikit unik tapi memang ada beberapa bau Anella diantaranya. Sarv, kau pasti masih belum melupakan bau dari Anella, kan? Meskipun burung sepertimu tidak memiliki hidung."
Leore sedikit terkikik dengan candaan kering yang dia lemparkan, dia berharap hal itu akan membuat suasana sedikit melunak untuk Sarv tapi tidak. Wajah gagak merahnya semakin terlihat kehilangan warnanya, dengan bola matanya yang menyempit.
"Anak Nona Anella ... Kenapa aku bisa sama sekali tidak mengetahui tentang itu? Beliau sama sekali tidak memberitahuku, bahkan saat kami bertemu terakhir kali delapan belas tahun lalu ... Benar, berapa usia dari anak yang bersamamu itu?"
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah menanyakannya."
"Ya ampun, kenapa kau bisa tidak mengetahuinya? Kau bersama dengannya selama ini, kan? Apa saja yang kau pikirkan sampai tidak menanyakan hal sepenting itu, dasar kucing sialan?"
"Berisik, burung sialan. Aku hanya tidak tertarik dengan berapapun usianya. Meskipun ... Benar juga, setidaknya anak itu masih belum menyentuh dua puluh tahun. Mungkin bulunya juga masih belum tumbuh di beberapa tempat, kan?"
"Bulu? Ah, ya ampun ... Kau ini ..."
Sarv hanya bisa membungkus wajahnya dengan sayapnya untuk menutupi sakit kepala yang menyerangnya. Meskipun perasaan dimana dia sangat ingin berteriak sungguh menguasai dirinya, tapi di saat yang sama dia juga benar-benar paham akan kepribadian dari Roh kucing hitam bernama Leore yang ada di depannya ini.
Karena itu dia juga bisa mengatasi beberapa hal untuk ini. Yaitu dengan menghirup napas, menyingkirkan semua hal yang tidak perlu dipikirkan dan membiarkan semuanya berlalu.
Dia menyadari karena pada akhirnya, semuanya masih tidak berubah sama sekali.
"Yah, lupakan itu. Tapi karena dia adalah anak dari Nona Anella, tentunya bakat serta anugerah yang sama mengalir di dalam nadinya, kan? Atau mungkin menjadi semakin besar?"
"Anugerah dan bakat, ya? Anak itu memang memiliki Energi Spiritual yang sangat besar pada tubuhnya tapi hanya itu. Dia bahkan tidak bisa menggunakan Mantera ataupun Teknik lainnya."
"Itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya dia memiliki dasar yang bagus, untuk sisanya kau hanya perlu melatihnya, kan? Apa kau benar-benar berpikir jika Nona Anella menguasai semua Mantera ataupun Teknik begitu saja tanpa berlatih?"
"Apa? Memangnya bukan? Saat aku pertama kali bertemu dengannya, dia bahkan mampu menahan diriku saat dalam wujud ketiga. Itu adalah penghinaan yang sangat besar dan sejak saat itu aku mengincarnya untuk memakan tubuhnya."
"Penghinaan, ya? Kau memang berencana untuk membunuh Nona Anella pada awalnya karena beliau yang mengalahkan dirimu. Yah, meskipun itu membuatmu menjadi pengikutnya juga. Kesampingkan itu, Nona Anella pun awalnya harus berlatih untuk menguasai Mantera ataupun Teknik."
"Hmm ... Siapa yang memberikan pelatihan pada gadis itu dan membuatnya sangat kuat?"
"Nah, aku juga tidak tahu tentang itu. Nona Anella hanya menyebutkan jika beliau memiliki guru yang melatihnya untuk semua Mantera dan Teknik itu."
Sarv berjalan pada meja dan mengambil beberapa anggur dengan kedua sayapnya, memasukkan semuanya beserta tangkainya. Di sisi lain Leore juga mulai mengambil beberapa botol arak baru dengan ekornya yang bercabang.
"Tidak tahu, ya? Memang ada sangat banyak hal yang gadis itu sembunyikan."
"Yah, bukannya sudah wajar untuk seorang gadis sepertinya memiliki banyak rahasia? Itu bukan sesuatu yang aneh."
"Pwahhh—!!! Hwah ... Sialan, arak ini benar-benar enak."
"Leore, apa kau mendengarku? Pastikan untuk melatih anak itu dan buat dia menjadi kuat. Sampai tahap dimana dia bisa melindungi dirinya sendiri tanpa adanya kau di dekatnya. Dia adalah anak nona Anella, melatihnya bukanlah sesuatu yang sia-sia."
Leore menghantamkan botol kosongnya sekali lagi. Dengan satu cegukan, dia melihat lurus pada burung gagak yang ada di depannya.
Leore mengangkat satu botol lagi dengan ekornya dan meminum semuanya dalam satu tegukan, mengabaikan Sarv yang menatapnya dengan terkejut. Bulu pada tubuh Sarv bergetar, dengan suara tawa keras yang muncul darinya.
"Aku memang tidak bisa menyembunyikannya, ya?"
"Itu terlihat jelas dari wajah burung gagak yang mengeluarkan aroma mencurigakan, siapapun akan tahu rencana mu. Lagipula dari awal aku tidak pernah benar-benar mempercayaimu. Apa yang ingin kau lakukan dengan membawa anak bodoh itu ke sisi kalian?"
"Ya ampun, kau jahat sekali. Aku tidak berencana untuk membahayakan nyawanya, lagipula dia tetaplah anak dari nona Anella."
"Cih, mana mungkin aku akan mempercayaimu. Akan aku peringatkan kau, anak itu adalah mangsaku. Jika kau merusak tubuhnya sedikit saja, aku akan pastikan untuk merubah kuil ini menjadi reruntuhan, membakarnya dan menjadikanmu gagak bakar di atas apinya."
"Kau bercanda, kan?"
"Lakukan saja dan pastikan sendiri apakah yang aku katakan adalah candaan."
Meskipun begitu, Sarv tahu jika itu bukanlah sebuah candaan, setidaknya apa yang dikatakan oleh kucing hitam itu mengandung kebenaran pada delapan puluh persen bagiannya. Karena itu mengambil tindakan gegabah saat berhadapan dengan Leore bukanlah hal yang harus dilakukan.
Satu gerakan yang mengganggunya dan Leore pasti akan membalasnya dengan penghancuran total. Sebesar itulah tingkat ancaman yang Sarv berikan pada Leore, sang taring kabut.
Karena itu saat mendengar jika kucing di depannya melayani seseorang untuk kedua kalinya, itu adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Tapi setelah mendengar nama dari orang yang dia layani, itu adalah sesuatu yang wajar.
Meskipun Sarv masih berniat untuk menarik anak yang dilayani oleh Leore, itu akan menunggu sampai saat Sarv menemuinya langsung dan menilainya secara pribadi saat mereka bertemu.
Jika saat itu tiba, Sarv benar-benar berharap jika anak itu tidak memiliki kesamaan dengan ibunya. Semuanya adalah demi kejayaan para Roh.
Pemikiran Sarv itu langsung dibuyarkan dengan suara Leore yang menghantamkan botolnya pada meja dan mengarahkan suara padanya.
"Jadi, kita sudah membahas cukup banyak hal tidak penting dan kau masih belum membalas pertanyaan yang aku berikan. Sarv, untuk apa kau mengundangku ke pesta ini? Tentunya bukan hanya sebagai peringatan selamat, kan?"
Sarv ingin menjawab jika itu adalah kebenaran tapi Leore pasti tidak akan mempercayainya. Itu benar-benar menggelikan saat dia melihat pada riwayat dirinya yang dikenal sebagai gagak jujur.
Yah, lagipula itu adalah masa lalu. Tindakan yang Leore buat adalah sesuatu yang masuk akal. Lagipula ada seekor gagak yang mengundangnya dalam sebuah pesta, tentunya itu adalah sesuatu yang mencurigakan.
Setelah mengetahui sebanyak itu, benar-benar dapat disyukuri jika Leore sudah datang kemari tanpa membawa niat buruk apapun.
Leore mengambil beberapa buah dengan tiga sayapnya, memasukkan semuanya pada paruh hitam yang diperbesar dan menelan semua itu sekaligus. Mengelap paruh dengan lidahnya, dia mulai membuka topik utama yang harus dibawanya.
"Aku hanya ingin memberikan kabar padamu. Dua dari tiga klan besar pembasmi Roh, yaitu klan Zalsa dan klan Gaoqi melakukan sebuah pergerakan yang sedikit mencurigakan."
Mendengar itu, untuk sesaat wajah Leore menampakkan ketidaktahuan, seolah dia tidak pernah mendengar nama-nama itu. Tapi sekelebat potongan ingatan datang padanya, membuat instingnya menajam.
"Apa yang para sampah itu lakukan kali ini?"
"Aku masih belum memiliki informasi untuk itu tapi daei gerakan yang mereka lakukan, tampaknya mereka sedang mencari sesuatu yang besar."
"Sesuatu yang besar?"
Sarv menganggukkan kepala gagak miliknya, melebarkan dua sayapnya.
"Ya, mungkin mereka menemukan sebuah segel yang menyimpan Roh tingkat tinggi di dalamnya? Aku tidak tahu juga sih."