
Setelah kami kembali, aku segera membersihkan diri untuk bersiap-siap tidur tapi saat aku keluar pada kamar mandi gudang, tampak seekor burung merpati putih di samping Master yang tengah berbaring pada meja belajar.
Saat melihatku, merpati itu menganggukkan kepalanya sekali dan segera terbang melalui lubang ventilasi gedung, menghilang pada kegelapan langit. Master hanya melihatnya dan berdiri, kemudian merenggangkan tubuhnya.
Aku mendekat ke arahnya selagi melihat pada lubang ventilasi. Seingatku aku sudah memasang jaring di sana untuk menghalangi masuknya nyamuk, bagaimana bisa itu terbuka lagi?
Tapi aku menahan pertanyaan itu untuk saat ini karena ada hal yang jauh lebih penting.
"Master, merpati yang barusan itu apa?"
"Dia adalah pelayan dari Wasa, merpati putih dari perkumpulan Frouya. Merpati itu datang mewakilinya untuk menyampaikan kabar."
"Dari Wasa? Memangnya kabar apa yang dia berikan?"
Untuk sekilas, beberapa bayangan dimana hutan yang mereka tempati terbakar ataupun Roh yang berlarian ke berbagai arah dengan panik melewati pikiranku, aku segera menyingkirkan semua itu dengan menggelengkan kepala.
Master juga terlihat tenang atau malah ... Dia sedikit senang? Setidaknya aku yakin jika kabar itu adalah sesuatu yang baik. Master pun membuka mulutnya, menjawab pertanyaanku.
"Itu undangan Pesta. Merayakan untuk mata air baru yang mereka temukan. Tampaknya mereka ingin agar kita juga ikut merayakannya. Bagaimana? Apa kau akan ikut denganku?"
Aku duduk pada kursi, membaringkan tanganku pada meja dan menjadikannya sebagai bantalan dari kepalaku, kemudian memainkan ekor Master.
"Oh ... Mata air, ya? Jika itu tentang perkumpulan Frouya maka aku akan ikut tapi untuk saat ini kurasa tidak. Tubuhku masih sangat lelah, sampaikan maafku pada Wasa dan Rune. Aku akan berkunjung ke sana di lain waktu saja."
Aku kembali berdiri, kemudian berjalan ke ujung ruangan dan menggantungkan handuk. Di sisi lain, Master turun dari mejanya dan berjalan menghampiri pintu gudang.
"Yah, aku sudah menduga kau akan menjawabnya seperti itu. Kalau begitu aku akan menyampaikannya pada mereka berdua nanti. Apa ada hal lain yang ingin kau titipkan?"
Master membuka pintu dengan ekornya sembari menghadap padaku, aku menggelengkan kepala selagi menjawabnya.
"Tidak, itu saja. Tidak ada hal lain untuk saat ini."
"Aku mengerti, kalau begitu aku akan pergi."
"Ya, berhati-hatilah"
Menutup pintunya kembali, Master pun menghilang di balik pintu. Aku bisa dengan samar mendengar langkah kaki yang menjauh dan menyiapkan kasur lipat lalu membaringkan tubuh di atasnya.
"Jika saja tidak lelah, aku mungkin akan menghadirinya. Ini membuatku tidak enak saat bertemu Wasa atau Rune nantinya, mereka bahkan repot-repot mengutus pengirim pesan untuk menyampaikannya."
Aku membenarkan posisi tubuhku dan mengangkat selimut, melebarkannya pada tubuhku dan dengan sebuah bantal di sampingku, tempat tidur ternyaman telah selesai di buat.
"Mungkin aku harus membelikan beberapa camilan saat bertemu mereka nanti."
Karena kelelahan, tidak butuh waktu lama sampai rasa kantuk menguasai ku. Dengan mata yang terasa semakin berat dan kesadaran yang semakin menghilang, aku pun tertidur pulas.
Tok—! Tok—!
Tapi saat kesadaranku mencapai ujungnya, telingaku menangkap sebuah suara. Aku segera mengabaikannya karena itu mungkin suara yang dihasilkan dari angin tapi suara itu segera terdengar lagi.
Tok—! Tok—!
Suara itu terdengar beberapa kali, membuat kesadaranku kembali bersama mood pada diriku yang semakin memburuk.
"Apa itu Master? Dia bisa membukanya tadi jadi kenapa harus mengetuknya dulu? Master! Aku tidak menguncinya jadi kau bisa masuk! Berhentilah mengetuk dan cepatlah masuk!"
Tok—!! Tok—!!
Tidak ada balasan dari teriakan ku. Tapi suara ketukan pada pintu menjadi semakin keras, seolah berusaha merusak pintu itu sendiri. Aku pun segera bangun dan melihat ke arah pintu.
Apa itu memang Master? Tidak, kucing itu pasti sudah berteriak sejak tadi dan memintaku untuk membukakannya jika dia memnag terkunci di luar.
Yang ada di balik pintu bukanlah Master.
Tok—!! Tok—!!
Lalu siapa? Dia tidak mengeluarkan suara sama sekali dan hanya mengetuk.
Tok—!! Tok—!!
Apakah pencuri? Tidak, pencuri tidak akan mengetuk pintu dari rumah orang yang akan dicurinya. Kalau begitu siapa yang ada di sana?
Tok—!! Tok—!!
"Sialan, dia sangat berisik!"
Aku harus memastikannya. Tapi membuka lewat pintu yang sama adalah tindakan yang hanya dilakukan orang bodoh, aku akan mengambil pintu lain. Lalu sebuah tongkat dan senter untuk berjaga-jaga.
Tok—!! Tok—!!
Mengabaikan suara ketukan yang semakin keras, aku segera berlari menuju ujung ruangan dan mengambil sebuah tongkat baseball pada kardus berdebu. Ini adalah tongkat milik si babi itu yang dia berikan padaku.
Setelah membersihkan sedikit jaring laba-laba yang menempel, aku menuju pintu belakang dan membukanya dengan suara sepelan mungkin. Menutupnya kembali dan mengendap melewati samping gedung.
Tok—!! Tok—!!
Suaranya terdengar, dia masih ada di sana.
Aku mempercepat langkahku sebaik mungkin dan sampai pada ujung tembok, menempelkan punggungku dan menonjolkan kepalaku keluar untuk melihat pada halaman di depan pintu gudang.
Dan apa yang ada di sana adalah—
"Aku tidak bisa melihatnya begitu jelas karena gelap tapi itu adalah sesuatu yang cukup tinggi. Lalu dia terlihat cukup kurus, mengetuk dengan tangannya pada pintu gudang. Sebentar—Gwahh!!"
Aku mencoba melangkah sedekat mungkin untuk melihat lebih jelas tapi kakiku tersandung sesuatu, membuat keseimbangan tubuhku hancur dan aku pun terguling ke depan diiringi suara para kaleng dan kardus yang berjatuhan.
Pada akhirnya, hal itu membuat sosokku sepenuhnya terekspos. Dan di saat yang sama, aku juga bisa melihat sesuatu yang ada di depan pintu dengan cukup jelas menggunakan senter.
Setinggi tiga meter, dengan tubuh yang sangat tipis dan berwarna putih. Dari manapun kau melihatnya, itu adalah lembaran kertas berbentuk tubuh manusia tanpa adanya sebuah wajah.
Menyebutnya seseorang tidaklah tepat, karena itu mungkin adalah Roh.
Kertas itu langsung melesat ke arahku tanpa basa basi sedikitpun dan melihat itu, aku langsung berlari tanpa memikirkan apapun dan menjauh darinya.
Karena suara kaleng dan kardus yang berjatuhan sebelumnya cukup keras, pasti Bibi An akan datang untuk mengeceknya.
Aku harus pergi dari sini dan menjauhkannya dari Roh kertas ini.
Akan gawat jika orang itu melihatku bertingkah aneh saat berhadapan dengan Roh kertas ini. Dan untuk tempat sepi dengan sedikit orang di jam malam seperti ini hanya satu yang tepat.
"Menyelesaikannya di dalam hutan akan lebih baik tapi tidak ada pilihan selain di sana."
Aku berlari dan berlari, berusaha untuk mencapai taman secepat mungkin. Dan di belakangku, Roh kertas itu masih mengejarku dengan gigih. Dia terbang selagi mengeluarkan gesekan kertas.
Tapi ini juga membuatku heran, memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga harus dikejar oleh Roh kertas seperti itu? Kurasa aku tidak melakukan apapun yang khusus dengan para Roh hari ini.
Mungkin aku bisa bertanya pada kertas itu nanti, tapi dia tidak terlihat begitu suka berbicara. Atau mungkin tidak bisa melakukannya?
Aku akan memastikannya di taman nanti.