
Karena berat badan Master yang meningkat secara misterius sejak dia kembali dari Pesta Roh sebelumnya, aku memutuskan untuk membantunya mengurangi berat badan itu dengan menemaninya jalan-jalan di bawah langit sore hari.
Masih dua jam sejak aku pulang dari Study Tour yang melelahkan, jujur saja aku sangat ingin tidur saat ini tapi apapun yang terjadi aku tidak bisa membiarkan kucing hitam ini menjadi gemuk. Lagipula itu berkaitan langsung dengan keselamatan ku.
Hari ini Bibi An dan yang lainnya tidak ada, tampaknya mereka masih ada di luar untuk belanja atau apapun dan itu akan memudahkan ku untuk bergerak tanpa meminta ijinnya.
Aku juga sudah menyelesaikan pekerjaan rumah jadi tidak akan ada masalah untuk saat ini. Setelah mengikat tali pegangan pada leher Master, aku berjalan berdampingan dengannya. Tampaknya Master memiliki beberapa ketidakpuasan tentang itu.
"Kenapa Roh tingkat tinggi sepertiku harus memakai sesuatu yang jelas menurunkan derajat agung yang aku keluarkan ini? Ini sangat mengganggu pernapasanku jadi cepat lepaskan, bocah bodoh."
Master menggoyang-goyangkan kepalanya dan memutarnya, menggunakan kaki depannya untuk menggaruk pengikat leher itu tapi tampak jika usahanya masih kurang untuk melepasnya.
Aku memegang salah satu kaki kecil hitam itu untuk menghentikannya.
"Master, jangan melepaskan itu. Jika Master melepaskannya maka Master tidak akan dapat pergi ke toko dan hal itu akan membuatmu tidak akan bisa memakan Bakpao daging untuk hari ini. Apa Master yakin dengan itu? Aku tidak masalah dengan keduanya sih."
Lagipula yang akhirnya akan membayar semuanya adalah aku.
Seperti yang aku perkirakan, kucing hitam itu segera berjalan dan melupakannya.
"Apa boleh buat kalau begitu, ayo cepat kita pergi dan selesaikan lelucon ini."
Master, apa kau yakin memakai tali leher itu? Bagaimana dengan derajat agung yang kau keluarkan itu? Kucing ini benar-benar menganggap semuanya dengan sangat ringan.
Aku sangat ingin mengatakannya tapi ada beberapa hal yang lebih baik tidak dikatakan.
Karena—
"Sekali lagi kau memikirkan sesuatu yang tidak sopan tentangku seperti itu, aku akan mengambil semua uangmu dan pergi sendiri menuju toko untuk membelinya sendiri."
—Karena Master bisa mengetahuinya meskipun aku tidak mengatakannya. Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tidak ada kesempatan untuk menanyakannya.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya. Dan juga, para pegawai tokonya tidak akan melayani kucing jadi usaha Master mungkin percuma."
Yah, aku akan mencari tahu semua tentang Master perlahan-lahan, tidak perlu melakukannya dengan terburu-buru. Lagipula aku tahu jika kita akan bersama untuk waktu yang lama.
"Bocah bodoh sepertimu selalu meminta maaf dan mengulangi kesalahan yang sama. Lalu penilaian yang kau berikan sebelumnya membuatmu terlihat semakin bodoh, mana mungkin aku akan masuk ke toko manusia dengan wujud ini, kan? Setidaknya gunakanlah sedikit otakmu, dasar bodoh."
"Ya~ ya~ maafkan karena aku sudah menjadi bodoh~"
Memegang rapat tali yang menghubungkan tanganku dengan leher kucing hitam yang berjalan di sampingku, kami mencoba untuk tidak menarik perhatian sebanyak mungkin.
Karena orang-orang biasa yang melihatku pasti akan berpikir jika aku berbicara sendiri.
Setelah berjalan selama satu jam mengelilingi beberapa komplek dan mengambil jarak yang cukup jauh, aku memutuskan untuk berhenti di sebuah taman, duduk pada salah satu pondok di sana, membaringkan tubuhku dan melemaskan kakiku.
Master yang juga mengalami kelelahan yang sama, membaringkan tubuhnya di atas tubuhku, menguap dan menjilati perutnya.
Dan di saat itu aku sadar, berat badan Master masih belum berkurang sama sekali.
"Hm? Ada apa dengan tatapan itu? Apa kau sadar jika berat badanku masih belum berkurang? Sebenarnya aku mulai menyadari di tengah perjalanan tadi jika berat tubuhku yang bertambah disebabkan oleh buluku yang memanjang karena suhu menjadi dingin. Itu tidak ada hubungannya dengan makanan."
"Eh? Memangnya sesuatu seperti itu bisa terjadi?"
"Bukannya itu sedang terjadi di depanmu saat ini?"
"Begitu, apa itu artinya apa yang kita lakukan hari ini sia-sia?"
"Tidak, jalan-jalan ini tidak akan menjadi sia-sia karena tujuan utama kita melakukannya adalah untuk membeli Bakpao daging. Selama kita menyelesaikan itu, tidak ada yang menjadi sia-sia."
"Begitukah? Syukurlah kalau begitu ... Hm?"
Dari kuas yang dipegangnya, sudah dapat dipastikan jika orang itu adalah seorang pelukis.
Karena dia menghadap ke arah lain saat ini, aku tidak bisa melihat wajahnya tapi dari struktur tubuh yang berisi, itu jelas jika dia adalah seorang pria yang berusia sekitar dua puluh tahunan. Dengan seorang gadis yang memakai pakaian pelayan berdiri di sampingnya.
Seorang pelukis dengan seorang gadis yang memakai pakaian pelayan di sampingnya, pemandangan yang tidak umum untuk dilihat. Mungkin dia seorang bocah kaya di sekitar sini?
Tapi melukis di tengah taman saat sore hari seperti ini, sepertinya dia memang orang aneh. Lebih baik aku tidak mendekatinya.
"Huh?! Kupu-kupu?!"
Disaat aku melihat pelukis aneh dengan pelayannya itu, Master bertingkah aneh. Kucing itu melompat dari tubuhku dan memanjat tembok, mengejar sesuatu yang terbang di langit.
Itu sebuah kupu-kupu, Master mengejarnya dan menghilang di balik semak-semak selagi mengenakan tali di lehernya. Beberapa saat kemudian, keberadaan Master sudah benar-benar menghilang, meninggalkanku sendirian di pondok.
Aku kehilangan kata-kata setelah melihat semua ini. Kata-kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini?
"Kucing itu ... Apa yang dia lakukan? Meninggalkan orang yang dirinya lindungi begitu saja dan menghilang dalam semak-semak. Kupikir aku sudah membiarkannya sebebas mungkin sebagai penjaga, aku juga membelikannya banyak makanan."
Apa aku salah memilih Roh penjaga? Tidak, seharusnya tidak.
Apakah begitu? Aku sudah tidak yakin.
"Apapun itu, aku harus mencarinya. Akan repot jika dia tersesat."
Aku segera berdiri dan turun pada pondok, merenggangkan sedikit tubuhku. Dan saat aku akan mengambil langkah pertama, telingaku menangkap suara panggilan.
"Anu! Permisi!"
Berdasarkan rasio orang yang di taman saat ini, hanya ada satu kemungkinan tentang siapa orang yang mencoba untuk memanggilku.
"Urgh—!!"
Aku mencoba untuk mengabaikan suara itu untuk segera pergi tapi karena rasa panik itu, kakiku salah mengambil langkah dan tersandung batu, membuatku terjatuh pada rumput.
Jalanku untuk keluar dari situasi disapa oleh orang aneh sudah tertutup total. Hal itu ditandai dengan langkah kaki yang semakin dekat ke arahku dan sesuatu menyentuh punggungku.
"Apa kau tidak apa-apa? Biarkan aku membantumu berdiri."
"Ah, iya ... Terimakasih."
Orang itu mengulurkan tangannya, aku pun mencapainya. Tangannya mengeluarkan bau cat dan minyak, dengan sensasi yang licin. Aku harus berusaha untuk menggenggamnya.
Setelah membersihkan lutut dan telapak tanganku, aku segera menghadap pada pria di depanku. Tampaknya hanya dia yang menghampiriku, gadis dengan pakaian pelayan itu hanya melihat kami dari kejauhan, lebih baik aku mengabaikannya saja.
"Maaf tapi tadi sepertinya kau memanggilku, apa ada sesuatu?"
Karena situasinya berkata tentang diriku yang harus membuka alur pembicaraan, aku pun memulainya lebih dulu, dengan nada ramah.
Pria itu sepertinya sedikit terkejut tapi raut wajahnya segera kembali, membalas pertanyaan yang aku ajukan dengan senyum kecil.
"Kau? Ah ya, sebenarnya aku sedang mencari seseorang untuk menilai lukisan baruku. Apa kamu mau menjadi salah satunya?"
Maaf, tapi tidak.
Aku sangat ingin mengatakan itu tapi orang ini sudah membantuku.
"Baiklah, aku akan melakukannya."