ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.13 : ROH BERTOPENG & SEUTAS PERBAN



"Aku akan pergi ke rumah keluarga itu besok dan melakukan ritual pada gedungnya, aku akan menunggu kedatanganmu di sana."


Kak Ren memberikan lipatan kecil kertas berisi denah lokasi, aku mengambilnya dan menentang atas keputusan sepihak itu.


"Tidak, aku masih belum bilang jika akan membantumu."


"Yah~ kau tidak perlu memikirkannya terlalu berlebihan, tugasmu besok adalah menonton. Aku tidak berniat untuk melibatkan mu."


Kak Ren tertawa, dengan bahunya yang sedikit gemetar. Aku lebih memilih untuk mengabaikannya saat ini dan pulang karena sudah sore. Tanpa sadar ini memakan waktu yang cukup banyak.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu."


"Ya, sampai jumpa besok."


Meninggalkan kak Ren yang melambai di belakang, aku berjalan pulang bersama Master di bahuku. Disaat aku mulai berpikir jika kucing hitam itu sedikit tenang hari ini, dia mulai membuka mulutnya.


"Saat bocah itu menyentuh kepalaku, aku bisa dengan jelas merasakan seberapa besar kebencian yang dia pendam pada para Roh.


"Hmm ... Begitukah? Aku tidak merasakannya sama sekali karena senyum yang dia keluarkan itu. Dari manapun kepribadiannya terlihat sangat santai sampai aku tidak memikirkannya."


"Yah, terlepas dari tawa bodoh dan senyum palsu yang dikeluarkannya itu, dia pasti sudah mengalami cukup banyak masalah karena para Roh. Tidak mengherankan jika dia memiliki pemikiran seperti itu."


Tanpa ada seorangpun mempercayainya, dihadapkan pada sesuatu yang tidak umum seperti para Roh memang cukup merepotkan dan membuatmu depresi. Bahkan aku pun selalu merasakan itu sampai akhir-akhir ini.


Disaat aku mulai memasuki wilayah perumahan, pada persimpangan, aku melihat lima tali yang berjejeran di samping jalan. Aku menghampiri tali itu, mengambilnya dan menarik-narik talinya. Sampai ada suara memanggil di belakang.


"Hentikan itu, bocah manusia."


Aku berbalik dan yang ada di sana adalah Roh gadis bertopeng dengan tali pada leher, tangan dan kaki yang aku temui sebelumnya. Roh itu berjalan mendekat ke arahku dan terdiam.


Aku pun segera mengangkat tanganku.


"Ah, maaf. Aku hanya sedikit penasaran ... Hm? Apa ada sesuatu?"


Roh itu terdiam di depanku, menatap wajahku tanpa mengatakan apapun. Dia pun membalas pertanyaan yang aku ajukan dengan sesuatu yang tidak berhubungan, dan hal itu membuatku bingung.


"Kau ... Memiliki bau yang sama dengannya."


"Bau yang sama? Apa maksudmu?"


Aku menatapnya, menurunkan pandanganku sampai ke titik yang menarik perhatianku. Itu menuju pada tangannya yang terbungkus perban.


"Ah itu, ini memang cukup menggangguku jadi bisakah aku membantumu memperbaiki perban itu? Kau bisa mengabaikan ku sepuasnya setelahnya. Bagaimana? Apa kau menyetujuinya?"


"Ah? Hm .... Terserah, lakukan sesukamu. Tapi karena di sini sedikit mencolok bagi manusia sepertimu. Aku akan membawamu ke tempat yang sepi."


"Aku mengerti, terimakasih."


Roh itu pun membawaku pada suatu tempat, dimana sebuah rumah dan bangunan tua ada di dalamnya. Aku masuk dengan sedikit keraguan dan menoleh ke beberapa arah dengan waspada.


"Apakah tidak ada siapapun di sini? Bagaimana jika mereka salah paham dan mengira diriku sebagai pencuri lalu membawaku pada kantor polisi?"


"Tenang saja, imajinasi berlebihan itu tidak akan terjadi. Sekarang masih sore hari, para penduduk di rumah itu tidak akan pulang dalam waktu dekat. Dan yang ada di gudang ini juga hanyalah diriku."


Roh itu membawaku pada sebuah gudang dan kami duduk pada anak tangga di depannya. Pada samping pintu gudang itu, aku dapat melihat sebuah tali tampar kusam yang terpaku dengan besi raksasa.


Itu adalah lima tali yang terhubung pada Roh gadis bertopeng dan mengekangnya. Tidak butuh waktu lama sampai aku menyadarinya, tapi lebih baik untuk tidak mengungkitnya saat ini.


Roh topeng itu duduk terlebih dulu pada anak tangga dan mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya melihatnya dengan bingung.


"Apa yang kau lakukan?"


"Bukannya kau yang bilang jika ingin memperbaiki perban ini karena mengganggu perhatianmu? Kalau begitu cepat lakukan."


Ah, benar juga.


Aku segera menyentuh tangan gadis itu, kemudian memperbaiki perbannya. Disaat aku melakukan yang terbaik, Roh bertopeng itu mulai menceritakan sesuatu padaku.


"Dulunya aku adalah Pelindung Danau. Tapi suatu hari, datang seorang pembasmi Roh yang menangkap diriku. Orang itu kemudian mengikat dan memaksaku untuk melindungi keluarga ini dan gudang yang merupakan tempat dimana dia menyimpan hartanya."


Aku mengangguk pelan untuk menanggapi itu, Roh topeng pun melanjutkannya.


"Awalnya aku mencoba untuk melepaskan diri sekeras mungkin, tapi akhirnya aku menyerah dan memilih untuk menghabiskan waktunya hanya dengan duduk dan melamun sepanjang hari. Hal itu berjalan selama bertahun-tahun. Sampai suatu saat, ada seorang anak yang datang menghampiriku."


Aku melihat pada tangan dan kaki Roh itu, memang ada banyak bekas luka pada kuku dan jarinya. Bekas yang tidak menghilang saat dia mencoba untuk melawan segel yang mengikatnya.


"Sama sepertimu, anak itu bisa melihatku. Anak itu pula yang mengikatkan perban ini padaku waktu itu, akhirnya kami membicarakan cukup banyak hal setelahnya."


Roh itu menyentuh tali pada lehernya. Kemudian menundukkan kepalanya. Itu tampak seolah dia melihat menembus ke dalam tanah.


"Belakangan ini, ada yang membuka gudang dan jika saat itu terjadi aku tidak memenuhi kewajiban ku, tali yang mengikat tubuhku akan semakin menyempit, sampai pada akhirnya memutuskan kaki, lengan serta kepalaku. Karena itulah tidak ada pilihan bagiku selain menanamkan kutukan pada mereka yang membukanya."


Roh itu menghela napasnya, helaan napas yang lelah.


"Tapi aku mulai muak dengan kewajiban ini. Mungkin untuk selanjutnya, aku tidak akan memenuhi kewajiban ku dan membiarkan leherku terpotong. Setidaknya aku tidak akan menyesali hal itu. Hanya saja, aku pikir jika takdir adalah sesuatu yang menarik."


Roh itu mendongakkan kepalanya ke atas, melihat pada langit sore.


"Siapa yang bisa mengira jika anak yang telah mengikat perban pada tanganku telah kembali dan menjadi seorang pembasmi Roh. Meskipun begitu, aku akan tetap senang jika dia yang membasmi diriku. Itu bukanlah sesuatu yang buruk untuk menjadi salah satu bagian dari pencapaiannya."


Aku selesai mengikatkan perban dan mengencangkannya kembali, laku menyadari apa yang Roh ini coba untuk bicarakan.


Tapi berbeda dengannya, aku hanya bisa melihat itu sebagai sesuatu yang menyedihkan. Aku mengusap tangannya dan menunjukkan itu padanya.


"Lihat, dengan ini perbannya tidak akan kendur lagi. Sebaiknya kau menjaganya."


Roh topeng itu memutar tangannya, melihat keseluruhan perban yang melapisi di sana, suasana hati miliknya terlihat bersinar. Aku turut senang saat melihatnya seperti itu.


"Terimakasih, anak manusia."


"Ya, sama-sama."


Mungkin aku harus menyampaikan hal ini pada kak Ren. Aku tidak tahu apakah orang itu mengingatnya sih tapi tidak buruk untuk mencobanya. Karena itu, kurasa aku akan datang untuk pemurnian besok.