
Mendengar peringatan dari Harimau hitam itu, membuatku tanpa sadar menelan ludah.
"Aku dalam bahaya saat ini? Apa maksudnya itu?"
"Sebentar, sedikit merepotkan menjelaskan dengan menggunakan wujud ini. Biarkan aku berubah terlebih dahulu, penjelasan akan aku lanjutkan setelahnya. Ini akan sedikit kuat jadi tahanlah."
"Huh? Hwahh—!!"
Sebelum aku bisa bertanya apa maksudnya, sebuah kepulan asap berwarna hitam keluar dan menutupi wujudnya, kemudian diikuti gelombang angin yang cukup kuat untuk menerbangkan sekitarnya.
Aku mencoba bertahan dengan berbaring tiarap dan memegang erat rumput di permukaan.
Tak lama berlalu sampai gelombang angin menyebar dan asap hitam pun menghilang, memberikan pemandangan yang jelas kembali. Tapi ada satu hal yang kurang, Harimau hitam raksasa itu menghilang.
Aku segera berdiri dan melihat pada arah langit dan pepohonan sekitar.
"Harimau!! Dimana kau?! Bukannya kau berniat untuk menjelaskan situasinya padaku?! Kenapa kau malah menghilang?! Hei—Urghh!!" Aku terbatuk, karena sesuatu yang keras tiba-tiba menabrak perutku.
Hantaman kuat itu membuat tubuhku tersentak, kemudian terjatuh ke belakang.
Selagi memegang perutku yang terasa sakit, aku melihat ke arah sesuatu yang berwarna hitam.
"Huh? Harimau, apa itu kau?! Tidak, bentuknya lebih kecil dan wujudnya juga sedikit berbeda, siapa kau?! Karena kau mirip, apa kau anaknya?!" Teriakku, selagi menunjuk pada anak Harimau berwarna hitam yang duduk di depanku.
"Dasar bodoh, jangan menyamakan diriku yang agung ini dengan seekor Harimau rendahan. Untuk saat ini panggil saja aku Leore, aku adalah Roh Tingkat Tinggi yang menindih tubuhmu beberapa saat lalu. Saat ini aku hanya menggunakan wujud pertamaku, jangan terlalu berisik." Ucap anak Harimau itu, lalu menjilat kaki depannya.
Ah, perubahan wujud, ya? Aku melupakan itu.
Tentu saja dia bisa melakukannya, lagipula dia adalah seorang Roh Tingkat Tinggi.
Tapi perubahan bentuk kecilnya lebih mirip ke kucing hitam biasa dengan belang hijau daripada seekor anak harimau, matanya juga hanya ada dua.
Kucing hitam belang hijau, itu tidak biasa sih.
Lalu suaranya yang agung sebelumnya juga terasa lebih nyaring, seperti suara anak-anak. Mungkin aku lebih menyukai wujudnya yang ini.
Ya, wujud ini tidak terlalu buruk.
"Aciel, kau baru saja memikirkan sesuatu yang tidak sopan tentangku, kan?"
"Hah? Ah, tentu saja tidak. Apa yang kau maksud? Ahahahah, lalu tadi namamu Leore, kan? Baiklah, aku akan memanggilmu begitu."
"Master."
"Huh?"
"Aku berubah pikiran, panggil aku Master."
"Master Leore?"
"Hanya Master saja, meskipun Leore hanya sebuah nama panggilan, jangan berani-beraninya kau menyebutnya lagi."
Ah, dia memang marah.
Apa Master memang memiliki kemampuan untuk membaca pikiranku? Tidak, mungkin dia hanya merasakannya dari pandangan yang aku keluarkan.
Lagipula Roh adalah keberadaan yang sangat sensitif dengan sekitarnya.
"Baiklah, aku mengerti. Jadi apakah Master bisa melanjutkan penjelasan tentang bahaya yang ada padaku saat ini?"
"Sebelum itu aku ingin memastikan hal ini. Yang kau temui adalah seekor Roh rubah dengan bulu berwarna keemasan bersama garis hitam, memiliki beberapa corak seperti sebuah simbol di dahinya, kemudian juga memiliki sembilan ekor dan sembilan kepala. Lalu yang terakhir, memiliki ukuran yang sama sepertiku? Ah ukuran dari wujudku yang besar."
Aku menyentuh dagu dan melihat ke arah langit berwarna jingga, mencoba untuk mengingat gambaran dari rubah yang aku lihat tiga hari lalu.
"Selain simbol di dahi dan ukurannya, semua ciri yang Master sebutkan benar sih. Rubah yang aku temui memiliki sembilan kepala dengan sembilan ekor, memiliki bulu berwarna keemasan bergaris hitam. Untuk ukurannya adalah dua kali lipat dari ukuran Master saat ini."
"Oh, jadi dia tidak memiliki simbol di dahi dan ukurannya tidak terlalu besar?"
"Ya, begitulah. Memangnya ada apa dengan itu?"
Master menepuk ekor hitamnya pada permukaan rumput dan melompat menuju bahuku, mendekatkan mulutnya pada telingaku.
"Aku masih tidak terlalu yakin dengan ini karena beberapa cirinya tidak begitu sesuai. Tapi kemungkinan Roh Rubah yang kau temui adalah Elflur. Kurasa tidak ada lagi yang lain selain mereka."
Aku memiringkan kepalaku, mengulangi kata yang sama.
"Elflur? Roh seperti apa mereka?"
"Mereka adalah Roh dengan wujud seekor rubah yang dulunya di sembah sebagai utusan dari Dewa panen. Mewakili Dewa mereka, para rubah itu berkeliling ke berbagai tempat untuk menyuburkan tanah, memurnikan air dan memberikan kesehatan pada setiap penduduk yang menyembah Dewa yang dilayaninya. Kau pernah mendengar dongeng seperti itu? Kurasa itu sekitar lima ratus sampai delapan ratus tahun yang lalu sejak terakhir kali aku melihat Roh rubah."
Master menggerakkan telinganya, mungkin dia juga mengingat beberapa hal di masa lalu. Tatapannya seolah melihat sesuatu yang sangat jauh.
"Eh? Lima sampai delapan ratus tahun lalu? Apa Master belum bertemu satupun Roh rubah sejak saat itu? Memangnya apa yang terjadi?"
"Insiden yang menyebabkan terlahirnya manusia setengah Roh?"
"Ya, hal itu membuat semua Roh rubah memiliki kesan yang sangat buruk, baik di dalam Dunia manusia ataupun di dalam Dunia para Roh. Hal itu juga mengakibatkan penyegelan besar-besaran para Roh rubah oleh Pembasmi Roh untuk mengantisipasi adanya kejadian sama yang terulang kembali."
Aku tidak terlalu paham tapi Master sepertinya sedang menceritakan sesuatu yang cukup rumit di sini. Lebih baik aku segera mengalihkannya dengan memajukan topik pembicaraan.
"Oh, begitukah? Kesampingkan itu, memangnya apa hubungannya semua cerita yang Master bicarakan itu dengan Roh rubah yang baru saja aku temui tiga hari lalu?"
"Kau masih belum memahaminya, ya? Baiklah, aku akan menjelaskannya dengan sangat sederhana. Ada berapa kepala dan ekor dari Roh rubah yang kau temui tiga hari lalu?"
"Huh? Sembilan? Bukannya aku sudah memberi—" sebelum aku bisa menyelesaikan perkataan, Master menutup mulutku dengan ekornya dan melanjutkan penjelasannya.
"Semakin lama Roh rubah hidup, maka mereka akan manjadi semakin kuat, lalu semakin kuat Roh rubah itu, semakin banyak pula ekor dan kepala yang mereka miliki. Setidaknya butuh waktu dua ratus tahun untuk menumbuhkan satu ekor dan satu kepala."
Master menaikkan ekornya, melepas mulutku.
"Baiklah, sekarang pertanyaannya. Berapa banyak ekor dan kepala dari Roh Rubah yang kau temui sebelumnya?"
"Sembilan."
"Dengan jumlah sebanyak itu, kira-kira butuh waktu berapa lama agar seekor Roh Rubah berekor satu mencapai tahap yang sama?"
"Karena ekor yang pertama tidak dihitung, jadi sekitar seribu enam ratus tahun?"
"Benar sekali. Dan sembilan adalah jumlah maksimal dari ekor dan kepala yang bisa mereka tumbuhkan, yang artinya kita hanya mengetahui jika usianya setidaknya sudah mencapai seribu enam ratus tahun. Itu adalah angka minimal, usia sebenarnya mungkin jauh lebih lama dari itu. Lalu inilah bagian terpentingnya."
Master melompat dari punggungku, kemudian berbalik dan menatap pada mataku.
"Dengan usia hidup sepanjang itu, dia pasti termasuk ke dalam salah satu Roh rubah yang menjadi korban dari penyegelan besar-besaran lima ratus tahun lalu. Kau juga bisa mengartikan jika dia menyimpan dendam yang sangat besar pada setiap manusia yang telah menyegelnya."
Ah, jadi begitu. Aku paham. Tapi ada sesuatu yang mengganjal.
"Tapi Master, saat aku bertemu dengannya tiga hari lalu dia benar-benar baik, kau tahu? Aku tidak merasakan niat jahat sedikitpun darinya. Sebaliknya tubuhnya terlihat begitu lemah saat itu. Karena itu juga dia menyarankan agar aku kembali tiga hari lagi ke gunung ini untuk menemuinya setelah dia merasa sedikit baikan."
"Praduga yang mungkin untuk menjelaskannya adalah dia baru saja terlepas dari segelnya tiga hari lalu, sehingga tidak memiliki tenaga yang cukup bahkan untuk memakan tubuhmu. Karena itu dia memilih untuk mengulur waktu selama tiga hari dan memulihkan Energi Spiritualnya. Aku menyadarinya saat kau menyebutkan jumlah kepala dan ekornya, lalu bagian dahinya yang tidak memiliki sebuah simbol."
"Hm? Memangnya kenapa dengan itu?"
"Roh rubah Tingkat Tinggi selalu memiliki sebuah simbol pada dahi mereka. Itu tanda jika mereka sudah menjadi seekor Rubah penjelajah dengan sebuah tugas untuk mengantarkan berkat dari Dewa mereka."
Master sedikit mendengus dan melanjutkan.
"Mereka sangat bangga dengan simbol pada dahi mereka, jadi mustahil jika mereka menghapusnya begitu saja. Satu-satunya kemungkinan yang membuat Tanda itu menghilang adalah terkurasnya Energi mereka dan membuat mereka melemah. Mungkin segel yang mengurung mereka adalah Tipe yang menyerap Energi Spiritual dari para Roh yang terkurung di dalamnya secara perlahan selama berjalannya waktu."
Ah, jadi karena itu Master menyimpulkan jika Roh Rubah itu baru saja keluar dari segelnya saat dia bertemu denganku.
Kalau aku mengingatnya lebih jauh, kurasa aku tanpa sengaja merusak sebuah lentera batu berlumut sebelum bertemu dengan rubah itu. Mungkin lentera batu itu adalah Katalis segel yang mengurungnya.
Kurasa aku tidak perlu memberitahukan hal ini pada Master.
"Aku mengerti, kalau begitu sudah saatnya Master untuk memberitahukan bagian yang terpenting. Apa yang membuatku dalam bahaya?"
Mendengar pertanyaan itu, Master menghela nafasnya.
"Dasar bodoh, apa kau tidak mengerti? Ada Roh rubah yang sangat membenci manusia, memintamu untuk menemuinya lagi di dalam hutan. Apalagi kalau bukan dia yang berniat memakan tubuhmu? Dia berencana untuk memulihkan Energinya yang terkuras dengan memakan seseorang sepertimu yang memiliki Energi Spiritual sangat besar."
"Huh? Benarkah?"
"Dasar bocah yang lemot. Apa kau ini benar-benar anak dari Anella? Untuk jaga-jaga aku akan menanyakannya juga padamu, apa kau merasa seperti diawasi sesuatu belakangan ini?"
"Ya, aku memang merasa seperti diawasi. Tapi aku cukup terbiasa dengan itu karena ada cukup banyak Roh yang mengawasi diriku dari kecil."
"Kau benar-benar tidak memiliki kewaspadaan sedikitpun. Mungkin salah satu dari Roh yang mengawasi dirimu saat ini adalah Rubah itu. Sebagai penjaga aku tidak tahan lagi melihatnya, ayo cepat kita bereskan akar masalahnya!"
"Ehhh? Ini sudah mendekati malam jadi lebih baik kita melakukannya besok saja."
"Dasar bodoh, dia memintamu berjanji untuk datang ke gunung hari ini. Yang artinya dia sudah memiliki tenaga yang cukup untuk menelan tubuhmu saat ini, jika kau pulang sekarang yang ada hanya orang di dekatmu juga akan terlibat. Apa kau menginginkan hal itu?"
Melibatkan orang di sekitarku yang tidak mengetahui apapun.
"Tidak, kita tidak boleh melakukannya." Jawabku singkat, dengan nada kuat.
"Hmph, untuk bagian itu saja kau cukup mirip dengan ibumu."
"Tapi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Merespon pertanyaanku, Master melompat dengan wujud kucingnya ke langit dan mengeluarkan asap hitam. Kemudian memunculkan wujud besarnya sekali lagi.
"Tentu saja kita akan mencarinya di sekitar gunung ini. Naiklah ke punggungku." Balas master, dengan suaranya yang berubah.
Aku belum sempat untuk memikirkan hal ini karena rasa takut yang menumpuk saat melihatnya sebelumnya tapi, perubahan Master dengan tubuh besarnya memang benar-benar terlihat keren!!