
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak aku berdiri di bawah pohon beringin, menunggu hujan berhenti dan langit menjadi cerah.
Tapi hujannya sama sekali tidak menampakkan tanda untuk berhenti. Bahkan langit juga menjadi lebih gelap, membawa udara dingin bersamanya.
"Waktu pengamatan yang diberikan masih tersisa sekitar tiga jam jadi aku masih dalam batas aman. Tapi jika memakan waktu lebih lama, pilihannya cuma berlari ... Merepotkan."
Melirik ke arah lain pada semak-semak, aku juga bisa melihat sekilas telinga hewan yang menonjol dari sana. Gadis Roh itu masih melihatku, sampai kapan dia akan terus melakukannya?
Dan disisi lain, kucing yang harusnya menjadi penjagaku ...
"Master, kenapa kau malah tertidur? Bangunlah, ini semua tidak akan menjadi sulit jika Master mau mengantarku dengan cepat. Aku akan membelikan dua Bakpao daging sepulang dari sini nanti jadi ayo cepat kita kembali."
"Mmh ..."
Aku mengelus perut kucing di sampingku dan sedikit menekan beberapa bagiannya, Master merespon dengan erangan kecil tanpa membuka matanya. Kucing ini benar-benar tertidur.
"Ada baiknya aku untuk melakukan hal lain. Menunggu tanpa melakukan apapun seperti ini benar-benar terasa seperti siksaan."
Karena waktu yang senggang ini, aku memutuskan untuk menghabiskannya dengan mengulas kembali laporan pengamatan yang sudah diambil sebelumnya dan mengoreksinya.
Untungnya, ada beberapa bagian pada laporan yang harus aku perbaiki dan itu membantuku untuk mengalihkan perhatian sesaat. Memberikan beberapa tanda menggunakan pulpen.
Melanjutkannya dengan mengecek beberapa foto sampel dan memastikan tidak ada yang kurang. Karena sebagian besar foto diambil saat cuaca cerah, itu terlihat cukup bagus.
Aku juga mengambil beberapa foto dari Ella dan Mona ketika mereka serius mengerjakan tugasnya masing-masing. Ella mungkin akan mengeluh tapi kurasa dia tidak akan keberatan. Untuk Mona, dia pasti akan menyukainya.
"Ella dan Mona, ya? Aku harus pastikan untuk meminta maaf pada mereka saat kembali nanti. Ini membuatku sedikit gugup."
Selesai dengan mengulas foto dan perutku sedikit berbunyi. Aku mengambil beberapa biskuit dari tas dan di saat itu, kucing hitam yang benar-benar mengabaikan ku dari tadi berjalan mendekat.
"Apa yang kau inginkan? Aku tidak akan memberikannya satupun."
"Hei hei, apa kau yakin? Aku tidak keberatan untuk membawamu sekarang."
Master menggoyangkan ekornya ke samping beberapa kali dan menggerakkan alisnya, tersenyum sombong. Hal itu membuatku semakin kesal.
"Aku sudah tidak peduli lagi tentang itu, aku akan memakan semua biskuit ini sendirian. Master, kau bisa mencari ikan di sungai atau tikus. Tidak ada bagian untuk kucing pemalas."
"Hooh ... Begitukah? Aku mengerti ..."
Master menyipitkan matanya lalu merendahkan tubuhnya, menancapkan cakar kucingnya pada rumput basah, memasang postur harimau yang bersiap untuk menerkam mangsanya.
Sebagai bentuk antisipasi, aku menutup toples berisi biskuit itu dari jangkauan Master dan menaruhnya di belakang tubuhku. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kucing ini mengambilnya.
Suasana yang hening, dengan ketegangan yang perlahan meningkat diantara kami. Selagi mencoba untuk memusatkan perhatian, aku membuka mulut untuk mengulur sedikit waktu.
"Master, untuk berjaga-jaga aku akan menanyakan hal ini. Apa yang ingin Master lakukan? Kau tidak berencana untuk melakukan hal hina seperti mencuri biskuit dari orang yang seharusnya kau lindungi, kan? Master, aku bisa percaya padamu, kan?"
Aku membuat senyuman canggung, dimana Master yang langsung membalasnya dengan mendengus pelan dan membuat senyum arogan.
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku akan mencuri sesuatu yang dimiliki oleh orang yang harus aku lindungi, kan? Aku adalah Roh tingkat tinggi yang menjunjung kehormatan dan keadilan. Semua tindakan yang aku lakukan selalu mencerminkan kedua hal itu, tanpa terkecuali."
"Master ..."
Aku sedikit mual saat mendengar kata kehormatan dan keadilan dari kucing yang selalu memeras ku untuk membelikannya bakpao daging tapi tidak ada pilihan lain untuk mengikutinya saat ini.
"Master, aku percaya pada—"
Tapi aku terlalu naif, berpikir jika hanya dengan menyetujuinya saja akan menyelesaikan semua akar permasalahan. Itu tidaklah cukup, karena yang ada di depanku adalah Roh tingkat tinggi.
Dimana mereka juga dikenal akan keegoisan dan kesombongan yang mereka miliki. Sebelum aku dapat menyadarinya, Master telah melompat.
Dengan kaki kecilnya, kucing hitam itu melompat ke arahku dan menajamkan cakarnya. Responku sedikit terlambat, membuatku menahannya dengan lengan dan kucing itu melompat lagi, menggunakan lenganku sebagai pijakan.
"Kucing sialan."
Apa yang diincarnya adalah sesuatu yang ada di belakangku, yang mana tidak perlu kukatakan lagi tentang apa itu. Karena melakukannya dengan mendadak, aku kehilangan keseimbangan dan membuat tubuhku terjatuh ke depan.
Master mengambil kesempatan itu dengan sangat baik.
"Aku tidak akan mencuri sesuatu dari orang yang aku lindungi, itu adalah kebenaran."
Master melilit toples berisi biskuit itu dengan ekornya dan melompat tinggi pada pohon beringin, menetap di salah satu dahannya yang tidak bisa aku gapai. Kucing itu melanjutkan.
"Tapi jangan salah paham Aciel, kau adalah manusia yang akan aku makan. Ini sama seperti menaruh daging segar di dalam kulkas dan menunggu waktu yang tepat untuk memakannya. Yang artinya, kau adalah milikku dan bukan orang yang harus aku lindungi."
Master membuka toples, mengambil salah satu biskuit dan memakannya.
"Karena kau adalah milikku, apapun yang kau miliki juga adalah milikku. Apa kau sudah memahaminya? Ini termasuk biskuit juga."
"Master, logika yang kau katakan itu benar-benar rusak. Jika kau mengatakan semua itu dengan serius, tidak ada pilihan lain bagiku selain menganggap dirimu sebagai Roh gila."
Aku mengambil beberapa ranting dari pohon beringin yang berjatuhan, mengepalkan pegangan pada slaah satu bagian tengahnya.
Baiklah, ini terasa nyaman.
Mengabaikan itu, aku segera menguatkan bagian bawah tubuhku, merekatkan pegangan pada ranting dan melemparkannya layaknya sebuah tombak, mengarah pada Toples yang terletak pada dahan.
"Huh?!'
Dan tepat sasaran.
Toples itu terserempet oleh ranting yang aku lempar, kehilangan keseimbangannya dan jatuh dalam keadaan terbuka. Aku sudah memprediksi tempatnya terjatuh, menengadahkan tanganku dan menangkap semua biskuit yang terjatuh.
"Hurmm—!!"
Tanpa menunggu apapun, aku langsung memakan semua biskuit itu sekaligus, selagi menikmati ekspresi kucing yang menatapku dengan matanya yang membentuk sebuah lingkaran sempurna.
Aku menelannya dan tersenyum, mengarahkan jempol pada Master.
"Biskuit ini memang enak, aku harus berterimakasih pada Mona nanti."
Master menggertakkan giginya, menutup mata dan menghirup napas panjang. Mengulanginya beberapa kali dan menatapku dalam diam.
Kucing hitam itu tidak mengatakan apapun dan hanya menatap lurus padaku.
"Hm? Ada apa?"
Dan saat aku menanyakan hal itu, Master melompat dari dahan, melebarkan kaki depannya dengan cakar yang sudah disiapkan dan membuka mulutnya yang dipenuhi oleh taring tajam.
"Dasar bocah sialan!! Beraninya kau mencuri biskuit milikku?!"
"Hah?! Dari awal itu adalah milikku, sejak kapan aku memberikannya padamu?!"
"Gurgh—!!"
Master melayangkan kaki depannya pada wajahku, mencoba untuk mencakar tapi aku langsung menghindarinya dan membenturkan kepalaku dengan kencang padanya.
"Sakit!! Kau mulai berani menyerangku, ya?! Baiklah, aku tidak akan menahan diri!!"
"Majulah, kucing sialan!!"
Disaat kami mulai meributkan hal yang tidak penting itu, aku tidak menyadari jika ada beberapa pergerakan pada semak-semak. Sesuatu mendekati kami, meredam suaranya dengan derasnya hujan.
"Hm?"
"Huh?"
Dan disaat aku mulai menyadarinya, sesuatu itu sudah ada tepat di samping. Menatapku dan Master dengan mata yang menunjukkan sebuah bentuk kekhawatiran. Dia adalah gadis Roh bertelinga hewan yang mengawasi ku sedari tadi.
Gadis itu memegang dua daun talas yang cukup besar di kedua tangannya. Lalu melemparkan daun talas pada tangan kirinya ke arahku.
"Huh?"
Aku mengambil daun talas itu dan menatap ke arahnya, meminta sebuah penjelasan.
"Um ... Itu ..."
Gadis Roh itu sepertinya memahami arti dari tatapan yang aku buat.
Selagi mengalihkan pandangannya ke arah lain karena rasa gugup, dia mencoba untuk menjelaskan dengan suara yang patah-patah.
Aku dan Master hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
Gadis itu menghirup sedikit udara, meskipun aku tidak tahu apakah Roh bisa bernapas, mungkin itu salah satu bentuk gerakan untuk menenangkan dirinya.
Dia segera melepaskan udara itu dan menatap padaku, dengan mata yang berkilau.
"Jadikan itu ... Sebagai payung ... Untuk ... Pulang."
Tentu saja, aku mendengarnya tapi aku tidak bisa langsung menerka maksudnya. Membuatku melihat daun talas itu dengan teliti.
Daun talas ini memiliki ukuran yang cukup besar untuk menutupi kepalaku.
"Jadi begitu ... Menggunakan daun talas sebagai payung. Begitu, kan?"
Gadis telinga hewan itu menganggukkan kepalanya beberapa kali, dengan tatapan yang berbinar-binar dan menunjukku menggunakan jarinya, lalu menunjuk ke arah lainnya.
"Sekarang ... Kau bisa ... Kembali."
Aku melihat ke arah yang gadis itu tunjuk, itu mungkin mengarah pada penginapan.
"Oh ... Terimakasih?"
Dengan sedikit keraguan, aku mengangguk untuk berterimakasih. Dan setelah melihatnya dari dekat sekali lagi, aku bisa memastikan telinga apa yang ada pada bagian atas kepala gadis itu.
Itu memang telinga kelinci.