
Titik dimana ada banyak kelinci terletak pada bagian Utara dari gunung ini. Membutuhkan waktu sekitar satu jam untukku mencapainya dan akhirnya aku sampai di sebuah dataran rumput yang cukup cekung, dikelilingi pepohonan pada sekelilingnya.
Dataran rumput cekung itu memiliki cukup banyak lubang pada pinggirannya, aku menghampiri salah satu lubang itu dan mendekatkan wajahku untuk melihat sedikit lebih jauh ke dalam.
Cukup gelap tapi aku bisa mendengar beberapa suara gesekan dari dalam.
Awalnya aku mengira ini adalah lubang Ular tapi tentunya Ular tidak akan membuat lubang sebanyak ini pada satu tempat yang sama. Satu-satunya hal yang mungkin untuk menempati lubang ini adalah—
"Baiklah, mungkin aku bisa mencoba cara ini untuk memancingnya keluar."
Aku mengambil korek api pada saku, mengeluarkan satu stik dan menggeseknya pada bagian pinggir wadah korek, menciptakan nyala kecil api dan segera meniupnya, memunculkan beberapa asap dari batang korek itu.
Sebelum asap itu menghilang aku melemparnya pada salah satu lubang, melakukannya beberapa kali sampai sesuatu muncul dari sana.
Itu seekor kelinci, terlebih masih anak-anak. Tanpa keraguan sedikitpun aku langsung melompat dan menangkapnya, mengangkatnya dan membawanya ke suatu tempat.
"Ini benar-benar keberuntungan bisa mendapatkannya pada kesempatan pertama. Kalau begitu langsung saja untuk memulai pengamatannya, mungkin ini tidak akan memakan waktu terlalu banyak."
Aku mencari dataran kosong dan duduk di sana, memegang kelinci putih kecil itu pada tangan kiri dan mencatat beberapa hal dengan tangan kanan lalu memfotonya dan memasukkan kelinci itu ke dalam salah satu wadah yang sudah disiapkan.
"Pak guru sebelumnya bilang kita tidak perlu membawa sampel hewan, demi menghindari terganggunya ekosistem gunung tapi kurasa satu kelinci tidak akan memberikan pengaruh besar ... Ya kan? Apa aku harus melepaskannya saja?"
Mungkin pilihan pertama akan lebih aman untukku. Aku tidak perlu membawanya jika Pak guru sudah melarangnya, pasti masyarakat yang bertugas merawat gunung memintanya untuk menyampaikan hal itu pada para murid.
Aku melepaskan kelinci putih itu dan membiarkannya keluar dari wadah. Kelinci itu akhirnya melompat tapi setelah menjauh beberapa meter, kelinci itu berbalik dan melihat ke arahku.
"Hm? Apa ada sesuatu? Dia melihat ke arahku ..."
Kelinci itu memiringkan kepalanya, aku pun mengikutinya dan memiringkan kepalaku juga. Lalu dia membalik tubuhnya lagi dan berjalan beberapa meter, berbalik padaku dan memiringkan kepalanya.
Apa yang kelinci itu lakukan?
"Apa dia ingin agar aku mengikutinya? Tapi kemana dia akan membawaku? Ini terasa sedikit mencurigakan jadi aku harus tetap waspada."
Aku berdiri, merapikan semua barang dan memasukkannya pada tas, lalu berjalan mengikuti kelinci yang menuntunku itu. Setelah beberapa menit berjalan, aku sampai pada suatu tempat.
"Huh? Tempat ini ... Bagaimana bisa ..."
Aku baru saja melihatnya beberapa waktu lalu di dalam mimpi jadi kenangan yang ada masih melekat cukup kuat pada kepalaku. Untuk melupakannya dalam waktu singkat, tidaklah mungkin.
Pemandangan yang ada di depan mataku ini, dimana sebuah tebing dengan kumpulan rumput hijau di atasnya, ditambah keberadaan akan tumpukan batu yang cukup familiar.
Ada beberapa perbedaan seperti tampilan lumut pada batu yang cukup tebal dan beberapa tumbuhan lain yang asing tapi sebagian besar masih terlihat tidak begitu berbeda daei sebelumnya.
Tidak salah lagi, ini tempat yang sama.
"Tapi, bagaimana bisa? Kenapa aku melihatnya di dalam mimpi dan Study Tour ini ... Apa yang terjadi? Untuk apa aku melihat mimpi-mimpi itu? Pertama tentang masa lalu Ebi dan sekarang ini, ada yang tidak beres di sini... Benar juga, kelinci itu."
Aku melihat ke arah dimana kelinci itu ada sebelumnya tapi dia sudah menghilang.
"Huh? Kemana dia?"
Aku memutar tubuh, melihat ke arah lainnya dan tidak menemukan kelinci itu sama sekali. Dia menghilang begitu saja tanpa suara sedikitpun ... Kelinci itu, apa jangan-jangan dia seorang Roh?
Ini sedikit sulit karena aku tidak bisa membedakannya dengan kelinci biasa. Tapi dari tingkah lakunya itu, mungkin perkiraan ku tidak salah. Kalau begitu, kenapa kelinci itu membawaku ke sini?
Dan tepat setelah aku menanyakan itu, telingaku menangkap sebuah suara.
"Menjauhlah—!!"
Itu suara teriakan dari seorang gadis. Suaranya terbawa angin dan sedikit tidak jelas saat mendengarnya. Aku harus masuk ke dalam hutan dan mencari tempat dengan hembusan angin yang lebih lemah.
"Dasar tidak berguna!! Beraninya kau masih ada di hutan ini?! Pergilah!!"
"Hutan ini tidak membutuhkan mahluk tidak berguna sepertimu!! Menjauhlah dan cari tempat lain yang bisa menampungmu!! Dasar tidak berguna!!"
"Menjauhlah—!! Jangan ganggu aku—!!"
Bagus, suaranya sudah lebih jelas.
Tapi ada suara lain yang bertabrakan dengan suara dari si gadis, dia bersama dengan orang lain? Gadis itu terlihat seperti kesulitan. Aku harus segera menghampirinya dan melihat apa yang sedang terjadi di sana.
Fokus ... Fokus ... Dengarkan dengan baik dan temukan sumber suaranya.
Gawat, sumber suaranya ada jauh di dalam hutan. Semoga saja aku tidak bertemu dengan Roh berbahaya saat Master tidak bersamaku. Ya ampun, seharunya aku membawa kucing itu tadi.
"Master pasti akan mengomel jika terjadi sesuatu padaku, mari hindari itu."
Aku mempercepat langkah kaki dan mendekati sumber suara, sampai titik dimana tidak terdengar lagi gema darinya. Aku sudah sampai pada semak-semak, di balik ini pasti sumbernya.
Mencoba untuk membuka celah pada semak di depan, menampakkan pemandangan di baliknya. Ada seorang gadis dengan dua sosok di depannya ... Tidak, kedua sosok itu adalah Roh.
Satu memiliki penampilan seperti manusia kuda dengan kulit abu-abu dan yang satunya lagi tampak seperti manusia banteng dengan kulit coklat.
Kedua Roh itu melayangkan tangan mereka dengan kencang, memukulkan tongkat kayu yang mereka pegang dengan sekuat tenaga pada tubuh si gadis. Gadis itu hanya bisa bertahan, menyilangkan tangannya dan berteriak penuh kesakitan.
"Hah? Kedua Roh itu ... Menyiksa manusia? Terlebih, seorang gadis kecil lemah ... Apa dia diculik? Beraninya mereka melakukan sesuatu seperti itu."
Tanpa menunggu apapun, aku langsung melompat pada semak, melayangkan tangan kananku dan mengalirkan Energi untuk menahan gerakan dua Roh itu.
"Gah—!! A-Apa yang terjadi di sini?!"
"Tubuhku tidak bisa bergerak!! Apa si tidak berguna ini yang melakukannya?!"
"Tidak, bukan!! Aku merasakan kehadiran di belakang!! Ada sesuatu di sana!!"
"Huh?!"
Aku memperkuat Energi yang dialirkan dan membuat kedua Roh itu seperti terlilit sangat kuat oleh sebuah tali. Mereka merengek, berteriak kesakitan dan tidak bisa melakukan apapun.
Yang pertama menyadari kehadiranku adalah si gadis. Dia melihatku dengan tatapan waspada dan rasa takut tapi tidak melakukan apapun.
Mengabaikan itu, aku berjalan melewati kedua Roh itu dan berhadapan dengan mereka. Kedua Roh itu melihatku, dengan wajah mereka yang dipenuhi rasa sakit dan rasa terkejut.
"Se-Seorang anak manusia?! Apa yang dilakukan seorang anak manusia di sini?!"
"Terlebih Energi sebesar ini ... Bagaimana mungkin anak manusia memilikinya!!"
Aku memperkuat tekanan Energi untuk membungkam kedua Roh itu. Melihat satu demi satu pada mereka dan mengangguk pelan.
"Kalian, pergilah dari sini. Aku akan mengampuni untuk pertama kali, tapi tidak untuk kedua kalinya. Jangan mengulanginya lagi. Jangan membuka mulut dan jawab dengan anggukan, apa kalian mengerti?"
Kedua Roh itu langsung mengangguk dengan sangat cepat. Aku pun melepaskan tekanan Energi dan mereka jatuh lemas pada rumput.
"Baguslah, kalau begitu jangan sampai kalian melupakan hal itu dan pergilah!! Jika aku melihat kalian melakukan hal seperti ini lagi ..."
Aku mengarahkan tangan kananku pada kedua Roh itu, membuat mereka tersentak dan langsung berlari, melompat pada semak-semak.
"Ampuni kami!!"
"Ampuni kami!!"
Tidak butuh waktu lama sampai langkah kaki mereka menghilang.
"Fuhh ... Untung saja mereka cepat mengerti."
Aku membalik tubuhku, menghadap gadis yang masih duduk pada rumput. Tatapannya padaku masih belum berubah, menunjukkan kewaspadaan dan rasa takut di dalamnya ... Huh?
Tunggu sebentar ... Huh?
Dan disaat yang sama, aku juga menyipitkan mataku.
"—!!"
Melihat gadis itu lebih dekat di beberapa bagian. Aku tidak menyadari hal ini karena terlalu fokus pada kedua Roh itu sebelumnya tapi tampak beberapa perbedaan yang cukup jelas pada gadis ini.
Telinga putih panjang yang menonjol pada bagian atas kepalanya, kuku jari yang menyerupai cakar dan pakaian samar berwarna putih yang tidak mungkin dipakai seorang manusia.
"Gadis ini ... Adalah Roh?"
Dan juga, aku mengingat wajahnya.
Gadis ini adalah Roh yang aku lihat di dalam mimpi sebelumnya.
Apa ini?