ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.9 : KEPEKAAN AKAN SITUASI



Sepertinya gadis ini tidak mengingatku, itu hanya mimpi yang bisa aku lihat dari satu sisi, ya? Kupikir karena kami bertatapan sebelumnya gadis ini akan mengingatku tapi itu adalah kesalahan.


Jika dia mengingatku, tatapan seperti itu tidak akan muncul pada wajahnya.


"Hah—!!"


Aku mencoba untuk tersenyum dan mengulurkan tanganku, bahu gadis itu sedikit tersentak dan mundur dengan tangannya.


Dia benar-benar waspada denganku, mungkin sisa dari kesan yang aku berikan pada dua Roh yang mengganggunya itu. Baiklah, apa yang harus aku lakukan? Ah, aku harus bicara.


"Apa kau baik-baik saja? Tubuhmu terlihat sedikit lecet."


"Hum—!!"


Gadis bertelinga panjang itu langsung melompat saat aku mencoba untuk berjongkok, menggunakan kepalaku sebagai pijakannya dan melesat ke arah lain, menghilang pada semak-semak.


"Aduh ... Itu tidak sakit tapi rasanya cukup tidak sopan. Yah, aku tidak terlalu masalah sih."


Jika dia masih bisa bergerak seperti itu berarti tubuhnya baik-baik saja, aku tidak perlu melakukan apapun lagi untuk membantunya. Sisanya hanya perlu keluar dari sini ... Huh?


Ah, sialan. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana ini? Master pasti akan mengomeliku jika dia ada di sini.


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Aku melihat sekeliling, pada pepohonan lebat dengan semak-semak yang cukup tinggi di setiap sisi, semuanya memiliki tampilan sama. Aku benar-benar lupa datang dari mana tadi.


Dengan kata lain, aku tersesat.


Membiarkan emosi mengambil alih dan malah melupakan semuanya lalu tersesat, setelah mengatakan semua itu pada Ella jika aku tidak akan tersesat saat berada di dalam hutan.


Memalukan.


Yah, aku harus melakukan sesuatu tentang ini sebelum hari menjadi gelap. Untuk langkah pertama, mungkin aku bisa menaiki pepohonan yang tinggi dan melihat lebih jelas keseluruhan bagian hutan. Dari sana aku bisa menemukan rutenya lagi.


Aku mengangguk pelan, rencana pertama sudah ditetapkan.


Tapi saat aku menurunkan tas dan menaikkan celana panjang, sebuah tatapan menimpa punggungku. Aku melirik untuk memastikannya.


Ada yang mengawasi diriku dari dekat, keberadaannya terasa familiar. Itu karena yang melihatku dari semak-semak adalah gadis dengan telinga panjang yang aku temui sebelumnya.


"Dia sepertinya hanya merasa penasaran dan tidak berniat melakukan apapun. Kalau begitu aku hanya perlu mengabaikannya, dia mungkin akan merasa bosan dan segera pergi setelah beberapa saat."


Aku melipat lengan panjang pada baju olahraga dan celanaku sekali lagi. Lalu mendekati salah satu pohon dengan batang tertinggi dan dahan terbanyak, kemudian mulai memanjatnya.


Batang yang kering dan kuat tanpa adanya serangga atau ulat sedikitpun. Tipe pohon ideal yang mudah untuk dipanjat siapapun. Hanya butuh sedikit waktu sampai aku mencapai puncaknya.


"Ah, ya ampun ... Ini benar-benar terblokir."


Mengabaikan Roh yang berterbangan pada langit, semua garis pandang yang aku punya dihalangi oleh pepohonan lain dengan tinggi yang sama.


Itu membuat jalur yang bisa dilewati tidak terlihat sama sekali dan hanya meninggalkan pemandangan yang dipenuhi oleh dedaunan hijau. Cara yang pertama tidak berhasil, ya?


Bagaimana ini ... Hm? Aku pikir cahayanya menjadi redup karena masuk terlalu dalam menuju hutan tapi langit juga mulai dipenuhi awan hitam dan menutupi cahaya matahari.


Mungkin tidak lama lagi sampai hujan deras turun, aku harus segera kembali.


"Apa Ella dan Mona sudah sampai di penginapan, ya?"


"Aciel!!"


Saat aku mencoba untuk turun, terdengar sebuah suara memanggil namaku. Tidak perlu untuk menanyakan apapun, itu adalah suara Master. Aku langsung melihat ke arah langit.


Di kejauhan, tampak seekor harimau hitam terbang dengan pijakan awan berwarna hitam kehijauan di setiap kakinya. Harimau itu berkeliling pada bagian atas hutan dan memanggil namaku beberapa kali.


Aku berdiri pada puncak dahan pohon, lalu melambai lebar dan berteriak sekencang mungkin. Master melihat ke bawah beberapa kali untuk mencariku sampai dia menoleh padaku.


"Bocah bodoh!! Beraninya kau meninggalkanku di dalam tas seperti itu!!"


"Bwahahahaha!! Maafkan aku, itu benar-benar tidak terhindar—Ahh!! Master!! Tolong aku!!"


Karena terlalu bersemangat, membuatku menggerakkan badan terlaku banyak dan kakiku pun tergelincir, membuat tubuhku terjatuh.


"Dasar bodoh!!"


Tapi Master segera mempercepat lajunya dan menangkap tubuhku menggunakan mulutnya, melempar tubuhku pada punggungnya dan aku pun mendarat pada bulu-bulu yang halus.


"Bgwhekk—!!"


Setelah selesai melakukan pendaratan, Kucing hitam itu melempar tubuhku pada permukaan rumput dan merubah wujudnya menjadi seekor kucing.


"Sakit!! Apa yang kau lakukan tiba-tiba?!"


"Akulah yang harusnya mengatakan itu, bocah bodoh. Bisa-bisanya kau pergi ke dalam hutan sejauh ini tanpa pengawasan dariku. Apa yang akan kau lakukan jika ada Roh yang memakan tubuhmu?"


"Yah, aku mendapatkan beberapa tugas sekolah dan ada beberapa hal yang terjadi."


"Hah? Beberapa hal? Ceritakan padaku apa saja yang terjadi dengan rinci ... Hm? Aku merasakan keberadaan Roh, ada di dekat sini."


Master menaikkan sudut kepalanya dan mengendus beberapa kali. Lalu kucing itu melihat ke arah semak-semak dan mendekatinya tapi aku langsung menghentikannya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Oh itu mungkin Roh yang mengawasi ku sejak tadi, aku akan menceritakannya. Jadi begini ..."


Aku pun menceritakan runtutan kejadian sejak aku berada pada tebing dengan susunan batu sebelumnya, lalu mendengar suara teriakan dan membantu Roh gadis dari para Roh yang mengganggunya.


Setelah mendengarkan cerita itu, Master hanya mendengus kesal seperti biasanya dan melompat pada bahuku.


"Yah, lagipula dia hanyalah Roh rendahan. Aku bisa saja mengabaikannya. Kesampingkan itu, ayo kita segera kembali. Akan ada hujan setelah ini."


"Hm, aku juga berencana untuk melakukannya tapi kenapa Master berubah menjadi kucing? Kita bisa terbang dan sampai dengan cepat, kan? Setidaknya kita tidak perlu berjalan."


"Bocah manja, aku sudah menghabiskan tenaga untuk mencarimu. Jadi kaulah yang harus membawaku sekarang, aku tidak akan membiarkanmu menunggangi punggungku untuk sementara ini."


Ya ampun, benar-benar kucing yang egois. Aku malas berdebat lebih jauh jadi lebih baik untuk membiarkannya sekarang dan tetap diam.


"Aku mengerti, ayo kita berjalan."


"Baguslah jika kau mengerti."


Dengan Master pada punggungku, aku segera membereskan semua barang, merapikan baju olahraga dan melakukan pengecekan ulang pada tugas pengamatan.


Setelah memastikan tidak ada yang kurang ataupun tertinggal, kami pun berjalan kembali. Master mengetahui jalan yang harus diambil dari penciumannya yang sangat tajam jadi tidak perlu khawatir untuk tersesat.


Lalu mungkin ini sedikit tidak berkaitan tapi gadis bertelinga hewan itu masih mengikuti di belakangku dan tidak pergi. Punggungku terasa begitu gatal tapi aku harus menahannya sekarang.


Dan saat kami sudah mencapai setengah perjalanan, hujan deras yang menjadi kekhawatiran utama saat ini pun akhirnya datang.


Selagi membawa Master pada bahu, dengan cepat aku mengambil tempat berteduh di bawah pohon beringin yang cukup lebat. Setidaknya hanya ada sedikit air yang akan menetes ke bawah.


Hujan yang cukup deras tapi hanya masalah waktu sampai intensitasnya berkurang.


"Berteduh dari hujan lebat di bawah pohon beringin yang terletak pada bagian dalam hutan dengan seekor kucing di bahu, selagi diawasi oleh Roh gadis bertelinga hewan. Sungguh, situasi macam apa ini?"


"Huh? Apa kau mengatakan sesuatu?"