ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : SANG KELINCI BULAN I



Sejauh yang aku ingat, aku memiliki seorang ibu.


"Keika, cepatlah bangun. Matahari akan terbit sebentar lagi, ayo kita cari kacang-kacangan dan beberapa buah untuk sarapan dan makan siang nanti."


Dia adalah ibu yang sangat baik, dipenuhi kehangatan dan selalu tersenyum. Seorang ibu yang terlalu berharga untuk diriku yang tidak berguna, yang hanya seorang Roh tingkat rendah.


"Mmm ... Iya, aku akan bangun ..."


Membuka mataku, melihat atap-atap batu yang biasa aku lihat dengan wajah ibu yang tersenyum menatapku, ibu mengulurkan tangannya, menyentuh dahiku, mengusap rambutku dan mengetuknya beberapa kali sembari tersenyum.


"Ayo~ bangunlah~ dan kita akan mencari~ kacang-kacangan~ serta~ buah-buahan~ sebelum para Roh lain~ mengambilnya~"


Ketukan demi ketukan mencapai dahiku, diiringi dengan nyanyian kecil yang ibu buat. Semua itu menarik kesadaran pada diriku, membawaku untuk segera bangun dan menghilangkan semua rasa kantuk yang menjalar beberapa saat lalu.


Aku segera terbangun dan memegang kedua tangan ibu, menjauhkannya dari wajahku.


"Aku mengerti, bu. Jadi berhentilah melakukannya, itu sedikit tidak nyaman."


"Wah~ tapi wajahmu mengatakan yang sebaliknya, kan? Berbohong itu tidak baik."


"Ya ampun, selalu saja memperlakukan ku seperti anak kecil ..."


"Sudah~ sudah~ ayo cepat kita keluar. Semakin cepat kita menyelesaikannya, semuanya akan semakin baik dan kita bisa kembali lagi ke sini."


"... Ya, aku mengerti."


Ibu mengusap kepalaku, kemudian berdiri dan merenggangkan tubuhnya, berjalan perlahan menuju keluar gua. Diluar masih dipenuhi kegelapan karena matahari yang belum terbit tapi pada waktu inilah kami biasa terbangun.


Karena kami tinggal di dalam pegunungan, ada cukup banyak hal yang bisa didapatkan. Terlebih pada pegunungan Ampera dimana ada cukup banyak Roh berkumpul di dalamnya, membuat Energi Spiritual yang menempati gunung cukup pekat.


Wilayah dengan Energi Spiritual yang pekat adalah tempat yang cukup nyaman bagi kami para Roh karena hanya ada sedikit manusia yang datang, lalu buah-buahan yang tumbuh di dalam juga menjadi lebih cepat dan lebih berisi.


Tentu saja ada beberapa kekurangan yang mendampinginya dengan itu tapi setidaknya kami tidak mendapatkan hal seperti itu saat ini. Membuat keseharian yang kami dapatkan di setiap harinya selalu dipenuhi dengan kedamaian.


"Baiklah, mungkin untuk hari ini kita akan mencari ubi dan singkong saja. Musim buah masih belum datang, kita biarkan buah-buah itu tumbuh lebih besar lagi sampai akhir tahun."


Setelah berkeliling di sekitar hutan, ibu berhenti dan melihat ke arah lain dan berjalan ke sana. Aku mengikuti di belakangnya.


"Hm? Aku tidak keberatan sih tapi bagaimana dengan kacangnya?"


"Kita masih bisa mendapatkannya bulan depan jadi tidak perlu terlalu terburu-buru. Setelah mengambil ubi-ubian dan singkong, kita akan meminta sedikit madu dari pada lebah lalu mencampurnya untuk makan nanti. Keika, bagaimana menurutmu?"


Setelah mendengar itu, muncul sebuah bayangan pada kepalaku. Menampilkan ubi rebus yang mengeluarkan uap, lalu menuangkannya dengan madu berwarna keemasan dan memakannya.


Memikirkan itu membuat perutku berbunyi beberapa kali, ibu tersenyum dengan tawa kecil.


"Itu terdengar hebat, ayo kita lakukan itu.


"Ya, kan? Karena itu kita harus mengumpulkan banyak singkong dan ubi. Lalu kita akan mengambil beberapa bunga matahari sebagai ganti dari madu yang para lebah berikan nanti. Saat ibu menanyakan pada mereka sebelumnya, ratu mereka bilang menginginkan bunga matahari kali ini."


"Bunga matahari, ya? Kita bisa mendapatkan itu di tebing biasanya."


"Iya, kita bisa ke sana setelah ini."


Dengan senandung yang mengiringi setiap langkah, kami berjalan diantara rumput yang menyimpan cairan embun, melewati gelapnya pagi bersama hembusan udara yang menggelitik kulit.


Pada pegunungan dimana kami tinggal, tempat yang biasa ditumbuhi oleh singkong dan ubi terletak pada kaki gunung. Itu mengharuskan kami menuruni gunung lebih dulu dan mengambilnya, ada cukup banyak diantaranya dan kami hanya mengambil beberapa.


Dengan total lima singkong dan lima ubi, itu sudah lebih dari cukup untuk lauk selama tiga hari. Ukuran yang kami dapatkan kali ini cukup besar, mungkin akan bertahan empat hari jika kami berusaha menghematnya.


Kami menaruh semua singkong dan ubi itu pada tas keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, mengangkatnya pada punggung dan bersiap untuk kembali mendaki gunung.


Dan di saat itu, aku mulai menyadari jika ada kilauan cahaya pada ujung langit timur. Cahaya mulai merambah, menampilkan rona biru pada langit dengan kepulan awan putih tebal.


"Ibu, lihat itu."


Aku menahan tangan ibu yang berjalan di depanku dan menunjuk arah cahaya itu. Ibu menoleh ke arahnya dan tersenyum lembut.


"Sudah pagi, ya? Cahaya yang dipenuhi kehangatan, pertanda baik untuk hari ini."


"Pertanda baik? Memangnya ibu bisa tahu hanya dari melihatnya?"


Ibu melepaskan tangannya yang aku pegang dan memegangnya balik, menariknya perlahan dan kami pun berjalan untuk mendaki gunung.


Karena kami sudah mengambil makanan yang dibutuhkan, sisanya adalah memetik beberapa bunga matahari untuk lebah. Itu terletak pada tebing rumput bagian utara gunung, dimana merupakan tempat favorit ibu yang aku ketahui.


Dari apa yang ibu ceritakan, tampaknya di sanalah ibu dan ayah bertemu. Keduanya saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagaimanapun, mendengar hal itu dari ibuku sendiri membuatku aneh.


Dari banyak kisah yang ibu berikan padaku, kisah itu adalah salah satu dari dua kisah dimana ibu memasukkan ayah di dalamnya. Dan untuk kisah lainnya adalah tentang sesuatu yang sulit aku percayai.


Itu berkaitan dengan—


"Kamu tahu, Keika? Ayahmu adalah Roh tingkat tinggi, sedangkan ibu adalah Roh tingkat menengah. Dari hubungan itu, kamu terlahir sebagai anak kami berdua dan memiliki sebuah potensi."


Ini dia, kisah yang selalu ibu ceritakan saat kami menghampiri tebing ini. Selagi memetik bunga matahari, aku menanyakannya.


Percakapan seperti ini sudah kami ulang berkali-kali, karena ibu akan membahas hal yang sama saat kami sampai di sini.


"Memangnya potensi apa yang aku punya?"


"Potensi untuk menjadi Roh tingkat tinggi, tentunya. Bukannya ibu sudah sering memberitahumu tentang hal itu? Apa kamu melupakannya?"


Tentu saja tidak, mana mungkin aku bisa melupakan sesuatu yang sebesar itu.


Potensi untuk menjadi Roh tingkat tinggi ... Jujur saja aku sulit mempercayainya. Dari semua kisah yang ibu ceritakan padaku, hanya satu ini saja yang tidak bisa aku percayai.


Atau lebih tepatnya, aku sangat meragukan hal itu.


Maksudku, bagaimana bisa Roh tingkat rendah sepertiku menjadi Roh tingkat tinggi? Keajaiban seperti itu tidaklah mungkin terjadi pada Roh sepertiku. Itu adalah sesuatu yang sangat wajar.


Roh tingkat rendah sepertiku yang terlahir dari Roh tingkat menengah dan Roh tingkat tinggi tidak lain hanyalah sebuah kegagalan. Karena itu, aku tidak terlalu menyukai kisah ini.


Dan karena ibu selalu menyampaikan kisah ini saat kami ada pada tebing rumput, hal itu juga mulai membuatku tidak terlalu menyukai tebing rumput ini. Satu-satunya hal yang aku pikirkan saat ada di sini hanyalah bagaimana kami cepat kembali.


"Baiklah, semuanya sudah selesai. Kalau begitu sisanya hanya perlu ke sarang para lebah."


Ibu menata tangkai bunga matahari dengan rapi pada keranjangnya. Meniru itu, aku juga melakukan hal yang sama pada tangkai di dalam keranjang ku. Lalu mengangkatnya kembali.


"Matahari sudah mulai naik, mungkin kita harus sedikit lebih cepat."


"Iya. Ibu akan memimpin, kamu tetaplah di belakang."


"Aku mengerti ... Huh?"


Saat aku mulai akan berjalan mengikuti ibu untuk memasuki hutan, terjadi sesuatu yang aneh. Burung-burung pada hutan terlihat gelisah dan beterbangan ke berbagai arah. Ibu menyadarinya juga dan mendekat padaku.


"Keika, tetaplah di samping ibu."


Ibu memegang tanganku dengan erat dan melihat pada kedalaman hutan.


Tidak lama, suara sesuatu yang keras terdengar, suara itu semakin mendekat. Sebuah bayangan muncul pada kedalaman hutan dan dalam hitungan detik, bayangan itu keluar pada pepohonan dan melihat kami. Hanya satu bayangan di sana.


"Arrkkhhh .... Arrkkkkhhh .... Arkkkhhh .... "


Bayangan dengan topeng tengkorak yang retak, tubuh hitamnya mengeluarkan asap biru. Lalu terdengar suara erangan kecil dari bayangan itu.


Aku mencoba untuk mendekatinya tapi ibu langsung menghentikan langkahku.


"Keika, jangan bergerak. Dia adalah pemakan bayangan."


"Pemakan bayangan, tapi ibu ... Dia sepertinya sedang terluka."


Roh itu terlihat gelisah, melihat ke berbagai arah dan pandangannya terkunci pada kami sekali lagi, dia mengamati kami. Aku tidak terlalu yakin tapi pemakan bayangan itu terlihat ketakutan.


Saat keheningan mulai memenuhi celah diantara kami, pemakan bayangan itu akhirnya berbicara pada kami untuk pertama kalinya.


"Kalian berdua, jadilah umpan untukku dan pancing puteri bulan sialan itu."


Aku yang tidak memahami arti dari apa yang Roh hitam itu katakan, mengulanginya.


"Puteri bulan?"