ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.16 : IKATAN YANG DIPERLUKAN



"Menjadi bawahan ku? Apa aku boleh meminta alasannya?"


Ulang ku, menatap pada Keika yang menundukkan kepalanya. Gadis bertelinga kelinci itu segera mengangkat wajahnya, menatap padaku dan langsung mengatakannya.


"Aciel ... Meskipun kau manusia, kau sangatlah kuat dan hal itu membuatku yakin jika dengan menjadi bawahanmu, aku bisa menjadi lebih kuat juga selagi aku membantumu dan kau melindungiku."


Keika memunculkan senyuman halus pada wajahnya yang bersinar. Sebelum aku bisa menanggapinya, dia melanjutkan.


"Tapi alasan terbesar tentang mengapa aku ingin menjadi bawahanmu adalah karena kau yang tidak ragu sama sekali untuk menolong seorang Roh rendahan sepertiku, lalu tatapan yang kau berikan saat melihat kami para Roh ... Aciel, hal itu membuatku ingin menjadi bawahanmu, tumbuh bersamamu dan mengawasimu."


Keika menundukkan wajahnya sekali lagi. Suaranya menguat dengan sedikit getaran yang membawa rasa cemas dan kegugupan.


"Karena itulah, apa kau mau menjadikan diriku sebagai bawahanmu? Aku pasti akan berguna dan setiap perintah yang kau berikan pun akan aku kabulkan tanpa menanyakannya."


Lemah, ya? Jujur saja, aku sama sekali tidak melihat Keika seperti itu, bahkan sejak pertama kali kami bertemu sebelumnya. Dan melihat dirinya yang mampu melawan balik kedua Roh yang mengganggunya itu, aku tahu betul jika Keika adalah tipe Roh yang akan terus berkembang.


Tidak ada satupun kebohongan ataupun siasat dibalik tatapan serta ucapan yang dia berikan. Dia benar-benar mengatakan apa yang dia inginkan, dengan lurus dan berterus terang.


Setelah melihat semua ini, mana mungkin aku akan menilainya sebagai Roh yang lemah, kan? Itu berlaku sebaliknya, aku hanya bisa memandangnya sebagai Roh yang kuat. Dan untuk Roh kuat sepertinya ingin menjadi bawahan ku sudah membuatku cukup senang


Tapi—


"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya."


—Untuk Roh kuat sepertinya, menjadi bawahan dari orang yang lemah sepertiku hanya akan menjadi penghambat perkembangannya. Aku sama sekali bukan manusia yang kuat.


Ada sangat banyak hal yang kurang dariku, karena itu aku tidak bisa menerimanya. Terlebih, aku sama sekali tidak berniat untuk menjadikan para Roh sebagai bawahan ku. Itu memang sesuatu yang ibu lakukan tapi aku akan mengambil jalan berbeda.


"Huh?"


Menaikkan alisnya, air mata keluar pada ujung matanya. Lalu pada bibirnya yang bergetar, Keika mencoba sekeras mungkin untuk menekan emosi yang dia rasakan. Dia menggenggam bajunya serapat mungkin dengan tangan kecilnya yang gemetar, mencari sesuatu untuk dikatakan.


"A-Apa karena aku lemah? Apa karena aku tidak akan berguna untukmu? Aku akan berlatih untuk itu, aku akan belajar untuk itu jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya ... Karena, aku yakin akan bisa melakukannya jika ada di bawahmu ... Kenapa? Beritahu aku alasannya."


Baiklah, bagaimana aku harus menjawabnya, ya? Aku tidak pernah dihadapkan pada situasi seperti ini sebelumnya karena kebanyakan para Roh yang bertemu denganku selalu memandang rendah. Untuk Roh yang mau menjadi bawahan ku, ini cukup membuatku resah untuk mencari jawabannya.


Aku harus menjawabnya dengan sejelas mungkin. Itulah hal yang bisa aku lakukan saat ini untuk menjawab perasaannya itu.


"Alasan, ya? Aku memiliki beberapa untuk itu."


Aku mengulurkan tanganku, mencapai rambut abu-abu berkilau yang Keika miliki, hal itu membuatnya terkejut dan tubuhnya sedikit tersentak. Dengan tanganku, aku mengusap rambutnya perlahan-lahan selagi memikirkan apa yang harus aku katakan.


Dan disaat itu, sekelebat inspirasi mendatangiku. Aku segera menatanya dengan baik dan mempersiapkannya dalam hitungan detik.


"Untuk yang pertama, aku tidak memerlukan adanya bawahan. Aku tidak ingin terikat dengan sesuatu seperti itu, membuat Roh menjadi bawahan itu juga berarti menanggung beban yang mereka miliki. Setidaknya diriku yang sekarang masih belum bisa menanggung sesuatu sebesar itu. Terlebih—"


Aku menurunkan tanganku menuju pipi Keika, mengusapnya dan menariknya. Gadis kelinci itu segera menutup matanya.


"Ah, itu sakit."


Reaksinya membuatku tanpa sengaja mengeluarkan senyum lain dan terkikik.


"Terlebih, daripada hubungan antara tuan dan bawahan, aku akan lebih senang hubungan pertemanan diantara kita. Bagaimana dengan itu?"


"Pertemanan? Manusia dan Roh?"


"Ya, apa kau keberatan dengan itu?"


"Nah, harusnya akulah yang mengatakan itu. Keika, apa kau ingin berteman denganku?"


Kehangatan matahari menghujani kami, membawa hembusan angin sejuk yang membuat rambut kami saling bergerak berlawanan, menyentuh satu sama lain, menampakkan satu pandangan jelas akan wajah yang kami miliki.


Suasana ini ... Kurasa aku sedikit curang.


Dengan suasana ini, mana mungkin Keika bisa menolaknya, kan?


"Ya, aku mau. Tolong bertemanlah denganku."


Sungguh, memang benar-benar curang.


Memang cukup membutuhkan waktu, tapi akhirnya kami berteman. Setelah itu, aku meminta Keika untuk menceritakan beberapa hal selagi kami bermain untuk mengisi waktu dan waktu berlalu cepat, menampakkan langit berwarna merah kekuningan.


Untuk berjaga-jaga, aku mengambil jam pada tas dan mengeceknya lalu berbicara pada Keika yang duduk di sampingku selagi melihat pemandangan hutan dan pegunungan yang ada di balik tebing.


"Hanya tersisa setengah jam sampai aku bisa kembali ke penginapan. Keika, kurasa aku akan kembali dan untuk beberapa waktu ini, tampaknya aku tidak bisa bermain kesini lagi."


"Oh, Aciel bilang jika kau ada di sini bersama banyak anak manusia lain itu karena kunjungan yang kalian lakukan ke gunung ini, kan? Kapan kau akan kembali lagi ke sini?"


"Aku tidak tahu tapi kurasa aku akan mampir kesini beberapa kali dalam satu tahun setelah ini. Mungkin aku tidak bisa terlalu sering datang karena jaraknya yang cukup berjauhan."


Keika memalingkan wajahnya padaku dan memiringkan kepalanya.


"Beberapa kali setahun? Itu cukup banyak."


Oh, dalam persepsi mereka satu tahun tidak terlalu berbeda dengan satu hari. Jadi jika aku pikir lagi, itu memang cukup banyak.


"Ya, apa kau keberatan dengan itu?"


"Tidak, aku cukup senang. Datanglah ke hutan ini lagi, di kunjunganmu selanjutnya aku mungkin sudah menjadi Roh kelinci yang agung dengan tiga tanduk dan empat telinga, bersama corak awan pada buluku."


"Itu cukup keren, aku menantikannya."


"Ya!! Mungkin akan memakan waktu ratusan tahun tapi kurasa itu bukanlah sebuah masalah. Aku pasti akan menunjukkannya padamu."


"Eh? Ah ... Yah, aku sangat menantikan itu? Ya, aku sangat menantikannya."


Ratusan tahun? Itu sedikit lama dari apa yang aku perkirakan. Yah, mungkin aku bisa hidup untuk seratus tahun? Itu bukan hal yang mustahil.


Aku juga sempat membaca beberapa artikel yang menyebutkan tentang manusia dengan usia hingga dua atau bahkan tiga ratus tahun. Seratus tahun bukanlah sesuatu yang sulit dicapai.


"Baiklah, Keika. Aku akan pergi dulu, sampai jumpa."


"Ya, aku menantikan kedatangan mu lagi."


Begitulah, aku pun pergi selagi melambaikan tangannya, dengan gadis bertelinga kelinci itu yang membalas lambaian tanganku dua kali lipat. Butuh waktu lama untuk berbicara dengannya tapi aku yakin itu bukanlah sesuatu yang buruk.


Terlebih, aku juga sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan. Yang tersisa hanyalah kembali menuju penginapan, bertemu Ella dan Mona lalu mengumpulkan tugas pengamatan.


Meskipun, perjalanan ini memang cukup melelahkan untuk sebuah liburan.


"Yah, apapun itu semuanya sudah selesai. Yang tersisa hanyalah menunggu Master kembali dari pesta besar yang dia hadiri."