ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.6 : SEBUAH PERMINTAAN



Setelah beberapa kejadian yang membuatku salah paham itu, para Roh yeng menculik ku sebelumnya segera menundukkan kepala mereka pada rumput dan meminta maaf padaku. Melihat permintaan maaf tulus itu, hatiku yang lembut ini pun luluh dan memaafkan mereka.


Dua Roh yang sebelumnya juga langsung membuka semua ikatan pada tubuhku dan melepas gumpalan kain busuk pada mulutku, lalu mereka mengubah wujud mereka dari gumpalan hitam, menjadi wujud lain yang sangat berbeda.


Roh pertama memiliki wujud layaknya seekor rakun dengan tubuh yang cukup besar menyaingi bapak-bapak 40 tahunan bersama perut buncitnya yang tertutupi bulu belang berwarna oren dan hitam.


Terdapat aura orang tua yang mengelilinginya dengan suaranya yang cukup bermartabat. Rakun tua ini memiliki nama Rune, dia pemimpin dari gerombolan Roh lemah yang ada di sekitarku saat ini.


Lalu untuk Roh yang satunya, memiliki wujud seekor merpati bertubuh manusia yang tertutupi bulu berwarna putih berkilau amat bersih, tanpa adanya sedikitpun noda yang menempel.


Roh merpati ini memiliki nama Wasa, merupakan tangan kanan Rune, bertugas untuk membantunya dalam berbagai hal.


Keduanya adalah perwakilan dari sebuah perkumpulan para Roh lemah yang menempati hutan di sekitar bagian barat kaki gunung. Meskipun aku sangat ingin menanyakan beberapa hal tentang bagaimana bisa para Roh membentuk sebuah perkumpulan, aku memilih untuk menahannya dan membahas hal yang lebih penting.


"Sebelum kita memulai pembahasan tentang permintaan dan yang lainnya, aku ingin menanyakan dua hal pada kalian sebagai perwakilan."


Aku mengangkat tanganku, kemudian mengeluarkan dua jari, menunjuk pada dua Roh yang duduk di depanku, dengan sebuah barisan yang terdiri dari belasan Roh lainnya di belakang mereka. Masing-masing Roh memiliki bentuk yang sangat bervariasi.


Sebagai manusia aku tidak terlalu nyaman saat dilihat oleh banyak Roh sekaligus, entah kenapa ini membuatku sedikit gugup. Mungkin ini hanya instingku sebagai seorang mahluk hidup.


Aku harus menenangkan diri.


Dengan satu tarikan napas untuk memberanikan diri, aku menurunkan satu jari.


"Kenapa kalian meminta bantuan dariku? Dari sudut pandang milikku, apa yang kalian lakukan saat ini sangatlah aneh dan membuatku ragu. Apakah kalian tahu alasannya?"


"Tentu saja. Alasannya adalah karena kami yang merupakan seorang Roh, meminta bantuan pada anda, yang merupakan anak manusia. Pastinya tindakan kami saat ini memang tampak sedikit mencurigakan, saya mengakui itu."


Rune mengangguk pelan, dengan matanya yang menatap lurus ke arahku.


"Bukan sedikit, tapi sangat mencurigakan. Meskipun begitu, aku senang jika kalian sudah memahaminya dengan baik. Kalau begitu, apakah kalian bisa menjawab pertanyaanku? Kenapa kalian meminta bantuan dariku, yang merupakan seorang anak manusia?"


Rune menoleh pada Roh merpati di sampingnya dan mengangguk pelan, Wasa pun membalasnya dengan anggukan tegas, kemudian menghadap ke arahku dan mengangkat suaranya.


"Pada sebuah malam empat hari lalu, saat saya sedang terbang untuk mengelilingi gunung, saya sempat melihat anda yang menaiki Roh Tingkat Tinggi berwujud Harimau. Karena rasa penasaran, saya pun memutuskan untuk mengikuti anda dari belakang."


"Empat hari lalu? Ah, aku memang mengelilingi gunung saat itu untuk mencari sesuatu. Lalu?"


"Ya, pada akhirnya untuk menghindari keberadaan saya yang disadari, saya mengawasi dari jarak jauh. Saya melihat beberapa hal yang terjadi pada anda malam itu tapi akhirnya anda pergi dari gunung selagi membawa dua Roh Tingkat Tinggi bersama anda."


Dua Roh Tingkat Tinggi, Ebi dan Master, ya? Keduanya sama sekali tidak menyadari jika mereka diikuti oleh seekor merpati? Mungkin ini akan menjadi bahan yang tepat untuk meledek mereka.


"Lalu, bagaimana kau bisa sampai mengetahui namaku? Kau tentunya tidak mengikuti sampai ke tempat dimana aku tinggal, kan?"


Merpati itu terbatuk pelan dan melanjutkan.


"Karena itulah saya terus mengawasi anda dan menunggu waktu yang tepat untuk mendekat, lalu celah itu pun akhirnya terbuka saat anda berada di sekolah. Dari sanalah saya bisa mengetahui nama anda."


Di sekolah, ya? Master memang tidak menemaniku saat aku berada di lingkungan sekolah sih. Lagian mana mungkin aku akan membawa seekor kucing ke sekolah, kan? Itu memalukan.


Aku mengangguk paham atas penjelasan Wasa.


"Aku mengerti. Jadi kalian memutuskan untuk meminta bantuan dariku karena kalian mengira jika aku adalah tuan dari dua Roh Tingkat Tinggi itu, ya? Yah, itu memang tidak terlalu salah sih. Jadi, bantuan seperti apa yang kalian inginkan dariku?"


"Baru-baru ini ada seorang pembasmi Roh yang mengacau di sekitar hutan bagian barat yang merupakan tempat tinggal kami. Tapi daripada memusnahkan, manusia itu tampak seperti sedang memamerkan kekuatannya. Kami ingin anda selaku seorang manusia untuk mengusir ataupun membasminya, itu juga salah satu alasan mengapa kami meminta bantuan kepada anda, yang merupakan seorang anak manusia." balas Rune, memasang ekspresi tegas.


"Seorang pembasmi Roh yang memamerkan kekuatannya? Memangnya apa saja yang dia lakukan? Tidak, sebelum itu ceritakan sedikit tentangnya. Apa dia tinggal di dekat sini?"


"Ya, dia tinggal pada sebuah kuil yang berbatasan dengan hutan. Sepertinya dia menjadi seorang kepala kuil di sana, pembasmi Roh itu cukup sering melakukan banyak hal seperti menyiramkan air suci ataupun memasang kertas jimat sebagai perangkap untuk mengusir kami yang berkumpul di dalam hutan. Padahal kami hanya ingin hidup tenang dan sama sekali tidak berniat untuk mengganggunya."


"Aku mengerti, tunggu sebentar."


Seorang pembasmi Roh yang melakukan pengusiran pada hutan di sekitar kuil tempat tinggalnya, ya? Itu hal yang cukup wajar sih, dia mungkin hanya ingin menjauhkan bahaya-bahaya yang tidak diinginkan untuk tidak mendekati kuil.


Tapi tentunya hal itu tidak akan bisa dipahami oleh para Roh ini karena bagi mereka itu tampak seperti mereka yang tiba-tiba di usir dari tempat yang sudah lama mereka tinggali.


Mungkin aku bisa mengambil jalan tengah untuk menyelesaikannya.


"Untuk memusnahkan ataupun mengusirnya, aku tidak akan melakukan keduanya tapi aku akan berusaha untuk berbicara dengan si pemilik kuil itu. Aku akan memintanya agar dia tidak melakukan pengusiran Roh lagi dan tidak mengganggu kalian. Bagaimana dengan itu? Apakah sudah cukup?"


"Ya, selama pembasmi Roh itu tidak melakukan pengusiran lagi maka semua itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Tapi pertama-tama apakah saya bisa bertanya alasan mengapa anda tidak mau memusnahkan ataupun mengusirnya?"


"Jawabannya sangat sederhana. Tidak sama seperti kalian para Roh yang bisa bebas saling mengusir ataupun memusnahkan, kami para manusia memiliki aturan yang cukup ketat tentang itu. Akan ada banyak hal merepotkan yang datang jika kami melanggar setiap peraturan yang ada."


"Begitu rupanya, saya mengerti. Kalau begitu apakah saya bisa menyerahkan pada anda untuk pembicaraan dengan pembasmi Roh itu?"


"Ya. Itu tugas yang mudah jadi kalian bisa menyerahkannya padaku."


Aku bisa mendengar helaan napas lega dari setiap Roh yang ada di sini. Tapi apa yang ingin aku katakan masih belum selesai.


"Kalau begitu aku akan menanyakan pertanyaan kedua sekarang. Apa yang akan aku dapatkan sebagai ganti dari bantuan yang aku berikan?"


Dan begitulah, setiap Roh yang ada di depanku memasang raut wajah yang kebingungan. Sepertinya mereka tidak menduga hal ini. Yah, aku sudah menduganya sih.


Apa mereka tidak memiliki tradisi yang mengajarkan prinsip give and take, ya? Mungkin aku akan mengambil peran untuk mengajari mereka beberapa hal tentang itu.