ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 5.10 : JEMPUTAN MENDADAK



Baik cepat ataupun lambat, waktu telah berlalu dan dengan tanda rona langit yang mulai berubah, bel sekolah berbunyi sebagai penanda berakhirnya jam sekolah untuk hari ini.


Aku segera membereskan semua barang-barang pada tas dan berjalan keluar. Tidak butuh waktu lama sampai aku keluar dari gerbang sekolah. Dan yang menyambut diriku di sana adalah seekor kucing hitam yang melompat pada bahuku.


Selagi berjalan cepat, aku mengangkat suara dengan pelan.


"Master, bukannya aku sudah bilang berkali-kali untuk tidak melompat ke bahuku saat ada di keramaian? Lihat, ada banyak orang yang melihatku. Aku akan dianggap sebagai anak yang lebih aneh nanti."


Terhadap keluhan yang aku berikan, kucing hitam itu hanya mendengus dan benar-benar mengabaikannya, dia malah menjilati ekornya.


Melihatnya seperti ini benar-benar membuatku kesal. Tidak ada satu saat pun dimana aku bisa terbiasa dengan tingkahnya, mungkin di masa depan hal seperti ini juga masih mempengaruhiku.


"Memangnya kenapa jika mereka hanya melihatmu? Dan juga kau sudah dianggap sebagai anak aneh dari awal, itu tidak akan mempengaruhi apapun meskipun mereka menganggap dirimu lebih aneh."


Sedikit rasa sakit menusuk dadaku setelah mendengar kalimat Master, tapi di saat yang sama aku juga tidak bisa menyangkalnya karena pemikiran yang aku punya juga menyimpulkan hal sama.


Aku mencoba memikirkan hal lain untuk mengarahkan pembicaraan pada jalan yang lebih baik bagi diriku dan langsung menemukannya.


"Itu benar sih tapi intinya di sini adalah aku yang memintamu untuk tidak melompat ke bahuku begitu saja saat di tengah keramaian. Master, apa kau mengerti poin yang aku sebutkan ini?"


Meskipun aku sudah mengatakan sebanyak ini, kucing hitam di bahuku hanya menggerakkan telinganya seolah mengusir lalat yang mengganggu.


"Hmm ... Maaf, aku tidak mengerti. Mungkin aku bisa mencoba untuk mengerti jika kau membelikan satu atau dua Bakpao daging setelah ini."


"Kau benar-benar tidak berniat untuk mempertimbangkan hal itu, ya? Aku paham, tidak akan ada Bakpao daging tiga hari ke depan. Kau hanya boleh memakan makanan kaleng."


Master langsung melompat pada wajahku, menempelkan dahi kucingnya pada hidungku. Dia menggunakan dua kaki depannya untuk menekan pipiku.


"Huh?! Jangan bercanda, bocah bodoh!! Lalu untuk apa aku menjemputmu saat pulang sekolah?! Cepat belikan Bakpao daging sekarang!!"


Aku mencoba untuk melawan tapi tubuhnya benar-benar menempel pada wajahku.


"Mana aku tahu!! Jangan mengatakan sesuatu yang sangat egois seperti itu!! Pergilah! Aku tidak akan membelikan Bakpao untuk sementara. Sebagai gantinya, pikirkan baik-baik yang aku katakan sebelumnya!"


"Ah, sudah cukup!! Aku akan pergi kalau begitu!!"


Master melepaskan pegangannya, melompat pada tanah dan berjalan menjauh dengan cepat. Tidak lama sampai kucing itu menghilang.


"Ya ampun, kucing penjagaku memang merepotkan."


"Apa kau mengatakan sesuatu tentang kucing?"


"Hwah—!!'


Tiba-tiba, sebuah suara datang tepat di samping telingaku, membuatku melompat terkejut dan melihat ke arahnya.


"Hm?"


Setelah menyadari siapa itu, aku mengambil dua langkah ke belakang dan memasang tatapan waspada. Orang itu pun hanya menanggapinya dengan senyuman santai dan mengangkat bahunya.


"Kak Ren? Apa yang kau lakukan di sini?"


Dengan kaus santai dan celana pendek, pria pirang dengan wajah santainya ada di depanku. Bersama gadis yang memakai pakaian pelayan di belakangnya, memasang ekspresi kaku.


Tentu saja, aku sudah mengetahui jika identitas gadis pelayan itu adalah Roh.


Pria pirang di depanku memegang perutnya yang bergetar dan tertawa sendiri tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Aku menatapnya selagi memikirkan beberapa kemungkinan.


Tentu saja, aku tidak akan percaya begitu mudah dengan alasan memutar arah. Pria ini entah bagaimana tahu di mana aku bersekolah, dia pasti sudah melakukan beberapa penyelidikan.


Inilah yang membuat Manusia merepotkan, kurasa keputusanku sudah bulat. Aku mengepalkan tanganku dan melangkah lebih dekat, lalu membuka mulutku dengan suara yang kuat.


"Kak Ren, tentang tawaran asisten yang sebelumnya. Setelah memikirkan semuanya baik-baik, aku akan menolak penawaran itu. Maaf karena sudah membuatmu menunggu cukup lama."


Aku menundukkan sedikit kepalaku padanya. Lalu Kak Ren mendekat padaku.


"Yah, apa boleh buat jika kau menolaknya. Lagipula itu hanyalah sekedar penawaran, aku tidak berniat memaksamu untuk melakukannya. Daripada itu, karena kita sudah kebetulan bertemu, aku jadi ingin membahas beberapa hal bersamamu."


"Kebetulan, ya? Itu terlihat tidak terlalu alami jika kau sudah tahu apa yang akan kau bicarakan meskipun kita bertemu secara kebetulan. Yah, tentu saja itu akan terjadi, kan? Lagipula kau juga sudah merencanakan ini."


"Eh? Apa yang kau bicarakan?"


Kami berdua tertawa kecil, aku pun menajamkan pandanganku padanya. Meskipun tersenyum, apa yang aku rasakan saat ini benar-benar berlawanan dan Kak Ren tentunya memahami itu.


"Kak Ren, aku tidak akan melakukan apapun saat ini karena kau sudah terlanjur mengetahuinya tapi ini terasa sedikit menyebalkan jika kau menyelidiki tentangku. Terlebih sampai menjemputku setelah pulang sekolah seperti ini. Tidak sama seperti pelukis, anak sekolahan memiliki banyak kegiatan."


Aku memang cukup senang bertemu dengan seseorang yang bisa melihat para Roh sama sepertiku tapi itu tidak berarti aku mempercayai mereka. Lagipula manusia tetaplah manusia, aku harus tetap waspada saat ada di dekat mereka.


Tapi bagaimana orang ini melakukannya? Jika dia melakukan penyelidikan tentangku, master harusnya menyadarinya ... Tidak, Master akan menyadarinya jika mereka menggunakan metode para Roh.


Kalau begitu orang ini menggunakan metode manusia, ya? Menyelidiki secara normal dan hal itu tidak disadari oleh pengawasan Master. Yah, tidak perlu memikirkan tentang sesuatu yang sudah terjadi.


"Maafkan aku, bagaimanapun aku hanya merasa sedikit penasaran. Meskipun begitu selain lokasi rumah dan sekolah, aku tidak tahu apapun. Setidaknya kau bisa mempercayaiku tentang itu."


"Yah, aku sudah tidak terlalu mempermasalahkannya. Kesampingkan itu, apa yang ingin kau bicarakan? Lebih cepat maka lebih baik."


Aku juga harus mencari Master setelah ini.


"Hmm ... Aku tidak keberatan untuk membicarakannya di sini tapi ... Bukankah lebih baik jika kita mencari tempat yang lebih layak?"


Mengikuti pandangan kak Ren, aku melihat sekeliling dan sudah ada beberapa orang yang melihat kami. Bagaimanapun kami sedang ada di tengah jalan dan hal itu tentunya mengganggu pejalan lain. Tidak ada pilihan selain pindah dari sini.


Aku menunjuk ke arah lain.


"Kalau begitu ada kafe kecil yang cukup nyaman dekat sini, bagaimana jika aku mendengarkannya di sana? Kau tidak keberatan, kan?"


"Tentu saja, kita bisa membicarakannya dengan santai jika ada di sana."


Tanpa membicarakan banyak hal lagi, kami segera berjalan berdampingan menuju Kafe yang aku maksud. Meski begitu, masih ada beberapa keraguan dalam diriku sekarang.


Ini tentang gadis Roh berbaju pelayan itu, dia masih belum mengatakan apapun sejak tadi dan hanya mengawasi kami berdua. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dengan tatapan datar pada wajah cantik yang dia punya.


Dia juga sedikit diam saat kami bertemu terakhir kali. Satu-satunya momen dimana wajahnya menampilkan ekspresi berbeda adalah saat aku menghina tuannya, selain itu wajahnya terlihat sama.


Setelah melihat Roh yang sangat egois seperti Master, apa yang aku rasakan saat tahu jika Roh pendiam dan sangat setia sepertinya ada membuatku iri dengan Kak Ren.


Meskipun hanya sedikit sih.