
Sama seperti sebelumnya, hari ini aku juga menghabiskan waktu sepulang sekolah untuk latihan bersama Master. Meskipun aku menyebutnya latihan, apa yang aku lakukan hanyalah menahan semua Aliran Energi yang Master tumpahkan padaku.
Ini sama seperti menahan nafsu membunuh dan mempertahankan ketenangan ku, jika aku menyamakannya dengan kartun atau film. Setiap Roh memiliki aura yang melapisi tubuh mereka dan itu bisa digunakan untuk menyerang kesadaran jika jumlah yang diberikan cukup besar.
Dan jumlah yang diberikan Roh tingkat tinggi seperti Master tentunya sangatlah besar. Untungnya karena aku juga memiliki kapasitas Energi cukup besar pada tubuhku, entah bagaimana aku bisa menahannya meskipun itu membuatku mual dan kepalaku juga sakit.
Latihan yang cukup berat.
"Ugwahhh—!!"
Waktu istirahat yang telah lama ditunggu akhirnya datang setelah menjalani latihan sparta selama satu jam, aku terbaring lemah pada dataran rumput berwarna kekuningan yang harum.
Master merubah wujudnya menjadi kucing dan berbaring di sampingku, menjilati telapak kakinya selagi menggerakkan telinganya.
"Ini hari kedua kita melakukan latihan dan kau sudah bisa menahan cukup banyak Energi yang aku berikan. Setidaknya kemampuanmu untuk beradaptasi ada di atas rata-rata, tidak buruk."
"Yah, aku bertahan mati-matian di sini jadi pujian itu tidak terasa terlalu mulus bagiku. Kepalaku pusing, perutku mual, telingaku berdengung dan lidahku terasa pahit, aku membutuhkan banyak asupan glukosa untuk memulihkan stamina tubuh."
Aku mengambil permen dan botol minuman, lalu Bakpao daging dan melemparkannya pada Master yang langsung menangkapnya dengan ekornya.
Kehidupan langsung menyuburkan tubuhku kembali saat aliran jus tomat masuk ke dalam tubuhku, ditambah permen manis yang aku makan, seolah mendapatkan sensasi dimana otakku dipijat.
Sensasi yang sangat hebat. Ini seperti perasaan saat seorang pegawai kantor baru saja pulang ke rumah dan merendam dirinya di bak mandi berisi air panas dengan arak di tangan kanannya.
Atau mungkin seperti itu? Aku tidak tahu, lagipula aku melihatnya di televisi kemarin.
"Master, sampai kapan aku akan melakukan latihan adu ketahanan ini?"
Master masih memakan bakpao dagingnya dan menelan sekuanya sekaligus bersama mulutnya, sedikit bersendawa dan menjawab ku.
"Kita akan terus melakukannya sampai tubuhmu terbiasa dan sama sekali tidak terpengaruh dengan Energi yang sudah aku kirimkan. Saat ini aku hanya mengirim lima puluh persennya, setidaknya kau harus bisa menahan sebanyak itu jika ingin menyelesaikan latihan ini."
Lima puluh persen ...
"Jadi jumlah total dari Energi yang Master kirimkan selama ini hanya lima puluh persen, ya? Setelah mengatakan padaku untuk melakukan latihan dengan serius sebelumnya, bukankah Master yang tidak ser—Aduh!! Kenapa kau menampar pipiku dengan ekor?!"
"Itu karena kau mengatakan hal bodoh lagi dengan mulut bodoh mu. Coba pikirkan lagi dengan otak bodoh itu, bagaimana jika aku mengirimkan semua Energiku begitu saja padamu? Kau yang saat ini sudah sangat kelelahan karena menahan setengahnya, apa yang akan terjadi jika menerima semuanya?"
Beberapa gambaran dimana tubuhku meledak atau mengalami pendarahan internal memasuki pikiranku dalam sesaat, aku segera menggelengkan kepala untuk menghilangkan semua hal menakutkan itu.
"Mungkin aku akan langsung pingsan?"
Master mendengus mendengarnya.
"Salah satu dari gambaran yang ada di kepalamu sebelumnya adalah sebuah kebenaran. Itu benar-benar akan terjadi jika aku melakukannya."
Huh? Salah satu gambaran yang ada di kepalaku? Antara tubuh yang meledak dengan pendarahan internal, salah satunya akan benar-benar terjadi jika Master mengirimkan semua Energinya?
Tidak, tidak. Mungkin kucing ini hanya menjahiliku dengan mengatakan banyak hal menakutkan seperti itu. Aku tidak perlu masuk ke dalam perangkapnya dan menjadi panik karenanya.
Baiklah, aku harus menenangkan diri.
"Begitukah? Itu cukup menakutkan."
"Hm?"
Saat itu Master langsung melihat ke arah lain, dimana semak-semak berada. Telinganya bergerak beberapa kali dengan matanya yang tidak berkedip. Hidungnya berkedut, ekornya menjadi lurus ke atas.
Master merespon sebuah keberadaan.
"Apa ada sesuatu di semak-semak itu?"
"Ya, itu Roh. Dia sudah ada di sekitar dan berkeliling selama beberapa waktu ini jadi aku membiarkannya tapi tampaknya dia mulai mengawasi, dia melihat ke arah kita saat ini."
"Apa semuanya baik-baik saja?"
Dan saat Master mengatakan itu, suara gesekan datang dari dari semak-semak itu.
Grrskk—!! Grrsskk!!
Sesuatu keluar dari sana.
Dengan kaki ramping yang sangat panjang berwarna kecoklatan, tampak seperti sebuah ranting yang memiliki gerigi di bagian belakangnya. Lalu empat tangan yang menempel pada bahu menggantungnya, memiliki tampilan yang sama seperti kaki dengan empat jari yang menyerupai sebuah sabit.
Tubuhnya yang sangat ramping, memiliki ukuran tiga kali lipat dari kakinya, terdapat sebuah corak berwarna kehijauan menyerupai tato ular yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
Lalu bagian yang paling mencolok, yaitu kepalanya yang sama persis seperti belalang sembah. Antena pada kepalanya bergerak-gerak selagi dia melangkah untuk mendekat pada kami.
Master memposisikan dirinya di depanku.
Roh belalang dengan tinggi tiga meter itu berhenti di depan kami dan menatap, memalingkan wajahnya antara diriku dengan Master. Dia melakukannya beberapa kali sebelum melipat tangannya pada dada.
"Salam kenal, saya adalah Beida. Itu adalah nama kelompok dari Roh yang memiliki tampilan sama seperti saya. Anda tidak perlu mengingatnya, karena itu bukanlah nama saya. Meskipun begitu jika anda berniat memanggil saya, silahkan gunakan panggilan itu."
Roh belalang yang menyebut dirinya Beida sedikit membungkukkan kepalanya pada kami, dengan postur tubuhnya yang sedikit menunduk.
Oh, tipe Roh yang memiliki tata krama, ya? Suaranya yang seperti pria jantan dan gerakan elegan miliknya itu, entah kenapa cukup keren.
Disaat aku mulai mengagumi Roh bernama Beida ini, Master mengangkat suaranya.
"Apa yang kau inginkan dengan mengawasi dan mendekati kami?"
"Tidak, saya hanya kebetulan berkeliling di sekitar gunung serta hutan ini dan kegiatan yang anda lakukan menarik minat saya. Karena itu saya memutuskan untuk melihat sedikit tapi disaat itu, saya mencium aroma yang cukup aneh, sekaligus merasa familiar dengannya."
Beida duduk pada dataran rumput dan kepalanya bergeser ke arahku. Bagaimanapun kau memikirkannya, dia sedang melihatku.
Melihat wajah belalangnya berkedut dengan antenanya yang tidak pernah berhenti bergerak, ditambah mulutnya yang terus saja mengeluarkan beberapa busa membuatku cukup gelisah tentang apa yang sebenarnya Roh ini pikirkan sekarang.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menanyakannya.
"Apa ada sesuatu?"
"Jika dilihat baik-baik, struktur wajah dan bau ini. Tidak salah lagi, apa anda adalah Nona Anella?"
Hm? Belalang ini mengenal ibu?
"Tapi beberapa bagian ada sedikit perbedaan, seperti struktur wajah dan rambut hitam itu, lalu suaranya juga. Nona Anella, apakah anda meminta para Kyn hina itu untuk mengganti gender anda? Meskipun begitu, aura anda juga sedikit melunak."
"Ah, tidak, Anella adalah nama ibuku. Aku keturunannya, namaku Aciel Luciel."
Antena belalang itu sedikit terhenti saat aku menyebutkan namaku.
"Oh? Maafkan saya. Para Roh sedikit tidak peka terhadap perubahan. Begitu ya ... Jadi anda keturunan Nona Anella. Tuan Aciel, apakah saya boleh menanyakan bagaimana kabar ibu anda?"
"Ibuku sudah meninggal."
Belalang itu sedikit tersentak saat mendengarnya, lalu postur tubuhnya sedikit melemas. Itu seolah dia benar-benar syok mendengarnya.
"Begitu rupanya, sangat disayangkan. Saya berniat datang kesini dan mencarinya untuk menyelesaikan perjanjian yang kami buat beberapa tahun lalu tapi sepertinya saya datang terlalu lama."
Suaranya melemah, kurasa dia benar-benar merasa sedih. Tapi ada hal yang lebih menarik minatku daripada itu.
"Perjanjian? Kau bilang perjanjian, kan? Apa ibuku menjanjikan sesuatu padamu?"
Itu seperti yang Master sampaikan sebelumnya, aku harus memastikannya.
"Eh? Ah, ya. Ini adalah perjanjian dua pihak. Nona Anella berjanji untuk membantu saya mencari sarang dari Huflu dan saya juga berjanji padanya untuk memberikan sebagian madunya."
"Huh? Huflu? Apa itu?"