
Pemandangan pada mataku berubah, meskipun area yang aku lihat masih ada di tempat yang sama.
Ini memanglah tempat yang sama, terletak di depan kuil. Hanya saja pemandangan yang ditampilkan sudah sangat berbeda.
Berapa lama waktu telah berlalu sejak peristiwa kebakaran sebelumnya?
Lentera dimana Nebi disegel masih ada di tempat yang sama, hanya ditumbuhi sedikit lumut, dengan pemandangan kuil raksasa yang hancur di belakangnya. Lalu ada seseorang dengan topeng rubah yang memakai pakaian tradisional mewah berdiri pada Lentera batu itu dan mengulurkan tangan ke arahnya.
Ngomong-ngomong siapa pria ini? Dia memiliki aura yang cukup kuat.
Cahaya berwarna keemasan muncul dari telapak tangan pria itu, kemudian sedikit asap pun muncul dari Lentera batu. Aku bisa melihat bayangan dari beberapa rantai berwarna merah yang terlepas.
"Bahkan dengan kekuatan maksimal yang aku kerahkan, hanya mampu merusak beberapa rantai saja, ya? Para manusia memang sangat hebat jika berada pada bidang untuk menciptakan sesuatu. Meskipun mereka sangat buruk dalam hal merawat."
Pria bertopeng dengan pakaian mewah itu sedikit terkikik dan duduk pada rumput, mensejajarkan wajahnya dengan Lentera batu.
"Nebi, apa kau bisa mendengarku? Aku sudah sedikit mengurangi tekanan yang diberikan oleh segel ini, setidaknya kau bisa mengeluarkan suaramu sekarang. Apa kau bisa melakukannya?"
Suasana menjadi hening, hanya berisikan hembusan pelan dari angin. Disaat aku berpikir jika tidak akan ada yang membalas ucapannya, sebuah suara keluar dari Lentera itu.
Suara yang sangat lemah dan pelan, aku nyaris tidak bisa mendengarnya. Apa ini benar-benar suara yang sama dari Nebi? Apa saja yang telah terjadi sampai saat ini? Sial, lagipula kenapa semuanya selalu saja berubah saat memasuki bagian yang paling penting?!
"Dewa *******, maafkan saya. Saya telah gagal untuk melaksanakan tugas yang anda berikan dengan melindungi kuil ini selama kepergian anda. Tolong ... Tolong maafkan saya. Semua ini disebabkan oleh kecerobohan yang saya lakukan saat menghadapi penyusup itu. Tolong—"
"Nebi." pria itu memotong kalimat Nebi.
Pria bertopeng itu adalah ... Dewa? Eh? Dewa sungguhan? Dia hanya terlihat seperti pria tinggi yang memakai pakaian tradisional sangat mewah dengan aura yang cukup kuat. Dan untuk apa dia menggunakan sebuah topeng?
Ada banyak pertanyaan yang berkumpul di kepalaku tapi lebih baik aku diam dan mengamati perkembangan dari situasinya saat ini.
Sang Dewa mengulurkan tangannya, menyentuh Lentera batu itu, dia mengusapnya dan mengambil beberapa potongan lumut yang menempel, kemudian mengamatinya.
"Pertama-tama, dengarkan aku dengan tenang. Aku akan menjelaskan keseluruhan dari situasi yang terjadi saat ini."
"Baik."
Selagi mengamati lumut hijau pada tangannya, Dewa itu pun menjelaskan berbagai hal yang terjadi dengan nada yang sangatlah tenang.
Pertama, tentang Kitsu yang melakukan sebuah hubungan dengan manusia, kemudian melahirkan bayi berwujud setengah Roh. Saat ini Kitsu yang mengambil wujud manusia dan melarikan diri bersama manusia yang menjadi suaminya itu, bersembunyi di suatu tempat.
Selanjutnya tentang tiga Roh rubah berekor sembilan lainnya, mereka semua disegel pada tiga tempat berbeda. Dewa memberitahukan lokasi masing-masing dari Roh itu, aku juga mendengarnya tapi aku tetap tidak mengetahui dimana itu.
Kemudian tentang empat rubah ekor tujuh yang dibasmi, dilanjutkan oleh Sen yang berubah menjadi Roh jahat dan mengejar lalu membunuh semua manusia yang memiliki kaitan tentang penyerangan. Sen memutuskan untuk membalaskan dendam dari saudara dan saudarinya yang sudah dibasmi dengan cara yang sangat keji.
Lalu tentang Klan Zalsa, itu adalah nama Klan yang melakukan penyerangan sebelumnya, dipimpin oleh Yan Zalsa, selaku kepala pertama dari Klan. Saat ini mereka masih melakukan pencarian pada putera pertama dari Yan Zalsa.
Sepuluh rubah magang pada kuil juga mereka jadikan sebagai Roh pendamping dengan kontrak sepihak, yang memaksa mereka untuk patuh.
Dan terakhir, yang juga berkaitan dengan Klan Zalsa. Dewa itu mengatakan jika Teknik terlarang yang mereka lakukan untuk menyegel Nebi di dalam Lentera batu adalah Teknik Terlarang baru. Karena itu Dewa juga tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang mekanismenya.
Satu-satunya hal yang bisa dia pastikan tentang Teknik terlarang itu adalah bayaran dari mereka yang melakukannya.
Setidaknya tumbal lima tubuh manusia tidaklah sepadan dengan hasil yang berupa penyegelan sempurna dari Nebi, yang merupakan seorang Roh Tingkat Tinggi.
Entah itu akan dimulai pada generasi kedua atau ketiga dari Klan Zalsa, satu hal yang pasti jika sebuah kutukan yang sangat kuat akan menghantui darah keturunan dari mereka semua yang pernah terlibat di dalam insiden ini.
Nebi yang mendengarkan semua penjelasan Dewa dalam diam, mulai mengangkat suaranya. Seperti sebelumnya, suaranya terdengar sangat lemah.
"Begitu ya, jadi itu bukanlah sebuah karangan ... Kitsu benar-benar melakukannya. Lalu Sen, Chio, Ron, Ulin dan Lin, keempat anak itu ... Emi, Noe, Sui juga disegel pada tiga tempat berbeda. Sungguh, situasinya sangat kacau dan membuat kepalaku seakan pecah."
Penjelasan dari sang Dewa itu pun berakhir, dengan sang Dewa yang bersujud, menaruh kepalanya pada dataran rumput hijau. Hal itu membuatku membeku dan Nebi yang berteriak panik.
"Dewaku?! Apa yang anda lakukan?!"
Nebi benar, apa yang kau lakukan? Sial, apa ini salahku yang tidak memahami situasinya dengan baik? Kenapa Dewa ini bersujud? Dan juga, kenapa Dewa ini tidak melakukan apapun untuk membalas para manusia yang menyerang tempat tinggal dan bawahannya?
"Ini adalah bentuk permintaan maaf dariku sebagai tuan bodoh kalian yang telah membiarkan tragedi seperti ini terjadi. Aku ingin meminta maaf atas semua hal yang menimpa kalian, berharap jika setidaknya hal itu dapat meringankan beban pada hatimu. Nebi, aku sudah mengatakan hal ini pada tiga saudarimu yang lainnya dan aku juga akan mengatakannya padamu."
"Ya. Apakah itu, Dewaku?"
"Aku ingin agar kau memaafkan Kitsu, selaku saudarimu. Aku juga ingin agar kau memaafkan para manusia, yang sudah menyerang dan menyegel dirimu. Jangan menumpuk sebuah dendam pada dirimu, apakah kau bisa melakukannya?"
.... Hah? Dewa ini, apa yang dia katakan?
"Maafkan saya, Dewaku. Saya masih bisa menerima permintaan anda jika itu berkaitan tentang Kitsu dengan beberapa syarat tapi untuk para manusia itu, saya tidak yakin. Karena itu begitu saya bebas dari segel ini, mungkin hal pertama yang saya lakukan adalah membumihanguskan setiap manusia yang saya temui sampai amarah yang ada pada diri saya teredam. Saya akan mengurus untuk yang lainnya setelah itu."
Suara yang Nebi keluarkan berubah.
Suara yang sangat kuat, dipenuhi oleh berbagai emosi yang bergejolak di dalamnya. Suara Nebi saat ini benar-benar menggambarkan semua itu dengan sangat jelas. Aku bisa memahami jawaban yang dia berikan dan aku juga sudah menduganya.
Tentu saja, Dewa itu pastinya juga memikirkan hal yang sama.
"Begitukah? Aku mengerti. Kalau begitu aku akan melakukannya lain kali."
Dewa itu hanya membalas dengan singkat dan berdiri, sedikit melepas topeng yang menutupi wajahnya dan mengusap air matanya.
"Nebi, jaga dirimu. Aku akan mengunjungi kalian semua setiap satu tahun sekali dan akan meminta hal yang sama. Aku harap kalian semua bisa memikirkan ulang tentang hal ini."
Dewa itu pun berjalan menjauh, meninggalkan Lentera batu di belakangnya. Pada akhirnya apa yang Dewa ini inginkan? Dia tidak membalas apapun pada para manusia itu dan malah meminta Nebi untuk memaafkan mereka.
Apa-apaan itu? Bahkan aku pun merasa cukup kesal dengan ini. Pada akhirnya apa yang bisa para Dewa lakukan hanyalah mengawasi semuanya dan mencoba untuk tidak mencampuri apapun, ya?
Keberadaan suci seperti mereka memang memiliki pemikiran yang sangat berbeda.
Swingg—!! Dan pemandangan pada mataku pun berubah.
Sejak saat itu, hal yang aku lihat pun selalu sama, yaitu tentang Dewa bertopeng yang sama bersujud dengan menempelkan kepalanya pada rumput dan memohon Nebi untuk memaafkan manusia.
Baik dikala hujan badai, ataupun dikala panas yang terik, Dewa itu terus memohon dengan air mata yang mengalir di balik topengnya. Aku melihatnya berkali-kali, bahkan aku pun mulai berhenti menghitungnya, entah sudah berapa banyak aku melihatnya.
Setiap pemandangan pada mataku berubah, yang aku lihat adalah pose yang sama dengan lingkungan sekitar yang perlahan mulai mengalami perubahan. Sebenarnya berapa lama Dewa ini terus melakukannya? Dan apa tujuannya untuk melakukan ini?
Apa dia benar-benar ingin agar para keturunan dari manusia yang sudah menyerang bawahannya lolos begitu saja? Dengan sebuah alasan jika mereka yang menyerang sudah mati, dan yang tersisa saat ini hanyalah keturunan mereka yang tidak mengetahui apapun?
Aku sama sekali tidak mengerti.
Dan sama sepertiku, Nebi juga tidak mengerti alasan dibalik tindakan yang dilakukan sang Dewa. Karena itu dia memberikan jawaban yang sama, bahwa dia tidak akan memaafkan manusia dan berjanji untuk membunuh mereka semua begitu dia bisa keluar.
Sampai suatu saat, Dewa itu datang kembali dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Bahwa—
"Tahun ini mungkin adalah terakhir kalinya aku akan mengunjungimu. Berkurangnya manusia yang menyembah diriku membuat kekuatanku perlahan melemah. Tidak lama sampai aku akan benar-benar menghilang setelah ini." ucap Dewa bertopeng itu, dengan sedikit tawa di akhir.
Dewa itu terbatuk pelan, dan melanjutkan.
"Sudah empat ratus tahun berlalu sejak Tragedi itu, dan aku disini, untuk yang terakhir kalinya akan meminta padamu. Nebi, aku mohon padamu untuk memaafkan manusia, jangan menyerang mereka."
Dan untuk yang terakhir kalinya, Dewa itu menundukkan kepalanya pada rumput hijau.
"Dewaku, saya sama sekali tidak mengerti. Kenapa anda melakukannya sejauh ini? Kenapa anda bisa membela manusia sebanyak ini? Nilai seperti apa yang mereka miliki? Saya sama sekali tidak dapat mengerti. Apa yang sebenarnya anda lakukan di depan Lentera baru ini selama empat ratus tahun? Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah memaafkan para manusia itu!!"
Nebi berteriak, dengan penuh kebencian, amarah, kesedihan dan keputusasaan.
Disisi lain, Dewa itu mengangkat kepalanya, melihat ke arah Lentera batu ... Tidak, dia melihat tepat ke arah dimana Nebi mungkin memandangnya. Dengan suara yang sangat halus, Dewa itu pun membalasnya.
"Semua yang aku lakukan ini adalah demi diriku sendiri, demi manusia dan dan tentunya—"
Dewa itu mengangkat tubuhnya dan dengan gerakan yang halus, dia mengambil duduk pada permukaan rumput, kemudian melanjutkan.
"—Demi hartaku yang paling berharga, yaitu kalian semua."
Swingg—!! Dan begitulah, pemandangan pada mataku pun berubah sekali lagi