ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN TAMBAHAN : KEPINGAN API I



"Berhentilah, Bocah manusia!! Aku tidak akan memakanmu!!"


Mendengar suara yang menandakan sebuah peringatan di belakangku, membuatku mempercepat dan melebarkan langkah yang aku ambil.


Bersama napas yang mulai terpotong, aku berlari tanpa memalingkan wajah ke belakang.


"Mana mungkin ada orang yang akan berhenti jika kau menyuruhnya, kan?! Dan meskipun aku berhenti, bukan berarti kau benar-benar akan mengurungkan niatmu untuk memakan tubuhku!!" Teriakku dengan putus asa, napasku sudah diambang batas tapi aku harus tetap berlari.


Demi bertahan hidup, lari keluar dari jangkauan Roh berwujud kepala Manusia tanpa tubuh yang melayang mengejar di belakangku. Roh ini sudah mengikuti sejak aku berada di sekolah, tapi akhirnya dia mengejarku saat aku berniat pulang.


Berkat itu aku yang tiba-tiba berlari dengan panik mendapatkan beberapa pandangan menyakitkan dari orang-orang sekitar yang tidak mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi.


Mungkin beberapa julukan milikku di sekolah akan bertambah, tapi aku tidak terlalu peduli dengan itu saat ini.


Yang terpenting adalah melarikan diri dari Roh kepala sialan yang mengejarku. Tapi dia sama sekali tidak berniat untuk berhenti, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikannya?


Aku terus berlari dan berlari, tanpa sadar sampai pada semak-semak yang sepi. Aku tidak mengingat jalan yang aku ambil sebelumnya. Seingatku aku terus berlari mencari tempat yang ramai.


Jika begitu, satu satunya kemungkinan yang masuk akal—


"Sial, Roh itu pasti melakukan sesuatu pada mataku dan menggiringku pada tempat yang sepi. Dimana ini? Apa ini sebuah Hutan? Ah tidak, aku berada di kaki gunung kecil dekat perumahan. Apapun itu aku harus segera keluar dari sini dan menuju tempat ramai."


"Bocah!! Dimana kau?! Cepat keluarlah dan biarkan aku memakan tubuhmu!!"


Ah gawat, dia tiba pada timing yang buruk.


Aku menabrak semak-semak, membuat suara yang cukup berisik. Roh kepala itu pun mendengarnya dan memutar kepalanya ke arahku lalu melebarkan matanya. Roh itu benar-benar terlihat horor.


"Disana kau, ya?!! Tunggu!! Jangan lari!!"


Sialan!!


Aku mengambil arah lain dan berlari, jujur saja berlari di tengah hutan pada kaki gunung seperti ini adalah ide yang buruk. Dengan pemandangan kanan dan kiri yang sama, lalu tidak adanya papan penanda arah ataupun tanda jalan setapak, tidak ada satupun hal yang bisa aku jadikan acuan untuk kembali.


"Hei!! Tunggu!! Jangan lari!!"


Aku menoleh ke belakang, mengkonfirmasi jarak diantara kami. Kepala terbang itu ada sekitar tiga puluh meter di belakang, baguslah.


"Dengan ini dia tidak akan bisa—Gurgh!!"


Tapi saat aku memalingkan pandanganku dalam sesaat itu, membuatku sedikit lengah pada jalan yang ada di depanku. Kakiku menabrak sesuatu, membuatku terjatuh dan berguling pada rumput.


"Sakit!! Ahhh—!! Kakiku!! Kakiku sakit!! Apa yang barusan aku tabrak?!"


Sedikit air keluar pada ujung mataku, selagi aku memegangi dan mengusap beberapa jari yang mulai membengkak pada kaki kanan.


Tampaknya aku menabrak sebuah lentera batu yang memiliki tinggi sekitar setengah meter, Lentera batu yang tersusun rapi itu sudah roboh saat ini dan menjadi beberapa potongan terpisah.


Aku menabraknya cukup kuat, mau bagaimana lagi. Aku ingin menatanya lagi tapi tidak ada waktu untuk melakukannya saat ini.


"Tapi lentera batu ini memiliki ukuran cukup besar, bagaimana bisa aku sama sekali tidak menyadari keberadaannya sebelumnya, ya? Ah, sial. Aku terlalu lama berbaring."


"Bocah!! Kemari kau!!"


Roh kepala itu terbang dengan cepat dan langsung melesat ke arahku tanpa basa-basi apapun. Membuka lebar mulutnya yang dipenuhi oleh gigi berwarna kuning, hingga merobek pipinya.


Sial, menakutkan!!


"Baru saja diriku terlepas dari segel yang memuakkan itu tapi ada apa dengan pemandangan tidak menyenangkan di depanku ini? Kalian berdua, menyingkir dari sini!!"


Aku seperti mendengar sesuatu di ujung sisi tapi perhatianku saat ini teralihkan pada Roh kepala yang melesat ke arahku dengan mulut lebarnya.


Ah gawat, dia akan memakan tubuhku di sini. Setidaknya lakukan tanpa rasa sakit!!


Dan saat aku mulai menyerahkan semuanya pada takdir, sebuah cahaya berwarna keemasan muncul di ujung penglihatan. Dan dalam sesaat, cahaya itu langsung menyebar dan membutakan mataku. Sensasi yang sama saat terkena sebuah Flash bang.


"Ah mataku!! Sial!! Silaunya!! Itu terlalu silau!!"


"Grahhh!!! Panas!! Sialan!!"


Disisi lain aku juga bisa mendengar jeritan penuh derita dari Roh kepala itu. Sepertinya cahaya berwarna keemasan itu juga menyakitinya, meskipun kelihatannya memiliki efek yang lebih kuat padanya.


Aku segera mengusap mataku dan mengedipkan mata beberapa kali, mengembalikan pemandangan hutan pada mataku. Tapi ada beberapa penampakan tambahan dari sebelumnya saat ini.


"Ah."


Mengabaikan Roh kepala yang terbang menjauh dengan asap yang keluar dari setiap pori-pori kulitnya, aku melihat ke arah lain. Dimana seekor Rubah dengan bulu keemasan, yang memiliki garis kehitaman yang mengelilingi tubuhnya berdiri.


Warna emas pada bulunya memang mencolok tapi ada yang jauh lebih mencolok dari semua itu.


Yaitu terletak pada sembilan ekor dan sembilan kepala yang keluar pada tubuhnya.


Rubah berbulu emas dengan sembilan ekor dan sembilan kepala, mengeluarkan partikel cahaya pada setiap ekornya yang mengibas di udara.


"Indahnya. Baru pertama kali aku melihat Roh seindah ini ... Aku menginginkannya."


Salah satu telinga dari sembilan kepala rubah itu bergerak, rubah itu pun memutar tubuhnya ke arahku dan berjalan mendekat dengan langkah lambat. Aku bisa tahu jika rubah itu sedang mengamati tubuhku, terutama rambut dan wajahku.


Ah gawat, apa dia mendengar kalimatku barusan?


Rubah itu berhenti pada jarak dua meter di depanku, melihat diriku dengan tajam menggunakan delapan belas matanya.


Disisi lain, aku hanya duduk terdiam. Memasang senyum canggung, berusaha untuk tidak bereaksi sedikitpun. Meskipun begitu, ketegangan yang tercipta dari keheningan ini sedikit menyiksa batinku.


Aku mengambil napas panjang, kemudian menghembuskan semuanya. Menetapkan tekad pada hatiku dan mengangkat suara.


"U-Um ... Terimakasih ... Karena sudah menolongku." Ucapku, dengan sedikit jeda.


Tapi rubah di depanku masih belum mengatakan apapun, hanya menatapku dalam diam.


"Bocah, apa aku bisa menanyakan namamu?"


Ah, akhirnya dia berbicara. Tapi dia menanyakan namaku? Ada apa ini? Entah kenapa aku merasakan firasat yang sedikit buruk.


"Ah, um ... Namaku Aciel Luciel."


"Oh, ternyata memang bukan, ya? Tapi memang ada sedikit kemiripan." bisik rubah itu.


Rubah itu seperti membisikkan sesuatu tapi karena banyaknya pikiran yang berputar di dalam kepalaku, membuat diriku tidak mendengar suaranya dan sedikit tersentak.


"Ah, apa kau mengatakan sesuatu?" tanyaku, dengan sedikit keraguan yang bercampur rasa takut.


"Tidak, bukan apa apa. Kesampingkan itu, wahai anak manusia, kau telah membebaskan diriku dari segel menjijikkan yang telah mengurungku. Aku ucapkan terimakasih atas jasa yang kau lakukan." Rubah itu sedikit menundukkan sembilan kepalanya dan menurunkan ekornya.


Ini pertama kalinya ada Roh yang menundukkan kepalanya padaku, membuatku sedikit merasa gugup dan tidak tahu harus melakukan apa untuk meresponnya.


"Ah, tidak. Itu bukan masalah besar, lagipula aku melakukannya tanpa sengaja."


"Begitukah? Meskipun begitu aku tetap berterimakasih padamu karena telah membebaskan diriku dari sana. Apa ada sesuatu yang kau—"


Tiba-tiba, rubah itu menghentikan kalimatnya di tengah dan mematung.


Saat aku berniat menanyakan apakah ada sesuatu yang terjadi, tubuhnya dengan cepat terjatuh ke samping dan tergeletak begitu saja pada rumput.


"Huh?"


Rubah itu pingsan.