ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.2 : PEMBICARAAN RINGAN



Sudah tiga hari berlalu sejak aku membantu Beida untuk melakukan pencarian sarang lebah. Sejak saat itu, tidak ada hal aneh apapun yang terjadi.


Hanya Menyisakan keseharian biasa dimana ada beberapa Roh yang mendatangiku untuk mengancam atau mengganggu tapi mereka semua disingkirkan dengan mudah oleh Master.


Pagi ini pun aku mengisinya dengan menyelesaikan beberapa perawatan mingguan gudang dan membantu Bibi An menyelesaikan untuk memasak menu sarapan. Yah, kebanyakan aku yang memasaknya sih.


Lalu menyusulnya dengan sarapan, bersama beberapa sindiran kecil yang tidak perlu dikhawatirkan. Dan berangkat menuju sekolah setelahnya. Master mengikuti ku selama perjalanan dan naik pada bahuku.


Aku sudah memintanya untuk turun dari bahuku tapi Master hanya mengabaikannya, hal itu membuatku mendapatkan beberapa tatapan dari orang yang ada di sekitarku.


Ini memalukan.


"Master, memangnya kau mau kemana? Bukannya kau bisa berangkat sendiri tanpa harus mengikuti ku? Ini sedikit memalukan saat orang-orang itu melihatku. Setidaknya kau tidak harus naik ke bahuku, kan? Berjalanlah di sampingku."


"Hah? Kenapa kau harus malu? Aku adalah penjaga, sudah jelas aku ada di sisimu, bagaimana jika ada Roh yang memakan tubuhmu saat aku tidak ada? Ingat ini, tubuhmu itu adalah milikku."


Selalu saja seperti itu, apa kau tidak bisa mencari alasan lain? Tapi benar juga, itu adalah sesuatu yang aku sepakati dengan Master.


Jujur saja, aku cukup bersyukur kucing ini tidak mengikuti ku sampai ke sekolah.


Itu membuatku harus memohon padanya dan meyakinkannya bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan ada banyak orang di dalamnya jadi para Roh tidak akan menyerang.


"Tubuhku adalah milik Master, ya? Itu akan menjadi seperti itu saat aku sudah kehilangan nyawaku. Tapi selama aku hidup, tubuh ini adalah milikku jadi aku ingin agar Master tidak melakukan pengklaiman dengan sembarangan seperti itu."


"Yah, siapa yang peduli tentang hal kecil seperti itu, kan? Pada akhirnya usia Manusia tidaklah terlalu panjang. Dalam lima puluh tahun mereka pasti sudah mati, kau juga sama."


Mati, ya? Aku masih belum bisa membayangkan hal seperti itu terjadi padaku. Setidaknya aku masih yakin jika diriku akan hidup dalam sepuluh tahun ke depan, kepercayaan diri macam apa ini?


Sepuluh tahun ke depan, saat usiaku menginjak dua puluh empat tahun.


"Kira-kira apa yang terjadi padaku saat mencapai usia itu, ya? Apa aku masih akan melompat ke rumah kerabat satu sama lainnya dan merepotkan mereka semua? Itu terdengar menakutkan."


Setidaknya aku pasti sudah mendapatkan sebuah pekerjaan saat mencapai usia itu dan menyewa sebuah rumah atau apartemen sendiri. Hidup tanpa merepotkan orang lain, hanya dengan diriku sendiri dan bebas untuk melakukan apapun.


Bebas untuk memakan apapun dan bebas untuk keluar kemanapun. Kebebasan, ya? Aku memang tidak memiliki sesuatu seperti itu saat ini.


Entah kenapa itu terdengar indah.


Semua yang aku lakukan di titik ini selalu memiliki batas yang tidak boleh dilewati. Saat aku bisa melewatinya, apa aku bisa menjadi gemuk seperti Brian, ya? Aku akan sangat menantikannya.


"Hm? Aciel, apa yang kau gumamkan dengan wajah bodoh itu? Apa kau mengejekku?"


"Ah? Apa? Master, apa kau mengatakan sesuatu?"


Interupsi tiba-tiba yang Master lakukan membuatku sedikit terkejut, tanpa sadar membalikkan pertanyaan yang dia berikan.


Dan tentunya, itu membuatnya kesal.


"Aku bertanya tentang apa yang kau gumamkan dengan wajah bodoh itu?


"Ah, itu bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi."


Aku terbatuk pelan beberapa kali, untuk mengalihkan topik.


"Kesampingkan itu, aku juga ada pertanyaan untukmu, itu tentang tujuan Master setelah mengantarku pergi ke sekolah. Apa Master akan mengunjungi perkumpulan Frouya? Jika iya aku ingin menitipkan pesan unt— Ughff!!"


Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat itu, Master menutup mulutku dengan ekornya. Kucing ini sepertinya cukup suka melakukannya.


"Jangan menyimpulkan seenaknya. Yang pertama, aku tidak mengantarmu pergi ke sekolah tapi menjaga agar tubuhmu aman. Apa kau memahaminya?"


"Yang kedua, aku tidak berencana untuk mengunjungi perkumpulan kecil milikmu saat ini jadi aku tidak akan menerima surat itu. Aku akan mengunjungi tempat Hjorn, ini tentang undangan ke tempatnya untuk merayakan kebebasanku. Kau mengingatnya, kan?"


Oh, tentang ajakan yang Master dapatkan di hutan dari beruang putih itu, ya? Jadi dia masih belum melakukannya, padahal sudah tiga hari terlewat.


Yah, mungkin bagi persepsi waktu Roh tingkat tinggi seperti mereka tiga hari itu sama seperti tiga menit jadi tidak ada perbedaan tertentu.


Aku mengangguk tiga kali dan akhirnya Master melepaskan ekornya dari mulutku.


"Kalau Master berencana untuk mengunjungi rumah Hjorn, apa itu berarti Master akan pulang malam nanti? Kalian pasti akan mabuk-mabukan, kan?"


"Ya, jadi aku tidak akan bisa menjaga tubuhmu saat pulang nanti. Karena itu pastikan untuk langsung pulang ke rumah dan jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu seperti terlibat dengan para Roh saat aku tidak ada. Apa kau paham? Langsung pulang dan hindari semua Roh yang kau temui."


"Aku tahu itu jadi kau tidak perlu mengulanginya berkali-kali. Telingaku sudah mulai sakit saat mendengarnya."


"Dasar bocah bodoh sialan. Aku mengulanginya karena aku tahu jika kau masih tidak mengerti ... Aciel, berhenti sebentar. Lihat ke sana."


"Hah? A-Ada apa?"


Tiba-tiba suara dan aura di sekeliling Master menjadi sedikit berat, menandakan bahwa suasananya menjadi serius dan membuatku gugup.


Saat aku melihat pada arah yang Master lihat, apa yang ada di sana adalah—


"Ada toko Bakpao daging dengan kualitas tinggi disana. Sebelum kau sampai di sekolah, ayo kita mampir dan beli beberapa. Aku akan menjadikannya sebagai oleh-oleh untuk beruang itu juga."


Jadi itu, ya?


Per uma saja aku merasa gugup sebelumnya, ini membuatku merasa bodoh.


"Master, bukannya aku sudah bilang ini sebelumnya? Uangku sudah habis karena kita membeli banyak Bakpao untuk Master makan tadi malam. Tidak ada uang sampai aku pergi ke ATM dan mengambilnya."


"Kalau begitu ambilkan sekarang juga sebelum kau pergi ke sekolah. Ayo kita pergi ke ATM atau apalah itu dan segera membelinya. Aku akan mengantarmu jadi pasti akan cepat."


"Tidak, itu tidak mungkin. Tidak ada ATM di perumahan pelosok pegunungan seperti ini. Satu-satunya pilihan cuma menunggu paman Daniel mengantar nanti sepulang aku sekolah."


"Hah? Lalu bagaimana dengan Bakpaonya?"


"Bersabarlah sampai nanti malam."


"Jangan bercanda! Ayo kita beli sekarang. Gadaikan pakaian atau tas yang kau bawa itu untuk mendapatkan beberapa bakpao."


"Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu. Aku akan terlambat."


Karena pemberontak kecil yang Master lakukan, membuat waktu yang aku butuhkan untuk sampai di sekolah menjadi lima menit lebih lama. Kucing itu segera pergi dengan kesal.


Harusnya aku yang kesal di sini karena harus mendengarkan amukannya itu. Master memang sedikit sulit untuk diatasi.


Yah, kucing itu bisa diandalkan saat aku dalam kesulitan jadi aku tidak terlalu mempermasalahkannya sih. Lagipula itu bukanlah masalah besar.


"Baiklah, bangun ulang semangat untuk hari ini."


Dengan itu, aku pun memasuki gerbang sekolah.


Awalnya aku berpikir jika hari ini akan menjadi hari umum seperti biasa tanpa terjadi sesuatu yang khusus tapi tampaknya aku salah.


Setelah bel istirahat berdering di siang hari, wali kelas datang menuju kelasku dengan sebuah pengumuman yang mengejutkan pada tangannya.