ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 1.9 : SI PEMAKAN BAYANGAN



Dengan Master yang ada di depanku, Ebi di sampingku, kami bertiga melihat pada arah dimana sebuah gumpalan berwarna hitam berdiri. Perlahan tapi pasti, sinar bulan yang tertutup awan mulai menerangi hutan sekali lagi.


Cahaya indah itu menerangi sosok gumpalan hitam yang menyeramkan di depan kami.


Dengan tubuh besar setinggi tiga meter, memakai topeng tengkorak manusia yang retak pada wajahnya, memegang sebuah kapak berwarna hitam pada tangannya.


Tapi yang paling mencolok, yaitu beberapa gumpalan berbentuk wajah manusia pada perutnya yang menggeliat seolah berteriak.


Itu adalah Roh jahat, para Roh juga biasa menyebut mereka sebagai siluman. Roh yang kerap memberikan kemalangan pada manusia, memberikan penderitaan pada siapapun yang dia incar, dengan nyawa sebagai bayaran terakhirnya.


Roh dengan kepribadian yang buruk, dan saat ini dia sedang ada di depan kami.


"Ahh ... Bocah manusia ... Biarkan aku untuk memakannya ... Berikan kakinya padaku ... Aku akan menjadikannya sup ... Berikan kepalanya padaku ... Aku akan menjadikannya camilan ... Berikan *********** padaku ... Aku akan menjadikannya obat. Berikan ... Berikan ... Berikan dia!!"


Roh hitam itu melesat ke arah kami, mempersiapkan kapaknya untuk menyerang. Gerakannya sangatlah cepat.


"Dasar mahluk rendahan, apa kau baru saja mengatakan akan menjadikan mangsaku sebagai sup untuk mengenyangkan perutmu? Ketahui tempatmu, manusia yang ada di depanmu adalah makananku!!"


Master memposisikan dirinya di depanku, membuka mulutnya yang dipenuhi taring tajam dan mengeluarkan api hitam kehijauan dari sana, mengarahkannya langsung pada Roh tengkorak itu.


"Dasar mahluk menjijikkan, bisa-bisanya aku sama sekali tidak menyadari jika kau ada di dekatku selama ini. Memikirkannya saja membuatku muntah, ini memang tidak terlalu kuat tapi sudah cukup untuk menghukum siluman rendahan sepertimu!!"


Di sisi lain, Ebi mengeluarkan bola cahaya keemasan di sembilan ekornya dan menembakkannya pada Roh tengkorak itu.


Serangan keduanya menghantam Roh tengkorak itu bersamaan, membuatnya terhempas, menabrak sebuah pohon di belakangnya dan berguling-guling kesakitan di permukaan rumput.


Dengan tubuhnya yang mengeluarkan asap, Tengkorak itu mengarahkan pandangannya pada Master dan Ebi, kemudian berteriak dengan suara lengket yang terdengar menjijikkan.


"Sakit! Sakit! Panas! Perih! Sakit! Sialan!! Beraninya kalian menggangguku?! Berikan bocah manusia itu padaku!! Sebagai gantinya aku akan mengampuni kalian!! Cepatlah berikan dia!! Berikan!! Berikan!! Berikan!! Berikan dia padaku!! Kucing dan rubah sialan!! Cepat berikan manusia itu padaku!!"


Roh tengkorak itu melesat sekali lagi ke arah kami dengan kecepatan yang tidak berubah. Melihat itu, Master mendengus kesal.


"Dasar bodoh, kau ingin mengulanginya lagi? Memangnya ada apa dengan serangan itu?"


"Kaulah yang bodoh, kucing bodoh!! Mana mungkin aku akan menggunakan pola yang sama, kan?! Sudah aku putuskan!! Aku akan menghabisi kalian berdua dan memakan bocah itu setelahnya!!"


Di akhir kalimatnya, suara Roh tengkorak itu terpecah san begitu aku menyadarinya, tubuhnya terpotong-potong.


Tidak, dia membelah diri!!


Tubuhnya terbelah menjadi lima bagian lebih kecil, memiliki ukuran kurang lebih sama seperti tubuhku. Masing-masing darinya menumbuhkan topeng tengkorak yang sama, dengan sebuah kapak di tangan kanan mereka.


Roh itu pun menyebar ke lima arah berbeda, berusaha mengepung kami dan melompat di saat yang bersamaan, dengan kami bertiga sebagai pusatnya. Mengencangkan pegangannya pada kapak hitam di tangannya dan—


"Lalu, bukannya aku sudah menanyakan ini sebelumnya? memangnya ada apa dengan serangan itu? Jangan membuatku mengulanginya!!"


Master mengangkat kepalanya ke atas, kemudian seluruh garis berwarna hijau pada bulunya mengeluarkan sinar yang sangat terang dan kuat. Membuat kelima Roh tengkorak yang melompat ke arah kami terbakar bersama cahayanya, tapi—


"Urrghh—!!"


"Master, hentikan!! Cahayamu juga menyakiti Ebi!!"


Ebi yang ada di dekat kami juga ikut terbakar, meskipun tidak separah Roh Tengkorak itu. Master pun menghentikan cahayanya dan mendengus dengan wajah yang lebih kesal.


"Hmph!! Aku melakukannya dengan sengaja, bodoh!! Lagipula, kenapa kau melindungi rubah kecil itu? Biarkan saja dia ikut terbakar bersama siluman rendahan ini. Bukannya dia berniat memakan tubuhmu?"


Aku mengambil jarak penengah, menghalangi Master yang mengarahkan api hitam ke arah Ebi yang masih meringkuk kesakitan.


"Tidak, kau salah. Dia memiliki alasan untuk itu!! Aku akan menjelaskan situasinya nanti jadi untuk saat ini jangan memberikan serangan yang akan menyakiti Ebi juga."


"Terserahlah, selama aku bisa memakan tubuhmu di akhir, aku tidak terlalu peduli dengan semua itu. Tapi untuk saat ini, lihatlah ke sana. Karena kau menghalangi, aku gagal untuk melenyapkan semuanya."


Aku melihat pada arah yang Master tunjuk, di sana terdapat Roh tengkorak kecil yang tubuhnya mengeluarkan asap padat. Dia menatap kami dengan tubuhnya yang gemetar hebat dan berlari kabur menuju arah semak-semak.


Aku menghirup napas tenang, tapi tampaknya itu membuat Master semakin kesal.


"Kenapa kau bertingkah seolah semuanya sudah selesai? Dia pasti akan kembali lagi, lagipula wajah dan aroma tubuhmu sudah dia ingat. Berapa kalipun, dia akan terus datang untuk membunuhmu sampai dia benar-benar dilenyapkan."


"Eh? Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan? Bukannya ini gawat jika dia datang saat aku ada di dekat keluarga yang menampungku? Mereka semua akan terlibat."


Master berubah kembali menjadi wujud kucing kecilnya dan berbaring pada rumput, menggulung tubuhnya dan menjilati perutnya.


Huh? Ah, dia ngambek? Apa jangan-jangan Harimau besar yang merupakan Roh Tingkat Tinggi ini merajuk padaku? Dia benar-benar marah karena aku menghalanginya sebelumnya?


Tidak...


Apa mungkin, dia merasa cemburu karena aku menyelamatkan Ebi sebelumnya?


"Aciel, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat ini tapi itu pasti sesuatu yang tidak sopan tentangku. Aku akan pastikan untuk membuang dirimu pada sumur berisi Iblis kelaparan jika kau melakukannya untuk yang ketiga kalinya."


Ah, lagi-lagi Master membaca pikiranku. Yah, bagaimanapun aku harus segera menyelesaikan ini dan kembali pulang. Lagipula sekarang sudah memasuki jam malam.


Aku berjalan menghampiri Ebi yang tersungkur kesakitan, menyentuh salah satu kepalanya. Matanya melihat ke arahku.


"Ebi, apa kau baik-baik saja?"


"Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu? Harimau sialan itu, dia benar-benar tidak tahu cara menahan diri di depan Orang tua sepertiku. Kekuatanku masih belum kembali sepenuhnya, ini membuat diriku yang saat ini hanya setara dengan Roh Tingkat Menengah, dan serangan Harimau bodoh itu benar-benar menyakitiku."


"Itu memang terlihat sakit, tunggu sebentar. Aku akan melakukan sesuatu."


Aku mengangkat tas, membukanya dan mengambil sebuah pulpen. Mengeluarkan bagian tajamnya dan menusukkannya pada telapak tanganku, aliran kecil darah segera keluar dari sana.


Sial, rasanya sedikit perih.


Ebi yang melihatku melakukan semua itu memberikan tatapan keraguan.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku mengingat tentang apa yang kau katakan sebelumnya. Kalau tidak salah, kau mengatakan jika memakan tubuhku akan mengembalikan seluruh Energi Spiritual yang kau miliki dengan cepat, kan? Karena itulah aku pikir darahku memiliki efek yang sama, meskipun itu tidak akan sebesar saat kau memakan seluruh bagian tubuhku."


Aku mendekatkan telapak tangan yang menampung sedikit darah pada bagian tengahnya, menuju salah satu mulut Ebi. Dia mengendus darahku dan melihatku dengan tatapan tidak yakin.


"Apa kau serius dengan ini?"


Aku pikir apa yang coba dia katakan tapi hanya itu? Itu membuatku sedikit terkikik.


"Jika aku tidak serius, mana mungkin aku akan melubangi telapak tanganku, kan? Cepatlah minum. Aku akan meminta bantuan darimu sebagai ganti darah ini setelahnya jadi jangan berpikir jika kau memiliki sebuah hutang budi."


Mendengar itu, Ebi mendengus pelan dengan sudut pada sembilan mulutnya yang sedikit naik.


"Kalau begitu aku akan menerimanya, boca—Tidak, siapa namamu?"


"Ah? Ah. Namaku Aciel. Aciel Luciel, kau bisa memanggil diriku Aciel."


"Aciel Luciel ... Begitu rupanya, aku mengerti. Nama yang bagus."


"Terimakasih."


Ebi menjulurkan lidahnya, menghabiskan semua darahku yang menetap pada telapak tangan dengan sekali ambil dan menelan semuanya.


Luka yang ada pada telapak tanganku pun langsung sembuh, diikuti cahaya keemasan yang mulai mengelilingi tubuh Ebi. Sinar pada tubuhnya semakin terang dan semakin terang, layaknya cahaya matahari.


"Tch, terlalu silau."


Aku tidak bisa melihatnya tapi dari suaranya, sudah jelas siapa yang mendecakkan lidahnya barusan.


"Aciel, surga benar-benar memberkatimu dengan Energi Spiritual yang sangat besar. Kira-kira takdir seperti apa yang kau emban dengan semua pemberian itu? Aku sangat menantikannya. Hanya dengan sedikit darah, kau memulihkan hampir setengah dari kekuatanku, ini adalah hal yang luar biasa."


"Begitukah? Aku senang mendengarnya."


Cahaya keemasan itu membungkus tubuhnya, kemudian ukuran tubuh Ebi pun kian membesar dan mencapai tahap dimana hampir menyaingi ukuran yang dimiliki wujud kedua Master.


Setelah beberapa saat, cahaya yang membungkusnya itu pun terpecah menjadi partikel kecil dan menyebar, menampilkan wujud miliknya yang sangat berbeda.


"Baiklah, lalu bantuan seperti apa yang kau inginkan dariku?"


Ah, tidak hanya penampilannya, bahkan suaranya juga berubah.