
Plak—!!
Suara dari sebuah tamparan menggema keras pada pintu depan rumah. Cahaya teras dengan lampu yang redup menampilkan sedikit suasana berat yang menyebar dan mengelilingi mereka yang ada di dalamnya.
Dengan perlahan aku mengusap pipi yang memerah, selagi menundukkan kepalaku. Menghadap pada tiga orang yang menatap dengan tatapan yang sama ke arahku.
Bibi An dan Brain yang mengintip pada pintu depan, dengan Paman Daniel yang memiliki mata dingin, melayangkan tangannya sekali lagi ke arahku.
Plak—!!
Suara tamparan terdengar sekali lagi. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku.
"Maafkan aku karena sudah pulang terlalu malam, Paman. Aku berjanji agar tidak terlambat lagi dan pulang tepat waktu." Ucapku, dengan nada yang sedikit bergetar.
"Lalu?" Jawab Paman dengan singkat.
"Huh?"
Plak—!!
Tamparan dilayangkan sekali lagi pada pipiku. Tidak menungguku untuk berbicara lagi, Paman melanjutkannya.
"Lalu, apa masalahnya dengan itu? Bukan itu saja yang aku permasalahkan di sini. Tapi juga tentang dirimu yang berbohong jika kau melakukan Ekskul, yang nyatanya kau habiskan bermain di kaki gunung. Apa kau bisa menjelaskan maksudmu melakukan itu?"
"Maafkan aku ... Maafkan aku ... Maafkan aku karena sudah berbohong."
Pada akhirnya, aku ditampar sebanyak sepuluh kami malam itu dan membuat pipiku sedikit bengkak. Bibi An memberiku satu es balok untuk menyembuhkan bengkaknya tapi malam itu aku tidak mendapatkan jatah makan malam lagi.
Pada akhirnya, aku pun kembali menuju gudang dengan perut berbunyi.
"Para manusia rendahan itu, melihat mereka membuatku mual. Aciel, apa aku bisa membunuh dan memakan mereka semua? Kau bisa mendapatkan makan malam setelah itu dan perutku juga akan kenyang, bagaimana? Bukan penawaran yang buruk, kan?"
"Master, jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu. Membayangkan jika aku makan malam saat kau membunuh mereka entah kenapa membuatku merasa mual. Terimakasih, dengan ini nafsu makanku sudah hilang."
"Hmph! Bukan itu niatku saat mengatakannya. Aku hanya kesal saat mereka melukai tubuhmu yang merupakan calon makananku di masa depan."
Aku mengambil kasur lipat pada meja di ujung ruangan gudang, membeberkannya pada lantai dan mengambil beberapa selimut. Kucing hitam yang berjalan-jalan langsung masuk ke dalam selimut tanpa mengatakan apapun.
Di sisi lain, rubah kecil yang duduk pada meja di ujung ruangan hanya diam dan menatap ke arahku. Ebi menggunakan Teknik penyamaran saat ini, membuatnya memiliki penampilan layaknya rubah biasa berbulu jingga dengan satu kepala dan satu ekor.
"Ebi, ada apa? Apa kau juga merasa lapar?"
"Aciel, aku bisa saja menjatuhkan sebuah kemalangan pada keluarga ini jika kau menginginkannya. Jangan ragu untuk mengatakan padaku jika saat itu datang, tanpa ragu aku akan melakukannya."
Jadi itu yang sedang dia pikirkan, ya? Keduanya sama-sama memiliki ide cukup berbahaya dan membuatku sedikit khawatir.
Tapi aku juga senang karena tahu jika mereka melakukan itu untukku.
"Tidak, saat seperti itu tidak akan datang. Kesampingkan itu, ayo kita segera tidur dan bangun pagi besok. Aku akan mencari beberapa buah sebelum berangkat ke sekolah untuk dimakan."
Aku membaringkan tubuhku pada kasur, Ebi dan Master menghampiri sisi leherku dan menggulung tubuh mereka. Entah kenapa ini membuat suasananya sedikit hangat, memang terasa sangat nyaman.
Brmm—!!
Tapi sepertinya perutku sedikit sulit untuk diajak kompromi saat ini. Apa boleh buat, lagipula sangat banyak hal yang terjadi hari ini.
Aku juga belum memakan apapun dari siang tadi, harusnya aku mengambil beberapa buah saat di gunung tadi.
"Hah..." Tanpa sadar, aku menghela napas.
Tapi tidak lama setelah itu, kesadaran pada diriku perlahan mulai berkurang. Dan saat aku menutup mataku selanjutnya, semuanya sudah terlihat sangat gelap.
Lagipula bukan hanya perutku, tubuhku juga cukup kelelahan. Ini membuat tidurku sedikit lebih nyenyak dari biasanya, ditambah aku tidak lagi kedinginan saat diapit dua binatang yang hangat di samping leherku ini.
Tidak, mereka berdua bukan binatang sih. Bahkan keberadaannya sendiri mendekati mahluk halus. Eh? Lalu kenapa suhu mereka hangat?
Yah, siapa yang peduli dengan itu, kan? Selama itu nyaman untuk di dekati.
____________________________________
Jika merasakannya lebih jauh, permukaan tempatku membaringkan tubuh pada kasur terasa tidak rata, sensasi empuk dari kasur yang biasa aku rasakan juga menghilang.
Hm? Apa ini?
Dengan sedikit rasa kantuk, aku mencoba untuk membuka mata.
"Huh?"
Dan yang ada di depanku adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Membuatku kehilangan kata-kata dan melihat ke sekeliling.
Aku berbaring telungkup pada bulu yang bergoyang kuat karena angin, lalu di sampingku dengan jarak beberapa meter, aku bisa melihat wujud kedua Ebi dengan ukurannya yang besar berlari. Bersama bulan yang ada di atas kami.
Menunggangi Master, aku sedang terbang di atas langit saat ini. Sepertinya Ebi menyadari jika aku sudah sadar, dia melangkah mendekat dengan pijakan berbentuk awan keemasan pada kakinya.
"Aciel, kau sudah sadar? Ini mempercepat semuanya, kita hampir sampai jadi tahanlah kesadaran pada kepalamu sedikit lagi."
"Huh? Ebi, memangnya kita mau ke mana tengah malam seperti ini? Tidak, jika Paman dan Bibi mengetahui aku keluar tengah malam maka tidak akan ada sarapan nanti pagi."
"Tenang saja, Leore sudah menyelesaikan masalahnya. Daripada itu, lihatlah ke bawah. Kau akan tahu begitu melihatnya."
Memangnya ada apa di bawah?
Dengan ekstra hati-hati, aku merangkak pelan pada bulu Master dan mencondongkan kepalaku ke bawah. Hanya ada hutan di bawah sana, tanpa adanya cahaya sedikitpun. Jika melihat lebih jauh, di sekitar kami saat ini hanya ada pegunungan dan hutan.
"Dimana ini?"
"Hm? Kita ada di hutan. Bukannya itu sudah jelas?"
Tidak, aku sudah tahu jika kita ada di tengah hutan besar. Tapi bukan itu yang aku maksud, bagaimana aku menjelaskannya, ya?
"Tenang saja, kita akan kembali sebelum fajar tiba. Ebi memberitahuku jika Dewa di dekat sini mengadakan sebuah perjamuan jadi kita bisa mampir dan memakan beberapa jamuan serta meminum arak di sana." Master yang diam dari tadi, berbicara.
"Ya, dua hari lalu Dewa Hutan ini memberitahuku untuk datang ke pestanya. Dia bilang ingin merayakan kelahiran anaknya yang sudah dia nantikan selama dua ratus tahun terakhir."
"Begitukah? Tapi apakah baik-baik saja jika manusia sepertiku ikut ke dalam pestanya begitu saja?"
"Tentu saja tidak, kan? Jika kau datang dengan penampilan itu maka kau hanya akan menjadi camilan para Roh yang meminum arak di sana."
Jawab Ebi dengan singkat, menyipitkan matanya yang dipenuhi kejahilan.
Yah, aku sudah menduganya.
"Karena itu sebelum sampai di sana, kau harus melakukan sedikit penyamaran." Lanjut Master, sedikit mempercepat lajunya.
"Penyamaran?"
"Ya, bukankah aku sudah bilang sebelumnya? Roh rubah itu handal dalam menyamar atau merubah bentuknya. Ebi akan merubah penampilanmu dan tidak akan ada Roh yang menyadarinya. Tapi untuk si Dewa aku tidak tahu, mungkin baik-baik saja selama kau tidak bertatap mata dengannya."
Apakah aku benar-benar akan aman? Entah kenapa ini sedikit mengkhawatirkan.
Pada akhirnya, Ebi merubah penampilanku menjadi seorang Roh perempuan dengan ekor dan telinga rubah. Aku tidak tahu kenapa dia memilih itu tapi dari tatapan yang dia keluarkan, sepertinya ada beberapa jejak fetish yang mendasari tindakan dan pilihannya.
Penampilanku memang sudah menyerupai Roh tapi aroma yang keluar dari tubuhku tetaplah aroma manusia. Untuk menyamarkan itu, Ebi mencabut satu bulunya dan menyuruhku memakannya.
Anehnya bulu Ebi terasa seperti gula kapas.
Dengan sedikit detak jantung yang meningkat, aku pun berangkat menuju perjamuan para Roh.
Yah, meskipun begitu semuanya berjalan cukup lancar dan aku bisa memakan banyak hal sampai kenyang tapi aku menyadari beberapa tatapan aneh yang dikeluarkan dari Dewa yang mengadakan Pesta di tengah-tengah acaranya.
Apapun itu, aku cukup senang. Baik karena perutku yang penuh, ataupun Master dan Ebi yang mengajakku untuk menghadiri pesta.
Mau bagaimanapun, keduanya sepertinya cukup memperhatikanku.
Sungguh, aku benar-benar senang dengan itu.