ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 4.17 : UNDANGAN KABUT



Terletak pada bagian barat dari gunung Ampera, dimana sebuah pusaran kabut yang sangat tebal mengelilinginya dan membutakan apapun yang ada di dalamnya.


Pertama-tama, kabut ini bukanlah sesuatu yang bisa dilihat oleh manusia biasa, hanya mereka yang diberkati dengan tingkat Energi Spiritual memadai yang bisa melihatnya dan untuk para Roh, itu adalah sesuatu yang cukup umum.


Diiringi matahari yang semakin menanjak puncaknya, ketebalan kabut semakin bertambah, menghisap apapun yang ada di sekitarnya. Dan diantara kabut itu, terlihat beberapa titik cahaya berwarna kuning kemerahan yang berkobar.


Melihat lebih dekat, itu adalah sebuah obor yang dipegang oleh masing-masing Roh, sebagai penunjuk saat mereka berjalan pada arah yang sama. Semua Roh itu menuju pada titik pusat dari kabut, dimana ketebalan dari kabut mencapai puncaknya.


Tapi saat kau sudah mencapai titik pusat dari kabut, seolah semuanya adalah ilusi, seluruh kabut yang menutupi jarak pandang luas sebelumnya benar-benar menghilang sepenuhnya.


Yang ada disana adalah dataran rumput berwarna kemerahan, mengeluarkan cahaya permata yang naik pada udara dan terbang menuju berbagai arah, lalu menghilang pada langit. Dan yang ada di puncak dataran itu adalah sebuah kuil raksasa.


Sama seperti penggambarannya, itu adalah kuil raksasa dengan ukuran yang sangatlah besar, melayang pada udara tanpa satupun pilar di bawahnya.


Kuil yang menampakkan warna merah terang, dengan pernak-pernik emas yang menghiasi banyak titik permukaannya, menggambarkan keagungan dan kehormatan dari pemiliknya.


Semua Roh yang sampai pada titik pusat menerbangkan diri mereka dan naik menuju kuil itu. Satu persatu Roh itu masuk ke dalam kuil dengan langkah pelan yang menunjukkan rasa sopan dan kekaguman, melangkah pada anak tangga.


Tapi di waktu yang sama, semua Roh itu menghentikan langkah mereka dan memalingkan wajah secara bersamaan pada satu arah. Terdengar suara gendang yang ditabuh, diikuti suara teriakan penyambutan sesuatu yang akan datang.


"Perhatian! Perhatian! Beri jalan! Beri jalan! Beri jalan untuk sang tamu kehormatan yang agung!! Perhatian! Perhatian! Berikan jalan untuk sang tamu kehormatan agung!! Beliau akan segera lewat!! Semua yang ada di sini!! Berikan jalan!!"


Suara kegaduhan mencapai setiap Roh yang mendengarnya, mereka semua mengulangi ucapan 'tamu agung' dengan wajah mereka yang menampakkan rasa hormat dan kesenangan. Setiap tatapan yang mereka keluarkan menampakkan rasa penasaran tertinggi akan sesuatu yang segera datang.


Dan di kejauhan, pada dinding kabut yang memisahkan titik pusat dari dunia luar, terbentuk sebuah lubang hitam dengan ukuran yang sangatlah besar. Ukurannya yang hampir menyaingi kuil melayang raksasa, semakin memecahkan suasana diantara para Roh.


Dan pada lubang itu, muncul dua titik cahaya berwarna biru kehijauan.


Dua cahaya itu semakin besar, bergerak dan sekilas, padam lalu kembali. Sampai akhirnya para Roh yang melihatnya sadar jika itu bukanlah cahaya biasa, melainkan sebuah bola mata.


Dan yang memiliki kedua bola mata itu menunjukkan wujudnya, dengan bulu hitam berkilau, menampilkan wujud layaknya seekor harimau setinggi lima puluh lima meter. Mengeluarkan kabur putih dari mulutnya dan hembusan angin kuat dari setiap napas yang dibuat oleh hidungnya.


Harimau raksasa itu melihat ke arah kuil, melirik beberapa Roh yang menatapnya dengan cahaya kekaguman dan mendengus lalu merubah wujudnya menjadi jauh lebih kecil.


Mengabaikan semua tatapan yang diarahkan padanya, harimau dengan tinggi sekitar lima meter itu pun berjalan untuk memasuki kuil.


____________________________________


Terletak pada ruangan utama dari kuil raksasa, dimana semua yang ada di dalamnya bersinar sangat terang oleh warna emas dan merah terang. Di salah satu sisi dinding, terdapat sebuah meja kayu raksasa berbentuk lingkaran, dengan sesuatu di atasnya.


Itu adalah Roh berwujud burung gagak berbulu merah padam, dengan warna kuning gelap yang memenuhi matanya dan dua tanduk menyerupai sebuah ranting pada kepalanya.


Gagak merah itu mengangkat salah satu dari keempat sayapnya, membuka paruh hitamnya dan sebuah suara yang ceria keluar dari sana.


"Oh, Leore. Akhirnya kau datang juga, ya? Aku menunggumu cukup lama."


Arah dimana gagak itu melihat mengarah pada pintu kembar dengan lukisan naga yang baru saja terbuka, membawa seekor kucing hitam yang berjalan masuk bersama beberapa Roh yang membawa beberapa botol arak dan manisan serta buah-buahan pada nampan yang mereka bawa.


Gagak merah duduk pada sisi meja yang berlainan dengan kucing hitam itu, membuat mereka terpisahkan dengan makanan dan minuman yang ada di bagian tengah meja lingkaran itu.


Kucing hitam itu masih belum membalas ucapan si gagak merah. Daripada itu dia malah mengambil salah satu botol arak, membukanya dengan ekor dan membawanya, menumpahkan semua air yang ada di dalam botol pada mulut kecilnya.


Dengan beberapa cegukan, kucing itu menyelesaikan ronde pertamanya.


"Kau memberiku undangan yang mendadak, tentu saja aku tidak bisa langsung menerimanya, kan? Jadi, apa yang kau inginkan dengan memanggilku? Tidak sepertimu, aku Roh yang cukup sibuk, kau tahu? Ada banyak hal yang harus aku urus."


Gagak merah itu mengambil salah satu buah pir dengan sayapnya, memasukkan semua itu pada paruh hitamnya dan langsung menelannya.


"Sibuk, ya? Memangnya apa saja yang kau lakukan? Aku mendengar dari Hjorn jika kau baru saja keluar dari segel yang mengurung mu. Beruang itu ... Aku memberinya beberapa madu kualitas tinggi dan dia langsung membeberkan semuanya."


Gagak merah itu tertawa kecil, mengambil buah lainnya dan memasukkan semua itu pada mulutnya. Disisi lain, kucing hitam itu memasang eskpresi jengkel, lalu mengumpat saat ekornya mencambuk meja.


"Beruang itu ... Yah, lagipula sejak awal aku sudah tahu jika dia bukanlah Roh yang cerdas. Mengharapkan sesuatu darinya adalah sebuah kesalahan, aku tidaklah harus melakukannya."


"Kau memang benar. Tidak sama seperti Vips, otak Hjorn tidaklah berjalan. Bahkan aku pun tidak terlalu yakin apakah dia memiliki sesuatu seperti itu sejak awal."


"Nah, itu dia. Kau memang sangat benar, Sarv."


Sang gagak merah Sarv dan sang kucing hitam Leore, tertawa saat mereka mengambil buah-buahan dan arak dengan sayap ataupun ekor mereka. Suasana sudah sedikit melunak, Sarv yang menyadari hal itu membawa sebuah topik baru.


"Ngomong-ngomong, saat aku tahu jika kau telah bebas dari segel gila itu saat berbicara dengan Hjorn sebelumnya, aku langsung mengutus salah satu bawahan paling terpercaya ku untuk memgawasi mu dari jarak yang cukup jauh. Dan disana aku menemukanmu yang hidup bersama anak manusia. Leore, apa kau bisa memberitahuku tentang itu?"


Leore masih meminum araknya dan saat dia menyelesaikan tiga botol, dengan satu cegukan lain dia pun menjawabnya.


"Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku sebelumnya dan kau sudah memberikan pertanyaan lain? Bukannya itu sedikit tidak sopan? Lagipula kau juga sudah mengawasi ku, kan? Bukankah itu artinya kau sudah tahu siapa anak yang ada bersamaku?"


"Ya ampun, aku sudah bilang kalau bawahan ku mengawasi mu dari jauh, kan? Itu artinya dia tidak bisa mendengar apapun. Dia benar-benar mengambil jarak agar kau tidak menyadarinya."


"Kau punya bawahan yang sedikit pemalu rupanya ... Baiklah, aku akan memberitahumu. Lagipula suatu saat nanti kau juga akan menemuinya."


Sarv memiringkan kepala gagaknya, cukup mudah untuk melihat bahwa dia sedang kebingungan saat ini. Dia pun bertanya kembali.


"Aku? Menemuinya? Anak manusia itu? Kenapa?"


Di sisi lain, Leore mengambil satu botol arak kualitas tinggi lainnya dan meminumnya dalam satu tegukan penuh, mengeluarkan suara yang sangat puas saat dia menghantamkan bagian bawah botol pada meja.


"Fuhh ... Tentu saja kau akan menemuinya. Lagipula dia adalah anak dari Anella."


Mendengar itu, keheningan mendatangi Sarv, yang membuka paruhnya dengan lebar.


"Huh? Anaknya Nona Anella?"