ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.11 : TUJUAN YANG SIRNA



"Fuhh ... Menakutkan."


Melihat ular raksasa yang terbaring lemas pada hutan dengan tubuh besarnya, entah kenapa memberikan beberapa sentuhan akan sebuah keinginan untuk menyembuhkannya.


Tapi saat ini tidak ada waktu untuk itu, terlebih hal itu bukanlah sesuatu yang bisa aku lakukan begitu saja. Aku melihat samping, pada Beida yang masih membeku saat melihat ke arah ular itu.


"Aku tidak menyangka Tuan Vips bisa dikalahkan hanya dengan satu serangan ... Tidak bisa dipercaya ... Apa saat ini aku sedang bermimpi?"


Dia menggumamkan beberapa hal tidak penting, aku memutuskan untuk mengabaikannya dan menepuk-nepuk bulu Master, meminta perhatiannya.


"Tapi bukankah dia terlalu mudah dikalahkan? Master, apa yang terjadi? Apa serangan yang Master berikan memang memiliki efek sekuat itu? Kupikir ular ini masih bisa menahannya beberapa kali lagi."


"Dari awal kekuatan Vips itu diukur bukanlah dari kekuatan murni ataupun besarnya Energi Spiritual yang dia miliki. Apa yang membuatnya menjadi Roh Tingkat Tinggi adalah matanya. Meskipun dia cukup enggan untuk menggunakannya."


"Heehh ... Aku pikir semua Roh tingkat tinggi itu memiliki kekuatan yang kurang lebih sama. Ternyata ada spesifikasi ataupun detail dari kemampuan khusus yang masing-masing mereka miliki, ya?"


"Hm? Tentu saja, kan? Bukannya aku sudah mengatakan hal ini padamu sebelumnya? Jika setiap Roh memiliki kehendak dan tugasnya masing-masing. Itu wajar jika kami memiliki perbedaan satu sama lain."


"Ah, benar juga. Aku ingat jika Master pernah mengatakan sesuatu seperti itu sebelumnya. Maaf, aku melupakannya begitu saja."


"Tenang saja, sejak awal aku tidak pernah mengharapkan apapun dari otak bodoh milikmu itu jadi kau tidak perlu terlalu ... Hm? Kalian berdua, diamlah."


Master naik lebih tinggi pada langit dan mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi. Menutup mata, memfokuskan pendengaran pada telinganya yang bergerak beberapa kali lalu mendengus kesal setelahnya.


"Sialan, aku sedikit lengah."


"Master, apa yang terjadi?"


"Saat kita sedikit berselisih dengan ular bodoh ini, beruang putih itu sudah hampir mendapatkan madunya. Hanya tersisa sedikit waktu sampai kita bisa menyusul menuju tempatnya. Kalian berdua cepatlah bersiap, aku akan segera meluncur."


"Eh? Bersiap?"


Tanpa menghiraukan apapun, Master merendahkan postur tubuhnya dan dalam hitungan ke dua, tubuhnya langsung melesat kencang bagaikan sebuah anak panah, membentuk harus lurus menembus awan dan kawanan burung yang dilewati.


Berada di situasi seperti ini mengingatkanku saat berada di punggung Wasa dan terbang dengannya sebelumnya, tapi Master melakukannya dengan kecepatan yang tidak bisa dibandingkan. Ini membuatku sedikit sulit untuk menarik sebuah napas.


"Tuan Aciel!! Tolong saya!!"


Ada sebuah suara yang memanggilku, tapi itu langsung teredam oleh angin yang sangat kuat ini.


Untuk berjaga-jaga aku melihat ke samping tapi yang aku temukan di sana adalah Beida yang hampir meluncur keluar dan melepaskan pegangannya pada bulu Master.


Tampaknya belalang ini tidak kuat menahan daya dorong saat Master mulai berlari dengan kecepatan tinggi dan hal itu membuatnya terhempas karena posisinya yang masih kurang pas.


Dengan tenaga yang masih tersisa pada tubuhku, aku mencoba mengulurkan tangan ke arahnya, memegang satu lengannya dan menariknya. Menahan kepalanya untuk tiarap pada bulu Master sedekat mungkin.


"Beida!! Pegang bulu ini seolah nyawamu yang dipertaruhkan!! Nyatanya, belalang kurus sepertimu pasti akan mati jika terlempar pada kecepatan seperti ini!! Ingat itu baik-baik!!"


"Baik!! Saya mengerti!!"


Aku tidak tahu apakah Master mendengar hal ini atau tidak tapi setelah Beida menjawab, kecepatannya meningkat sekali lagi. Hal ini membuatku semakin sulit untuk memegang bulunya.


Dasar kucing sialan!! Perlambat sedikit kecepatannya atau kita akan mati!!


"Tuan Aciel!! Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada anda!!"


Aku berpikir jawaban seperti itu sudah cukup efektif untuk mengurungkan niat Beida tapi tampaknya aku salah. Belalang itu mendekat ke arahku dengan susah payah dan berteriak.


"Tidak!! Saya akan mengatakannya sekarang!!"


"Hah?! Terserahlah!! Katakan saja!!"


"Baik!! Saya ingin berterimakasih karena anda sudah membantu saya untuk mencari Huflu sampai sejauh ini!! Jujur saja saya tidak pernah berpikir jika anda mau melakukannya, meskipun itu adalah sesuatu yang sudah dijanjikan oleh ibu anda!!"


"Apaan?!! Apa hanya itu saja?!! Kalau begitu tutup mulutmu dan jangan terlalu dipikirkan!! Lagipula selain untuk ibuku, aku juga melakukan semua ini untuk diriku sendiri!! Kau tidak perlu berterimakasih, karena ini adalah sesuatu yang wajar!!"


"Tetap saja!! Saya ingin berterimakasih!! Lalu saya ingin menyampaikan satu hal lagi!!"


Ini mulai terasa menyebalkan, apa belalang ini tidak bisa menahan diri saat ini? Aku benar-benar kesulitan untuk menanggapinya, lebih baik untuk mengabaikannya saja dan membiarkannya berbicara.


Aku mengangguk beberapa kali untuk menjawab pernyataan Beida sebelumnya. Belakang itu melihatnya dan mendekatkan kepalanya sekali lagi.


"Anda pernah menanyakan tentang alasan mengapa saya mencari sesuatu seperti Huflu meskipun saya adalah Roh lemah, kan?!! Jawaban yang saya berikan sebelumnya memang bukanlah kebohongan tapi itu juga bukanlah sebuah kebenaran!!"


"Lalu?! Memangnya ada apa dengan itu?!"


"Alasan sebenarnya mengapa saya mencari Huflu adalah untuk menemukan keabadian!! Itulah niat awal yang ada pada diri saya saat mencarinya!!"


Keabadian?


"Bukannya keabadian itu hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan?! Master sudah mengatakan hal itu sebelumnya, kan?!"


"Ya!! Saya tahu jika hal itu memang hanyalah sebatas rumor!! Tapi saya mengetahuinya masih baru-baru ini!! Sebelum saya mengetahui hal itu, tujuan saya mencari Huflu benar-benar untuk mendapatkan keabadian yang ada di dalamnya!!"


"Memangnya untuk apa kau mengincarnya?! Apa kau tipe Roh yang takut saat dimusnahkan dan membenci sebuah ketiadaan?!"


"Tidak, bukan itu!!"


"Kalau begitu cepat katakan alasanmu menginginkan keabadian itu!!"


"Saya mencari keabadian itu adalah untuk saya berikan pada istri saya!!"


"Hah?! Istri?! Apa maksudmu?!"


"Sebenarnya ...!!!"


Beida pun menjelaskan beberapa titik pada situasi yang dia hadapi. Aku sedikit kesal karena dia mengambil timing yang buruk untuk menceritakannya tapi aku memilih untuk diam dan mendengarkan semuanya.


Meskipun begitu, aku tidak bisa menyebutkan jika kisah yang Beida berikan adalah sesuatu yang buruk.


Nyatanya, dia mencari Huflu adalah untuk memberikan keabadian pada Istrinya yang jatuh menderita dan ingin membuatnya hidup abadi agar istrinya tidak merasakan penderitaan lagi.


Awal dia memulai pencarian Huflu adalah saat dimana dia tidak mengetahui apapun, karena itu dia benar-benar yakin jika Huflu akan memberikan sebuah keabadian pada mereka yang mendapatkannya.


Fakta dimana ada banyak Roh tingkat tinggi yang ikut serta dalam pencarian Huflu adalah bukti yang cukup kuat baginya. Karena itulah dia terus mencari dan mencari, tapi tidak pernah bisa mendapatkan satupun Huflu di setiap sesi diadakannya.


Pada akhirnya, Istrinya pun musnah dengan sendirinya karena penderitaan yang dialaminya sudah melebih batas dari apa yang bisa dirinya tampung. Lalu untuk menebus itu, Beida memilih menghabiskan waktunya untuk mencari Huflu meskipun dia sudah tidak terlalu membutuhkannya.


Sampai akhirnya dia tahu, jika Huflu tidaklah memberikan sebuah keabadian.