
Menutup pintu gudang, melepas seragam dan menaruh tas pada lantai berdebu, aku berjalan menuju meja belajar di ujung gudang, duduk pada kursi dan menghadap ke arah kucing hitam yang bersantai di atas meja.
Kucing itu masih menjilat kakinya, seolah dia tidak menyadari kehadiranku.
"Oke, aku sudah pulang cepat hari ini dan hal itu membuatku tidak sempat membicarakan beberapa hal bersama teman baruku. Master, aku harap pembicaraan kali ini memiliki nilai yang sepadan dengan itu."
Tidak ada perubahan, Master benar-benar mengabaikan kata-kataku dan tentunya hal ini memantik sedikit bara api menyala di dalam. Aku pun memegang tubuh kucing itu dan membenamkan wajahku pada perutnya, lalu meniupnya.
"Hentikan, bocah bodoh!! Itu tidak nyaman!!"
"Aduh!!"
Kucing itu melayangkan cakar, menggores daun telinga dan aku langsung melepaskannya.
"Master, kau benar-benar mencakar telingaku."
"Itu karena kau melakukan hal bodoh."
"Tapi Master juga mengabaikan ku, aku hanya berniat membalas."
"Itulah yang aku sebut hal bodoh, dan penyebab aku mengabaikan perkataan mu itu karena kau mengatakan hal yang bodoh. Mana mungkin kau memiliki seorang teman, kan?"
"Tidak, aku benar-benar memilikinya. Kami baru saja bertemu hari ini."
"Lupakan itu, ayo kita langsung masuk ke topik utama."
Master duduk kembali pada meja dan memejamkan matanya, lalu membukanya kembali. Tatapannya tampak berbeda dari sebelumnya, dengan cahaya kehijauan pada matanya yang bersinar cukup terang.
"Apa Yang ingin aku bicarakan saat ini adalah tentang sesuatu yang ibumu, Anella Luciel tinggalkan. Sebagai keturunannya, kau harus mengetahuinya karena kemungkinan dirimu akan terlibat kedepannya cukup besar."
Sesuatu yang ibuku tinggalkan? Entah kenapa suasananya mulai menjadi sedikit berat. Master juga memasang mode serius.
"Terlibat? Apa itu adalah sesuatu yang berbahaya?"
Master menggeleng pelan terhadap pertanyaan yang aku ajukan itu.
"Tidak, tidak juga. Ini akan bergantung pada bagaimana cara mengatasinya, jika kau cukup cerdas maka hal yang akan aku sampaikan ini sama sekali tidak berbahaya tapi sayangnya kau bodoh, karena itu aku harus memberitahumu."
Kucing ini selalu saja menyisipkan banyak celah untuk memasukkan beberapa ejekan padaku di dalam penjelasannya. Aku ingin menentangnya tapi lebih baik untuk diam saat ini.
"Jadi, apa itu? Sesuatu yang ibu tinggalkan."
Master membaringkan tubuhnya pada meja, menggerakkan ekornya yang perlahan memanjang dan menyelimuti tubuhnya.
"Anella Luciel, atau biasa dikenal juga dengan sebutan Sang Puteri Bulan. Dengan rambut putih layaknya dataran bersalju dan mata permata berwarna biru kehijauan yang memantulkan warna lautan dan hutan di dalamnya. Nama Puteri Bulan terkenal luas di Dunia Roh tapi hanya sebagian kecilnya saja yang benar-benar tahu nama aslinya."
Ekor Master mengeluarkan kabut berwarna hitam yang menyebar dengan cepat dan membuat pandanganku dipenuhi kegelapan.
tapi semua kegelapan langsung berubah dengan sebuah pemandangan yang menampilkan ratusan Roh berpesta pada dataran berumput hijau yang sangat luas, dengan seorang gadis berambut putih yang memegang buah-buahan di tangannya.
Gadis itu tersenyum lebar, mengenakan gaun putih tipis yang semakin memancarkan pesonanya. Dia terlihat sangat Bersenang-senang.
Anella Luciel ... Puteri bulan ... Rambut putih ... Mata biru kehijauan ... Jadi begitu.
Aku memang memiliki beberapa praduga tapi dengan ini semuanya sudah dipastikan.
Pemandangan pada kabut berubah, menampakkan gadis berambut putih itu yang menundukkan Roh seukuran gunung di depannya. Lalu berubah sekali lagi, menampakkan gadis berambut putih itu yang memakan anggur dengan banyak Roh kecil dan tertawa bersama mereka.
Lalu pemandangan berubah sekali lagi, menampakkan gadis berambut putih itu yang mengulurkan tangan kecil ramping dengan kulit pucatnya pada Roh di depannya. Senyum yang dipenuhi kepercayaan diri terlukis jelas pada setiap tindakannya.
"Disisi yang sama, gadis itu juga terkenal karena sering menjanjikan suatu hal pada setiap Roh yang menarik perhatiannya. Dia selalu menjanjikan sebuah hal, yang mana membuat janji yang dia emban terlalu banyak dan mungkin dia sudah melupakannya. Hal itu mengakibatkan banyak janji yang dia buat masih belum terpenuhi sampai saat ini."
Pemandangan pun menghilang, dengan kabut hitam yang semakin menipis. Pandangan pada mataku kembali normal seperti biasanya.
"Yang ingin aku sampaikan padamu saat ini adalah bagaimana sebuah perjanjian berjalan. Saat seorang manusia membuat sebuah perjanjian pada Roh dan jika manusia itu kehilangan nyawanya sebelum mereka bisa menepatinya, benang ikrar itu sendiri akan secara otomatis berjalan pada keturunannya."
... Huh?
"Apa itu artinya ... Aku harus menepati janji yang sudah ibu buat pada para Roh, karena aku adalah satu-satunya keturunannya?"
"Normalnya begitu, tapi ada banyak Roh yang tidak tahu jika Anella memiliki keturunan. Satu-satunya Roh yang yang mengetahui hal itu dengan jelas adalah diriku seorang, setidaknya tidak akan ada satupun Roh yang mencarimu saat ini."
Oh, jadi itu artinya identitas milikku masih aman, ya? Syukurlah kalau begitu.
Mungkin ada diantara para Roh itu yang mencoba melampiaskan amarah mereka padaku karena ibu tidak menepati perjanjian yang telah mereka sepakati dan membuat para Roh menunggu.
Dan disaat aku merasakan perasaan lega itu, dengan mudahnya Master menghancurkan semuanya, hanya menggunakan satu kalimat.
"Tapi saat mereka mengendus bau tubuhmu yang sama seperti Anella, mereka pasti akan langsung menyadarinya. Lagipula aku mengetahui hal itu dari cara yang sama, kau masih mengingatnya, kan?"
Dalam sesaat, potongan ingatan dimana aku pertama kali bertemu Master dan dia yang mengendus tubuhku dengan hidung besarnya terlintas. Itu memang benar, Master langsung mengenaliku.
Kalau begitu—!!
"Eh? Bukankah itu artinya hanya masalah waktu sampai identitas ku menyebar diantara para Roh dan mereka semua mengincar ku? Master, apa yang harus aku lakukan?"
"Tenang saja, sudah kubilang jika aku adalah penjaga yang melindungi tubuhmu, kan? Selama aku ada, tidak akan aku biarkan para cecunguk itu merusak tubuhmu yang merupakan hidangan penutup milikku. Kau tidak perlu terlalu khawatir."
"Master ... Ternyata Master juga memi—"
"Tapi itu hanya terjadi saat aku ada di dekatmu. Jika saat itu terjadi aku sedang dalam waktu minum-minum atau pesta dengan para Roh, maka aku sendiri tidak akan bisa melindungi tubuhmu. Karena itulah kau harus bisa menempa dirimu sendiri."
"Tidak, yang harus kau lakukan adalah berhenti minum-minum dan jadilah penjaga yang benar-benar melakukan tugasnya, kan?"
Master mengabaikannya, melompat pada bahuku dan melingkar ekornya di leherku, sedikit cahaya berwarna biru kehijauan keluar dari ekor hitamnya.
"Kau sudah memiliki pondasi yang kuat dengan Energi Spiritual yang sangat besar. Sisanya hanyalah melatih dirimu untuk memanfaatkan semua itu. Tapi sayangnya aku tidak pernah mengajari manusia untuk melakukannya, karena itu kau harus bisa mencari seorang guru atau mempelajari semuanya sendiri."
"Mempelajari sendiri atau mencari seorang guru, ya? Ngomong-ngomong, bagaimana ibu mempelajari hal itu dulu? Ibu juga sangat hebat dalam menundukkan para Roh, kan?"
"Aku tidak tahu, saat aku bertemu dengannya gadis itu sudah menguasai banyak hal."
"Begitu, aku mengerti."
Memperkuat diri dengan pondasi yang aku miliki sekarang, ya? Itu memang pilihan paling jelas agar para Roh itu tidak menggangguku lagi.
Hm? Ini mengingatkanku pada satu hal.
"Master, aku sudah mendapatkan sebuah salinan yang berisi mantera dan banyak informasi lainnya, mungkin aku bisa menggunakannya."