
Mimpi ... Apa ini benar-benar sebuah mimpi? Rasanya begitu nyata. Lebih baik aku mengamati semuanya dari sini dan memahami setiap situasi yang terjadi, bagaimanapun ini tetap terasa aneh.
Eh? Ngomong-ngomong soal keanehan, kenapa aku sadar jika ini sebuah mimpi? Lucid dream? Tidak, aku tidak bisa mengendalikannya.
Apa-apaan ini?
Terletak di tengah sebuah hutan besar yang dikelilingi oleh banyak gunung, tanpa ada satupun tanda dari kehidupan manusia di dekatnya. Cahaya matahari yang berada pada puncak langit bersinar terang, membawa suasana penuh kehangatan.
Suara burung berkicau memenuhi hutan layaknya paduan suara yang menenangkan, lalu aliran sungai berkilau yang menyebar di seluruh hutan, membawa banyak binatang buas menuju pinggirnya. Suasana yang sangat natural.
Kemudian di isi banyak pemandangan daei hutan lainnya, sejauh ini semuanya cukup normal.
Swinggg—!! Dalam sesaat, pemandangan yang aku lihat berubah seketika.
Dari gambar keseluruhan bagian hutan, berubah menjadi tampilan gedung yang terlihat layaknya sebuah kuil, terlebih kuil yang sangatlah besar.
Di bagian depan dari gerbang depan kuil itu terdapat Roh yang memiliki wujud layaknya seekor Rubah yang berbaring pada halaman depan dan menutup matanya. Rubah itu memiliki ukuran yang sangatlah besar.
Apa-apaan dengan ukurannya itu? Dua puluh ... Tidak, mungkin mendekati tiga puluh meter? Bukannya ukurannya terlalu besar?
Dengan sembilan ekornya yang menggulung tubuh raksasanya, lalu sembilan kepalanya dengan semua matanya yang tertutup. Meskipun begitu semua telinganya bergerak, sepertinya rubah itu masih dalam posisi terjaga.
Terdapat sebuah corak layaknya simbol pada setiap dahi di kepalanya, berhiaskan tanduk raksasa yang bercabang dengan taring berwarna hitam miliknya yang memantulkan cahaya matahari.
Rubah ini benar-benar menggambarkan sebuah titik Roh tertinggi, aku tidak pernah melihat Roh seindah ini seumur hidupku. Mungkin aku akan percaya begitu saja jika dia adalah Dewa yang memiliki Kuil raksasa di belakangnya.
Hm? Tunggu dulu, ada yang aneh di sini. Sembilan ekor? Sembilan kepala? Ah, bukannya itu sama dengan Rubah yang aku temui sebelumnya? Apa dia anak dari Rubah raksasa ini?
Tidak, dari auranya aku merasa jika keduanya adalah Roh yang sama. Kalau dilihat-lihat setiap wajahnya juga memiliki struktur yang sama. Jadi ini Roh yang sama, ya? Penampilan mereka sangat berbeda.
Jika diingat lebih jauh Roh rubah yang aku temui sebelumnya mengatakan jika dia sedikit melemah karena pengaruh kuat dari segel yang telah lama mengurungnya. Mungkin karena itu juga wujud yang dia gunakan memiliki perbedaan.
Baik dalam penampilan, ukuran maupun keindahan. Benar-benar berbeda.
Tepat saat aku memikirkan itu, Roh rubah yang tertidur itu membuka semua matanya yang tertutup.
"Hm?"
Huh? Dia melihat ke arahku? Apa ini bukan sebuah mimpi?
Rubah itu mengangkat kepalanya sedikit ke atas lalu menjilat salah satu ekornya dan melihat ke arahku sekali lagi. Kemudian Roh rubah itu berbicara, suaranya terdengar sangat berkelas dengan sedikit jejak arogan yang menggambarkan tatapan tajamnya.
"Sen, apa yang kau lakukan di sini?"
Huh? Sen?
Aku mendengar suara langkah kaki di belakangku dan memutar tubuhku untuk melihatnya. Yang ada di sana adalah—
"Nona Nebi, itu adalah kalimat yang harusnya saya tujukan pada anda. Apa yang anda lakukan di sini? Bukannya anda ini salah satu dari lima Rubah penjelajah di kuil ini? Dewa ******* pasti merasakan kesedihan yang mendalam saat beliau melihat anda bermalas-malasan di sini sedangkan keempat rekan anda yang lainnya berkeliling Dunia untuk menyebarkan berkat sang Dewa."
Apa yang aku lihat di sana adalah Roh rubah lainnya, dengan suara yang dalam layaknya pria bermartabat tinggi. Dan ukurannya itu, mungkin mendekati dua puluh meter? Tetap saja itu terlalu besar, meskipun tidak sebesar Nebi.
Jadi rubah yang berbaring sedari tadi ini bernama Nebi, ya? Dia tidak memberitahukan namanya saat bertemu denganku di gunung sebelumnya.
Sedangkan rubah yang baru tiba ini bernama Sen.
Tidak ada simbol pada kepala Sen yang berjumlah sebanyak tujuh, ekornya juga berjumlah tujuh. Dia juga berbicara menggunakan Honorifik, mungkin hierarki di sini ditentukan oleh jumlah total Ekor dan kepala yang mereka miliki masing-masing.
Dan yang berdiri di puncak hierarki adalah sosok yang Sen panggil sebagai Dewa itu. Ini hanya penilaian pribadiku sih, ada banyak hal yang tidak aku pahami di sini.
"Bermalas-malasan? Sen, jaga bicaramu itu. Aku sedang menjaga gerbang kuil dari para penyusup yang mungkin akan masuk ke dalam saat ini selagi keempat saudariku menjelajah di Dunia luar." jawab Nebi selagi menguap pada salah satu mulutnya.
Tidak, dilihat dari manapun kau hanya tampak layaknya seekor rubah pemalas yang membuang-buang waktu di teras rumah dan bermalas-malasan. Ada apa dengan kepercayaan diri itu?
Sepertinya Sen memikirkan hal yang sama denganku, itu benar-benar terlihat dari ekspresi yang dia keluarkan pada tujuh wajahnya. Meskipun dia tidak menyuarakannya.
"Begitu rupanya, saya mengerti. Kesampingkan itu, saya juga ingin mengabari tentang terpilihnya sepuluh rubah baru sebagai magang di kuil ini. Mungkin anda bisa memberikan beberapa wejangan tentang tugas dari rubah penjelajah untuk meningkatkan semangat yang mereka miliki."
"Rubah magang, ya? Itu membuatku teringat saat pertama kali aku datang ke sini, awalnya cukup berat karena aku menjadi kacung dari kuil dan beberapa rubah penjelajah senior tapi akhirnya semua itu terbayarkan."
Sedikit senyum keluar dari Nebi, dengan tatapannya yang menjadi semakin tajam.
"Lihatlah aku sekarang, Aku sudah menjadi salah satu dari lima rubah penjelajah dan akhirnya bisa mengejek para senior sialan itu yang dulunya mengatakan jika aku tidak akan bisa mencapainya selagi meminum arak pada Pesta perayaan tahun baru kemarin. Haha, arak di malam itu terasa sangat nikmat."
"Nona Nebi, tolong jangan menjelekkan para rubah sesepuh dengan sangat lugas seperti itu. Anda bisa terkena karma jika ada seseorang di sini yang mendengarnya dan melaporkan hal ini pada Dewa."
"Huh? Yah, tenang saja. Aku cukup peka, kau tahu? Tidak ada siapapun di sini yang bisa mendengar pembicaraan kita."
Tidak, aku mendengarnya, dengan sangat jelas. Tapi sayangnya aku tidak bisa melaporkan semua perkataan itu pada Dewa.
Bagaimana aku harus mengatakan ini, ya?
Rubah bernama Nebi ini benar-benar memiliki kesan yang sangat berbeda saat bertemu denganku di gunung sebelumnya. Mungkin inilah sifat sebenarnya yang dia miliki.
Pastinya dia tidak akan mau menampilkan sisi ini pada manusia rendahan sepertiku.
Apapun itu, rubah bernama Sen ini juga pasti mengalami kesulitan. Dia tipe yang memiliki kepribadian serius, bahkan raut wajahnya saat ini pun terlihat cukup rumit. Kira-kira apa yang dia pikirkan?
"Begitukah? Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana untuk wejangannya? Apakah anda menyetujui untuk melakukannya?"
"Huh? Wejangan? Bukannya Kitsu yang lebih cocok untuk melakukan hal itu? Sen, kau sudah mengetahui itu dan tetap datang padaku? Apa kau mengejekku di sini? Aku akan memberimu hukuman."
Untuk beberapa alasan, Sen terlihat sedikit panik.
"Eh? Hukuman? Tolong jangan lakukan itu, saya masih memiliki banyak tugas untuk dilakukan dan tidak ada waktu tambahan untuk menjalani hukuman. Saya menawarkan ini pada anda karena Nona Kitsu sedang ada sebuah perjalanan sekarang."
"Benar juga, kau memang bilang jika empat anak itu sudah pergi untuk menyebarkan berkat. Apa boleh buat, kalau begitu—"
"—Apakah anda yang akan melakukannya?" Ucap Sen dengan nada ceria, beberapa kilauan tampak pada raut wajahnya.
"Tentu saja tidak, kan? Apa boleh buat, kalau begitu kita tunggu sampai Kitsu atau tiga lainnya kembali. Lagipula perjalanan mereka tidak akan memakan waktu terlalu lama."
Kilauan pada wajah Sen langsung menghilang bersama helaan napasnya yang berat. Dari raut wajahnya, tampaknya dia sudah menyerah.
"Ngomong-ngomong soal nona Kitsu, beberapa waktu terakhir ini ada yang aneh dari tingkah laku beliau. Saya mendengarnya dari Ron dan Chio. Lalu Ulin dan Lin juga mengatakan hal yang sama setelahnya."
"Ron ... Chio ... Ulin ... Lin ... Ah, rubah dengan tujuh ekor yang sama sepertimu, ya? Mereka bilang jika Kitsu bertingkah aneh akhir-akhir ini? Memangnya apa yang dia lakukan?"
"Mereka bilang jika akhir-akhir ini Nona Kitsu cukup sering keluar dari wilayah kuil dan mengunjungi wilayah dengan banyak manusia di dalamnya. Nona Kitsu juga kerap mengambil beberapa bunga di gunung belakang kuil dan bernyanyi. Apakah ada sesuatu yang terjadi, ya?"
"Yah, jika gadis betina dengan kepala bunga sepertinya tertawa maka itu pasti bukanlah hal yang buruk, kan? Kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Benar juga, lagipula Nona Kitsu itu berbeda dari anda. Setidaknya saya yakin jika beliau tidak akan menciptakan masalah apapun."
"Hei, apa katamu barusan? Sebagai hukuman karena telah menghinaku, aku akan mencabut satu ekor milikmu."
"Ah! Maafkan saya!! Saya hanya bercanda!!!"
"Tidak, aku juga bercanda. Kau tidak perlu bersujud seperti itu, ini membuat suasananya sedikit canggung."
"Ah, ya ... Maafkan saya."
Keduanya pun tenggelam dalam tawa yang tenang, disisi lain aku hanya diam melihat dengan tatapan kosong.
Ini membuatku sedikit merasa iri dengan hubungan yang mereka miliki, itu adalah hubungan yang tidak akan pernah aku miliki setidaknya untuk saat ini. Apa akan ada saat dimana aku memilikinya, ya?
Tapi suasananya memang terasa begitu damai di sini, apa ada maksud tertentu untukku melihat semua pemandangan ini?
Dan disaat aku memikirkan hal itu.
Swingg—!! Dalam sekejap, pemandangan yang aku lihat pun berubah sekali lagi.
"Huh? Apa-apaan ini?"