ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 2.10 : MELURUSKAN SITUASI



Aku menelan ludahku, jantungku berdetak sedikit cepat diikuti suasana ruang tamu yang perlahan terasa semakin padat. Paman botak di depanku pun masih menatapku dengan pandangan yang menilai apakah aku orang yang mencurigakan.


Itu sudah wajar, karena aku mengatakan beberapa hal aneh barusan. Apa boleh buat, kan? Aku berpikir jika orang ini memiliki kemampuan untuk melihat para Roh tapi sepertinya aku salah.


Baiklah, aku akan memastikannya.


"Um ... Jadi, apakah anda tidak bisa melihat mereka?"


Dengan tatapannya yang masih belum berubah, paman itu menjawab pertanyaanku.


"Kalau yang kamu maksud dengan melihat ini adalah melihat sesuatu yang tidak biasa dilihat oleh mata seorang manusia, maka aku tidak pernah melihatnya. Dengan pertanyaan seperti itu, apakah itu berarti kamu bisa melihatnya?"


"Eh?"


Pertanyaan yang tidak terduga itu membuatku sedikit terkejut, jujur saja aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya.


"Err ... Anu ..."


Apakah aku harus menjawabnya? Lagipula aku sudah mengatakan banyak hal aneh di depan orang ini dari tadi. Dia pasti sudah lama menganggap ku orang aneh, ini tidak akan berubah meskipun aku—


"Tidak, maaf. Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan yang barusan.


"Eh? Apa anda yakin?"


"Ya, begitulah. Tunggu sebentar di sini, aku akan mengambil sesuatu."


Paman itu berjalan pergi dari ruang tamu dengan langkah yang sedikit cepat dan beberapa saat kemudian, kembali dengan membawa sebuah kendi kecil berwarna abu-abu yang terbuat dari tanah liat, bertuliskan tanda 'Segel' di salah satu sisinya.


Itu bukanlah kendi biasa, ada Energi Spiritual yang cukup pekat mengelilinginya dan untuk beberapa alasan, aku juga bisa merasakan adanya keberadaan Energi lain di dalamnya meskipun hanya sedikit.


Sebuah kendi yang digunakan untuk mengurung Roh yang ada di dalamnya, ya? Tapi saat ini kendi itu terbuka, jadi pastinya tidak ada apapun di dalamnya.


Paman itu duduk pada kursinya dan menaruh kendi kecil itu pada meja.


"Mendiang ayahku dulunya adalah seorang pembasmi Roh, dia memiliki cukup banyak keterampilan di bidang itu. Dia juga sering bercerita pada diriku yang masih kecil saat itu jika dirinya selalu mengalahkan Roh kuat dan menyegelnya di dalam kendi dengan ukuran kurang lebih seperti ini. Setiap kali dia menceritakan itu, raut wajahnya terlihat sangat senang."


Paman itu mengelus kendi di depannya, tersenyum selagi mengeluarkan sebuah tatapan yang menggambarkan kerinduan dan di beberapa titik, itu tampak seperti tatapan kesedihan.


"Aku yang masih kecil saat itu sangat menyukai setiap ceritanya tapi seiring bertambahnya usia, ditambah sebuah fakta dimana aku yang tidak mendapatkan bakat untuk melihatnya, membuat cerita yang selalu ayah bawakan itu mulai terasa menyakitkan seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, aku memilih untuk menjauhinya dan membuat ayahku kesepian."


Yah, itu adalah hal yang wajar.


Saat seseorang menceritakan sesuatu yang tidak bisa dipahami, tentunya itu akan membuatmu mempelajarinya dan mencoba memahaminya. Tapi hal ini berbeda, jika dari awal kau tidak bisa melihatnya maka tidak ada satupun yang bisa dipelajari ataupun dipahami.


Melihat sesuatu juga bisa berarti jika setiap orang yang tidak melihatnya tidak akan menerimanya. Itu adalah sesuatu yang sangat wajar.


"Lalu saat ayahku menyadari jika akhirnya sudah dekat, dia memulai sebuah ritual yang aneh pada kebun di belakang rumah kami. Dia menggambar sesuatu pada tanah, membawa banyak kertas dan tinta lalu menjejerkan banyak kendi miliknya dan satu persatu kendi itu dibuka. Anehnya saat itu rumah kami entah kenapa terasa ramai, meskipun tidak ada banyak orang di dalam."


Menggambar sesuatu di tanah, kertas dan tinta, sebuah ritual untuk melepaskan Roh yang tersegel? Tidak, mungkin ayah dari paman ini lebih memilih untuk membasmi semuanya agar menjamin keselamatan keluarganya.


Roh yang tersegel pasti akan mengincar keluarganya jika mereka dilepaskan begitu saja. Dan jika itu terjadi, kemalangan akan menimpa keluarga ini.


"Tapi saat ayah akan menyelesaikan ritual untuk kendi terakhir, dia memasuki masa kritis dan membuat kami harus membawanya menuju Rumah Sakit. Dengan keadaan tubuhnya yang melemah saat itu, satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah kendi ini. Tapi sebelum dia sempat melakukan ritual untuk kedua kalinya, ayahku pun menghembuskan napas terakhirnya."


Helaan napas kecil datang dari paman, dia pun menarik kendi itu ke arahnya dan mengangkatnya.


"Setelah kepergiaannya, kami sekeluarga saat itu memutuskan untuk menyimpan kendi ini dan berusaha agar tidak membuka penutupnya dengan menaruhnya jauh di dalam gudang penyimpanan. tapi anak laki-lakiku menemukannya dan tanpa menyadari benda apa yang ada di depannya, dia langsung membukanya begitu saja."


Paman itu mengeluarkan senyum lemah dan dengan suara yang sedikit rendah, dia menjawabnya.


"Kenyataannya, tidak ada yang terjadi, setidaknya sampai saat ini. Justru hal itulah yang paling menakutkan karena kami tidak akan tahu apa saja yang mungkin terjadi. Hari demi hari dipenuhi dengan kegelisahan dan rasa takut."


"Begitukah? Tapi bukankah itu bagus? Karena tidak ada kejadian buruk apapun."


"Tidak, aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Ayahku adalah seorang Pembasmi Roh yang memiliki cukup banyak keterampilan. Keluarga dan kerabat memang tidak memahaminya dan lebih memilih untuk menjauhinya tapi pada kenyataannya, ayah sering mengatasi banyak masalah tidak diketahui yang kami alami."


Paman terbatuk dan melanjutkan.


"Dan untuk Pembasmi Roh seperti itu, dia selalu cemas dan gelisah di saat-saat terakhirnya karena satu kendi kecil di meja ini. Setidaknya kami harus tetap waspada dan tidak lengah. Anakku itu sangatlah sensitif, membuatnya mudah sakit karena terpengaruh sesuatu, hal itu juga membuatku waspada lebih jauh."


Paman mengambil sesuatu dari saku kemejanya, itu adalah sebuah kertas dengan beberapa aksara yang tertulis di dalamnya.


"Dan saat aku mendengar jika hutan tempatku tinggal cukup banyak ditinggali oleh sesuatu yang menakutkan, sejak saat itu aku mulai sering ke dalam hutan untuk melakukan beberapa panjatan doa dan memasang banyak kertas aksara ini di beberapa tempat. Semuanya aku dapatkan dari buku yang ditinggalkannya."


Jadi begitu, paman ini memang melakukannya secara tidak sadar, ya? Tapi Rune bilang jika Energi Spiritual yang dilemparkannya sangatlah besar, apa yang terjadi di sini? Paman ini memiliki Energi Spiritual yang besar tapi tidak bisa melihat Roh?


"Apakah itu sudah menjawab semua pertanyaan yang kamu punya? Tentang apa saja yang aku lakukan di dalam hutan akhir-akhir ini dan alasannya?"


"Eh? Ah, ya. Itu sudah menjawabnya."


Aku mengambil cangkir teh yang mulai menjadi dingin, dan meminumnya.


Penyebabnya utamanya adalah Roh beruntung yang lepas secara tidak sengaja itu, ya? Kalau begitu aku akan memberikan sebuah tugas pertama untuk perkumpulan Frouya setelah ini. Mereka pasti akan senang.


Tergantung pada bagaimana Roh beruntung itu, mungkin aku juga membutuhkan bantuan Master untuk menanganinya. Kalau begitu, aku hanya perlu mengajukannya pada paman ini dan berharap agar dia menyetujuinya.


Menaruh cangkir kembali pada meja, aku menetapkan pilihan dan sedikit menguatkan suaraku.


"Paman, sebagai ganti agar anda tidak lagi memasang banyak kertas aksara di hutan ataupun berdoa di sana, apakah anda mau menyerahkan masalah tentang Roh yang lepas ini padaku? aku pasti akan menyelesaikannya dengan baik."


"Tidak, kamu tidak perlu melakukannya. Kamu datang ke sini kerena merasa direpotkan dengan semua itu, kan? Aku akan menghentikannya kalau begitu, lagipula tidak ada kejadian buruk apapun yang terjadi."


"Tidak. Seperti yang paman sebutkan sebelumnya, paman tidak boleh lengah sedikitpun. Karena itulah sebagai pengganti paman yang tidak lagi pergi ke dalam hutan, aku akan meyelesaikan semuanya. Paman tidak perlu khawatir, karena aku memiliki rencana untuk mengatasinya dengan baik."


Aku menepuk dadaku dan tersenyum percaya diri.


"Apakah benar-benar aman untuk menyerahkannya padamu sendiri? Aku bisa membantumu sebanyak mungkin jika kamu memerlukannya."


Sebanyak mungkin? Ah, gawat.


Padahal awalnya aku berencana untuk melakukannya secara cuma-cuma tapi perkataannya itu memancingku. Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakannya dengan jujur?


Ah, sudahlah!! Lebih baik aku mengatakannya saja!!


"Kalau begitu sebagai gantinya, apakah aku bisa meminta salinan dari buku milik ayah paman yang berisi mantera dan banyak tulisan aksara itu? Aku akan sangat terbantu dengannya."


"Apakah itu saja sudah cukup?"


"Ya, tentu saja."


Setidaknya, untuk saat ini.