
Mewakili Roh belalang yang dipanggil Beida itu menjawab pertanyaanku, Master mengangkat suaranya saat dia melompat dan duduk diantara kami.
"Huflu adalah nama Roh yang memiliki wujud layaknya seekor lebah, mereka dikenal akan racun dalam sengat mereka yang sangat mematikan. Ditambah saat mereka menyerang dalam jumlah besar, tidak akan ada hal baik yang menunggumu saat kau melawan mereka."
Master menghadap pada belalang itu, memanjangkan ekornya dan melilit lehernya.
"Dilain sisi, Huflu juga dikenal akan madu yang mereka hasilkan di dalam sarangnya. Dengan kilauan bagai butiran emas yang menyertainya, menambah cita rasanya yang sangat murni dan langsung memasuki mulut bagaikan air terjun. Madu dari Huflu cukup dikenal luas dalam Dunia Roh sebagai manisan kelas atas yang disukai para Dewa."
Master memperkuat lilitan ekornya pada leher belalang itu, membuat Beida sedikit menampakkan kesakitan meskipun dia tidak memberontak.
Apa yang ingin kucing ini lakukan? Aku akan menghentikannya jika semua ini terus berlanjut, untuk saat ini cukup awasi saja.
"Madu dari Huflu juga dikenal akan khasiatnya Mempercepat penyembuhan luka pada tubuh para Roh, menghilangkan racun, menstabilkan Energi Spiritual dan yang paling penting, memberikan keabadian bagi mereka yang beruntung meminumnya. Yah, keabadian itu satu-satunya kebohongan sih."
"Bukannya itu mengartikan jika Huflu memiliki kelas yang sangat tinggi? Dengan semua manfaat itu, aku tidak akan terkejut jika ada sangat banyak Roh yang mencari keberadaannya." ucapku dengan nada yang menyimpan sedikit keraguan.
"Ya, itu sudah pasti. Dalam jamuan para Dewa, adanya Huflu berfungsi untuk menegaskan status mereka juga. Karena itu aku sedikit terkejut, kenapa Roh rendahan sepertimu mencarinya? Terlebih, kau membuat sebuah janji bersama Anella untuk menemukannya? Ceritakan semuanya sedetail mungkin."
"Urghh—!! Tung—!!"
Master menguatkan lilitannya kembali dan semakin mencekik belalang itu. Tapi semuanya segera berakhir saat aku menarik ekornya.
"Master, bisakah kau hentikan itu? Kau benar-benar mengganggu Beida. Lihat itu, tubuhnya sudah gemetar hebat karena rasa takut." ucapku saat menunjuk pada belalang dengan tubuh sampingnya yang hampir mengejang dan mengeluarkan rintihan.
Master pun melepaskan lilitan ekornya dan melompat pada bahuku, menekan pipiku dengan kakinya beberapa kali dan mendengus tanpa mengatakan apapun.
Lebih baik aku membiarkannya saja untuk saat ini.
"Meskipun begitu, aku juga cukup penasaran dengan itu. Apa kau bisa memberi tahu alasanmu mencari sarang dari Huflu dan menginginkan madu mereka? Kau juga bisa menceritakan tentang ibuku, seeprti bagaimana kalian bisa bertemu?"
Beida yang sudah menyelesaikan pengambilan nafas dan menenangkan dirinya, sedikit menundukkan kepalanya sekali lagi padaku.
"Maafkan saya. Saya sangat ingin menceritakan banyak hal tapi saya memiliki waktu yang sangat terbatas kali ini, sebisa mungkin saya harus menemukan sarang dari Huflu sebelum munculnya fajar besok."
"Hm? Sebelum fajar besok? Memangnya ada batas waktu untuk melakukannya, ya? Master, bagaimana pendapatmu tentang itu?"
Aku mencoba bertanya padanya untuk berjaga-jaga tapi Master hanya diam dan benar-benar mengabaikan ku. Kucing ini terlihat memiliki usia yang cukup tua tapi tingkahnya benar-benar kekanak-kanakan.
Dan saat aku memikirkan itu, ekor Master menampar pipiku cukup keras.
Sial, pikiranku dibaca lagi, ya?
"Kesampingkan itu, kenapa kau harus menemukan sarang Huflu sebelum fajar terbit? Apakah ini memang saat-saat dimana madu itu hanya akan muncul pada beberapa kesempatan setiap satu atau sepuluh tahun sekali? Seperti itu?"
Beida mengangguk dengan kepala belalangnya.
"Untuk kemunculannya sendiri tidak bisa begitu saja ditebak tapi Madu Huflu akan selesai pada periode sekitar dua puluh sampai tiga puluh tahun sekali. Dan kebetulan empat belas hari lalu bertepatan pada dua puluh lima tahun sejak kemunculan terakhirnya, ada banyak kabar yang menyebutkan jika Madu Huflu sudah selesai dan sangat banyak Roh yang mencarinya."
"Ya, ada sepuluh lokasi kemunculannya dan lokasi dimana kita berada sekarang adalah lokasi kesembilan. Di delapan lokasi sebelumnya saya sudah di dahului dengan Roh lain yang mendapatkannya dan di lokasi ini pun tampaknya juga akan berakhir sama. Saya berencana untuk pergi menuju lokasi kesepuluh sebelum matahari terbenam."
Beida terlihat sangat frustasi, banyak busa yang bermunculan pada mulutnya. Dia benar-benar tidak terlihat menyerah untuk mendapatkannya, setidaknya semangatnya belum rusak.
"Tapi melihat waktu perjalanan dan fakta jika besok sudah hari kelima belas, saya sangat kesal karena tahu jika lokasi kesepuluh pun tampaknya tidak akan menjadi milik saya. Mungkin sudah ada Roh dengan pergerakan cepat yang pergi kesana sekarang, tidak ada kesempatan sedikitpun bagi saya untuk mendapatkannya."
Melihatnya membuatku memikirkan begitu banyak hal untuk ditanyakan tapi lebih baik aku memulainya dengan yang paling penting. Dari sana mungkin aku akan membantunya.
"Beida, sama seperti yang aku tanyakan padamu sebelumnya. Apa kau bisa memberitahu kami alasan kenapa kau begitu menginginkannya?"
Beida terdiam dan menatap ke arahku, keheningan terbentuk karena dia tidak mengatakan apapun dan mulut belalang sembahnya pun mulai mengeluarkan butiran busa lain.
Saat melihatnya diam dan menatap ke arahku dengan mulut berbusa seperti itu benar-benar membuat punggungku merinding, aku sangat berharap agar dia bisa menghentikan itu.
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Beida pun membuka mulutnya saat dia memiringkan kepalanya dan sedikit tertawa.
"Kenapa, ya? Saya juga ingin tahu hal itu. Padahal dulunya saya tidak begitu menginginkannya tapi saat saya bertemu dengan seorang gadis manusia yang aneh, itu membuat saya menyadari banyak hal. Mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh yang lainnya, saya ingin tahu bagaimana perasaan yang saya rasakan saat saya bisa melakukannya."
Perasaan yang dirasakan saat mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan yang lainnya, ya?
Setidaknya bagiku itu adalah sesuatu yang merepotkan, karena apa yang aku dapatkan bukanlah sesuatu yang terlalu aku inginkan. Ibu memang orang yang aneh, aku tidak berpikir bisa memahaminya.
Meskipun kita berdua sama-sama orang aneh sih.
"Aku mengerti. Beida, kalau begitu aku akan membantumu untuk mendapatkan Madu itu. Kita akan mencarinya bersama."
"Eh? Apa anda—"
Sebelum Beida bisa menyelesaikan kata-katanya, Master memotongnya.
"Aciel, Madu Huflu adalah sesuatu yang istimewa. Ada sangat banyak Roh kuat yang mencarinya dan rintangan yang menghadang untuk mendapatkannya pun tidaklah sedikit. Jujur saja, ada sangat banyak bahaya yang menantimu jika kau berniat melakukannya, terlebih fakta jika kau seorang anak manusia, pasti ada banyak Roh yang tidak menyukainya saat seseorang sepertimu mengikuti kompetisi untuk mencari Madu Huflu."
Master melompat pada rumput dan berputar ke arahku, menatap lurus padaku.
"Setelah mengetahui sebanyak itu, apa kau tetap akan pergi?"
Jawaban cepat atas pertanyaan itu tentunya adalah sebuah jempol. Dengan senyuman pada wajahku, memberikan respon terbaik yang bisa aku lakukan untuk meyakinkannya.
"Tentu saja, lagipula aku yakin jika Master tidak akan membiarkan sesuatu yang berbahaya mendatangiku. Aku bisa melakukan penyamaran atau apapun saat melakukannya jadi tidak perlu terlalu khawatir."
Dari Master, aku mengalihkan pandanganku pada Beida.
"Terlebih, ibuku juga sudah berjanji pada Beida untuk membantunya mendapatkan madu itu, kan? Sudah tugas sebuah keluarga untuk saling mengatasi masalah yang mereka buat. Setidaknya aku tidak melihat ini sebagai sesuatu yang merepotkan."