ACIEL'S DIARY : INDIGO

ACIEL'S DIARY : INDIGO
LEMBARAN 3.6 : MEMULAI PENCARIAN



Mengikuti arus burung yang terbang secara berkelompok di depan, menjadikan aliran udara sebagai penopang kestabilan dan kecepatan untuk terbang tinggi pada langit.


Master dengan wujud harimau melintas bersama pijakan awan hitam pada kakinya, tidak terlalu cepat tapi tidak terlalu lambat juga.


Di samping kami terdapat Beida yang terbang dengan kepakan sayap belalangnya, cukup terlihat dirinya yang berusaha keras untuk memandu kami.


Dibandingkan itu, aku yang bersantai pada punggung Master dan menikmati perubahan pemandangan di bawah membuatku memiliki cukup banyak waktu untuk bersantai dan memikirkan banyak hal tidak berguna untuk mengisi kebosanan.


"Kira-kira bagaimana aku terlihat saat terbang di udara dengan menunggangi Master, ya? Manusia memang tidak bisa melihat Roh tapi mereka tentunya bisa melihatku. Apa di mata mereka aku akan tampak seperti duduk melayang? Entah kenapa hal membuatku cukup penasaran."


Meskipun itu lebih mungkin untuk memikirkan jika mereka tidak bisa melihatku karena aliran kuat dari Energi Spiritual yang membungkus tubuhku saat aku bersentuhan dengan Roh kuat seperti Master. Ada banyak penjelasan tentang itu.


Lebih baik untuk melewatkannya saat ini.


Ngomong-ngomong ini kami sedang menuju pada lokasi ke sepuluh yang dikabarkan akan menjadi lokasi terakhir dari kemunculan sarang Huflu yang berisi banyak Madu berkualitas tinggi.


Setelah membicarakan beberapa hal dengan Beida sebelumnya, aku membuat beberapa syarat ulang daei perjanjian yang sudah dibuat. Aku akan mendapatkan tujuh puluh lima persen dari madu yang kami dapatkan dan sisanya akan diberikan pada Beida.


Tampaknya Beida sendiri tidak terlalu menginginkannya, dia hanya ingin merasakan saat-saat dimana dia mendapatkan madu itu. Aku yang tidak punya pilihan lain pun menerima sarannya itu.


Ya, aku tidak punya pilihan lain. Hal itu aku terima bukan berarti karena aku menginginkan madunya lebih banyak atau apapun. Aku benar-benar tidak memiliki pilihan selain menerimanya.


Gulp—!!


Tanpa sadar, sedikit air liur keluar pada mulutku dan menetes menuju bulu Master dan membasahinya. Ini gawat, aku harus mengendalikan diri!!


"Setelah latihan keras itu membuatku cukup lapar. Aku hanya menambalnya dengan beberapa camilan dan itu masih belum terlalu cukup."


Meskipun begitu, sudah sekitar tiga puluh menit sejak kami mulai berangkat dan masih belum ada pertanda jika kita akan sampai.


Dengan kecepatan ini, kita sudah melewati kota dimana aku tinggal. Saat ini pemandangan yang ada di bawah juga dipenuhi oleh hutan dan pegunungan. Pemukiman ada di beberapa sudut yang jauh.


Langit sudah berubah warna dikarenakan pembiasan cahaya matahari dan menjadikannya berwarna kuning kemerahan. Sore hari sudah datang, hanya tersisa sedikit waktu sampai malam tiba.


Dan saat aku mulai merasakan sedikit kegelisahan itu pada diriku, Beida akhirnya memberikan tanda yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.


Dia mengangkat salah satu tangan kurusnya dan mengeraskan suaranya.


"Kita akan sampai sebentar lagi. Tuan Leore, anda bisa memperlambat kecepatannya."


"Ya, aku mengerti."


Kami memperlambat kecepatan dan menemukan sebuah dataran rumput hijau, Beida pun memberikan instruksi untuk mendarat di sana dan Master segera melesat turun dengan sangat cepat.


"Urghh—?!"


Harimau ini langsung menabrak dataran rumput dengan kuat dan menciptakan gelombang angin yang cukup besar, menerbangkan banyak potongan rumput ke segala arah. Tampaknya Beida juga terkena efeknya dan sedikit terhempas.


"Master, kenapa kau tiba-tiba melakukannya?! Itu sangat mengejutkan dan menakutkan!! Selanjutnya beritahu aku jika kau ingin melakukan hal seperti itu, aku bisa terbang tadi, kau tahu?!"


Aku melompat turun dan Master pun merubah wujudnya menjadi kucing kecil. Dia langsung melompat pada bahuku dan menjawab.


"Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin melakukannya."


"Ya ampun, bisa-bisanya kau melakukan itu."


Dengan sedikit rasa tidak puas yang menggelembung dalam diriku, aku pun berjalan mendekat pada Beida yang sedang melipat sayap belalangnya. Raut wajahnya terlihat lelah.


"Maaf tentang sebelumnya, Beida. Master sedikit kehilangan keseimbangannya saat terbang di langit tadi dan itu membuatnya mendarat dengan cukup kasar. Apa kau baik-baik saja?"


"Y-Ya ... Saya baik-baik saja, anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya."


"Hmph, meskipun lemah kau tetaplah Roh. Jika hal seperti itu saja sudah merusak keseimbangan tubuhmu, aku benar-benar khawatir saat melihatmu yang berencana mendapatkan madu para Huflu."


Master mendengus dengan tawa mengejek.


"Master, ada apa denganmu? Dari tadi kau benar-benar sensitif. Apa Master masih marah karena aku memegang ekormu sebelum—aduh!! Kau menampar wajahku dengan ekormu lagi!!"


"Kesampingkan topik bodoh itu, ayo segera kita selesaikan semua ini dan pulang. Aciel, kau memiliki hutang dua bakpao daging saat semua ini sudah berakhir, jangan melupakannya."


Sial, kucing bodoh ini benar-benar merajuk.


Tapi setidaknya Master tidak menghentikan ku saat aku berniat untuk membantu Beida dan malah membantuku. Aku benar-benar tidak tahu apa saja yang ada di dalam kepalanya.


"Ya, aku akan membeli lima bakpao daging nanti. Master bisa mengambil empat."


"Baguslah jika kau paham. Belalang, cepat ambil rutenya dan jadilah pemandu."


"Ba-Baik!!"


Kami pun mulai memasuki area pepohonan dan menelusuri beberapa bagian hutan, ada beberapa kesempatan saat kami berpapasan dengan banyak Roh tapi tidak ada hal khusus yang terjadi.


Itu karena saat ini aku menyamar menggunakan topeng Roh yang sudah diberikan oleh Ebi sebelumnya. Meskipun tidak seampuh bulunya, topeng ini akan membantuku menyamarkan aroma manusia pada tubuhku dan menutupi wajahku.


Tapi aku harus berhati-hati untuk tidak terlalu berdekatan dengan para Roh, karena masih ada sedikit sisa bau manusia yang keluar.


Jika itu terjadi, para Roh yang ada di hutan ini tidak hanya akan mengincar sarang madu Huflu dan pastinya mereka juga akan menambahkan diriku ke dalam daftar pencariannya.


Aku harus waspada dan agar hal berbahaya seperti itu tidak terjadi.


"Meskipun begitu Beida, aku kagum kau bisa mendapat semua informasi tentang sepuluh lokasi dari Madu Huflu. Karena ini menyangkut pada madu yang sangat terkenal itu, pastinya akses pada informasinya menjadi lebih sulit, kan? Apa aku boleh tahu bagaimana caramu mendapatkannya?"


"Oh, saya mendapatkannya dari sahabat baik saya. Salah satu tuan yang dia layani memiliki minat yang cukup besar untuk madu itu. Saat teman saya mengetahui hal itu, dia memberikan informasi tentang sepuluh lokasinya pada saya begitu saja."


"Eh? Bukannya itu berarti dia mengkhianati tuannya? Apa sahabatmu itu baik-baik saja?"


"Nah, saat saya mengatakan hal itu padanya, dia hanya menjawab dengan tertawa dan mengatakan jika semuanya tidak akan berubah meskipun dia memberitahu saya hal itu. Lagipula dia tahu jika saya tidak akan bisa mendapatkannya sendiri."


Begitu rupanya, aku bisa memahami apa yang sahabatnya pikirkan.


Dia mungkin ingin agar belalang ini menyerah dan berhenti mencari sesuatu yang berbahaya seperti itu setelah percobaan pertamanya.


Tapi belalang ini sepertinya cukup keras kepala, karena dia bahkan tidak berhenti setelah gagal mendapatkannya di lokasi yang kesembilan. Mungkin jika dia gagal setelah lokasi ini pun, dia akan melakukannya lagi di kesempatan berikutnya.


Aku tidak paham, kenapa dia melakukannya sejauh itu?


Apa alasannya adalah dia yang benar-benar hanya ingin menikmati momen saat dirinya mendapatkan madu itu? Atau ada yang lain?


Apapun itu, aku akan mengetahuinya saat mendapatkan madu itu nanti.


"Begitukah? Dia sahabat yang baik. Aku turut senang untukmu."


"Ya!! Dia benar-benar sahabat yang terlalu baik untuk saya."


Dengan itu, kami pun melanjutkan pencariannya saat menelusuri hutan lebih dalam.