
Di ujung kesadaranku yang hampir kembali, sensasi akan sebuah rasa sakit yang menjalar pada bagian rahang mulai keluar dan semakin menguat. Tidak tahan dengan itu, aku membuka mataku dan melihat langit-langit yang asing.
Aroma obat-obatan menggelitik hidungku dengan suara AC yang menenangkan, membawa tirai sedikit terangkat dan bergoyang. Ini mengingatkanku akan sensasi dari ruang UKS sekolah.
"Dimana ini?"
Aku mengangkat tubuhku untuk duduk dan melihat sekitar. Tempat tidurku dikelilingi oleh tirai, membatasi area yang bisa aku lihat. Terdengar suara baru, sebuah langkah kaki yang mendekat.
Tanpa sadar aku langsung membaringkan tubuhku dengan cepat kembali dan menutupinya bersama selimut yang cukup harum. Suara tirai yang bergeser terdengar, dengan sesuatu yang lembut menyentuh selimutku dan meraih pipiku.
Itu terasa seperti sebuah jari.
"Kau sudah bangun, kan? Aku bisa melihat bayanganmu dari balik tirai."
Suara wanita dewasa yang dalam dan terkesan misterius, dengan aroma bunga yang manis mendekati hidungku, menyingkirkan bau obat-obatan yang mengganggu.
Apa dia salah satu guruku? Aku tidak mengingat siapapun guruku selain wali kelas. Bagaimana ini? Apa aku tetap tidur seperti ini saja? Tidak, lagipula orang ini juga sudah mengetahuinya.
Sial, ini malah membuatku semakin malu dan lebih sulit untuk keluar karena sudah bersembunyi. Lagipula kenapa aku harus bersembunyi? Entahlah, itu terjadi begitu saja.
"Ya, maafkan saya."
Tidak berniat membuat pihak lain menunggu lebih lama, aku segera bangun dan melepas selimut, melihat orang yang ada di samping tempat tidur. Untuk kalimat pertama, kata besar mungkin cocok.
Tidak, kata tinggi lebih cocok. Ya, dengan tubuhnya yang tinggi, berbalutkan kemeja berwarna abu-abu, berlapiskan jas putih yang merupakan simbolis seorang dokter ataupun peneliti.
Dengan rambut hitam pendek dan kacamata bulat, seorang dokter tersenyum padaku. Wanita dewasa yang cantik, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu darinya, membuatku merasakan sedikit ketidakcocokan diantara kami.
Apa itu hanya perasaanku saja, ya?
"Hm? Apa ada sesuatu di wajahku? Kau melihatnya dengan begitu serius."
Ah, aku melihatnya terlalu lama.
"Tidak, bukan apa-apa. Hanya saja ... Ini dimana? Apa yang terjadi?"
Tanpa sadar aku memakai bahasa kasual, bukankah aku harusnya lebih sopan?
Tapi akan lebih canggung jika aku merubah gaya bicaranya sekali lagi. Mungkin ini cukup pas, Dokter juga tidak terlihat keberatan.
"Nah, kita ada di ruang perawatan yang dimiliki penginapan. Kamu pingsan di tempat pembakaran tadi jadi teman-temanmu membawamu ke sini, apa ada bagian yang sakit selain rahang?"
"Tidak. Selain rahang, semuanya terasa baik-baik saja."
"Oke, kalau begitu istirahat dan berbaringlah beberapa menit lagi. Aku akan memanggilkan seseorang untuk menjemputmu. Rahang mu sedikit geser karena benturan kuat sebelumnya tapi aku sudah melakukan sedikit perawatan untuk memperbaikinya jadi kamu sudah bisa tenang."
"Baik, terimakasih banyak ... Hm?"
Geser? Rahang ku bergeser, itukah maksudnya?
Kenapa?
Seingatku sebelumnya aku mendatangi Ella dan Mona untuk meminta maaf lalu Ella memintaku untuk menutup mata dan ... Huh? Apa yang terjadi setelah itu? Aku tidak mengingatnya.
Apa mungkin aku pingsan saat menutup mata itu?
Tadi bu Dokter bilang jika aku terkena benturan kuat, dari mana itu?
Mungkin ada sesuatu yang terjadi saat aku menutup mata dan hal itu membuat sesuatu yang keras mengenai rahang ku. Tapi dokter itu bilang sudah tidak ada masalah, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, kan?
Ya, aku tidak perlu memikirkan apapun selain menunggu Mona dan Ella menjemputku.
Bu Dokter dengan jas putih itu mengangkat telepon rumah dan menghubungi seseorang, menyebutkan jika aku sudah sadarkan diri. Tidak butuh waktu lama sampai pintu terbuka, membawa dua orang masuk ke dalam ruangan.
Itu Mona dan Ella.
"Selama sore, bu. Terimakasih atas perawatannya "
Mona menundukkan sedikit kepalanya dan memberikan sesuatu pada guru. Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya tapi mungkin itu adalah bingkisan, yang mana membuatku cukup terkejut.
Bu Dokter tampaknya juga merasakan hal sama, sedikit kebingungan tampak pada wajahnya saat dia menerima bingkisan itu.
"Oh ... Terimakasih, padahal kau tidak perlu repot-repot membawakannya. Ini sudah menjadi tugasku untuk merawat para pengunjung yang terluka."
"Ah tidak, ini bukan apa-apa."
Mona mengangguk sekali lagi pada Bu Dokter itu dan tersenyum. Bu Dokter membalasnya dengan senyum canggung, begitupula denganku.
Siapa dia? Apa dia gadis pemalu yang sama, yang bahkan tidak bisa memperkenalkan dirinya dengan baik? Aku sama sekali tidak mengenalinya.
"Ah?"
Sebaliknya, Ella yang hanya menyapa Bu Dokter dengan anggukan kecil tadi berjalan ke arahku dengan permen batangan pada mulutnya. Dia tiba-tiba berbicara padaku, membuatku sedikit terkejut.
Ella mengeluarkan permen berwarna pink itu dari mulut dan melanjutkannya.
"Mona itu ya, terkadang dia menjadi seorang gadis pemalu yang bahkan tidak bisa berbicara dengan baik di depan orang lain. Tapi di beberapa saat tertentu, kepribadiannya berubah menjadi seorang gadis ceria yang sangat bisa diandalkan."
Ella menajamkan sedikit pandangan pada matanya saat melihat ke arah Mona yang masih berbicara pada Bu Dokter di dekat pintu ruangan.
"Seolah-olah keduanya adalah orang yang berbeda, aku tidak tahu apa penyebabnya tapi dari apa yang ayahnya katakan padaku, hal itu sudah terjadi saat Mona menginjak usia sembilan tahun. Satu-satunya hal yang kami tahu hanya pemicunya."
Hm? Entah kenapa suasana pembicaraan ini mulai memberikan tekanan tertentu. Kupikir dia hanya bercanda, apa ini serius?
"Pemicu? Memangnya apa yang menjadi pemicunya?"
"Ledakan Emosi yang kuat."
Ella menoleh ke arahku, memakan permennya kembali.
"Ledakan emosi ... Hah? Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Hah ... Ya ampun, menjelaskannya oun merepotkan. Bagaimana, ya? Ini sama seperti saat kau menahan diri untuk buang air besar. Jika kau terlalu lama menahannya, suatu saat itu pasti akan keluar dengan sendirinya, kan?"
"Hah? Oh ... Begitukah?"
Aku tidak tahu kenapa dia menggunakan gambaran yang kotor seperti itu tapi biarkan saja untuk saat ini, penjelasannya lebih penting. Meskipun begitu, aku lebih suka jika dia menggunakan gambaran yang lebih umum dan lazim.
"Begitulah. Karena kepribadian pemalu yang dia miliki itu, Mona cukup sering menahan dirinya untuk melakukan banyak hal yang dia inginkan. Itu membuat emosinya tertumpuk dan semakin membesar, sampai titik dimana dia tidak bisa menahannya lagi. Dan saat itu meledak, hasilnya akan seperti itu."
Ella menunjuk pada Mona yang tertawa ceria di depan Bu Dokter yang masih kebingungan. Suasana hangat mengelilingi keduanya.
"Jadi begitu. Kondisi yang Mona alami saat ini sama seperti cepirit, kan? Dia tidak bisa menahan tinjanya lebih lama lagi dan akhirnya meledak."
"Cih, menjijikkan. Bisa-bisanya kau menggunakan gambaran yang sangat jorok seperti itu, apa kau tidak malu?!"
"Hah? Yang pertama kali menggunakan gambaran huang air besar itu kau, kan?"
"Aku tidak menggambarkannya sekasar itu!!"
Ah, ini merepotkan. Aku memang benar-benar tidak cocok dengan gadis ini. Setidaknya gadis dengan kepribadian ganda seperti Mona terlihat jauh lebih baik darinya.
"Yah, lupakan saja itu. Setelah mendengar penjelasan darimu itu, aku memiliki tiga pertanyaan. Yang pertama, sampai kapan kondisi Mona akan seperti itu? Harusnya tidak terlalu lama, kan?"
"Sialan, seenaknya saja mengalihkan pembicaraan ... Tiga hari, dia akan terus seperti itu selama tiga hari sejak dalam kondisi meledak."
"Tiga hari ... Aku mengerti. Yang kedua, berapa lama sampai ledakan emosi selanjutnya datang?"
"Itu bergantung pada kondisi emosi dalam diri Mona tapi itu akan memakan waktu dua sampai empat minggu sampai ledakan emosi selanjutnya."
Dua sampai empat minggu ... Itu cukup lama.
"Yang ketiga, sejak kapan dia dalam kondisi seperti ini? Saat aku mendatangi kalian untuk meminta maaf di tempat pembakaran sebelumnya, dia masih seorang gadis pemalu seperti biasa, kan?"
"Ah itu ... Ya, memang benar ..."
Ella menggaruk lehernya, tatapannya melihat ke beberapa arah berbeda dan kedipan pada kedua matanya menjadi lebih cepat.
"Hah? Ada apa denganmu? Cepat jawab pertanyaannya."
"Mona menjadi seperti itu ... Sejak aku menendang rahang mu dan membuatmu pingsan."
Untuk sesaat, aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Tapi mengingat rasa sakit dari rahang bawahku, itu membuatnya cukup meyakinkan.
Aku mengulurkan tanganku, menyentuh rahang bawahku dan menatap pada Ella yang menggaruk pipinya dengan wajah kaku canggungnya.
"Jadi kau yang melakukannya, ya?"
"Ahahahaha .... Maafkan aku."
Gsdis ini ... Gadis yang menendang wajahku saat aku meminta maaf padanya ... Aku benar-benar kehilangan kata-kata untuk kali ini.
Apapun itu, keduanya memang aneh.
Yah, aku juga sama sih.